Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
37


__ADS_3

"Siang, kak" Balas Elizabeth lesu atas sapaan Bram. Saat ini Elizabeth kurang bersemangat, tidurnya semalam pun tidak nyenyak.


"Apa anda baik-baik saja, Nyonya?" Tanya Bram yang sudah duduk di kursi belakang kemudi.


"Iya, kak. Aku baik-baik saja" jawab Elizabeth yang tetap terlihat tidak bersemangat. Namun Elizabeth memaksakan tersenyum.


Entah kenapa hatinya itu terasa sangat sakit, terasa ada beban berat yang menimpa hatinya.


Pernikahan macam apa ini? Aku sebagai istri, tidak tau suaminya itu di mana? Apa aku ke kantornya sana? Tidak! Aku takut mengganggunya. Bisa-bisa aku mati, aku dengar mafia itu kejam tak kenal bulu.


"Apa ada yang anda pikirkan, nyonya?" tanya Bram menyadarkan Elizabeth dari lamunannya.


"Aku hanya memikirkan tentang tugas kuliah saja, kak." Elizabeth mencoba mencari alasan yang tepat.


Hening.


"Kak..?"


"Iya, Nyonya?"


"Apa...?"


"Apa kakak akan ...Ah Apa aku tidak sepenting itu? sampai tidak bisa memberiku kabar? Bahkan pesan Reno pun dibalas. Salahku ada di mana?" tanya Elizabeth dalam hati.


"Anda ingin bertanya sesuatu, nyonya?"


"Tidak, kak. Apa kita bisa latihan nanti sore, kak?" Tanya Elizabeth. Dia mulai bosan diam di rumah besar itu.


"Saya akan bertanya..."


"Jika tidak bisa juga tidak apa-apa, kak" potong Elizabeth pasrah.


"Baiklah, nyonya. Nanti sore kita berlatih"


"Benarkan, kak?" Tanya Elizabeth yang langsung berubah semangat. Latihan sepertinya merubah mood Elizabeth dengan cepat. Elizabeth sangat senang dengan latihan, apalagi menembak.


"Tentu, nyonya. Mungkin hanya kita berdua saja. Tuan Besar dan Sekertaris Kim sepertinya tidak bisa ikut"


"Apa tugas kantor sangat banyak sekarang, kak? Apa terjadi masalah?" Elizabeth mencoba memancing mencari tau apa yang ingin dia ketahui


"Iya, nyonya. Ada masalah namun tuan besar akan segera menjelaskannya"


"Begitu sibuk apa Tak bisa apa tak mau membalas pesan ku. Kau tak perlu menutupinya dariku, kak. Lihat saja, nanti" Elizabeth sudah membuat rencana membalas Abraham. Namun rencananya menjadi kacau, saat ingat Abraham ketua mafia. "Apa aku akan baik-baik saja nanti?! Tapi dia bukannya orang baik. Baik baik sih mafia tetap mafia"


"Anda yakin anda baik-baik saja, nyonya?" Tanya Bram yang melihat Elizabeth melamun. Bram sudah membukakan pintu untuk Elizabeth keluar. Elizabeth sampai tidak sadar jika mobil itu sudah berhenti di depan kampusnya.


Elizabeth keluar dari dalam mobil dan menepuk bahu Bram.


"Aku baik-baik saja, kak. Aku masuk, ya?! jawab Elizabeth dan melangkah pergi. Wajah suram itu sudah kembali lalu. Elizabeth malas mendengarkan rumor yang beredar, Reyhan dan Raisya sudah geram, namun Elizabeth berusaha menenangkan kedua sahabatnya itu.


"Selamat belajarnya, nyonya"


Bram masih melihat kearah Elizabeth yang berjalan lunglai.


"Aku harus mengatakan pada, bos dan bos besar. Aku juga tidak tau ada apa dengan bos besar kenapa diam saja sampai sekarang? Kan bisa menyuruhku. Aku saja sudah geram. Kau orang yang baik, nyonya. Aku akan selalu mendukungmu. Adik?!" Bram tersenyum membayangkan dirinya memanggul Elizabeth adik.


Bram, mengendarai mobil ke kantor dan langsung ke ruangannya.


"Pak, ini berkas yang anda minta" ucap seseorang memberi berkas pada Bram.


