Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Terlupakan


__ADS_3

Happy reading guys...


Akhirnya, Nindi dan Sheerin pergi dari rumah itu tanpa mendapat hasil apapun kecuali sebuah fakta jika mama Anya memang berselingkuh dengan Luis.


Bahkan mereka diusir paksa dengan kasar layaknya seekor kucing yang ketahuan sedang mencuri ikan.


Malam harinya, Nindi dan kak Bima terlihat sedang menonton televisi diruang tengah, sedangkan Sheerin sudah masuk ke kamar sejak tadi. Entah apa yang sedang dia lakukan.


"Apa kak Bima tau Ayah pergi kemana setelah menjebak aku kemarin?" Tanya Nindi memulai percakapan.


"Tidak." Menjawab sesingkat itu.


"Ayah sekarang ada dirumah Sheerin, dia tinggal sama mama Anya disana berdua." Nindi malah menjawab pertanyaannya sendiri.


"Apa? Kamu yakin?" Bertanya kemudian.


"Iya, tadi siang aku sama Sheerin ke sana. Dan ayah ada disana." Jawab Nindi.


Kak Bima terlihat menghembuskan nafas, menatap Nindi dengan ragu. Haruskah dia mengutarakan kecurigaannya selama ini?


"Aku sudah menduganya selama ini, jika diantara mereka ada hubungan yang spesial. Tapi yang tak aku habis fikir. Kenapa mereka menjodohkan aku dengan Sheerin jika mereka saling mencintai?" Ucap kak Bima.


"Jadi selama ini kakak juga mikir kaya gitu?" Tanya Nindi.


"Iya." Menjawab sambil mengangguk.


"Berarti kita satu pemikiran. Aku mau bicara sesuatu. Tapi kakak jangan tersinggung ya." Ragu Nindi berkata.


"Tentang ayah?" Tanya kak Bima.


"Iya, aku berpikir kalau perjodohan ini cuma kedok buat menutupi hubungan mereka yang sebenarnya. Sedangkan waktu itu ayah Lukman masih hidup. Dan sekarang setelah ayah nggak ada, mama Anya menguasai semua harta ayah. Terus ayah kak Bima minta kita bercerai, dan sekarang mereka terang-terangan tinggal bersama. Aku rasa itu bukan sebuah kebetulan kak." Ucap Nindi panjang lebar.


Kak Bima bergeming, meskipun tak membalas perkataan Nindi, namun setiap kata itu berhasil memenuhi ruang di pikirannya itu.


'apa iya ayahnya sejahat itu?' Bima sendiri tak bisa menyangkal semua itu, sedangkan dia sendiri tau bagaimana sikap dan perilaku kasar ayahnya selama ini. Dia memperlakukan anak kandungnya sendiri dengan kurang baik, tak menuntut kemungkinan ayahnya juha bisa melakukan hal yang jauh lebih buruk terhadap orang lain.


"Maaf ya kak, aku nggak bermaksud mempengaruhi kakak. Aku cuma mengatakan apa yang ada di pikiran aku." Ucap Nindi.


"Tidak apa." Menjawab sambil tersenyum.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


Terdengar pintu diketuk oleh seseorang dari Luar. Membuat Nindi dan Bima menoleh ke arah daun pintu.


"Siapa?" Tanya kak Bima.


"Nggak tau, biar aku liat dulu kedepan." Nindi beranjak, kemudian berjalan mendekat ke arah pintu.


Krek!


Pintu terbuka, Nindi bisa langsung melihat orang yang telah menganggu waktunya bersama kak Bima. Dia menyambut kedatangan tamunya itu dengan sinis.


"Ngapain loe kesini malam-malam? Emangnya nggak bisa besok lagi?" Nindi melipat kedua tangannya di dada, menyandarkan punggungnya di kusen pintu. Berlaga tegas tapi terkesan galak.


Entah kenapa Levin merasa jadi harus membaik-baiki Nindi mulai sekarang agar di beri restu sepenuhnya. Jika dia masih bersikap seperti dulu, dia takut Nindi berubah pikiran dan menolak memberinya restu.


"Sheerinnya ada?" Tanya Levin sambil nyengir kuda menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Sheerinnya udah tidur." Jawab Nindi.


Levin mengangkat tangannya, melihat jam yang melingkar disana. Pukul 19:05. Masih terlalu sore untuk seorang gadis tidur di malam minggu seperti ini. Levin semakin tak percaya pada Nindi, sebab beberapa waktu lalu Levin masih bertukar pesan dengan Sheerin.


Nindi melirik sesuatu yang ada di tangan Levin, sebuah kresek. Kira-kira apa isinya? Dia terus saja memperhatikan barang bawaan Levin itu. Menduga-duga dalam hati.


