Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Masih baik


__ADS_3

Mama Anya membawa Luis ke halaman belakang rumah Lukman, tempat yang menurutnya tepat untuk membahas tentang pembicaraan rahasia mereka.


"Jadi, bagaimana sekarang? Kenapa urusannya menjadi rumit seperti ini? Dari mana datangnya perempuan yang mirip dengan Sheerin itu? Dan kenapa kita bisa sebodoh ini tidak menyadari jika perempuan yang kita nikahkan dengan Bima itu bukanlah Sheerin?" Luis tak habis fikir, dia terlihat frustasi.


"Aku juga tidak tau, kenapa Sheerin bisa bertemu dengan perempuan yang mirip dengannya itu lalu menipu kita seperti ini. Memang tidak di ragukan lagi Luis, dia adalah Shireen, bayi yang hilang saat kecelakaan itu terjadi." Ucap mama Anya.


"Jika seperti ini ceritanya, kita semakin sulit untuk menguasai harta si keparat itu, bertambah satu orang lagi yang harus kita singkirkan. Apa lagi kamu lihat tadi, Bima masih bisa bersikap baik pada perempuan itu meskipun tau dia telah dibohongi."


"Memang bodoh anakmu itu, kenapa dengan mudahnya dia bisa jatuh cinta pada Sheerin palsu itu."


Kemudian keduanya saling terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Oh ya Luis, Sheerin sangat yakin jika ibunya itu masih hidup, untung saja waktu itu kita bergerak cepat untuk menyingkirkan Fira saat dia kembali untuk menemui Lukman. Jadi, kita tak perlu mencemaskan lagi tentang hal itu." Ucap mama Anya tiba-tiba.


Wajah Luis mendadak jadi pucat saat mama Anya membahas tentang kematian Fira.


"Ahh, y ya!" Dengan gugupnya Luis menjawab.


"Waktu itu, kamu benar-benar membunuh Fira, kan?" Tanya mama Anya memastikan.


Namun Luis malah merasa dirinya tengah diintrogasi, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, mulutnya seolah terkunci segingga tak bisa memberikan jawaban meski untuk sekedar berbohong.


"Iya, kan Luis?" Sekali lagi mama Anya bertanya.


"Emm, ya ya. Tentu saja Anya." Luis menjawab dengan tergagap.


"Ada apa denganmu? Cuaca disini cukup dingin, tapi kenapa kamu berkeringat seperti itu?" Tanya mama Anya keheranan.


Dengan gerakan cepat Luis menyusut pelipisnya, dan benar saja, disana telah dibanjiri oleh peluh.


***


"Non, ini beberapa foto nyonya Fira." Bi Iin kembali sambil membawa sebuah amplop.


"Sini Bi!" Sheerin menerimanya dengan berbinar. Kemudian dia membuka isi amplop itu, nampaklah wajah seorang ibu muda yang tengah menggendong bayi.


"Itu nyonya Fira bersama Non Sheerin." Ucap bi Iin. Lagi-lagi air mata berhasil lolos dari pelupuk mata Sheerin, selama 19 tahun dia hidup didunia, ini pertama kalinya dia melihat wajah perempuan yang telah melahirkannya. Sungguh miris memang, namun itu memang kenyataan getir yang selama ini dia jalani.


Lalu Sheerin beralih pada foto berikutnya, dimana sang ayah yang nampak lebih muda tengah menggendong akan perempuan, Sheerin memprediksi kira-kira umur anak itu sekitar 5 tahunan, ayahnya mengapungkan anak itu ke udara, dan di sampingnya terdapat Fira yang tengah tertawa melihat pose dari suami dan anaknya itu. Mereka terlihat sangat bahagia disana, Sheerin harus merelakan air matanya bercucuran hingga menetes mengenai foto itu.


Sheerin tak sanggup untuk berpindah pada foto berikutnya, hatinya serasa disayat-sayat hingga sangat begitu perih rasanya.


"She, memangnya loe nggak tau gimana wajah ibu kandung loe sendiri?" Tanya Nindi.


