
Sepulang dari kantor, Abraham pergi dengan Bram untuk menyemput Elizabeth.
"Bram, aku masih tidak percaya dia berhianat" ucap Abraham.
"Saya juga begitu, tuan besar"
"Kita juga harus cari tau alasannya kenapa dia melakukan itu, Bram?"
"Baik, tuan besar"
"Anda terlalu baik, tuan besar. Kenapa anda masih mau mencari tau alasannya? Jika itu saya mungkin saya, sudah membunuhnya"
Abraham sibuk dengan handphone kembali.
"Emang kalau masih ada dosen, engga bisa bales apa?!" Abraham menampakkan wajah kesalnya dan tertangkap di mata Bram.
"Kenapa tuan besar terlihat emosi?"
"Apa gunanya aku memberikan dirinya handphone, jika ku hubungin tidak bisa?!"
"Ada apa, tuan besar?!" Tanya Bram pada Abraham.
"Apa aku mengatakan sesuatu?!" Tanya balik Abraham, karena dia takut dia mengatakan sesuatu tadi, sehingga Bram bertanya seperti itu.
"Anda tidak mengatakan apapun, tuan besar, tapi anda tampak kesal saat ini"
"Kau peka sekali, Bram!" Jawab Abraham "Tapi itu tidak penting untukmu. Fokus saja menyetir!"
"Baik, tuan besar"
Sampailah di depan gedung kuliah Elizabeth.
"Apa dia belum pulang, Bram?" ucap Abraham yang melihat keluar jendela mobil.
"Saya rasa sudah, tuan besar. Saat ini nyonya pasti sedang siap-siap pulang, sambil mengobrol dengan tuan Reyhan dan nona Raisya"
"Kau sudah cari tau siapa Reyhan dan Raisya itu, Bram? Apa mereka pantas berteman dengan Elisku?"
"Saya sudah mencari tau, tuan besar. Tuan Reyhan anak Dewan Kota dan Nona Raisya hanya anak pengusaha kecil di kota, tuan besar"
"Anak dewan kota, Bram?"
"Iya, tuan besar. Tapi tuan Reyhan adalah anak satu-satunya yang menentang kedaulatan wali kota. Dia satu-satunya anak wali kota yang bersifat paling baik di rumah itu. Dan saya rasa dia tidak berbahaya terhadap nyonya, tuan besar" jelas Bram.
"Benarkah? Apa dia sudah punya pacar? Apa Reyhan dan Raisya pacaran?" Tanya runtun Abraham.
"Tuan Reyhan dan nona Raisya tidak pacaran tuan. Bahkan..." Ucap Bram terhenti.
"Bahkan apa, Bram?"
"Saya rasa, tuan besar..." lagi-lagi Bram berhenti.
__ADS_1
"Sepertinya kau ingin mati, Bram?!"
"Tidak, tuan besar. Saya rasa tuan Reyhan malah menyukai nyonya"
Duk, Abraham menendang kesal kursi Bram dari belakang.
"Kenapa kau baru bilang sekarang?! Dan sampai sekarang kau masih membiarkan Rey itu dekat dengan Elisku, Bram?!" emosi Abraham
"Apa ada yang salah? Bukankah itu tidak akan membuat nyonya dalam bahaya? Jika dia mengganggu nyonya baru saya akan bertindak"
"Apakah ada yang salah, tuan besar? Saya rasa tuan Reyhan tidak membahayakan nyonya"
"Tapi dia membahayakan untukku...." Abraham memberhentikan ucapannya
"Intuk anda, tuan besar?" Bram sungguh tidak mengerti, bagaimana tuan Reyhan bisa membahayakan untuk tuan besarnya itu, kenal saya tidak. Apa dia melewatkan sesuatu yang sangat penting.
"Makannya dekat dengan cewek. Cobalah jatuh cinta, Bram. Kau akan mengerti?!"
"Ha? Apa hubungan jatuh cinta dengan bahayanya tuan Reyhan untuk tuan besar?"
