Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Salah paham


__ADS_3

Bima's POV.


Aku tiba dirumah tepat saat adzan isya berkumandang, untung saja tadi aku sempat mampir di masjid rumah sakit untuk melaksanakan shalat magrib. Lelah, itu yang aku rasakan. Sepanjang hari berada di kantor dan mengerjakan tugas yang tak pernah ada habisnya. Aku ingin segera bertemu dengan istriku, menyandarkan kepalaku di bahunya. Karena hanya dia obat dari segala rasa lelahku.


Beruntung aku memiliki dia di dalam hidupku, dia adalah sumber kebahagiaan, membuatku merasa berarti dan tau tujuan hidupku selanjutnya.


Hanya dengan menatap wajah cantiknya, mampu membuat pikiranku terasa di refresh.


Aku tak menyangka akan jatuh cinta secepat ini kepadanya, dia sosok yang kuat dan tangguh menurutku. Dia tak tak banyak mengeluh bahkan saat ayah menyuruhnya melakukan ini dan itu.


Apalagi saat aku mengetahui jika dia juga mencintaiku, dunia serasa milikku sendiri. Aku tak menyangka jika mencintai dan dicintai rasanya akan seindah ini. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan mencintainya hingga ujung usiaku. Apapun yang terjadi, aku akan semantiasa bersama dengannya. Termasuk jika ayahku sendiri yang menentang hubunganku dengannya.


Jika aku telah berkomitmen dengan satu hal, maka selamanya aku akan memegang teguh komitmen itu.


Aku memarkirkan mobil tepat di halaman rumah, pintu gerbang bahkan masih terkunci tadi, terpaksa aku harus turun terlebih dulu dan membukanya sendiri.


Apa iya istriku itu ada di rumah? Tapi kenapa suasana rumah terasa sepi seperti ini? Biasanya dia akan menyambut kepulanganku dengan senyum yang merekah.


Aku berjalan melewati teras, lalu membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Kenapa Nindi bisa seceroboh ini tidak mengunci pintu saat aku tidak ada dirumah?


"Assalamualaikum, sayang?" Aku mulai memasuki rumah, melalui ruang tengah dan mencari keberadaan istriku itu di dapur.


Namun Nindi tak ada di setiap penjuru ruangan. Aku menghembuskan nafas berat. Mungkin dikamar. Kemudian aku menaiki satu persatu anak tangga, menuju lantai dua. Suara sepatu yang aku kenakan menimbulkan suara nyaring ditengah keheningan.


Krek!


Aku membuka pintu kamar yang ternyata juga tak di kunci. Mataku memicing saat melihat pemandangan yang menyesakkan dada itu terjadi di depan mataku sendiri.


Aku melihatnya, istriku sedang bergelung di bawah selimut, seorang pria asing nampak ada di sampingnya. Juga sedang tertidur sambil memeluk istriku. Hanya terlihat kepala mereka saja, sedangkan tubuh mereka terhalangi oleh selimut yang biasa aku dan Nindi gunakan saat tidur bersama.


Jleb!


Serasa panahan duri baru saja menikam dan menembus jantung hatiku, mimpikah semua ini? Mataku memanas, emosiku mendadak naik hingga ubun-ubun saat menyadari jika ini semua bukanlah mimpi.


Aku yang biasanya selalu bisa menguasai diri saat suasana hatiku buruk sekalipun, kini tak bisa membendung amarah yang tengah bergejolak. Aku marah, aku kecewa, hatiku memanas.


Aku menarik selimut yang menutupi tubuh istriku dan juga laki-laki asing itu dengan sekuat tenaga. Rasa marah kini tengah menguasai diriku. Aku kalah kali ini, aku menyerah, aku hanyalah manusia biasa yang jika dikhianati pasti akan merasakan sakit.


Apalagi, dia adalah orang yang sangat aku cintai. Nindi, mengapa kamu begitu tega mengkhianatiku? Apa kurangnya aku? Seganap cinta dan kepecayaan telah aku berikan untuk dirimu. Namun ini kah balasanmu?


Aku bagaiman menanam padi, namun yang tumbuh malah ilalang.


"Bangun! BANJINGAN!" Ku tarik tubuh laki-laki itu hingga terjatuh dari atas kasur dan tersungkur ke lantai.


Laki-laki yang sedang tertidur pulas itu seketika kelabakan dan terbangun. Sebagian kancing kemejanya tak terpasang dengan benar. Menambah percikan api di dalam hatiku semakin berkobar.


BUKK!!


Dengan nafas yang memburu aku melayangkan kepalan tanganku, mendarat tepat di wajahnya, ku lihat dia nampak kebingungan sambil mengerang kesakitan, memegangi pipinya yang habis aku pukul.