"Nggak Nin, ini pertama kalinya gue liat foto ibu. Semua orang merahasiakan semua tentang ibu dari gue." Jawab Sheerin dengan suara paraunya.


Nindi hanya bisa mengelus pundak perempuan yang mirip dengannya itu.


"Ini siapa bi? Kenapa ada anak kecil disini?" Tanya Sheerin kemudian.

__ADS_1


"Ini Sandrina, dia kakak non, anak pertama tuan dan nyonya." Jawab bi Iin.


"Kenapa bibi baru cerita sekarang ke aku? Ternyata aku bukan satu-satunya anak ayah." Balas Sheerin.


"Maaf non, bibi hanya berkomitmen untuk tidak mengungkit tentang masalalu keluarga ini." Jawab bi Iin.


"Lalu, dimana Sandrina sekarang bi?" Pertanyaan dari Nindi yang juga mewakili pertanyaan Sheerin.


"Saat nyonya mengandung si kembar. Sandrina terkena penyakit tyvus, kejang-kejang lalu meninggal. Maka dari itu saat tau Shireen kejang-kejang, nyonya sangat panik, dia nekat membawanya kerumah sakit meskipun sedang terjadi hujan badai. Dia takut kalau nasib Shireen akan seperti Sandrina." Dongeng bi Iin.


"Tapi Shireen tidak kejang-kejang bi, ada orang yang memberinya obat tidur. Aku yakin jika semua ini ulahnya mama Anya, dia yang udah merencanakan semuanya, yang juga merencanakan kecelakaan ibu." Sheerin berkata dengan penuh keyakinan.


"...bibi tau sendiri, kan gimana perlakuan mama Anya ke aku selama ini? Dia nggak pernah sayang sama aku dan ayah. Dia cuma mau uangnya ayah aja. Bibi percaya 'kan sama aku?" Sambungnya kemudian.


"Tapi kita tidak bisa sembarangan menuduh tanpa adanya bukti." Bima mulai buka suara.


"Iya, kak Bima benar She." Ucap Nindi alias Shireen.


Sejenak Sheerin terdiam, merenungi kata-kata yang diucapkan oleh Bima tadi. Baiklah, untuk saat ini Sheerin mengakui jika itu benar adanya, hanya saja dugaan yang dia rasakan itu terlalu kuat.


"Oh ya She, gimana sama ibu? Apa loe udah hubungin kak Yuvi buat bawa ibu kesini?" Tanya Nindi kemudian.


"Belum, gue rasa kita harus membahas masalah ini setelah ayah dimakamkan." Sheerin berkata dengan sendu, sambil menatap pilu kearah sebuah kain putih yang menutupi sekujur tubuh kaku milik ayahnya. Hanya tinggal raganya saja, jiwanya telah melayang pergi jauh ke alam kedamaian.


Nindi mengangguk, tak ingin menabur garam diatas luka Sheerin, diapun memilih untuk tidak membahas tentang apapun lagi.


***


Setelah membacakan surat yaasin beberapa kali, Bima memutuskan untuk meminjam kamar tamu untuk menumpang istirahat sebentar sebelum matahari terbit dan dia akan kembali disibukkan dengan prosesi pemakaman Lukman.


Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur itu, kemudian matanya tertuju pada langit-langit kamar, hari ini begitu banyak kejutan yang dia dapatkan. Dimulai dari berita kematian Lukman, sampai kabar jika istrinya itu ternyata telah menipunya habis-habisan.


Kecewa memang, kendati demikian Bima tidak bisa marah ataupun membenci sosok istrinya itu. Rasa sayang yang tumbuh secara perlahan di hatinya mengalahkan segalanya.


Krek!


Tiba-tiba saja pintu kamar dibuka seseorang, terlihat Nindi tengah berdiri di ambang pintu. Sontak Bima menoleh kearahnya.


"Kak Bima belum tidur?" Tanya Nindi lirih.


"Bagaimana aku bisa tertidur? Aku disini hanya ingin mendinginkan pikiran sebentar." Jawab Bim kemudian.


Nindi berjalan mendekat kearah Bima, menggeser kursi didepan meja rias lalu duduk di sana. Bima mengubah posisi rebahannya, kemudian ikut terduduk.


