Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
EKSTRA PART #1


__ADS_3

3 tahun kemudian...


Dihalaman rumah itu, Nindi nampak kewalahan saat memegangi anak perempuan berusia sekitar satu tahun setengahan. Anak itu tak mau di gendong, ingin turun karena memang sedang aktif aktifnya belajar berjalan. Sedangkan Nindi bersikeras untuk memangku nya karena merasa gemas.


"Jangan turun, takut ihh nanti kamu nginjek kotoran ayam. Mendingan gendong aja ya!" Nindi berceloteh sendiri, sambil terus berusaha mempertahankan anak itu.


"Emmm ahh, eeee. Pa pa pa..." Si anak hampir menangis karena Nindi tak kunjung mau melepaskannya.


"Iya iya, bentar lagi papa kamu dateng kok. Jangan nangis ya!" Nindi menciumi pipi qnak itu bertubi-tubi. Kalau bisa, Nindi ingin melaham pipi yang lebih mirip bakpau itu karena terlampau gemas.


Si anak masih saja tak mau diam, bahkan sepertinya anak itu mencoba menghindari ciuman dari Nindi.


Tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampirinya.


"Woi, loe lagi menganiaya itu bocah ya? Udahlah loe kencarin aja. Anaknya nggak mau masih aja loe paksa-paksa." Dengan nyinyirnya si laki-laki itu bicara.


Nindi menoleh ke arahnya. Nampak si tengil sudah rapih dengan setelan jas hitamnya. Pasti mau menjemput Sheerin. Nindi langsung memasang wajah masam.


"Loe pikir dia ayam apa main kencar kencarin segala? Loe mau nggak gue kasih restu buat nikah sama Sheerin?" Nindi mengancam, ia tau pasti kalau ancaman yang seperti ini selalu membuat Levin merubah sikapnya pada Nindi jadi lebih sopan.


"Tanpa loe kasih restu juga gue bisa kawin lari sama Sheerin. Wle!" Ancamannya kali ini tidak mempan. Levin sepertinya sudah bosan mendapat ancaman seperti ini.


"Sebelum loe bawa Sheerin kabur, gue yang bakalan bawa Sheerin kabur duluan. Biar loe jadi bujangan lapuk nggak kawin-kawin. Mau loe?" Nyolot Nindi berkata.


"Ada apa sayang?" Bima yang baru saja keluar dari dalam rumah menghampiri mereka yang sedang cekcok.


Levin yang melihat kedatangan Bima menguringkan niatnya untuk kembali menyerang Nindi. Kalau bukan karena suaminya ini, Levin pasti takan berhenti. Segan sebenarnya, karena sikapnya ini yang tak bisa di ajak bercanda.


Kadang, Levin suka merasa heran. Apa sih sebenarnya yang laki-laki ini lihat dari Nindi? Urakan begitu, bicaranya juga tak bisa di saring. Kalau Levin yang jadi suaminya, mungkin Levin akan mati di usianya yang masih muda karena banyak mendapat pukulan dan penganiayaan. Levin bergidig ngeri membayangkan itu.


Untung saja calon istrinya Sheerin. Perempuan lemah lembut dengan segala keanggunannya.


"Nggak ada apa-apa kok kak. Kak Bima udah siap?" Tanya Nindi, mengacuhkan si tengil dan merubah mimik wajahnya menjadi manis saat menatap Bima.


Cih!


Dasar perempuan bermuka dua! Levin berseru di dalam hati.


"Sudah." Bima memgelus kepala Vini yang masih tak mau diam dalam pangkuan Nindi.


"Turunkan saja sayang, biar aku yang mengajarinya berjalan." Ucap Bima.


"Oh ya udah." Nindi kemudian menurunkan Vini, menyerahkannya pada Bima untuk di tuntun.

__ADS_1


Cih!


Lagi-lagi Levin berdecak. Giliran suaminya saja yang meminta langsung dituruti. Giliran Levin yang berkata tadi malah mendapat semprotan. Tentu saja, Bima memintanya dengan nada lembut. Sedangkan Levin bicara dengan nyolot, seperti minta di hajar.


Tanpa menghiraukan lagi pasangan suami istri yang tidak jelas itu, Levin berjalan memasuki rumah itu untuk menemui Sheerin.


"Woi, siapa yang suruh loe masuk? Nggak tau malu banget sih loe?" Nindi berteriak saat melihat punggung Levin yang semakin menjauh.


Namun Levin seolah tutup telinga meskipun perkataan Nindi masih bisa dia dengar. Dia menebalkan kulit wajahnya, rasa malunya sudah pudar. Biarkan saja, yang penting dirinya merasa senang karena akan bertemu dengan Sheerin, tak perduli dengan Nindi yang wajahnya sudah memerah karena peringatannya tak di indahkan Levin.


"Sudahlah sayang, biarkan mereka bertemu." Lerai Bima yang melihat istrinya marah-marah sendiri.


"Kok Sheerin mau-maunya ya sama cowo tengil kayak gitu?" Nindi masih berdecak keheranan.


Bima tak menjawab lagi, tak ingin urusannya semakin panjang. Dia sibuk menuntun Vini berjalan mengelilingi halaman rumah itu.


Nindi menghampiri mereka, terlihat Vini yang sedang ketawa-ketiwi dituntun oleh kak Bima, mungkin merasa bahagia karena bisa terbebas dari jeratan Nindi.


