
WANTED! JANGAN MENDEKATI GUE! BERBAHAYA, KAYAK ANJING GALAK!
Bahkan ditulis dengan huruf kapital semua, dan di print juga! Benar-benar niat sekali perempuan ini. Tapi, Levin rasa dia tak sebodoh itu untuk mempermalukan dirinya sendiri, kan? Pasti ada sesuatu yang tak beres terjadi disana.
Cepat-cepat Levin mencopot kertas di balik punggung perempuan itu. Sontak si pemilik punggung menoleh saat merasa ada sesuatu yang sobek di belakang tubuhnya.
Kedua mata itu terbelalak kaget saat menatap satu sama lain.
"Levin!" Sheerin memekik tak percaya, sementara Levin, merasa bumi tak lagi berputar pada porosnya, bahkan kini bumi telah kehilangan geravitasi dan membuat jiwanya melayang ke udara.
Terbesit memori kebersamaan di masa yang telah lampau, bagaimana cara bibir perempuan itu tersenyum ke arahnya, lalu saat mata indah nan lentik itu menatapnya, suara lembut yang menyapa dan memanggil namanya.
Bahkan Levin masih ingat betul secara rinci air yang bercucuran melalui pipi perempuan itu sambil memekik mengutarakan kerinduannya. Apa perasaan itu masih terselip di relung hatinya? Apa dia juga merasakan kerinduan yang sama seperti waktu itu?
Astaga! Lagi-lagi bayangan hitam menutupi mata dan hati Levin saat berpikir ulang jika dulu Sheerin bersikap seperti itu hanyalah kebohongan semata.
Sementara Sheerin masih bergeming diposisinya, berkutat dengan pikirannya sendiri.
'jadi, Levin kuliah disini? Seperti apa yang dia impikan. Ahh, kenapa gue bodoh sekali, bahkan waktu itu gue nggak bertanya dia diterima di kampus mana.' Saking sibuknya mengurus bisnis online dan memikirkan cinta butanya kala itu.
Levin memilih untuk buang muka, kenapa Tuhan mengabulkan do'anya terlalu cepat? Bahkan dia belum mempersiapkan diri untuk bersikap seperti apa pada perempuan itu. Benar-benar membingungkan. Begitulah Levin dengan segala kelabilannya.
Tak terjadi percakapan apapun diantara keduanya, hanya terdengar beberapa mahasiswa yang memperingati Levin agar tak dekat-dekat dengan Seerin. Membuat hati Sheerin sedih dan tak berdaya. Kini dirinya telah dipermalukan di hadapan laki-laki yang dia cintai.
Clarissa merasa ada yang janggal dari tatapan yang terpancar dari mata Sheerin dan Levin, mereka saling buang muka lalu terlihat salah tingkah saat mata mereka tak sengaja bertemu.
Membuat hati Clarissa gelisah.
"Lev, kita cabut yuk! Katanya mau cari kado buat papa loe?" Clarissa mendekati Levin, harus di sudahi situasi itu sebelum mantan sahabatnya itu kembali menganggu apa yang telah menjadi miliknya.
'Ehh, tapi diakan udah nikah sama kak Bima ya!' Berpikir ulang. Belum tau kalau yang menikahi kak Bima bukanlah Sheerin yang sedang berdiri di hadapanya.
"Ya!" Sesingkat itu Levin menjawab.
Merekapun sepakat untuk pergi dari sana, menyisakan Sheerin yang masih bergemuruh kecewa di dalam dadanya.
"Jaga jarak aman loe sama kita-kita!"
"Radius 10 kilometer!"
"Jauh amat, 10 meter cukup deh!"
Begitu mahasiswa meneriaki Sheerin sebelum akhirnya membubarkan diri. Tinggallah Sheerin sendirian, bertemankan perihnya luka yang tak kunjung kering. Bagaimana bisa kering? Saat luka itu hampir sembuh, selalu saja ada luka baru yang tergores di atas luka lama dan itu terus terulang, lagi dan lagi.
Sheerin menatap punggung Levin yang semakin menjauh dari pandangannya.
