Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
41


__ADS_3

"Aku tidak mengerti" ucap Raisya pada Reyhan yang ditinggalkan Elizabeth. Saat ini Mereka berdua sama-sama bolos, karena masih shock.


"Jadi benar dia bosnya Elizabeth. Yang pacarnya Elizabeth. Dan mereka akan segera akan melangsungkan pernikahan? Elis? Menikah? Aku pusing Rey" Raisya sampai menepuk jidatnya soalnya pasalnya selama ini Elizabeth yang dia kenal delalu kaku dalam urusan cinta.


"Apalagi aku, Sya. Otakku semakin tidak sampai" jelas Reyhan. "Apalagi caranya tadi, Sya. Ya itu ya yang artinya di bawa terbang tinggi dan dihempaskan ke bumi begitu saja"


"Orang yang membingungkan" jelas Raisya.


"Misterius" lanjut Reyhan.


"Tapi aku semakin yakin bahwa Elizabeth akan terjamin dan terjaga dengannya. Elizabeth pasti akan bahagia dengan dirinya kan, Sya?" ucap Reyhan mencoba menguatkan hatinya.


"Kadang cinta kandas sebelum di ucapkan ya, Rey? Loe yang selalu ada untuk Elis selama ini dan Elisnya malah sama orang lain"


"Cinta kadang lebih baik tidak memiliki, Sya. Karena cukup melihatnya bahagia itu sudah cukup. Dari yang aku lihat dia orang yang serius dan sepertinya dia akan menjaga Elizabeth"


"Aku juga selalu berharap begitu, Rey" balas Raisya "Untukmu juga"


"eh. Sejak kapan loe jadi puitis gitu, Rey?"


"Sejak lahir dong. Loe bari tau?"


"Terus nasib anak-anak kek mana ya?"


"Kamu masih mikirinin anak-anak itu? Baguslah! Mereka mencari lawan yang salah dan mereka dapat karmanya" jawab Reyhan.


"Aku tebak semua akan tetap baik-baik aja. Loe tau kan Elizabeth baiknya minta ampun. Pasti dia minta untuk Mr. Abraham maafin mereka"


"Tapi laki-laki itu tidak akan mudah melepaskan mereka" balas Reyhan.


"Kita lihat aja besok!"


Raisya mengambil handphonenya dari dalam tas. Dia melihat kedalam handphone dengan tidak percaya.


"Rey. Engga usah tunggu besok, Rey"


"Apa yang engga usah tunggu besok, Sya?" Tanya Reyhan sambil mencoba mengintip dalam handphone Raisya.


"Loe punya handphone kan? Liat aja sendiri. Tranding topik"


"Apaan sih. Pelit!" Reyhan mengambil handphonenya dari dalam saku dan terkejut.


"Kenapa banyak banget, Rey. Apa sehebat itu D'company?" Tanya Raisya. "Bukannya hanya perusahaan yang baru naik daun"


"Perusahaan raksasa, Sya. Dan baru-baru ini D' Company kerja sama dengan Sasendri Group"


"Kok loe tau, Rey?"

__ADS_1


"Reyhan" ucap Reyhan bangga.


"Gitu aja bangga" balas Raisya.


Di sisi lain.


"Apa kau masih marah?!" Tanya Abraham. Elizabeth hanya melihat ke jalan saja. Dia malah fokus pada orang yang beraktivitas di luar mobil itu.


"Aku bertanya padamu, Elis" ujar Abraham sambil menepuk bahu Elizabeth. Elizabeth melirik sekilas.


"Kak Bram apa kamu mendengarkan sesuatu?" Tanya Elizabeth pada Bram yang masih menyetir.


"Iya nyonya. Tuan besar bertanya pada anda. 'Apa anda masih marah padanya?'" jelas Bram.


"Cih"


"Kau tau kemana dia seminggu ini, Bram? Dalam keadaan terluka?" Tanya Elizabeth lagi pada Bram. Abraham hanya mendengarkan saja saat ini. Menurutnya tingkat marah Elizabeth sangat lucu.


"Iya, nyonya. Tuan besar berada di kantor hampir sepanjang hari. Tapi nyonya, anda tidak perlu khawatir, Tuan besar tidak pernah melupakan makan, minum obat, dan menganti perbannya. Lukanya..."


Abraham menendang kursi Bram membuat Bram berhenti berkata.


" Apa sebegitu sibuknya sampai dia tidak bisa membalas dan memberikan kabar padaku, Bram? Apa gunanya dia memberikan aku Handphone jika menghubungi saya tidak bisa?"


"Apa kau tidak membutuhkan handphonemu, Elis? Kemarikan aku akan menyimpannya" Abraham meminta handphone Elizabeth.


"Kenapa Handphone ku? Kan yang tidak berfungsi handphonemu" tanya Elizabeth.


"Cukup. Kenapa kau tau segalanya? Ada cctv ya di kamar? Dasar tidak tau malu! penguntit!" Sarkas Elizabeth.


"Biarin! Aku menguntit istriku sendiri. Aku tidak salah kan, Bram?"