Nindi tersenyum getir melihat pemandangan itu. Kak Bima terlihat sangat bahagia saat bermain dengan Vini. Kal Bima sangat menyukai anak kecil. Namun sayang, sampai detik ini Nindi masih belum bisa memberikannya seorang anak.


Ada raut kekecewaan yang terpancar dari wajah Nindi saat melihat kak Bima dan Vini. Apa mungkin kak Bima juga meraskan kekecewaan yang sama? Meskipun dia tak pernah mengatakannya kepada Nindi? Mungkin kak Bima tak ingin membuat dirinya bersedih dengan menyinggung soal anak. Kasihan sekali suaminya itu, padahal Nindi tau betul kalau kak Bima sangat ingin memiliki seorang anak. Dia selalu antusias dan mengajak Nindi menengok istri temannya yang baru saja melahirkan. Tak jarang dia mencoba untuk menggendong bayi itu.


"Hai sayang, kamu lagi berlajar jalan ya sama om?" Suara kak Yuvi menyadarkan Nindi dari lamunannya. Sepertinya kak Yuvi baru selesai di dandani. Sedangkan Nindi yang paling awal selesai, jadilah dia yang menjaga Vini selama kakaknya di dandani.


"Ma ma ma aa." Mulut Vini terbuka menyambut ibunya. Terlihat menggemaskan dengan hanya empat gigi di dalamnya. Yuvi memangku Vini.


"Makasih ya kalian udah mau jagain Vini." Ucap Yuvi.


"Pake makasih segala sih kak? Nindi kan udah biasa jagain Vini. Iya kan Vini?" Sekali lagi Nindi mencubit pipi Vini dengan gemas.


"Oh ya, bang Doninya belum sampai kak?" Tanya Nindi.


"Kayaknya sebentar lagi deh. Kalian udah siap kan?" Jawab dan tanya Yuvi.


"Udah dong." Jawab Nindi. Sedangkan Bima hanya membalasnya dengan senyum singkat.


"Kalau bang Doni udah sampai, kita duluan aja berangkatnya. Tadi Sheerin bilang dia mau nyusul bareng Levin."


Tak berselang lama, sebuah mobil memasuki pekarangan rumah itu. Mobilpun berhenti, keluarlah sang pemiliknya dari balik pintu kemudi.


"Hai papa!" Yuvi berseru, sengaja melambaikan tangan Vini untuk menyambut suaminya itu.


"Selamat pagi." Bima mengulurkan tanganmya menyambut Doni. Doni dengan rah menjabat tangan Bima.

__ADS_1


"Pagi juga. Sudah pada siap ini semua? Ibu mana?" Tanya Doni celingukan karena tak melihat keberadaan mertuanya.


"Ibu nggak mau ikut." Jawab Yuvi.


"Lho, kenapa?" Tanya Doni.


"Ibu kan nggak suka tempat ramai." Nindi yang menjawab.


"Oh ya udah kalo gitu. Yang mau wisudanya mana nih?" Bertanya lagi.


"Belum selesai kayaknya. Padahal dia yang paling awal di dandani, tapi kok kita duluan yang selesai ya?" Ucap Nindi.


"Mending kita duluan aja deh. Biar kita nunggu disana nanti sambil beli makanan." Ide Yuvi.


"Iya. Ayo!" Bima setuju, dia berjalan menuju garasi untuk membawa mobilnya. Kunci sudah siap sedari tadi.


Yuvi dan Donipun masuk kedalam mobil. Mobil Doni keluar terlebih dulu lalu di susul oleh mobil Bima.


Mobil mereka berjalan beriringan menuju ke kampus Sheerin dan Levin, tempat wisuda Sheerin akan di laksanakan.


***


Didalam mobil, Nindi memperhatikan mobil Doni yang berjalan anteng di depannya. Sedangkan Bima, fokusnya hanya tertuju pada jalanan.


"Kalau kak Bima mau, kita bisa adopsi anak dari panti asuhan." Ucap Nindi tiba-tiba.


"Bicara apa kamu?" Menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Aku tau kak Bima pasti kecewa sama aku karena sampai sekarang aku masih belum bisa hamil. Padahal pernikahan kita udah lebih dari tiga tahun." Nindi berkata sambil menunduk lesu.


"Itu tidak menjadi masalah untukku. Tuhan belum mempercayakan kita untuk menimang seorang anak." Jawab Bima.


"Tapi aku jadi ngerasa sebagai istri aku itu nggak berguna. Aku takut kak Bima ninggalin aku karena aku nggak bisa hamil."


"Jangan bicara seperti itu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi. Sebesar apapun masalah yang pernah kita hadapi selama ini, apa pernah aku marah terhadapmu? Apa Masih kurang bukti kalau aku tulus mencintaimu?" Ucap Bima dengan wajah datar tak berekspresinya seperti biasa.


Perkataan Bima itu sukses membuat Nindi menangis terharu. Bahkan isakan itu kini mulai terdengar dari mulut Nindi.


Ahh, kenapa kak Bima so sweet banget sih.


"Sudah jangan menangis, nanti make up kamu luntur!" Jika tidak ingat sedang berada dimana sekarang, Nindi ingin memeluk tubuh suami kakunya itu.


________________

__ADS_1


Tunggu ekstra part selanjutnya ya...


__ADS_2