Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Episode 15 Tabrakan


__ADS_3

            Leddy merengut kesal pada Mahe yang berani memblokir nomor dan akun sosmednya yang lain. “Tega kamu Mahe.”


            Leddy sudah tidak kuat lagi. Perutnya sakit karena belum menerima asupan apa pun. Kepalanya juga terasa


berat akibat kehujanan tadi,  lehernya sudah basah oleh keringat karena menahan sakit yang mulai berdatangan. Pandangannya mulai kabur, namun ia masih tetap fokus pada stir mobil yang dipegangnya. Leddy sedikit kesusahan karena kepalanya tiba-tiba pusing.


Leddy hendak menepikan mobilnya untuk sekedar melepas lelah, belum sempat mobil itu berhenti, tiba-tiba ada kendaraan roda dua yang berhenti mendadak akibat bocor ban. Saking kagetnya dengan kemunculan sepeda motor itu, bukannya menginjak pedal rem, Leddy malah menginjak pedal gas. Gadis itu sontak membanting setir


ke arah kanan. Namun sayang, saat mobil itu berpindah arah, sebuah mini bus menabraknya dari arah belakang. Membuat badan mobil itu remuk dan Leddy yang berada di dalamnya tak sadarkan diri karena kepalanya sempat terbentur ke setir mobil.


Mobil Leddy memutar dengan sendirinya di tengah jalan setelah ditabrak oleh mini bus itu. Kemudian, kembali dihantam oleh truk fuso yang mengangkut bahan material dengan kecepatan tinggi. Mobil Leddy berguling-guling sebanyak tiga kali, begitu pun dengan mini bus yang menabrak pembatas jalan dan menyerempet beberapa kendaraan lainnya dan pejalan kaki. Sedangkan truk fuso itu berhenti di tengah jalan setelah menabrak mobil Leddy.


Mobil Honda Civic itu tak terbentuk lagi. Mobil itu dikerumuni banyak orang yang hendak menyelamatkan Leddy yang bersimbah darah tak sadarkan diri.


“Pecahkan saja kacanya,” ujar seorang ibu-ibu.


“Mba, buka Mba,” ucap seorang pria berbadan besar. Ia menempelkan kepala ke kaca mobil yang sudah retak seraya berusaha untuk memecahkan kaca tersebut.


Di dalam mobil, Leddy perlahan membuka matanya setelah beberapa kali mendengar teriakan orang-orang sekitar yang memanggil namanya. Kepalanya terasa sakit, Leddy meringis sembari memegangnya erat. Darah mengalir dari kepalanya yang sobek akibat membentur beberapa kali. Pandangan gadis itu kabur, napasnya naik turun antara takut dan menahan sakit. Ia masih berupaya untuk membuka lebar mmatanya, menatap ke arah orang-orang yang berusaha untuk mengeluarkan dirinya. Di sela-sela kerumunan warga, Leddy menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Sosok itu tengah berdiri menatapnya sembari tersenyum.


“I-Ibu,” lirihnya pelan sembari membalas senyuman sang ibu. Sedetik setelah itu, Leddy kembali menutup matanya.

__ADS_1


***


Metha bergegas turun dari mobil saat mendapat telepon dari rumah sakit tentang kecelakaan yang menimpa sahabatnya. Ia berjalan tanpa memperdulikan situasi di sekitar. Pikirannya kacau,apa yang dialami Leddy membuat Metha takut. Bagaimana jika Leddy tak bangun lagi dan pergi meninggalkan dirinya untuk waktu yang lama? Metha tak bisa berpikir jika itu terjadi, mungkin ia akan menghabisi orang yang telah membuat sahabatnya menderita.


Situasi di rumah sakit hari ini cukup ramai, banyak pasien yang datang untuk melakukan pengecekan pada suhu tubuh mereka yang mulai melemah, diantaranya para lansia. Karena program pemerintah untuk memberikan layanan kesehatan pada masyarakat lanjut usia. Meski program ini diadakan di puskesmas terdekat, nyatanya masih banyak juga pasien yang memilih untuk datang ke rumah sakit.


