
Keesokan harinya.
"Loe engga apa-apa kan, Lis?" tanya Raisya khawatir melihat Elizabeth dengan mata sembabnya. "Loe nangis semalam?" lanjutnya karena tidak mendapat jawaban dari sang sahabat.
"Ah engga kok, Sya" jawab Elizabeth berbohong sambil mengusap wajahnya.
"Masak sih? Terus kenapa mata loe sembab kek habis nangis semalaman" tanya Raisya yang tidak percaya. Dia yakin sahabatnya satu ini habis menangis.
"Sembab, tah?" tanya Elizabeth kembali mencoba mencari alasan.
Inilah kehidupan, tidak semua bisa kita ceritakan pada orang lain, bahkan pada orang yang sangat kita percayai sekalipun. Ada yang namanya rahasia yang harus kita pendam sendirian. Sakit? memang. Tapi jika berbagi bukannya mendapat solusi, yang ada hanya menambah masalah baru.
Apalagi ada yang namanya manusia yang melebihi fakta. Saat kita cerita begini dan dia cerita kepada orang lain begitu. Cerita kita di tambahkan bumbu penyedap, agar menambah sensasional.
"Iya. Banget. Bahkan sampai bengkak" jawab Raisya.
"Loe kenapa, Lis?" tanya Amel yang masuk selesai mandi.
Setelah Elizabeth mandi, Amellah yang masuk dia tidak memperhatikan Elizabeth sama sekali.
"Iya kan, Mel. Elis kek habis nangis semalaman" balas Raisya
"Tapi aku engga kenapa-napa kok" jawab Elizabeth berbohong.
"Semalam loe ngapain? loe minjam laptop gua kan semalam, Lis?" tanya Raisya masih tidak percaya dengan jawaban sang sahabat.
"Iya" jawab Elizabeth "Oh iya. mungkin karena efek kurang tidur. Semalam aku nonton di laptop mu" Jawab Elizabeth mendapatkan cara mereka berdua percaya.
Amel dan Raisya malah mengerutkan keningnya.
"Loe nonton film apa?"
Elizabeth menyebutkan sebuah judul film yang menyedihkan. "Filmnya menyediakan banget loh. Saking sedihnya aku sampai menangis" lanjut Elizabeth meyakinkan.
"Memang yang kulihat semalam memang sangat menyedihkan? bukan tentang film namun tentang kisah ku. Takdir yang sangat menyakitkan"
Akhirnya mahasiswa kembali dari kota B, sepanjang jalan, walau Elizabeth nampak menikmati, namun hatinya sangat kacau. Dia terus menenangkan dan menguatkan hatinya.
Dia harus mengatakan segalanya pada Abraham, dan meminta Abraham melepaskannya. Membayangkan saja sudah sangat menyakitkan, tapi cepat atau lambat Abraham akan mengetahuinya dan akan melepaskannya juga. Bagaimanapun dia bukanlah wanita yang Abraham cari dan kenyataan itu sudah cukup menyakitkan.
Sampailah di Gedung pencakar langit SAS kembali. Gedung yang lebih besar dari gedung SAS di Kota B.
Elizabeth menghela nafasnya kala melihat Bram sudah menjemputnya.
Mahasiswa diizinkan oleh perusahaan untuk langsung pulang setelah sampai di perusahaan. Dan Bram langsung menjemputnya.
Elizabeth membaca pesan-pesan Abraham selama dirinya di Kota B. Hanya pesan-pesan cinta dan rindu Abraham dan juga Elizabeth yang saling merindukan. Namun tadi malam setelah mengetahui segalanya. Elizabeth hanya membalas.
"Mobil telah berangkat, honey. Sampai Perusahaan, aku langsung pulang. Jemput ya"
Hanya itu saja dari semua pesan Abraham yang di abaikan.
Membaca itu membuat Elizabeth goyah, namun dia terus mengatakan "Aku Elizabeth Liman Putri Darrel Liman"
__ADS_1
"Kenapa malah kesini, kak?" ucap Elizabeth lesu melihat dimana Bram membawanya.
Mobil berhenti di perusahaan, perusahan milik orang yang sangat Elizabeth rindukan, namun kali ini ingin segera ia hindari. Elizabeth masih butuh waktu untuk bertemu Abraham secepat mungkin.
Sebenarnya Abaraham yang ingin langsung menjemput Elizabeth, berhubungan Sekertaris Kim bahkan Dorris juga sibuk dan ada rapat penting, terpaksa dia harus menyuruh Bram saja yang menjemput Elizabeth, namun menjemputnya ke perusahaan agar Abraham bisa langsung bertemu.
"Apa terjadi sesuatu, nyonya? Anda terlihat sangat-sangat lelah"
"Nyonya? Itu bahkan makin sangat menyakitkan kini. Aku ingin berteriak, Aku bukan nyonya mu, Bram. Kalian salah orang"
"Iya kak. Di sana cukup melelahkan" balas Elizabeth yang enggan menjelaskan.
"Sebenarnya tuan besar ingin segera menjemput anda, nyonya. Namun ada rapat penting setelah ini dan Sekertaris Kim sedang sibuk sekarang"
"Oh" Elizabeth hanya menjawab Oh saja.
"Di ruangan tuan besar ada tempat istirahat, nyonya anda dapat beristirahat disana" ucap Bram mengingatkan Elizabeth.
"Kak?" panggil Elizabeth pada Bram yang telah membukakan pintu dan Elizabeth pun telah keluar.
