Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Luis' POV


__ADS_3

Luis' POV.


Aku menatap wajah Anya yang kini sedang terlelap di sampingku. Sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan hanya demi diriku dan anak kami, Bima. Entah sudah berapa banyak waktu yang dia relakan terbuang untuk mewujudkan impiannya.


Wanita berambisi tinggi, yang memegang teguh pendiriannya. Kesetiaannya tak bisa di ragukan lagi. Jika Anya adalah wanita lain, mungkin dia sekarang sudah menghianati suaminya yang tak berguna ini. Dan dia akan berubah pikiran, melupakan dendamnya lalu mengabdi sungguhan kepada Lukman yang memiliki segalanya.


Bahkan dulu aku sempat berpikir itu semua akan terjadi. Dimana pendirian Anya akan goyah, melupakanku juga Bima dan hidup bahagia bersama keluarga barunya. Namun semua pemikiran ku itu terpecahkan seiring berjalannya waktu.


Anya sering menangis di pelukanku dan berkeluh kesah tentang hidup yang dia jalani bersama Lukman. Dia sama sekali tak bahagia, dia ingin pulang dan kembali bersamaku. Aku menyuruhnya untuk mengakhiri saja semua ini, namun Anya menolaknya. Katanya, perjuangannya baru saja di mulai. Dia berkata jika ia hanya sedang butuh pegangan saat dirinya hampir saja terjatuh.


Kalian tidak akan pernah menyangka jika aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu. Aku yang sekarang terbentuk akibat kerasnya hidup yang aku jalani.


Semua kehancuran ku berawal dari Lukman, dia menuduhku telah mencuri uang perusahaan saat aku sedang membersihkan ruangannya dulu. Aku sama sekali tak mengerti, mengapa uang yang hilang itu bisa ada di dalam tasku saat itu.


Saat itu, aku dipermalukan di depan seluruh karyawan. Aku di tendang secara tidak hormat dari sana layaknya seekor kucing yang ketahuan sedang mencuri ikan. Malu, sakit hati. Itu yang aku rasakan sehingga aku tak sudi lagi menginjakkan kaki disana.


Apalagi saat aku tau jika Lukman telah menambahkan namaku kedalam black list karyawan. Membuat aku sulit mendapatkan pekerjaan di perusahaan manapun.


Padahal jika Lukman mau sedikit saja percaya dan berbaik hati padaku, mungkin dendam ini takan pernah terjadi. Dan semua keluarganya yang harus menanggung akibatnya.


Untunglah aku memiliki istri yang tak banyak menuntut. Anya selalu mendukungku, apapun yang aku kerjakan. Dari mulai tukang sapu dipasar, tukang panggul beras, bahkan jualan kresek sekalipun aku kerjakan demi menghidupi anak dan istriku. Meskipun penghasilan dari pekerjaan itu masih jauh dari kata cukup.


Kadang di hening nya malam, aku menangis seorang diri. Menyembunyikan air mataku dari Anya. Aku tak ingin Anya melihatku yang lemah seperti ini. Aku harus tetap berjuang untuk bisa membahagiakannya, bagaimanapun caranya.


Namun nyatanya, aku hanyalah seorang pria yang tak berguna, aku telah gagal menjadi seorang ayah untuk Bima dan suami yang baik untuk Anya. Apalagi saat Bima jatuh sakit karena menderita gizi buruk. Bagaimana anak itu bisa tumbuh dengan baik sedangkan aku tidak pernah memberikannya makanan yang layak.


Itu semua bagaikan tamparan keras untukku, aku benar-benar tengah berada di titik terendah kala itu. Duniaku rasanya runtuh dan menimpa ragaku. Sesak. Aku terus mengutuki diriku.


Sampai akhirnya Anya yang merasa sakit hati dengan kondisi ekonomi keluarga kamipun turun tangan, dia bertekad untuk membalaskan rasa sakit yang kami rasakan selama hampir satu tahun ini.


Kebetulan saat itu keluarga Lukman sedang membutuhkan seorang baby sister untuk merawat bayi kembar mereka. Cih! Bahkan mereka bisa hidup dengan bahagia setelah menghancurkan keluargaku. Mereka masih bisa tertawa lepas saat perut istri dan anakku kelaparan.