"Em. Taruh saja. Dan buatkan ku kopi"


"Baik, pak"


Di sisi lain.


Abraham dan sekertaris Kim sedang ada di ruangan Abraham.


"Ini, tuan besar. Berkas-berkas ini membutuhkan tanda tangan anda" ucap sekertaris Kim meletakan tumpukan map di atas meja Abraham.


"Kau memberikan semuanya padaku, Kim. Lalu apa tugasmu?!" tanya Abraham kesal yang melihat tumpukan yang menggunung itu.


"Anda hanya perlu menandatanganinya saja, tuan besar. Saya sudah memeriksa semuanya"


"Kau sudah memeriksanya?"


"Iya, tuan besar"


"Apa yang ini juga?!" tanya Abraham menunjuk pada tumpukan map yang lainnya, map itu di berikan Doris tadi pagi.


"Iya, tuan besar. Saya yang memerintahkan pada Doris untuk membawanya kesini, setelah saya periksa"


"Kenapa tak kau bilang, Kim? Seharusnya aku tidak perlu memeriksa nya" ujar Abraham yang menahan emosinya.

__ADS_1


"Bukankah Doris mengatakan sudah diperiksa, tuan besar?" tanya sekertaris Kim, dia ingat sekali mengatakan Doris untuk mengatakan berkas-berkas itu sudah di periksa dan hanya tinggal di tanda tangani saja.


"Dia sudah mengatakannya, tapi dia tidak bilang kau yang memeriksa nya. Kau tau sendiri Doris itu ceroboh dan aku tidak bisa percaya padanya masalah laporan"


"Maafkan saya, tuan. Lain kali saya akan memperhatikannya"


"Rapat siang ini ku serahkan padamu, Kim"


"Baik, tuan besar"


"Apa Erdan sudah memberikan kabar?"


"Sudah, tuan besar. Dan Erdan ingin bertemu dengan anda"


"Katakan padanya minggu depan. Aku harus mengurus masalahku dengan Elis terlebih dahulu"


"Baik, tuan besar"


"Ayo!" Abraham sudah berdiri.


"Anda akan kemana, tuan besar?!" tanya sekertaris Kim pasalnya map Abraham masih banyak.


"Apa kau sekarang pikun, Kim?" Tanya balik Abraham yang membuat sekertaris Kim tambah bingung "Kau ada rapat siang ini. Aku yang memberikan tugas itu padamu tadi" jelas Abraham.


"Lalu kenapa anda berdiri? Kan tugasnya sudah anda alihkan padaku" tanya sekertaris Kim dalam hati. Sekertaris Kim hanya melihat Abraham saja.


"Apa kau tak suka aku ikut? Aku ingin makan? Bahkan aku tak sempat pulang dan balas dendam pada Elizabeth"


"Tuan besar?" panggil Sekertaris Kim pelan.


"Kenapa? Ada yang ingin kau bicarakan lagi, Kim?"


"Iya, tuan besar. Apa tidak masalah jika anda balas dendam dengan nyonya? Tuan besar..."Sekertaris Kim berhenti sejenak " Setelah saya pikir-pikir mungkin nyonya ada alasannya untuk menutupi hubungan anda dengannya, Tuan besar"


"Kau mencoba membela Elis, Kim? " tanya Abraham yang mengerutkan keningnya, melihat Sekertaris Kim yang sangat membenci Elizabeth kini mencoba membelanya, bukankah itu aneh?.


"Tuan besar, Di awal pernikahan dan sampai sekarang nyonya bahkan belum mengingatkan kita. Mungkin, nyonya hanya belum yakin dengan pernikahan ini"


Abraham kembali duduk di kursinya, mencerna apa yang di katakan Sekertaris Kim.


"Dan tuan besar, nyonya tidak bisa memberikan bukti apa-apa tentang pernikahannya dengan tuan besar. Kita bahkan belum melakukan pengumuman tentang pernikahan ini"


"Aku terkejut, Kim. Saat aku cerita kemarin, kau hanya diam dan saat ini kau membelanya?"


"Maaf kan saya, tuan besar. Saya hanya menyampaikan pendapat saya"


"Bukankah ini keberuntungan, nyonya? Tolong jangan pernah kecewakan saya"


"Apa kau tidak ingin rapat, Kim?" tanya Abraham yang sudah melangkah di depan pintu.