'Semarah itu kamu Lev, sampai-sampai kamu bersikap seolah kita nggak pernah kenal. Ini lebih sakit Lev, lebih baik kamu marahi aku habis-habisan ketimbang kamu menghindar dan acuh seperti ini. Apa sebesar itu cinta kamu sama Nindi? Sehingga kamu sulit untuk memaafkan aku yang udah menipu kamu?'
Andai saja situasinya hanya ada mereka berdua, maka Sheerin pastikan dia akan bertekuk lutut dan menghiba hanya untuk mendapatkan kata maaf dari Levin. Kenapa takdir kembali mempertemukan mereka di waktu yang kurang tepat?
***
Di parkiran kampus.
Masih terus berusaha mengembalikan kesadarannya, Levin tak menyangka akan bertemu perempuan itu disana. Levin yakin betul jika dia adalah Sheerin, perempuan yang telah bersamanya dua bulan terakhir kemarin. Ada getaran yang berbeda saat menatapnya.
'Apa dia juga kuliah disini?' Tanya Levin dalam hati. Ahh, kenapa dia tak memanfaatkan Clarissa untuk mendapatkan informasi? Dia pasti tau sesuatu.
"Emm, Cla, yang tadi itu siapa ya?" Tanya Levin.
"Yang mana?" Pura-pura lupa, padahal tau betul siapa yang di maksud Levin.
"Perempuan yang ada tulisan di punggungnya itu." Jawabnya.
Sejenak Clarissa terdiam, dia berpikir untuk melebih-lebihkan tentang keburukan Sheerin di depan Levin dan membuat Clarissalah yang seolah-olah sangat tersakiti disana.
'Hahaha :D.' Tertawa jahat dalam hati.
"Oh dia, namanya Sheerin, dulu kita pernah sahabatan tapi sekarang udah merenggang." Ujar Clarissa.
__ADS_1
"Kenapa bisa sampai renggang?" Tanya Levin penasaran.
"Dia benci sama gue karena dulu pacarnya suka sama gue. Dia pikir gue yang bikin mereka jadi putus, padahal gue sama sekali nggak tau apa-apa. Dan, terakhir kali loe tau ada insiden apa?" Menjelaskan dengan menggebu.
"Apa?"
"Gue di tinju sama dia, itu sebabnya dia di scors selama satu bulan dan kayaknya baru masuk hari ini."
"Kenapa loe bisa ditinju?" Tanya Levin.
"Jadi gini ceritanya, ternyata diam-diam dia itu udah nikah. Beredar gosip kalau dia hamil duluan. Dia menuduh gue kalau gue yang menyebarkan berita itu. Padahal gue nggak tau apa-apa, dia sampai tega mukul gue sampai tulang hidung gue patah waktu itu." Dongeng Clarissa dengan kebohongan yang tersebar dimana-mana.
"...makanya anak-anak jadi pada bully dia sekarang. Mereka takut hal serupa bisa terjadi lagi kedepannya."
Levin terdiam, mencoba mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Clarissa.
"Kapan kejadiannya?" Tanya Levin.
"Kurang lebih sebulan yang lalu." Jawab Clarissa.
"Seriusan tulang hidung loe patah?" Pertanyaan Levin Clarissa anggap sebagai bentuk perhatian.
"Iya, bahkan sampai sekarang gue masih sering mimisan." Dibuat sedramatis mungkin intonasinya.
Itu tandanya bukan Sheerin pelakunya, tapi si urakan! Pada saat itu, kalau tidak salah Levin sudah bersama Sheerin, bahkan mereka sedang berada di puncak dengan segala perubahan pada diri Nindi.
'Kasihan dia harus menerima akibat atas kesalahan yang nggak pernah dia lakukan.'
"Apa dia punya kembaran?" Pertanyaan pancingan sebenarnya.
"Nggak, geu kenal dia dari SMP, dia nggak punya kembaran." Jujur kali ini.
'Berarti Clarissa belum tau.'
Clarissa menatap Levin yang terdiam, semoga dia percaya.
