
"Bawa mereka ke markas!"
"Baik, tuan" Mereka membawa Tiara.
"Sebagai ikut aku?!"
Reno dan beberapa orang pergi ke tempat pelayan. Reno mengetuk kamar seorang pelayan.
"Tok tok tok" seseorang membuka.
"Tu..tu...tuan Reno?" Ucap pelayan itu terbata-bata karena terkejut.
"Dimana Pelayan Gladis?" Dia melihat ke dalam dan ketakutan.
"Tuan itu. Tuan itu. Gladis dia dia..."
"Cepat katakan! Dia dimana?!" Bentak Reno.
"Gladis dia. dia..."
"Maafkan kami, tuan Reno. Kami juga tidak tahu dimana Gladis. Dia tidak kembali saat anda menyuruh para pelayan kembali ke kamar masing-masing"
"Ke..."
Seseorang berbisik pada Reno.
"Apa?! Kenapa kalian tidak ada yang memberi tahuku?!"
"Maaf, tuan. Kami tidak tau anda mencari pelayan tersebut"
"Sudah sudah"
Reno pergi dan langsung diikuti semua.
"Berjaga-jagalah, namun jangan sampai kakak ipar menyadarinya. Semakin dia tidak tau, semakin baik"
"Baik, tuan"
Reno mengendarai mobilnya ke suatu tempat, tempat dimana merawat seseorang yang sedang sakit. Ya rumah sakit.
Orang yang di cari Reno adalah Gladis.
__ADS_1
"Tuan, Reno" sapa anak buahnya melihat Reno datang.
"Bagaimana keadaan"
"Dokter sedang menanganinya, tuan"
Reno langsung saja masuk kedalam ruangan rawat itu.
"Tuan Reno?!" Sapa dokter itu hormat.
"Bagaimana keadaanya?!"
"Dia akan baik-baik saja, tuan. Hanya butuh beberapa saat untuk sadar"
Reno hanya mengangkat tangannya isyarat untuk dokter dan perawat itu pergi.
"Jaga dia dan kabari aku saat dia sadar" ucap Reno pada anak buahnya.
"Baik tuan, Reno"
Baru sampai depan rumah dia sudah melihat Abraham berdiri di depan pintu.
"Kakak?!" Reno mendekat pada Abraham dengan senyum-senyum.
"Ingin rasanya aku menembakmu?!" Ucap Abraham di sambut dengan cengengesan si Reno.
"Bagaimana bisa kau sangat ceroboh. Kau fikir kau akan bisa menanganinya sendiri? Ha?!"
Reno hanya diam dengan senyum dengan beribu arti.
"Anda benar-benar ceroboh, tuan Reno. Bagaimana jika mereka berhasil masuk ke kamar nyonya dan berhasil membunuh, nyonya? Apa anda berfikir anda hebat sekarang?"
"Tapi kakak ipar baik-baik saja bukan? Kakak ipar pasti juga tidak menyadarinya, kan?" Ucap Reno sombong.
"Anda sama sekali tidak bisa berbangga, tuan. Jika tak ada pelayan itu, mungkin sekarang anda sudah kalah dan anak buahmu ada 2 kan yang terluka?" Ucap sekertaris Kim menghancurkan kebanggaan Reno seketika.
"Siapa nama pelayan itu?" Tanya Abraham.
"Gladis, kak"
"Kau harus memastikan dia sembuh dan selidiki dia. Dia juga sedikit mencurigakan"
__ADS_1
"Iya, kak. Dia memang sedikit aneh" ucap Reno sambil berdiri dan membersikan lututnya yang kotor.
"Em. Ayo Kim" ucap Abraham dan pergi.
"Baik, tuan besar"
"Kakak mau kemana? Udah lihat kakak ipar? Sepertinya dia rindu tuh sama kakak" Jerit Reno. Abraham tidak mempedulikan ucapan Reno dan pergi saja .
"Apa kakak sudah lama di sini?" Tanya Reno pada anak buahnya"
"Iya tuan. Tuan besar langsung berjalan ke kamarnya untuk melihat nyonya"
"Apa?! Dih dasar" Reno melihat dua orang yang tadi pergi sekarang mobilnya sudah keluar dari gerbang.
"Bagaimana reaksi kakak ipar saat melihat kakak? Apa langsung memeluknya"
"Tidak, tuan. Nyonya sudah tertidur"
"Dih. Engga seru ah" balas Reno "Beristirahat dan panggil yang lain. Aku juga mau tidur"
"Baik, tuan"
Disisi lain.
"Kenapa anda tidak membangunkan nyonya, tuan besar?"
"Belum waktunya. Aku hanya ingin memastikan dia baik2 saja. Belum saatnya aku kembali. Setelah semua selesai, aku akan datang dan menyelesaikan masalahnya juga"
"Baik, tuan besar" jawab sekertaris Kim.
"Bagaimana dengan anaknya Nick, Kim?"
"Kami sudah mendapatkan tempatnya, tuan besar. Penyelamat akan dilakukan ketika drama di mulai"
"Besok kita selesaikan masalah Nick dan pelayan itu, Kim. Kau dan Dorris sudah tau apa yang harus kalian lakukan, kan?"
"Sudah, tuan besar. Saya juga sudah menjelaskan kepada Dorris"
"Katakan pada Dorris jangan buat masalah. Aku yakin padamu, tapi aku masih kurang yakin padanya yang ceroboh itu"
"Saya akan mengingatkannya kembali, tuan besar"
__ADS_1
"Em"