Anya menyusun rencana dengan sangat apik, aku hanya menuruti semua perkataannya. Aku akui, aku tidak berguna. Aku hanya hidup dari hasil kerja keras istriku. Tapi entah kenapa Anya tetap saja ingin bertahan denganku. Entah sebesar apa cinta yang dia miliki untukku. Mungkinkah satu keberuntungan masih ada di pihak ku?


Jika bukan karena Anya, mungkin sekarang aku takan bisa berdiri di tempat ini, menikmati kemudahan hidup. Anya telah berhasil mewujudkan impiannya. Menghancurkan keluarga Lukman dan merebut semua kekayaannya.


Aku tak menyangka, butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa sampai di titik ini.


Selama bertahun-tahun itu aku mengasuh Bima sendirian. Anak itu adalah cerminan diriku di masalalu, kalian pikir dari siapa Bima mewarisi sifat murah hati, sabar dan tak banyak tingkah itu? Tentu saja dariku, darahku mengalir di dalam tubuhnya.


Aku memiliki cara sendiri dalam mendidik anak itu. Kelak jika anak itu tumbuh dewasa, aku tidak ingin dia mengikuti jejak ku. Aku ingin dia tumbuh menjadi laki-laki kuat, laki-laki hebat yang tak bergantung pada siapapun. Tidak seperti diriku, pengecut, pecundang, tak berguna.


Aku kerap kali memukulnya saat aku merasa kesepian, aku melampiaskan kekesalanku kepada anak tak berdosa itu. Aku sering meninggalkan malam-malam sendirian dan menguncinya dirumah.


Terkadang aku menemui Anya, terkadang pula aku menemui Fira, tawanan yang aku jadikan jaminan jika suatu saat Anya tak lagi berada di pihak ku dan pergi meninggalkanku.


Bahkan aku sendiripun tak menyangka jika aku telah menyanderanya selama belasan tahun, karena ternyata Anya sama sekali tak pernah menghianati ku. Anya tak tau jika Fira masih hidup. Dia hanya tau aku telah menghabisinya waktu ia kembali setelah dinyatakan meninggal dalam kecelakaan mobil yang kami sabotase.


Aku membeli rumah kosong di samping rumahku, tentu saja uang itu hasil jerih payah Anya mencuri uang Lukman yang waktu itu telah sah menjadi istri Lukman. Lalu kemudian aku menjadikannya tempat untuk menyembunyikan Fira.

__ADS_1


Gosip yang beredar tentang rumah itu, membuat tak ada satu orangpun yang berani mendekat kesana. Aku hanya perlu bekerja sedikit keras agar semua orang percaya jika rumah itu benar-benar berhantu.


Aku kerap kali mengunjunginya saat aku merasa kesepian, saat aku merindukan tubuh Anya. Aku melampiaskan semua nafsu berahi ku padanya. Meskipun kerap kali dia meronta-ronta, namun apa yang bisa dia lakukan? Kakinya hanya tinggal sebelah, dia tidak mungkin bisa lari.


Aku memandikannya sendiri, memberinya makan layaknya hewan peliharaan ku. Entah apa arti perempuan itu untukku. Aku membutuhkannya, sehingga aku berpikir untuk tidak menghabisinya waktu itu.


Namun, ada ketakutan di hatiku jika suatu saat dia bisa kabur dari tempat itu. Akupun memasungnya. Aku sudah terbiasa dengan keberadaannya, seperti ada yang kurang jika satu malam saja aku tidak datang untuk menikmati tubuhnya.


Harusnya aku merasa jijik bukan? Saat seorang wanita dengan tubuh yang tak di rawat dengan benar. Entah kenapa justru itu rasanya menjadi berbeda, aku menyukai baunya. Aku sangat menikmati semua yang ada di tubuh perempuan itu.


Gila, mungkin aku sudah gila sekarang. Di tinggalkan Anya dalam kurun waktu yang lama, membuatku haus akan belaian seorang wanita.


Dan saat aku melihat Bima bersama dengan putrinya Lukman, aku merasakan perasaan aneh di hatiku. Aku iri, aku cemburu, aku tidak suka melihat kedekatan mereka. Sedangkan aku hanya sendirian, aku tak memiliki pendamping hidup yang nyata. Anya masih abu-abu, sedangkan Fira gelap.


