Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
EKSTRA PART #2


__ADS_3

Sheerin lulus dengan nilai terbaik tahun ini. Betapa bahagianya hati perempuan itu, akhirnya dia bisa menamatkan pendidikannya dengan nilai yang sangat memuaskan. Tak sia-sia perjuangannya selama ini, kabur dari perjodohan, membohongi semua orang, mengecewakan ayahnya hingga mendapat karma atas semua kejahatan yang telah ia perbuat.


Namun terlepas dari semua itu, Sheerin telah mendapat banyak pelajaran yang berharga agar memanfaatkan waktu yang masih Tuhan berikan dengan sebaik-baiknya. Bahkan sampai detik ini Sheerin masih belajar untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.


Sheerin dan teman-taman seperjuangannya silih berganti mengucapkan selamat atas kelulusan mereka. Tak lupa mengambil potret sebanyak-banyaknya untuk dijadikan kenang-kenangan dan upload di sosial media juga tentunya. Agar seluruh dunia tau jika mereka kini telah meraih gelar sarjana.


"Seru ya kak. Jadi inget jaman sekolah." Ucap Nindi sambil tersenyum saat Sheerin berkerumun dengan Lea dan wisudawati lainnya.


"Apa kamu menyesal tidak melanjutkan pendidikan mu? Jika kamu mau, kamu boleh kuliah tahun ini." Bima menanggapinya dengan serius.


Nindi menoleh kearahnya. Yang benar saja, Nindi saja bisa lulus SMA berkat bantuan Sheerin. Mana mungkin dia akan sanggup menghadapi bangku perkuliahan yang pelajarannya pasti lebih rumit. Bisa-bisa kepala Nindi pecah.


"Nggak kak, makasih. Aku mending bantuin Sheerin aja ngembangin usahanya. Apalagi setelah ini Sheerin kan mau buka cabang baru buat toko kerudungnya, dia pasti bakal kerepotan kalau nggak ada aku." Ngeles sebenarnya.


"Ya sudah. Terserah kamu saja. Aku tidak akan memaksa." Balas Bima.


Kemudian Nindi melihat Levin yang menghampiri Sheerin sambil membawa buket bunga di tangannya.


"Selamat ya yang. Akhirnya kamu wisuda juga. Ini bunga cantik untuk perempuan cantik." Dengan senyum mengembang Levin menyerahkan bunga itu tepat di hadapan Sheerin.


Dengan malu-malu Sheerin menerimanya dan mencium wangi segar bunga itu.


"Makasih ya Lev. Berkat dukungan kamu juga aku bisa berdiri disini sekarang. Aku do'a in kamu juga bisa lulus taun depan dengan nilai terbaik " ucap Sheerin.


"Amiin."


"Kalian kapan meridnya nih? Kita tunggu lho undangannya!" Ucap Lea sambil menyenggol bahu Sheerin.


"Iya, jangan lupa kita-kita di undang ya!" Sambung yang lainnya.


"Insyaallah tahun depan, setelah gue wisuda. Pasti gue undang semua. Awas aja kalian kalo sampe nggak datang." Levin yang menjawab.


"Kirain bulan depan."


"Ya udah, semoga berjalan lancar sampai nanti waktunya ya!"


"Amiin."


"Rin, sini gue fotoin kalian berdua!" Seru Lea.


"Boleh juga tuh!" Levin mendekat kearah Sheerin untuk diambil potretnya.


"Pake hp gue nih Le!" Sheerin menyodorkan ponselnya pada Lea.


"Oke, sini!" Lea mengambilnya.

__ADS_1


"Yang banyak ya!" Pinta Levin.


"Beres, serahin aja sama gue, photographer profesional." Ucap Lea pongah.


Sheerin menebarkan senyumnya, begitupun dengan Levin. Mereka terlihat sangat serasi disana. Lea mengambil potret mereka sebanyak-banyaknya sesuai requestan Levin.


Seorang ibu hamil dengan toga di kepalanya terlihat menghampiri mereka, membuat Lea menghentikan aktifitas memotretnya. Sheerin dan Levin kemudian menghampirinya.


"Astaga Ris, loe datang juga? Bukannya kandungan loe ini udah memasuki bulannya ya?" Sheerin terlihat mengkhawatirkan keadaan Clarissa yang sedang hamil tua.


"Iya lah, mana mungkin gue ngelewatin acara penting kayak ini. Kapan lagi coba gue di wisuda?" Ucap Clarissa sembari memegangi pinggangnya yang sakit. Untuk berjalan pun sepertinya sulit.


"Awas brojol disini itu anak." Ucap Lea yang sepertinya masih menyimpan dendam pada Clarissa. Padahal sejak 3 tahun terakhir, Clarissa sudah banyak berubah. Dia tak suka lagi mencari gara-gara kepada Sheerin. Mungkin pengaruh positif dari pacar barunya.


"Astaga sayang. Kita pulang sekarang aja ya kalau acaranya sudah selesai. Kamu harus banyak istirahat." Reza terlihat menimbrung percakapan mereka.


"Ya udah. Gue duluan ya. By!" Clarissa kemudian pergi dipapah suaminya itu.


"Ok, hati-hati Ris. Gue do'a in biar loe sama bayi loe sehat dan selamat pas lahiran nanti." Ucap Sheerin.


"Amin. Thanks ya!" Setelahnya, mereka benar-benar berlalu.


Setelah kepergian Clarissa dan suaminya.