"Kenapa anak buah ku ini? jika tidak playboy seperti Doris, Reno, Alex, ada juga yang Important seperti mu dan Sekertaris Kim"
"Saya belajar dari anda, tuan besar. Untuk tidak mempermainkan wanita"
"Aku tidak menyuruhmu seperti Reno dan Doris mereka sudah sangat keterlaluan, berganti wanita setiap malam tapi sampai sekarang belum ada wanita yang buat mereka sadar juga! Tapi setidaknya bukalah sedikit hatimu, Bram untuk wanita, jangan terlalu kasar pada mereka. Bagaimana bisa kau menemukan wanita yang mencintaimu, Bram?"
"Tapi anda saja bisa menemukan nyonya, tuan muda"
"Saya tidak akan berani, tuan besar"
"Ada bedanya aku dengan dirimu, Bram. Itu aku lakukan, karena aku sudah menemukan wanita yang ingin aku lindungi?!"
"Iya, tuan besar. Saya akan mencobanya"
"Baguslah. Ajak juga Sekertaris Kim. Entah apa yang akan ku katakan pada ayahnya nanti, jika dia tidak menikah juga"
"Maafkan saya, tuan besar. Saya rasa Sekertaris Kim tidak akan mendengarkan saya,
"Kau benar, Bram. Dia tidak akan mendengarkan dirimu, Bram. Tentang itu aku saja tidak dia dengarkan" balas Abraham.
Elizabeth keluar dari gedung itu, Bram langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Elizabeth masuk.
"Ha?! Kenapa di sini? Kok bukan di depan gerbang saja" Elizabeth melihat ke arah Reyhan dan Raisya yang masih sibuk memainkan Hp Elizabeth. Kapan lagi mereka memainkan hp harga ratusan dollar itu lagi.
Saat Bram membuka pintu, Abraham malah keluar dari dalam mobil.
"Kenapa dia juga ikut?!"
"Raisya, Rey. Stop?!" Elizabeth memberhentikan Reyhan dan Raisya.
"Kenapa, Lis?" Tanya Raisya.
__ADS_1
"Jemputan ku sudah datang"
"Mana?" tanya Reyhan.
Reyhan dan Raisya mencari-cari dan mata mereka tertuju pada mobil yang ada dua orang yang berdiri di samping itu. Raisya dan Reyhan pandang-pandangan.
"Bukankah itu, pengusaha yang sedang naik daun?!" tanya Reyhan
"Mana ada pengusaha pakaiannya santai begitu, sekarangkan masih jam kantor, Rey"
Abraham sudah ganti pakai sebelum keluar kantor, karena dia tidak ingin Elizabeth tau dia habis dari kantor.
"Iya. Juga sih, Sya" Akhirnya Reyhan setuju.
"Hp ku" Elizabeth meminta Hpnya yang ada di tangan Reyhan. Reyhan memberikan Hp Elizabeth pada Elizabeth. Elizabeth langsung memasukkannya kedalam tasnya.
"Itu yang bos kamu yang mana, Lis?!"
"Yang pakai baju kaos putih. Duluan, ya?" pamit Elizabeth.
"Iya hati-hati, Lis" balas Raisya.
"Bye" Elizabeth berjalan ke arah Abraham dan Bram.
"Lis, loe engga niat ngenalin kita sama bos loe itu, tah?!" Teriak Reyhan yang mendapatkan senggolan sikut dari Raisya.
"Loe ini?!"
Elizabeth tidak mempedulikan teriakan Reyhan dan memilih terus melangkah pada Abraham.
"Siapa mereka, Elis?" tanya Abraham mengarah pada Raisya dan Reyhan.
"Ah mereka? Mereka sahabat aku Raisya dan Reyhan" jawab Elizabeth.
"Em. Kok engga kamu kenalin sama bos kamu ini" Sindir Abraham.
"Apaan sih, Honey. Kamu mau kenalan sama mereka? Aku..."
"Engga usah! Aku masih ada urusan" jawab Abraham yang sudah kesal. Abraham langsung masuk ke mobil.
"Kenapa dia marah?"
Elizabeth akhirnya juga menyusul Abraham masuk ke dalam mobil.
Didalam mobil Abraham hanya diam dia malah sibuk dengan Handphonenya.
"Honey, apa kita bisa berhenti di toko buku dahulu? Ada buku yang mau aku beli, Em"
See you next time.
sabar ya. slow update
__ADS_1