"Tidak, tuan besar"


"Aku bahkan tau apa yang dilakukan teman-temanmu di kampus, tanpa perlu memasang cctv di seluruh kampus"


"Bagaimana bisa kamu melakukannya?"


"Aku selalu menjagamu, Elis dan memastikan kau tetap aman adalah tugasku" ucap Abraham membuat Elizabeth terharu "Aku sudah sangat geram seminggu ini, namun ada penghianat di antara anak buah ku. Jadi aku bereskan mereka dahulu, karena mereka lebih berbahaya dibandingkan teman-teman kuliahmu"


"Tapi tadi kau tidak menolong ku saat mereka membully ku saat kau masuk kampus?"


Abraham menyandarkan tubuhnya.


"Karena teman cowokmu itu sudah datang membantumu"


"Aku juga bingung kenapa kau hanya diam saja? Kenapa kau tidak membalasnya. Tembak kakinya atau otaknya. Kau tak perlu takut, karena setelah itu aku yang akan membereskannya untukmu"

__ADS_1


"Aku hanya menghemat tenagaku. Jika aku bereskan mereka, kau juga harus turun tangan, jadi kenapa aku harus turun tangan?" Ujar Elizabeth dengan santainya.


Abraham menatap Elizabeth dan Elizabeth hanya tersenyum padanya.


"Tapi aku tidak akan ada di sampingmu 100% Elis. Aku ingin rasanya membawamu kemanapun aku pergi, mengikatmu di sampingku. Tapi kau pasti tak mau kan? Saat aku tak ada di sampingmu kau harus melindungi dirimu sendiri. Itu alasanku mengajarkanmu bela diri. Saat kau dalam bahaya, aku akan datang padamu untuk melindungi mu. Tapi saat aku belum sampai, kau harus tetap baik-baik saja, tanpa luka apapun. Aku tak ingin kejadian Haruko terulang lagi. Ingat itu Elizabeth!"


Elizabeth dan Abraham saling menatap


"Tapi aku tidak terluka. Kaulah yang terluka saat itu"


"Lukaku tak sakit, Elis. Lebih sakit melihatmu dihina oleh mereka"


"Tapi aku yang sakit melihat lukamu" balas Elizabeth.


"Hem Hem" Bram berdehem "Maaf tuan besar dan nyonya, kita sudah sampai" ucap Bram. Abraham dan Elizabeth melihat keluar dan ternyata benar mereka sudah sampai di rumah, bahkan Bram telah membukakan pintu untuk Elizabeth.


Elizabeth dengan canggung langsung keluar dan Abraham juga keluar karena pintunya sudah dibukakan pak Run.


"Apa benar lukamu sudah membaik? Aku akan memeriksanya" ujar Elizabeth mengandeng tangan Abraham.


"Apa kau sudah tidak marah?"


"Kata-katamu sangat manis bagaimana aku bisa marah?"


"Selamat sore tuan besar dan nyonya" sapa para pelayan..


"Tolong buatkan saya kopi pak Run" ujar Bram pada pak Run setelah melihat Tuan besar dan nyonya nya pergi.


"Kau kenapa, Bram? Apa ada masalah?" Tanya pak Run pada Bram melihat Bram yang gelisah.


"Masalah akan selalu ada pak Run. Dan masalah terbesarnya aku tidak memilihi membereskan anak-anak itu dibandingkan mengantar tuan besar dan nyonya pulang"


"Apa maksudnya, Bram?" Tanya pak Run yang tidak mengerti.


"Aku butuh kopi, pak Run" ujar Bram lagi. Dia melas membahas tentang yang telah terjadi tadi.


"Kau menjadi manusia biasa, tuan besar. Anda mengubah tuan besar 100%, nyonya. Anda...aku tidak bisa menggambarkan anda dengan apapun, nyonya."


"Ini kopi mu, Bram" pak Run meletakan kopi untuk Bram dan ikut duduk di depan Bram.


"Orang yang terlihat baik, kadang bukan orang yang baik ya, Bram? Tapi orang yang kejam kadang punya sisi yang baik" ujar pak Run sebelum duduk.


Bram menyesap kopinya pelan.


"Aku tidak menyangka Nick yang berkhianat pada tuan besar. Apa kurangnya tuan besar padanya? Beraninya dia berhianat. Dia memang pantas mendapatkannya, Bram" ucap Pak Run. Kejadian ini menggores luka pada mereka semua. Ingin rasanya mereka melupakan, namun Nick adalah teman mereka dari lama, kepergiannya menjadi kesedihan untuk mereka.


"Anda benar pak Run. Tapi tuan besar masih berbaik hati padanya. Tuan besar tidak menembak kepalanya. Aku tidak habis pikir tentang tuan besar, pak Run"

__ADS_1


"Karena tuan besar tidak mau membunuh Nick Bram" ujar sekertaris Kim yang melangkah pada mereka.


"Bukan keinginan Nick yang menyebabkan kejadian kemarin, Bram. Semua pelayan wanita itu yang melakukannya. Nick dialah yang memberikan kabar pada kami, bahwa kalian di serang. Dia hanya mengacaukan data perusahaan. Dan itupun dia memberikan kode pada Dorris, bahwa akan ada peretasan"


__ADS_2