Wajah anak itu sangat mirip dengan Fira. Saat itulah aku semakin gencar mengunjunginya untuk bisa kembali merasai sensasi berbeda dari tubuhnya.


Fira, sudah berapa lama aku tak menemuinya? Apa dia baik-baik saja? Apa stok makanan yang aku berikan padanya sudah mulai habis? Bagaimana kalau dia kehausan atau kelaparan? Kedinginan? Aku harus segera memeluknya dan membuat tubuhnya jadi menghangat.


Belakangan ini aku terlalu sibuk dengan Anya sehingga aku melupakannya. Dan malam ini aku kembali merindukan tubuhnya.


Ku lirik lagi Anya, tersengar nafasnya yang masih teratur, menandakan dia sedang tidur dengan nyenyak. Kemudian beralih pada jam dinding. Pukul satu dini hari.


Aku beranjak dari tidurku, karena sepertinya aku sudah bosan dan tak ingin berada di tempat yang nyaman ini bersama dengan Anya yang harum dan elegan. Aku ingin mencicipi Fira, Fira yang berbeda.


'Tidur yang nyeyak ya sayang, aku akan segera kembali.'


Ku sambar jaket kulit yang menggantung, kemudian memakainya dengan cepat. Lalu mencari kunci motor, dapat!


Akupun keluar dari rumah itu dengan mudah, sengaja aku menuntun sepeda motor hingga keluar dari gerbang rumah besar itu, takut suara mesinnya mengganggu ketenangan tidur Anya.


Jalanan sangat sepi, tak ada kendaraan lain yang melintas. Tentu saja, orang mana yang akan sudi berkeliaran di tengah pagi buta seperti ini. Hanya aku, orang tak waras yang rela menembus kegelapan demi untuk menemui wanita sanderaanku, Fira.


Kurang lebih setengah jam aku berkendara, dinginnya malam yang menembus hingga kedalam pori-pori, bukan hal tabu bagiku, aku sudah terbiasa memakan angin malam seperti ini.


Ku parkir kan motor yang ku kendarai agak jauh dari rumahku. Jika ingin masuk ke rumah kosong itu, aku harus melewati jalan rahasia itu, aku tidak bisa lewat gerbang depan karena kini gemboknya pun sudah berkarat dan tak sulit untuk di buka.


Untung saja aku membawa kunci cadangan, sehingga aku bisa dengan leluasa masuk ke sana tanpa ada satu penghuni rumah pun yang tau jika aku diam-diam mengunjungi rumah ini. Dengan mudah aku dapat masuk ke pekarangan rumah.


Dan saat tiba di jalan rahasia menuju rumah kosong itu, aku teringat jika aku tidak memegang kunci yang aku pakai untuk memasung Fira. Jika tidak salah, aku menyimpannya di suatu tempat yang aman di rumahku. Mau tak mau akupun harus mengambilnya terlebih dahulu kesana.


Bertambahlah tugasku, bertambah lama lagi aku menemui Fira, dan bertambah lama pula aku kembali ke samping Anya. Namun apa boleh buat, aku sudah kepalang basah ingin segera menyentuh tubuh Fira. Terpaksa akupun harus masuk kedalam rumah unruk mengambil kunci itu, aku tidak mungkin menyetubuhinya jika kakinya masih terpasung.


***


Sheerin terjaga dari tidurnya malam itu, dia menatap ke sekitar. Gelap! Apa dirinya sedang bermimpi sekarang? Kenapa kamar itu sangat gelap, padahal terakhir kali yang dia ingat, ada sebuah lampu tidur yang menyala disana. Sheerin beranjak, karena merasa ingin buang air kecil dan tenggorokannya juga terasa kering, dia membutuhkan air untuk membasahi tenggorokannya.


Meraba-raba sekitar, mencari keberadaan ponselnya. Dapat! Sheerin mendapatkannya. Kemudian dia menyalakan senter sehingga dia mendapatkan penerangan dari sana. Dia melihat Nindi yang sedang tertidur di sampingnya, sangat pulas. Sehingga dia tidak menyadari jika sekarang sedang mati lampu.