Metha tak langsung menuju ruang di mana Leddy dirawat. Gadis itu memilih untuk mampir sejenak ke ruang kerja Leddy untuk memastikan sesuatu yang selama ini dicurigainya. Setelah tiba di sana dan memeriksa setiap laci ruangan itu, tak ada satu pun yang ia temukan. Metha yakin, bahwa Leddy menyembunyikan sesuatu darinya. Entah itu hanya ilusinya saja, atau Leddy benar-benar menjaga sesuatu agar Metha tak mengetahuinya?


“Di mana kamu menyembunyikannya, Led,” batinnya.


Ia merasa lelah, mencari sesuatu yang sulit untuk ditemukan. Metha memutuskan untuk keluar dan menuju ruang tempat Leddy di rawat. Di sana ia bertemu dengan dokter Farhan, dokter yang menangani kondisi Leddy saat ini.


“Farhan, bagaimana keadaan Leddy? Apa dia baik-baik saja?” tanya Metha panik.


“Gue juga nggak ngerti bagaimana Leddy bisa kecelakaan. Ceritanya panjang, Han dan gue bingung mau mulai dari mana.”


“Jangan bilang kalau ini semua terjadi karena pria itu?” ucapan Farhan berhasil membuat Metha terkejut.


“M-Maksud kamu?”


“Tha, jangan katakan padaku kalau itu benar. Kamu tahu kan, Leddy itu sepupu aku dan nggak akan pernah aku biarkan orang yang telah membuat Leddy terluka bisa hidup dengan tenang.” Dokter Farhan tampak emosi, bisa dilihat dari pancaran matanya yang menampilkan amarah dan dendam.

__ADS_1


Metha terdiam, bingung harus berkataapa. Disatu sisi ia tak ingin menyembunyikan apa pun dari dokter Farhan, disisi lain gadis itu sangat membenci Mahe dan Viona. Kalau bukan ulah mereka berdua, tentu Leddy tidak akan seperti ini.


“Bagaimana kondisinya? Apa lukanya parah?” ucap Metha mengalihkan pembicaraan.


“Iya, sangat parah.” Dokter Farhan membalikkan badan membelakangi Metha. “Entah dia bisa sadar atau tidak, yang jelas saat ini kitaakan berusaha melakukan yang terbaik untuknya. Aku nggak tahu seberapa parah kecelakaan itu, hingga membuat Leddy mengalami pendarahan di otak dan saat ini dia koma.”


Metha terkejut, menatap dokter Farhan dengan linangan air mata. “P-Pendarahan? Koma?” tanyanya tak percaya.


Dokter Farhan mengangguk, bersamaan dengan itu tubuh Methaambruk dan jatuh ke lantai. Tidak, itu tidak mungkin. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bersama, kini Metha harus siap menerimakondisi Leddy yang beradaantara hidup dan mati.


“Tha, kita harus segera mengoperasinya. Kalau tidak, Leddy tak akan selamat.” Lanjut Dokter Farhan.


Air mata Metha tumpah, gadis itu tak sanggup menahan kesedihan lagi. Dirinyabelum sekuat itu untuk kehilangan sahabatnya. “Lakukan, Han. Apa pun itu, asal Leddy selamat.”


“Tapi, Tha. Rumah sakit kita nggak cukup alat untuk melakukan itu, dan kita juga tidak punya dokter spesialis bedah otak. Kamu harus bawa dia ke luar negri.”


Metha tampak memikirkan sesuatu sebelum ia bangkit. Gadis itu sudah tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Dengan sisa tenaga yang ada, Metha berdiri dan dibantu oleh dokter Farhan.


“Urus semua berkasnya dan barang yang akan kami perlukan nanti. Aku mau keluar dulu, melakukan sesuatu hal yang penting,” ujarnya berlalu.


Dokter Farhan mengangguk dan menyuruh suster Eva untuk menyiapkan berkas dan beberapa barang yang akan dibutuhkan saat di luar negri nanti.Sedangkan Metha, gadis itu berjalan melewati koridor rumah sakit dan menuju mobilnya yang berada di parkiran. Sepertinya Methaakan meminta pertanggung jawaban pada orang telah membuat sahabatnya menderita.

__ADS_1


Gadis itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menerobos jalanan yang licin setelah diguyur hujan deras tadi. Ia sama sekali tak memikirkan resiko besar yang akan dihadapi, yang jelas Metha ingin bertemu dua orang, Mahe dan Viona.


__ADS_2