Kemudian laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


Sedangkan istriku masih tertidur pulas, tak merasa terusik sedikitpun dengan keributan yang aku ciptakan.


"Dimana ini? Dan siapa kamu? Kenapa kamu memukulku?" Tanya laki-laki itu. Apa dia sedang bersandiwara sekarang setelah aku mencidukinya tidur bersama istriku?


"Tidak perlu berpura-pura, aku sudah tau semuanya, kamu dan istriku bermain api dibelakangku." Dengan nada tinggi aku membentak laki-laki itu.


"Apa? Siapa istrimu?" Kemudian laki-laki itu menoleh ke arah kasur, dimana Nindi tengah tertidur lelap.


"Masih mau mengelak? Kalian telah tidur bersama." Ucapku semakin murka. Kejadian ini begitu menguncang jiwaku, sampai-sampai aku bisa bersikap seperti ayah saat sedang marah.


BUKK!!


BUKK!!


Aku tak bisa menahan tanganku untuk tidak memukulnya lagi, aku menganggap ini sebagai luapan kemarahanku. Rasanya aku ingin menangis, namun air mataku tak kunjung keluar. Sehingga membuat kesakitan ini semakin menyiksa diriku.


"Tidak tidak. Ini salah paham. Tolong hentikan. Aku tidak mengenal istrimu, aku juga tidak tau kenapa aku bisa ada ditempat ini." Laki-laki itu mengelak dari kenyatataan. Dia pikir aku akan percaya begitu saja dengan perkataannya?


"Semua buktinya ada didepan mata, kamu masih bisa menyangkal? HAH? Dasar BAJINGAN BERENGSEK!" Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mengucapkan kata-kata tidak terpuji itu.

__ADS_1


"Jika kamu tidak percaya padaku, tanya saja pada istrimu. Aku yakin kamu pasti percaya kepada istrimu. Pasti ada kesalah pahaman disini" Laki-laki itu terlihat sabar menghadapi kemarahanku, bahkan dia sama sekalu tidak berniat membalas pukulanku.


Aku menatapnya semakin tajam, kemudian aku berjalan memutari kasur dan membangunkan istriku yang masih tak terusik tidurnya.


"Sayang, bangun sayang!" Ku tepuk-tepuk pipi Nindi, meskipun aku kecewa kepadanya, namun entah kenapa aku tidak bisa bersikap kasar dan tetap bertutur lembut. Aku tak ingin menyakitinya. Apa sebesar itu cinta yang aku miliki untuknya?


Nindi menggeliat.


***


Nindi menggeliat, saat merasakan ada sebuah tangan yang mengguncang pipinya. Merasa terganggu dengan gerakan itu, perlahan dia berusaha untuk membuka matanya yang terasa begitu berat. Entah kenapa tidurnya kali ini rasanya nyenyak dan panjang.


Namun, kepalanya terasa berdenyut. Dia bangun sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Kak Bima." Ucapnya saat melihat suaminya berada di hadapannya.


"Sayang, dia siapa?" Kak Bima bertanya sambil melirik ke satu arah. Nindi mengikuti arah pandangan kak Bima.


Belum hilang rasa pusing di kepalanya, kini Nindi dibuat pusing dengan keberadaan orang asing di kamarnya.


"Dia siapa kak?" Malah balik bertanya.


"Kamu tidak tau dia siapa?" Tanya kak Bima.


"Nggak, kenapa dia ada disini?" Nindi bingung sendiri.


"Nah, kan istri kamu juga tidak mengenal aku. Aku juga tidak mengenal dia, ini hanya salah paham." Laki-laki itu angkat bicara.


"Salah paham apa maksudnya?" Tanya Nindi meminta penjelasan.


"Suamimu menemukan aku sedang tidur bersamamu disini. Padahal aku sendiri merasa bingung kenapa aku bisa berada di tempat ini." Menjelaskan dengan singkat namun jelas.


"Apa?" Nindi nampak terkejut dengan penjelasan laki-laki itu. Masa iya? Kapan Nindi memasukkan dia kedalam rumah ini? Kenal juga tidak.


Dia melirik kak Bima, berusaha membaca pikiran suaminya itu melalui garis wajahnya. Namun tanpa diduga, kak Bima malah bertekuk lutut tepat dihadapan Nindi.


"Sayang, katakan apa salahku sehingga kamu tega melakukan ini padaku? Coba katakan apa yang kurang dari diriku? Aku akan berusaha untuk memperbaiki diri agar menjadi laki-laki seperti yang kamu inginkan. Asalkan jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu." Ucap kak Bima sendu, dia menatap lekat-lekat mata Nindi. Sebuah ketakutan terlihat jelas di mata kak Bima.