"Gila ya itu orang. Kawin baru tiga bulan bunting nya udah segede gitu." Lea geleng-geleng kepala sambil menatap kepergian Clarissa.


"Hah? Maksudnya apa?" Tanya Sheerin yang tak paham dengan perkataan Levin.


"Udah jangan dipikirin. Kamu mau ngikutin cara mereka biar cepet-cepet dinikahin?" Levin menaik turunkan alisnya menggoda. Dan itu berhasil mengundang sikut tangan Sheerin untuk meninju perutnya dengan cinta.


"Aww. Sakit yang." Levin meringis manja sesaat setelah Sheerin meninju perutnya, padahal sih tidak terlalu sakit. Hanya biar Sheerin mengasihinya saja.


"Makanya kalau bicara jangan ngelantur. Kalau jadi fitnah gimana?"


"Iya iya bu hajah. Hamba minta maaf." Lebay nya mulai kambuh.


"Gue heran deh. Kenapa mereka yang belum nikah bisa cepet di kasih anak. Sedangkan kembaran loe yang udah bertahun-tahun nikah tapi masih belum dipercaya buat punya anak?" Ucap Lea prihatin.


"Ya mungkin belum waktunya aja kali Le. Kita do'a in aja biar Nindi cepet hamil." Balas Sheerin.


"Amiin."


Levin malah membayangkan jika Nindi punya anak nanti, anaknya itu akan mirip siapa ya? Jangan sampai sikap urakan Nindi menurun pada anaknya. Kalau iya, bisa habis nanti Levin di pukuli oleh anaknya si urakan itu. Levin bergidig ngeri membayangkan Nindi junior. Levin berharap sih anak mereka mewarisi sifat ayahnya. Agar populasi manusia waras tidak cepat punah.


***

__ADS_1


3 bulan berlalu...


Setelah Sheerin mendapat gelar sarjana fashion design, dirinya benar-benar fokus menjalankan bisnis busana muslim dan hijab. Bahkan dua bulan yang lalu dirinya resmi membuka sebuah butik di pusat kota. Melakukan pekerjaan yang sangat ia cintai, membuat Sheerin tak merasa lelah melakukan semua itu. Justru ia semakin bersemangat menciptakan desain-desain untuk koleksi di butiknya.


Seperti siang itu, Nindi sedang berkunjung ke butik milik Sheerin. Suasana pagi menjelang siang itu cukup ramai. Ada pengunjung yang sedang fitting pakaian muslim untuk acara pra-wedding. Ada juga yang hanya sekedar membeli untuk koleksi pribadi.


Sengaja sebelum berangkat ke kantor, kak Bima mengantar Nindi untuk membantu Sheerin membuka butik.


Nindi duduk di kursi kasir karena memang tak ada kerjaan yang bisa dia bantu, Sheerin sibuk melayani pelanggan-pelanggannya dibantu satu orang karyawan. Nindi mengusap tengkuk yang bulunya mendadak berdiri semua. perasaannya jadi tidak enak begini. Padahal tadi pagi keadaannya masih baik-baik saja. Apa mungkin efek AC di butik itu? Bisa jadi. Karena selama ini kan Nindi alergi dengan cuaca dingin.


"Oeek." Tiba-tiba saja perut Nindi terasa mual, ingin muntah. Apalagi akhir-akhir ini Nindi tidak berselera untuk makan. Bahkan tadi pagi sebelum datang ke butik inipun Nindi belum mengisi perutnya. Apa asam lambungnya sedang naik sekarang?


"Oeek." Nindi tak tahan lagi, secepat kilat dia berlari menuju toilet, melewati Sheerin yang menatap bingung kepergian Nindi.


"Kenapa sih dia?" Tanya Sheerin pada karyawannya yang sedang melayani pelanggan.


"Tidak tau kak." Si karyawan menjawab dengan kikuk.


Sheerin kembali melanjutkan pekerjaannya, biar nanti dia urus Nindi setelah pekerjaannya selesai.


***


Malam harinya di kediaman Sheerin, Bima dan Nindi.


Nindi menghampiri Bima yang sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Kak, beliin aku rujak dong." Ucap Nindi tiba-tiba. Bima menoleh ke arah istrinya itu kemudian beralih menatap jam yang melingkar di tangannya."


"Ini sudah malam sayang, dimana ada penjual rujak?" Tanya Bima.


"Ya nggak tau. Pokoknya kak Bima cari aja sampai dapet!" Jawab Nindi.


"Kamu tidak boleh makan yang asam pedas, belakangan ini asam lambung mu sedang naik bukan?" Tanya Bima.


"Pokoknya aku mau rujak. Kak Bima jangan pulang kalau nggak bawa rujaknya." Malah marah-marah. Kemudian Nindi berlalu pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya. Ngambek.


Bima menghembuskan nafas asal. Tidak biasanya istrinya bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Diapun beranjak, kebetulan Sheerin lewat. Bima segera menegurnya.


"Nindi kenapa? Belakangan ini sikapnya berubah menjadi aneh. Dia sering memarahiku tanpa sebab." Ucap Bima tiba-tiba.


"Iya kak. Tadi waktu di butik dia muntah-muntah. Apa dia lagi sakit?" Tanya Sheerin.


"Apa? Dia muntah-muntah?" Tanya Bima mengulang perkataan Sheerin. Sheerin mengangguk pelan.


__________________

__ADS_1


Tunggu satu ekstra part selanjutnya ya... Like dan Komen buat yang rindu sama mereka...


__ADS_2