"Baik, tuan besar" ucap Sekertaris Kim.


Di dalam mobil bukan sekertaris Kim yang mengendarai mobil saat ini, tapi Doris.


"Kalau tau kau yang rapat, kenapa aku juga harus ikut?" tanya Doris.


Abraham sedang fokus dengan laporan Reno dan Bram. Mereka memberi kabar tentang Elizabeth.


"Ingin ku bunuh semua yang berani mengganggu, Elisku. Tapi aku harus memberikan Elizabeth kesempatan untuk menyelesaikannya sendiri? Tapi kenapa dia tidak bertindak juga? Aku sudah gatal ingin mencekik mereka. Sepertinya aku harus segera bertindak"


"Kim?!" panggil Abraham pada Kim yang juga fokus pada Handphone nya itu..


"Iya, tuan besar?!" jawab cepat sekertaris Kim dan langsung menutup handphonenya.


"Bukannya pihak Universitas Elis meminta aku mengisi sebuah seminar, kan?"


"Anda benar, tuan. Dan kata mereka, jika anda bersedia, mereka akan mengikuti jadwal anda"


"Katakan pada mereka, siapkan untuk besok. Aku ada waktu besok"


"Baik, tuan besar. Saya akan memberikan kabar pada mereka"


" Apakah anda ingin menghilangkan rumor tentang nyonya, Bos?" tanya Doris


"Em. Aku rasa Elizabeth mulai terganggu tentang itu"


"Bagaimana dengan Nick, Dor?"


"Berjalan dengan Rencana, Tuan besar. Hanya menunggu Reno lagi"


"2 hari. Aku mau dalam dua hari, tangkap mereka. Aku sudah memberikan mereka waktu untuk mengakui kesalahan mereka, tapi mereka mengabaikannya. Bunuh saja mereka. Dasar penghianat?!"


"Baik, tuan besar"

__ADS_1


Sekertaris Kim langsung memberikan email pada pihak kampus. Dia yang harus turun tangan, agar besok tidak ada kendala.


Tring tring. Pesan masuk dari Alex.


"Bos. Akhirnya aku bisa menemukan tempat tinggal orang yang sering menghubungi, nyonya. Dia tinggal di Jakarta, Indonesia, hanya itu yang bisa saya dapatkan? Apa dia keluarga nyonya? Kenapa dia misterius sekali?"


Flashback on.


Saat Sekertaris Kim meminjam Handphone Elizabeth untuk menelpon Handphone nya yang tertinggal itu hanya akal-akalan Sekertaris Kim, Sebenarnya handphone Sekertaris Kim ada di dalam sakunya sendiri. Dia hanya ingin meminjam Handphone Elizabeth.


Saat Bram masuk kembali ke dalam mobil, melihat Sekertaris Kim sedang memainkan handphonenya.


"Bukankah anda bilang tadi handphone anda tertinggal, bos?" tanya Bram yang menjalankan mobilnya.


"Kita ke markas, Bram!" Sekertaris Kim tidak menjawab pertanyaan Bram dan terus memainkan handphonenya.


Sesampai di markas.


"Bos?!" panggil Alex yang sudah berdiri dari kursinya melihat kedatangan Sekertaris Kim.


Di markas saat ini hanya ada Alex yang lain masih pada bertugas di luar, sedangkan Alex masih mengurus berita.


"Lanjutkan saja tugasmu?!" ucap Sekertaris Kim yang mendekat pada Alex.


"Alex, Hack nomor ini" Sekertaris Kim memberikan Handphonenya ke Alex dan duduk di samping Alex. Bram pun duduk di depan mereka.


"Ini nomor siapa, bos?"


"Apa itu nomor di handphone nyonya tadi, bos?" tambah Bram yang mengintip melihat sekilas nomor yang ada di handphone Sekertaris Kim.


"Em" jawab sekertaris Kim yang artinya iya.


Sekertaris Kim meminjam Handphone Elizabeth untuk memasukkan datanya agar dia bisa menghack data dan semua yang dia mau di handphone Elizabeth. Itulah alasan sebenarnya sekertaris Kim meminjam Handphone Elizabeth.


"Apa anda yakin, bos? Bagaimana jika bos besar tau?" tanya Alex ngeri membayangkan Abraham mengamuk.