"Tolong, maafkan aku. Aku janji akan bekerja lebih giat lagi agar bisa memberikanmu lebih banyak uang." Nindi merasa jika tangannya mulai basah. Apa sekarang kak Bima sedang menangis?


Astaga! Kak Bima benar-benar bucin!


Tapi Nindi tak kuasa melihat suaminya menghiba seperti itu, apalagi di hadapan laki-laki asing itu.


Nindi tak bisa tinggal diam, benar apa yang laki-laki itu katakan. Kak Bima salah paham, Nindi harus meluruskan semuanya sekarang juga.


"Kak, kakak salah paham. Benar apa yang dia katakan. Percayalah kak, aku lagi datang bulan sekarang. Mana mungkin aku bisa bergubungan, apalagi sama laki-laki yang aku nggak kenal." Ucap Nindi. Kak Bima mengangkat kepalanya saat mendengar penjelasan Nindi.


"Nah kan, kamu dengar sendiri. Lagi pula aku juga memiliki istri dan anak dirumah. Mana mungkin aku menghianati mereka." Ucap laki-laki itu menimbrung.


"Benarkah kamu sedang datang bulan sayang?" Mengacuhkan laki-laki itu, kak Bima bertanya pada Nindi.


"Iya, kalau nggak percaya, ayo kita cek ke kamar mandi." Kak Bima mengangguk setuju, kemudian keduanyapun beranjak menuju kamar mandi.


"Jangan kabur kamu!" Bima menunjuk laki-laki itu penuh ancaman.


Laki-laki itu nampak mengangkat kedua tangannya ke udara, pertanda pasrah.


Dia tak habis fikir, kenapa bisa dia terjebak disini dan dituduh meniduri istri orang. Terakhir yang dia ingat, dia sedang perjalanan pulang menuju rumahnya sepulang dari bekerja, tapi tiba-tiba saja...


Astaga!


***


Di rumah sakit, lebih tepatnya di ruang rawat inap Sheerin, Levin masih setia menemani perempuan yang baru sah menjadi kekasihnya itu, dia meraih mangkuk bubur yang baru saja di antarkan oleh perawat.


"Makan dulu ya, habis itu minum obatnya!" Ucap Levin bersemangat.


"Nggak ahh." Ucap Sheerin saat Levin sedang menyiukkan sendok pada mangkuk bubur.


"Lho, kenapa? Kamu harus makan biar cepet sembuh." Ucap Levin agak kecewa, semangatnya telah Sheerin patahkan hanya dengan kalimat pendek itu.

__ADS_1


"Rasanya hambar. Aku mau makan yang lain aja." Ucap Sheerin bernegosiasi.


"Kamu mau makan apa? Nggak boleh makan sembarangan lho." Levin mengingatkan.


"Hmm, sate boleh?" Tanya Sheerin dengan matanya yang berbinar-binar saat membayangkan setusuk sate masuk kedalam mulutnya.


"Nggak tau, aku tanya susternya dulu ya?" Ucap Levin.


Sheerin mengangguk sambil tersenyum, pasti suster mengizinkan. Dia tak sabar ingin menyicipi daging ayam yang berlumurkan saus kacang dan kecap itu.


Saat Levin hendak keluar, pintu ruang rawat inap terbuka. Muncul seseorang yang sangat Sheerin hafal dari balik pintu itu.


Sheerin dan Levin saling melirik saat melihat kedatangannya yang tiba-tiba.


"Hai, Rin." Senyum canggung itu terukir di bibir Lea, menandakan jika hatinya tengah dilanda kegundahan.


"Hai Le. Sini!" Sheerin melambaikan tangannya kearah Lea, sahabatnya. Astaga! Sheerin sendiri begitu sangat merindukan Lea, Lea yang akhir-akhir ini seperti berusaha untuk menghindarinya. Namun kini, Lea datang dan menemuinya. Rasa haru mulai menyelimuti hati Sheerin. Apa ini awal yang baik untuk memulai semuanya kembali?


Dengan ragu, Lea melangkah mendekat ke arah Sheerin. Dia meletakkan parsel buah di atas meja samping kasur Sheerin.


Suasana tetap tak berubah, kebisuan masih menjadi tokoh utama dalam ruangan itu. Sampai akhirnya Levin menyadari jika dirinya sedang tidak diperlukan disana.


"Emm, She, aku pergi sekarang." Ucap Levin.


"Iya, jangan lupa bawa satenya ya!" Jawab Sheerin mengingatkan pesanannya.