"Itu apaan?" Tanya Nindi sambil mendelik kresek Levin.


Levin mengangkat kreseknya ke udara.


"Ini?" Astaga! Si urakan sedang mengincar barang bawaannya, untung saja tadi Levin membeli dua box. Jadi dia bisa memberikan satu untuk calon kakak iparnya itu sebagai barang sogokan. Biar diizinkan bertemu pujaan hatinya, begitu.


"Ahh, ini spesial gue beli buat loe sama suami loe." Levin menyerahkan satu kresek pada Nindi. Tanpa ragu Nindi menerimanya, membuka kantong kresek itu dan melihat isinya.


'waah, martabak.' Bergumam dalam hati. Matanya berbinar seperti baru saja mendapat harta karun. Bau martabak yang khas langsung menembus indra penciumannya, membuatnya tak sabar untuk menghabisi kudapan manis itu.


"Jadi gimana, Sheerinnya ada kan?" Tanya Levin.


"Kayaknya dia udah bangun sekarang." Jawab Nindi. Jawabannya yang tadi dan sekarang berbeda, sangat tidak konsisten. Levin menatapnya sebal. Harus di suap dulu baru diizinkan bertemu dengan Sheerin. Dasar cewe urakan matre! Pikirnya.


Levin hendak menerobos masuk, melewati Nindi dengan percaya diri. Namun dengan sigap Nindi menahan tubuh Levin sebelun dia benar-benar masuk.


"Mau kemana loe?" Tanya Nindi kembali berubah galak.


"Mau ketemu Sheerin lah." Jawab Levin nanar.

__ADS_1


"Siapa suruh loe masuk? Tunggu diluar aja!" Ucap Nindi berusaha bersikap setegas mungkin. Matanya sengaja di buat bulat dan tajam.


Tanpa mendengar ucapan Levin selanjutnya, Nindi membalikkan badan, kembali masuk kedalam dan menutup pintu dengan cukup keras. Membuat Levin terlonjak kaget di buatnya.


"Astaga! Apa gue bakal sanggup menghadapi kakak ipar kayak gitu?" Levin memijat pelipisnya sendiri setelah kepergian Nindi. Diapun memutuskan untuk duduk di tangga teras rumah itu.


***


"Siapa sayang?" Saat melewati ruang tengah, Nindi mendapat teguran dari kak Bima. Nindi menghentikan langkahnya yang hendak pergi ke kamarnya yang kini ditempati Sheerin lalu menghampiri suaminya itu.


"Si tengil. Dia bawain ini, kita makan yuk!" Nindi menunjukkan kresek pemberian Levin tadi.


"Wah, sepertinya enak." Kak Bima terlihat antusias. Akhirnya merekapun menyantap martabak yang masih hangat itu berdua. Melupakam seseorang yang sedang menunggu diluar sana.


Sementara itu, Levin benar-benar terlupakan. Sudah hampir setengah jam dia menunggu diteras rumah kak Bima. Berharap Sheerin akan muncul dari balik pintu sana. Sudah mengirinya pesan chat, namun Sheerin tak kunjung membacanya.


Kemana sebenarnya penghuni rumah itu? Apa mereka tertidur masal?


Puk! Puk!


Levin menepuki nyamuk yang hinggap di tangan dan kakinya, benar-benar keterlaluan si urakan! Sepertinya dia sedang mengerjai Levin. Tidak ada terimakasih-terimakasihnya sama sekali. Sudah di sogok juga. Ini namanya memberi air susu dibalas air tuba.


Merasa dikerjai, Levin beranjak dan berjalan menuju pintu, sudah habis kesabarannya menunggu.


Tok... tok... tok...


Dia menggedor pintu di hadapannya dengan tak sabaran. Si urakan tak bisa dibiarkan, di beri hati malah minta jantung.


Sementara itu didalam rumah, Nindi dan Bima baru saja menghabiskan satu box martabak. Keduanya sama-sama menyukai makanan manis sehingga tak ada sedikitpun yang mereka sisakan. Saat terdengar suara pintu kembali diketuk, Nindi baru tersadar kalau si tengil sedang menunggu di depan.


"Siapa lagi?" Tanya kak Bima.


"Astaga kak, itu si tengil. Aku lupa belum ngasih tau Sheerin kalau dia datang." Jawab Nindi panik sendiri. Membayangkan bagaimana wajah kesal Levin nanti.


"Kenapa kamu bisa sampai melupakannya? Kasihan kan dia?" Ucap kak Bima.


"Ya udah kalau gitu, aku panggil Sheerin dulu!" Bergegas Nindi pergi ke kamarnya untuk memanggil Sheerin sebelum si tengil ngamuk dan mendobrak pintu rumah kak Bima ini.


_____________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...

__ADS_1


__ADS_2