"Memangnya kenapa Lev? Loe kenal sama Sheerin?" Tanya Clarissa memastikan.
***
Disini Sheerin sekarang berada, ditengah orang-orang yang tulus terhadap dirinya. Terbukti setelah tau kesalahan terfatal yang dia lakukan, orang-orang ini tetap bisa menerima Sheerin dengan baik dan menjadikannya bagian dari mereka.
"Ternyata kalian benar-benar mirip ya!" Revi, si bos geng amburadul terbengong-bengong saat melihat pinang dibelah dua di hadapannya, pun dengan anak buahnya yang lain.
"Hooh lah, kalau kalian pakai baju yang sama persis, gue nggak yakin gue bakalan bisa bedain mana Sheerin dan mana Nindi." Tari berkomentar, tumben komentarnya itu masuk akal.
"Oh ya Nin, loe nggak mau ganti nama jadi Shireen gitu?" Vena bertanya. Membuat Sheerin dan Nindi saling menatap dengan alis yang dibuat tinggi.
"Di ijazah, jelas-jelas terpampang nama Nindi. Dan gue pikir buat menghargai ibu yang udah membesarkan gue, gue akan tetap jadi Nindi." Nindi menjawab dengan mantap.
"Wis, keren loe Nin!" Roni memberikan dua jempolnya untuk Nindi.
"Oh ya, ada info penting nih guys!" Nindi bersorak-sorai sebelum mengumumkan.
"Info apa Nin?" Geng amburadul terlihat berantusias, termasuk Sheerin.
"Kak Yuvi kan sebentar lagi nikah nih, gimana kalau kita yang jadi pengisi acaranya nanti. Kita tampil dan bawain lagu-lagu yang sering kita nyanyiin. Gimana? Kalian setuju nggak?" Jelas Nindi panjang lebar. Disambut dengan sumringah dari semua orang, sedangkan Sheerin menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, kenapa sih Nindi sepercaya diri itu?
"Wah, setuju banget Nin." Vena.
"Asik, setelah lama latihan, akhirnya kita bakalan tampil juga di depan umum." Revi yang terlihat paling girang.
"Tapi gue saranin jangan si bos yang jadi vokalisnya. Kalau nggak mau semua tamu undangan pada bubar." Tanpa di saring Roni mengemukakan pendapatnya, yang berhasil memancing tangan Revi untuk melayang di kepalanya.
"Ahh, si bos kebiasaan nih, selalu menganiaya gue sesuka hati." Memasang wajah melas supaya semua orang kasihan.
"Loe yang kurang ajar, selalu aja ngatain gue! Gue tau sebenernya loe iri kan sama gue?"
"Idih, apa juga yang harus gue iriin dari loe!"
__ADS_1
"Makanya, habis kelar kerjaan, kita harus aktif lagi latihan guys!" Nindi kembali berkoar.
Dan akhirnya, sore itu setelah acara makan-makan yang dinantikan, terjadilah acara yang menggetarkan markas geng amburadul. Suara pas-pasan Revi menggema di setiap sudut ruangan, ya sebelas dua belaslah dengan suara mesin jahit yang rusak. Wkwk.
Nindi sungguh menikmati kebersamaan ini, suasana hangat yang dia rindukan saat bersama sahabat-sahabatnya. Dia bersyukur karena Tuhan telah memberinya kesempatan untuk tetap berada diantara orang-orang yang menyayanginya.
Sheerin menatap geng amburadul yang tengah berlatih dari tempatnya duduk.
Sesekali bibirnya tertarik keatas menampilkan sebuah senyum. Bahagianya jadi Nindi, dia selalu saja beruntung dalam segala hal. Setelah di terjang badai, masih ada kak Bima yang tetap setia mencintainya, keluarga yang menyanyanginya dan sahabat-sahabat yang senantiasa mendukungnya. Beda lagi ceritanya dengan Sheerin, dia selalu saja berada dalam situasi menyedihkan dan di lingkaran keterpurukan.
Dan kini Sheerin paham akan satu hal. Meskipun dirinya dan Nindi berdiri diatas bumi yang sama, menghirup oksigen yang sama, bahkan terlahir dari rahim yang sama, namun mereka berjalan diatas takdir yang berbeda.