Perlahan dia turun dari kasur, berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai dengan urusannya, Sheerin keluar. Dia melihat gelas yang berada di atas meja, ternyata kosong. Terpaksa dia harus turun untuk mengisinya kembali.

__ADS_1


Sheerin keluar dari kamar Nindi, berjalan menuruni anak tangga, melewati ruang tengah yang telap gulita, kemudian sampailah di dapur. Segera dia menuangkan air kedalam gelasnya. Setelah terisi penuh, Sheerinpun meneguknya.


Plum!


Senter yang tadinya menyala, mati seketika. Sheerin menggoyang-goyangkan ponselnya, berusaha menghidupkan lagi ponsel itu. Namun ternyata ponsel itu mati, dia lupa tidak meng-charger ponselnya semalam.


"Yah, pake mati segala lagi." Gumam-gumam kecil terdengar.


Setelah selesai dengan urusan tenggorokannya, Sheerin ingat jika chargernya ada di ruang tengah, kak Bima meminjamnya tadi sore.


Diapun beranjak, mengambil satu camilan dari dalam kulkas, kebetulan perutnya juga sedikit lapar. Pasti setelah ini Sheerin akan kesulitan lagi untuk kembali tidur. Jadi dia memutuskan untuk ngemil terlebih dulu sampai rasa kantuknya kembali datang.


Susah payah Sheerin berjalan menuju ke ruang tengah, sambil meraba-raba, menduga di mana letak chargernya berada. Untung saja tidak terlalu gelap disana. Ada cahaya rembulan yang masuk melalui celah-celah jendela.


Sheerin langsung saja mencolokkan charger itu pada ponselnya. Sedangkan dia mencari posisi yang nyaman, duduk diatas sofa sambil memakan cemilan yang tadi dia ambil dari dapur.


Krskkk kssrkk krrrrk


Deg!


Suara apa itu? Suara itu terdengar jelas di telinga Sheerin dalam kesunyian malam ini. Sheerin mengedarkan pandangannya ke sekirar.


Tap... tap... tap...


Jantungnya berdebar tak karuan saat mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat kearahnya.


Sheerin langsung menyembunyikan tubuhnya di bawah kolong meja, takut jika ada maling yang masuk ke rumah kak Bima ini. Dia harus cari aman, bukan? Sesekali dia mengintip dari posisinya untuk melihat suara langkah kaki siapakah itu?


Sheerin menanti dengan cemas, suara langkah itu semakin lama semakin terdengar jelas. Jantung Sheerin bahkan berdebat sepuluh kali lipat dari biasanya sekarang.


Nampaklah sepasang kaki yang berjalan menuju ke arah pintu keluar. Melewati tempat persembunyian Sheerin, tanpa sadar jika ada orang yang sedang mengintainya.


Punggung itu semakin lama semakin menjauh, dia berjalan dengan cukup santai, tanpa membawa barang apapun pula. Benarkah dia maling? Tapi, dari perawakannya Sheerin seperti hafal siapa orang itu. Namun Sheerin tak begitu yakin. Sebab ayah mertua Nindi sedang tidak ada dirumah.


Penasaran sekaligus takut yang kini Sheerin rasakan. Dia penasaran apa yang akan orang itu lakukan selanjutnya. Tapi Sheerin takut jika orang itu menyakiti dirinya nanti jika dia ketahuan.


Kreeek!


Pintu di buka oleh orang itu, suaranya terdengar halus, dia membukanya secara perlahan. Kemudian kembali menutupnya dengan pelan pula.


Sheerin keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan mengendap-endap, menyambar ponselnya yang baru saja terisi beberapa persen, kemudian mendekat ke arah jendela. Dia menyibak tirai yang menutupi jendela itu. Sheerin bisa melihat meskipun tidak terlalu jelas wajah orang itu, saat dia hendak berbelok menuju halaman samping rumah kak Bima ini.


Dan orang itu memanglah paman Luis, ayahnya kak Bima. Sheerin sedang tidak salah melihat orang. Apa yang akan dia lakukan di tengah malam seperti ini?


Ada perasaan aneh yang mendorong Sheerin untuk mengikuti Luis. Rasa penasarannya kini lebih besar dari pada rasa takutnya.


Sheerinpun mengikutinya secara diam-diam.


__________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2