Levin tersenyum samar, kemudian menarik handle pintu, sebelum akhirnya bayangannya hilang di telan pintu itu.


Tinggallah Sheerin dan Lea disana.


"Duduk sini Le!" Ucap Sheerin memecah ke kakuan di antara mereka. Dia menepuk kursi kebesaran Levin yang berada tepat di samping kasurnya.


"Iya." Leapun menjatuhkan tubuhnya disana. Dia memainkan tangannya karena merasa gugup. Dia bingung harus memulai obrolan mereka dari mana. Pasalnya, belakangan ini hubungan mereka tidak berjalan mulus seperti dulu.


"Makasih ya Le, udah jauh-jauh mau jengukin gue kesini." Ucap Sheerin sambil tersenyum, bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.


"Rin, gue bener-bener malu sama loe." Akhirnya Lea memberanikan diri untuk bicara.


"Kenapa harus malu? Le, kayaknya ada banyak banget yang harus kita bicarakan sekarang." Ucap Sheerin.


"Iya Rin, gue rasa juga gitu. Tapi sebelumnya gue mau minta maaf sama loe karena belakangan ini gue menghindar dari loe. Padahal gue tau waktu itu adalah masa-masa tersulit dalam hidup loe. Gue memang egois, gue malah ikut-ikutan kayak mereka. Nggak percaya sama loe dan menyudutkan loe secara nggak langsung." Ucap Lea, wajahnya dia tekuk, merasa malu untuk sekedar menatap mata Sheerin.


"Nggak Le, justru gue yang salah disini. Gue ngganggap loe sahabat, tapi gue nggak bisa terbuka sepenuhnya sama loe. Gue menutupi semuanya dari loe. Loe berhak marah sama gue. Karena ini memang murni kesalahan gue."


"Nggak Rin, gue juga salah disini. Jujur, gue kecewa sama loe waktu tau loe nggak ada kabar sama sekali, loe nggak masuk kuliah berminggu-minggu. Gue kehilangan sosok sahabat terbaik dalam hidup gue. Dan tiba-tiba aja loe datang ke kampus, sikap loe itu berubah jadi aneh. Gue nggak mengenali loe yang waktu itu. Dan waktu gue tau kalau loe punya saudara kembar. Gue bener-bener down. Loe nggak pernah mau cerita apa yang sebenernya terjadi sama loe. Padahal gue selalu mengkhawatirkan loe, merindukan dan nunggu kabar dari loe Rin." Ucap Lea, kini air matanya mulai meleleh.


Hati Sheerin terenyuh mendengar penuturan Lea. Ternyata, Lea masih sangat perduli kepada dirinya. Sheerin tak sendirian selama ini. Lea tak pernah melupakan dirinya. Justru Sheerinlah yang selama ini membuat jarak diantara dirinya dan juga Lea.


Sheerin berhambur memeluk Lea, pundak yang selama ini menjadi sandaran bagi Sheerin, kini telah kembali. Sheerin sangat merindukan pundak ini.


Lea mengulurkan tangannya, menyambut pelukan Sheerin, seketika, isak tangis langsung terdengar dari bibir Sheerin, dia menangis sambil memeluk Lea.


"Loe harus janji Rin. Mulai sekarang loe harus cerita apapun yang terjadi dalam hidup loe ke gue. Kalau nggak, jangan harap loe bisa kenal lagi sama gue." Memaksa dan mengancam. Lea tak ingin kehilangan sahabat terbaiknya lagi. Sendiri tidak menyenangkan. Dia membutuhkan sosok sahabat untuk membuat arti hidup menjadi lebih nyata.


"Gue janji Le, maafin gue ya?" Lea mengangguk samar.


Cukup lama mereka saling berpelukan, melepas kerinduan yang telah lama terpendam. Sebelum akhirnya mereka melepaskan pelukan itu.


"Oh ya Rin, yang tadi itu si Levin kan? Anak baru dikampus yang sering sama si Clarissa." Tanya Lea mulai kepo, kecanggungannya kini sudah menguap pergi. Dia kembali bersikap seperti dulu, hangat dan penuh perhatian. Itu salah satu sikap Lea yang sangat Sheerin rindukan.


"Heem, gue pacaran sama dia." Jawab Sheerin malu-malu kucing.


"Apa? Kok bisa sih? Ayoo! Cerita sama gue!" Lea mengguncang tangan Sheerin, tak sabar ingin mendengar kisah percintaan antara Sheerin dan juga Levin. Ternyata, Lea banyak tertinggal dengan kisah yang terjadi dalam hidup sahabatnya itu.


______________________


Sekalian promo ya, siapa tau aja minat baca disana 🤭



Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...

__ADS_1


__ADS_2