***
Petang itu, Nindi pulang dijemput kak Bima di markas geng amburadul dan selepas adzan magrib mereka baru tiba di rumah.
"Kasihan banget Sheerin pulang sendirian tadi." Ucap Nindi setelah mendaratkan tubuhnya disofa kamar.
Bima tak menyahut, dia sibuk melepas kancing kemejanya.
"Kak Bima tau nggak? Sheerin terlihat murung setelah pulang dari kampus tadi. Oh, atau jangan-jangan si Clarissa jahatin dia lagi. Aku lupa nggak tanya-tanya tadi sama Sheerin."
"Bisakah kamu berhenti membicarakan tentang kembaranmu itu?"
"Tapi kan kak, Sheerin itu nggak pernah melawan meskipun dia di sakiti, dan..."
"Berhenti bicara atau kamu akan terima akibatnya." Nada bicaranya datar namun penuh ancaman.
Apa? Terima akibatnya? Nindi bergidig ngeri saat Bima mengancamnya dengan kata-kata itu. Dan itu berhasil membuat mulutnya bungkam.
'Dia jadi pintar mengancam sekarang ya!'
"Aku mandi dulu ya kak. Gerah banget." Mengalihkan pembicaraan biar selamat.
Tanpa mendengar persetujuan dari Bima, Nindi langsung ngacir ke kamar mandi.
Benar-benar ya istrinya itu, semakin hari semakin menjadi-jadi, meskipun kini Bima telah memisahkan mereka dengan membawa Nindi pulang, namun nyatanya Nindi masih saja memikirkan tentang kembarannya itu.
Tiba-tiba saja matanya memicing saat melihat ponsel Nindi yang tergeletak di atas meja, langsung teringat akan rencananya pagi tadi.
***
Levin menatap langit-langit kamarnya, masih dengan pikirannya tentang pertemuan tak terduganya dengan Sheerin pagi tadi.
Dia merasa menjadi seorang pecundang yang tak bisa melindungi perempuan itu, dimana janji yang dia proklamasikan dulu untuk menjaga perempuan itu? Sementara dulu dia begitu ingin menjaga hati dan perasaannya.
Dan, sedang berada dalam situasi apa perempuan itu tadi? Kenapa wajahnya terlihat begitu menyedihkan, bahkan lebih sendu pada saat dimana dia terciduki ketahuan berbohong dan memelas meminta ampunan darinya.
Levin tak dapat menghapus bayang perempuan itu barang sejenak dalam memorinya. Pastilah perempuan itu tengah menerima karma atas apa yang telah dia perbuat. Tapi kenapa hati Levin begitu terenyuh saat mendapati Sheerin bersedih?
Apa iya dia masih mencintai Sheerin? Bahkan setelah disakiti sekalipun perasaan itu masih tetap tidak berubah?
Sial! Bayang lelehan air mata perempuan itu tak mau enyah juga dari pikirannya.
Tiba-tiba saja ponselnya bergetar, dia meraba keberadaan ponselnya di atas nakas.
'Selamat malam, maaf menganggu waktu anda. Ada satu hal yang harus saya sampaikan, bisakah anda temui saya di taman Light Park malam ini juga?'
Orang salah kirim mana yang mengiriminya pesan dengan bahasa se-formal itu?
'Maaf, saya tidak mengenal anda.'
'Kita pernah bertemu sebelumnya, saya jamin pertemuan ini akan menguntungkan untuk anda, Levin!'
Levin membuka photo profil WhatssApp nomor itu, bahkan si pengirim pesan mengetahui namanya. Di perhatikannya dengan seksama dengan dahi mengerut. Iya, dia rasapun begitu, Levin pernah melihat laki-laki ini, tapi dimana?
Seketika rasa penasarannya menjulang tinggi. Dia berpikir, apa dia harus menemui orang ini untuk mendapatkan jawaban?
'Oke, kita betemu disana pukul 8 malam!' Membalas dengan gerakan cepat.
__ADS_1
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....