"Ada apa?" Tanya Bima saat melihat wajah kusut milik sang istri


"Aku bingung kak." Jawab Nindi dengan wajahnya yang ditekuk.


"Bingung kenapa?" Tanya Bima.

__ADS_1


"Banyak kebingungan di pikiran aku sekarang. Tentang kak Bima, tentang Sheerin, tentang ibu, tentang hidup aku." Jawab Nindi.


"Aku? Kenapa kamu membingungkan tentang aku? Bukankah aku tetap bisa menerimamu?" Tanyanya lagi.


"Justru itu, aku pikir kak Bima akan marah dan benci sama aku. Tapi kenapa setelah mengetahui semuanya, kakak masih bisa bersikap baik sama aku?" Kini giliran Nindi yang bertanya.


"Karena bagiku, pantang untuk mengingkari janji pada orang yang aku sayangi. Aku tidak memiliki siapa-siapa selain ayah dan kamu, aku tidak ingin kehilangan kalian." Ucap Bima.


"Makasih ya kak." Nindi tersenyum, meskipun jauh dilubuk hatinya masih menyimpan kedundahan.


"Tapi, kamu harus menceritakan padaku bagaimana awalnya kamu bisa bertukar posisi dengan Sheerin!" Ucap Bima.


"Ini semua bermula karena ketidak sengajaan kak, waktu itu aku nyerempet Sheerin. Aku sama dia sama-sama kaget, kenapa wajah kita berdua sangat mirip. Aku diancam akan di jebloskan ke penjara kalau aku nggak mau menuruti kemauan Sheerin buat menggagalkan rencana perjodohannya. Sheerin juga menawarkan sejumlah uang, aku tergiur, karena jujur waktu itu aku butuh uang buat biaya sekolah sama biaya pengobatan ibu..."


"...singkat cerita akhirnya kita bertukar peran, malam itu aku berusaha untuk membuat laki-laki yang akan dijodohkan dengan Sheerin jadi ilfeel. Tapi aku gagal, aku malah terjerat dalam permainanku sendiri." Ucap Nindi panjang lebar.


Tanpa sadar Bima tersenyum, ingatannya melayang pada saat pertama kali bertemu dengan istrinya, dia dengan penampilan anehnya muncul di hadapan Bima.


"Kenapa kakak senyum-senyum kaya gitu?" Dengan sebalnya Nindi bertanya.


"Tidak." Bima menjawab sambil menahan tawa, Nindi benar-benar tersinggung, dia tak mau melanjutkan dongengnya lagi.


"Kenapa diam? Lanjutkan ceritanya!" Seru Bima.


"Nggak mau!" Nindi pura-pura merajuk, melipat kedua tangannya didada, dan memajukan bibirnya. Membuat Bima ingin melahap bibir merah itu.


Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk menuruti hawa ***** yang dia miliki. Bima harus membuang dulu jauh-jauh pikiran kotornya itu.


"Kak." Ucap Nindi kemudian.


"Ya?" Sahut Bima.


"Gimana kalau aku ini memang bukan anak kandung ibu seperti apa yang dikatakan Sheerin?" Tanya Nindi.


"Ya berarti kamu memang benar saudara kembarnya Sheerin. Coba kamu pikir lagi, didunia ini tidak ada yang namanya kebetulan secara beruntun. Pertama, wajah kalian begitu mirip, sampai-sampai mama Anya sendiri tidak menyadari jika perempuan yang menikahiku bukanlah Sheerin yang asli. Dan gelang kaki yang dibawa Sheerin tadi, semakin menguatkan semua dugaan itu." Panjang lebar Bima menjelaskan.


"Ya tapi, rasanya aneh aja."


"Sudahlah, kita akan mengetahui semuanya besok. Sekarang istirahatlah, kamu pasti lelah." Ucap Bima.


"Aku mau menemani Sheerin didepan, kasihan dia sendirian." Balas Nindi.


"Ya sudah, tapi kalau tidak kuat jangan memaksakan diri!"


Nindi mengangguk sambil tersenyum samar.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....

__ADS_1


__ADS_2