"Iya, nyonya?"
Elizabeth menatap Bram lekat, dimana Bram hanya tertunduk.
"Jika suatu saat aku dan Abaraham berpisah, maukah kau tetap menjadi temanku?" tanya Elizabeth pelan hampir tidak terdengar oleh Bram.
"Anda membutuhkan sesuatu, nyonya?" tanya Bram.
"Ah tidak, kak. Ayo masuk"
Kali ini Bram mengantar Elizabeth sampai kelantai dimana ada ruangan Abraham, Sekertaris Kim dan Dorris itu. Dia tidak akan meninggalkan Nyonya nya itu di lobi lagi, apapun yang terjadi.
Dilantai itu sepi hanya ada 3 ruangan yang ada hanya ruangan kosong, kerena Sekertaris Kim dan Dorris sedang pergi dan Abraham pun masih rapat di lantai 5.
Bram langsung mempersilahkan Elizabeth untuk masuk keruangan Abraham.
"Tuan besar sedang rapat di ruang rapat lantai 5, nyonya. Anda bisa menunggu tuan besar di dalam" Bram mempersilahkan.
Elizabeth masuk kedalam ruangan itu, dan Bram langsung menutupnya kembali.
Ruangan yang sama dimana beberapa hari yang lalu dia datangi. Kenangan saat di ruangan itu berputar dikepala Elizabeth.
Elizabeth mendekat kemeja Abraham, mengingat bagaimana seriusnya orang yang duduk di kursi itu membaca map-map yang menumpuk di atas meja. membuat Elizabeth tersenyum, namun senyumannya kecut.
Elizabeth masuk keruangan istirahat. Duduk di sana dan berfikir sejenak.
"Ada yang bisa bantu, nyonya?" tanya Bram melihat Elizabeth keluar dari ruangan.
"Aku hanya ingin melihat-lihat saja, Kak" ujar Elizabeth.
Bram mengikuti Elizabeth kemanapun dia pergi, walau jaraknya cukup jauh.
"Bukankah Abraham rapat di lantai 5, kak?" ujar Elizabeth mendekat pada Bram.
__ADS_1
"Iya, nyonya"
"Apa aku boleh melihatnya? aku hanya ingin mengintip"
"Saya rasa, tuan besar tidak keberatan, nyonya"
Elizabeth ke lantai 5 dan Bram mengantarkan Elizabeth sampai pintu rapat. Elizabeth membuka pelan pintu itu dan sudah tampak wajah Abraham. Di sana tampak langsung wajah Abraham yang sangat serius.
"Apa ini rencana kalian? Apa kalian kira ini hanya main-main ha?! Untuk apa aku bayar kalian mahal-mahal, kalau cuma bisa membuat proposal seperti ini" ucap Abraham sambil melemparkan map yang dia pegang ke meja di depannya.
Abraham terlihat berwibawa, walau tampak juga sangat menyeramkan, bahkan tatapannya yang menusuk.
"Aku tidak mau tau, ubah segalanya. 2 hari. Aku beri waktu 2 hari proposal itu harus berubah dan sesuai dengan permintaan" ucap Abraham penuh ancaman.
"Sekarang, lanjut ke proyek yang selanjutnya. Jangan terlalu lama, jelaskan secara singkat dan padat" ucap Abraham kembali.
Elizabeth menutup ruang rapat itu lagi.
"Anda tidak jadi masuk, nyonya?" tanya Bram.
"Tidak, kak. Aku akan kembali keruangan Abraham saja. Aku sangat mengantuk"
Elizabeth kembali keruangan Abraham dan duduk di sofa memandang meja Abraham.
Tidak lama pintu itu pun terbuka. Terlihat Abraham yang tergesa-gesa dan langsung berjalan cepat menghampiri Elizabeth. Membawa Elizabeth ke dalam pelukannya.
"Maaf ya, Sayanh. Aku membuatmu menunggu" ucap Abraham sambil mengusap kepala Elizabeth lembut.
"Aku sangat merindukanmu. 5 hari rasanya bertahun-tahun, jika kau tidak ada di sampingku" ucap Abraham sambil menenggelamkan wajah Elizabeth ke dadanya. Memeluknya sangat erat, seakan tak ingin melepaskannya lagi. Abraham yang kejam tadi kemana? yang tampak tegas dan berwibawa itu kini berubah 100 persen.
Abraham yang hanya akan tampak di depan Elizabeth seorang.
Namun Elizabeth yang di peluk hanya terdiam kaku sesaat.
Wangi dari tubuh Abraham yang ia peluk, serasa membuat Elizabeth terpana. Wangi yang dia rindukan. Tangan Elizabeth mengulurkan dan membalas memeluk Abraham.
Air mata berhasil lolos di pipi Elizabeth. Kini dia sudah menjadi wanita yang lemah.
Merasa ada air yang membasahi, membuat Abraham melepaskannya pelukannya, menatap Elizabeth lekat.
"Kenapa kamu menangis? Apa aku memelukmu terlalu kuat? Apa ada yang sakit?" tanya Abraham khawatir.
Elizabeth menghapus tangisnya, namun air matanya terus mengalir.
"Elis sayang, mana yang sakit? bahunya?" Abraham mengusap bahu Elizabeth pelan.
Akankah Elizabeth mengatakan kejujuran dan memilih pergi dari Abraham?
Penasaran kan?
******Nantikan kelanjutan hanya di BST******
see you next time
__ADS_1