Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Bab 70


__ADS_3

Maaf Ya engga update lama. Author masuk rumah sakit di opname 3 hari 2 malam. dan sekarang aja masih kurang fit + sakit gigi juga. Sakit banget sumpah


"Dan kau harus tau, Elis. Kaulah satu-satunya istriku. Selamanya kaulah istriku. Jadi janganlah berfikir yang tidak-tidak" ucap Abraham makin erat memeluk Elizabeth.


"Kaulah satu-satunya istriku dan selamanya kaulah istriku. Jadi janganlah berfikir yang tidak-tidak"


Kata-kata itu terus berputar di kepala Elizabeth.


"Tuhan kau yang menyatukan kami. Apapun juga dia suamiku sekarang. Maafkan aku jika aku serakah. Aku akan diam seakan tidak tau, dan membiarkan diriku tetap berada di sampingnya. Ini keinginanku, tuhan. Dan aku menerima semua konsekuensinya nanti"


Akhirnya Elizabeth juga ikut terlelap dalam pelukan Abraham.


...****************...


Hari-hari berganti.


Abaraham semakin menunjukkan rasa cintanya. Hari ini adalah hari terakhir Elizabeth magang Di SAS.


Pesta di siapkan untuk pelepasan mahasiswa yang akan pergi. Setelah pesta, Abraham secara khusus menjemput Elizabeth. Dia hanya berpesan akan membawa Elizabeth ke suatu tempat dan dia akan memperlihatkan sesuatu.


Perjalan cukup panjang, melewati kota, masuk ke pemukiman, lalu mulailah pemandangan hutan yang mereka masuki.


"Kita akan kemana honey?" tanya Elizabeth yang sedikit tampak lelah karena pesta yang di sediakan SAS tadi. Walau lelah Elizabeth cukup senang saat itu.


"Kau akan tau nanti, Elis. Tidurlah, jika lelah. Nanti jika sudah sampai, aku akan membangunkan mu"


"Apa masih jauh?" itulah yang di tangkap Elizabeth dari kata-kata Abraham tersebut.


"Lumayan. Tidurlah" ucap Abraham lembut dan sekilas mengusap kepala Elizabeth dan kembali fokus pada stir mobilnya.


Karena lelah, akhirnya Elizabeth memilih memejamkan matanya.


"Elis. Elis sayang bangun. Kita sudah sampai" Abaraham membangunkan Elizabeth dan bahkan sudah membukakan pintu untuk Elizabeth.


Elizabeth menggeliat dan membuka matanya, melihat sekeliling dan wajah Abraham yang tersenyum manis padanya.

__ADS_1


Abaraham mencium bibir Elizabeth dengan cepat Elizabeth mendorongnya, karena mendapatkan serangan mendadak dari Abraham.


"Kenapa kau malah tiba-tiba mencium ku sih" protes Elizabeth yang nyawanya sudah terkumpul akibat ciuman dadakan Abraham tersebut.


"Karena kau sangat manis" balas Abraham dengan senyumannya.


"Manis dari mana? Bau iler iya" ucap Elizabeth tidak terima. Melihat sekeliling Elizabeth mengerti mereka di mana. "Apa kita di...?"


"Kau benar, Elis. Kita akan menyaksikan hujan meteor di sini" potong Abraham yang tahu istrinya ini akan mengatakan apa.


Mereka ada di atas gunung C. Di sanalah tempat yang tepat untuk melihat hujan meteor.


"Aku mendengar berita tadi pagi, bahwa akan ada hujan meteor malam ini. Dan disinilah tempat yang tepat untuk menyaksikannya" lanjut Abraham memberikan alasan.


"Iya. Aku mendengarnya tadi pagi, dibicarakan hampir di seluruh kantor. Tapi kenapa di sini sepi?" tanya Elizabeth, karena sekelilingnya hanya ada suara jangkrik, yang artinya hanya mereka berdua disana.


"Aku menyewanya" jawab singkat Abraham.


"Eh apa bisa di sewa?"


Ah Elizabeth lupa bahwa suaminya ini mungkin bisa membeli pulau, jika dia mau. Apalah artinya hanya menyewa tempat itu.