"Lakukan saja yang aku minta!" Tegas Sekertaris Kim "Aku sudah buat hanya orang Grup kampus, Reyhan, Raisya, dan Tuan besar yang bisa masuk. Tugasmu Cari tau siapa saja yang telah menghubungi, nyonya selama ini. Yang tidak perlu kau cari tau Reyhan dan Raisya saja. Dan pastikan hanya kita-kita dan orang-orang yang kita ketahui, serta teman kampus nyonya. Yang lain jangan sampai masuk" jelas sekertaris Kim.


"Apa perlu kita lakukan ini, bos?"


"Em. Aku harus mencari kebenarannya. Secepatnya"


"Tapi, bos. Dengan bukti ini, kita sudah tau nyonya bukanlah orang yang sama dengan nyonya kita dahulu" ujar Alex.


"Bram, kau yang selalu bersama, nyonya, kan? Katakan?!" Sekertaris Kim menyandarkan tubuhnya.


"Apa yang ingin anda dengar, Bos?"


"Apa nyonya terdahulu lebih pantas di samping tuan? Wanita jalang itu, Apa nyonya sekarang yang pantas?" tanya sekertaris Kim membuat Alex dan Bram terkejut.


"Kita juga belum tau siapa yang sebenarnya orang yang menyelamatkan tuan di waktu kecil. Nyonya yang sekarang atau yang terdahulu. Yang pasti tuan bahagia dengan yang ini. Dan aku akan lakukan apapun demi tuan besar" Batin Sekertaris Kim.


"Anda benar, bos. Nyonya terdahulu itu tamak, berbeda dengan nyonya sekarang, dia sederhana dan baik, Serta polos. Tapi...."Bram berhenti.


"Kenapa berhenti Bram?" tanya Alex yang kurang mengerti tentang nyonya nya itu.


"Tapi jika dia dalam mode latihan, dia berubah seperti tuan besar. Bahkan kadang sangat menyeramkan" lanjut Bram.


"Aku juga terkejut tentang itu, Bram. Nyonya bisa dengan santai menantang Haruko saat itu" ujar Alex.


Mereka semua sudah melihat keberanian nyonya ya itu di rekaman handphone Rasyid.


"Bukankah mereka serasih? Sama-sama menyeramkan" ucap Sekertaris tersenyum kaku. Saat ini di hati Sekertaris Kim penuh kebimbangan, tapi jika di suruh memilih nyonya terdahulu atau sekarang. Sekertaris Kim memilih nyonya yang sekarang " Maafkan ke egois saja, nyonya. Semoga pilihanku ini tepat dan tidak akan menjadi bumerang untuk tuan besar"


"Anda sungguh berani, bos mengatakan bos besar menyeramkan. Tapi anda benar sekali!" ucap Alex mengundang tawa di antara mereka.


"Akan saya kerjakan secepatnya"


"Bram bantulah Alex dia juga harus membantu Erdan"


"Baik, bos"


"Aku akan pulang!" Sekertaris Kim berdiri dan Bram juga langsung berdiri, karena dia mau mengantar bosnya itu pulang"


"Aku akan naik taksi. Kerjakan tugasku secepatnya. Jangan sampai nyonya menyadarinya, karena siapa yang tau kecerdasan nyonya saat ini, dia juga kuliah di programmer"


"Baik, bos"


Dalam 2 hari mereka hampir mengetahui semua orang menghubungi Elizabeth, kecuali satu nomor dan nomor itu sering menghubungi Elizabeth.


Sebagian besar dari negara Indonesia dan juga Amerika dan sebagian juga ada dari Negera lain, tapi amerika dan negara lain, mereka semua teman kuliah Elizabeth, kecuali dari Indonesia, tak ada satupun dari teman kuliah Elizabeth.


Semua sudah mereka dapatkan datanya, hanya teman-teman kuliahnya nya saja yang bisa masuk ke handphone Elizabeth namun yang dari Indonesia semuanya di tolak.

__ADS_1


Alasan Bagus pulang kampung pun, karena mereka mengetahui Elizabeth bukan nyonya nya terdahulu, Bagus di suruh pulang kampung oleh Sekertaris Kim untuk menyelidiki semua itu.


Flashback off


__ADS_2