Abraham melirik ke jam tangannya dan beralih pada Elizabeth.


"Masih ada 1 jam lagi. Apa kau ingin turun dan melihat-lihat sekeliling, sayang" ucap Abraham sambil mengulurkan tangannya.


Elizabeth menerimanya dengan senyuman.


Elizabeth terkesima melihat pandangan diluar. Pandangan seluruh kota dapat Elizabeth lihat dari sana. Bukan hanya itu, Abaraham juga menyediakan karpet untuk mereka duduk, makanan dan lampu-lampu yang menghiasi setiap pohon.


"Apa ini memang disediakan? atau kau yang menghiasnya, honey? waw" tanya Elizabeth yang masih terpukau.


"Aku sibuk, Elis. Semua Sekertaris Kim yang mengaturnya"


"Oh" Elizabeth hanya menjawab dengan oh saja.

__ADS_1


Elizabeth dan Abraham duduk di tempat yang telah di sediakan. Mereka melihat ke bawah pemandangan indah kota.


Abraham meletakkan kepalanya di bahu Elizabeth. Elizabeth menyuapi Abraham dengan snack yang dia makan juga.


"Dulu ayah bercerita padaku tentang hujan meteor ini dan berjanji akan membawaku dan ibu untuk melihatnya jika terjadi lagi. Tapi belum ada hujan meteor, ayah dan ibu malah pergi" ucap Abraham yang tampak menyajat. Elizabeth mengusap kepala Abraham lembut.


"Tapi aku bersyukur, aku tidak sendirian sekarang. Aku memiliki dirimu. Duniaku berubah saat kau hadir di hidupku" ucap Abraham tulus.


Walau keluarga Abraham adalah mafia, namun keluarga mereka sangat harmonis, tegas sang ayah ada tempatnya. Saat di areal latihan, dialah pelatih yang tegas, namun jika di rumah dialah ayah yang penyayang. Kadang Abraham berfikir "Apakah itu ayahnya?" karena sangat kejam saat di areal latihan, tapi saat sampai rumah ayahnyalah yang merawatnya.


Apapun Abrahamlah anak kesayangan sang ayah, namun karena pekerjaan sang ayah yang kejam, membuatnya mau tidak mau melatih bela diri sang anak lebih, itupun untuk kebaikan sang anak. Lagipula Abraham menikmatinya.


Abaraham merebahkan tubuhnya di paha Elizabeth. Elizabeth terus mengusap kepala Abraham lembut.


"Siapa sangka pria kejam ini, sangatlah lembut dan dia hanya menunjukkannya pada ku. Hanya padaku. Bagaimana aku tidak jatuh cinta padanya? Ayah aku harus apa sekarang?"


Keributan dari arah hutan membuat Abraham dan Elizabeth seketika bangkit dan Abraham membawa Elizabeth kebelakang tubuhnya.


"Ada apa ini, Honey?" tanya Elizabeth takut berbisik pada Abraham.


Abraham mengeluarkan pistol yang selalu dia bawa.


"Apa ada musuh?" tanya Elizabeth takut dalam hati dan memilih bersembunyi di belakang Abraham.


tampak seseorang keluar dari rerumputan dengan tergesa-gesa, sampai-sampai tersungkur. Jelas itu adalah seorang wanita. Abaraham membuat Elizabeth semakin tertutup tubuhnya.


"Apa kau mau mati?" ancam Abraham yang mengarahkan pistolnya pada kepala orang tersebut.


Saat orang tersebut bangkit, tampak terkejut di wajah Abraham.


"Honey, akhirnya aku bisa menemukanmu, Honey" ucapnya dan berusaha bangkit. "Saat aku tau kau kesini tanpa Sekertaris mu itu, aku berjalan kaki, demi bisa bertemu denganmu. Sekertaris mu itu, selalu saja menghalangi ku"


Mendengar itu, Elizabeth yang ada di belakang Abraham mengintip dari celah tubuh Abraham siapa orang itu. Dan terkejut bukan main saat melihat orang yang ada di hadapannya tersebut. Tubuh Elisabeth bergetar.


see you next time

__ADS_1


__ADS_2