
"Ayo honey, cepetan!" teriak Elizabeth yang sudah dalam mobil dengan tidak sabarannya ingin pergi latihan.
Bahkan saking tidak sabarannya, Elizabeth sampai meninggalkan begitu saja Abraham yang sedang mengobrol dengan sekertaris Kim.
"Baguslah! Lakukan perawatan yang terbaik! Jangan sampai ada trauma yang melekat padanya" ucap Abraham pada Sekertaris Kim.
"Saya akan pastikan itu, tuan besar"
"Lalu bagaimana dengan anak buah mu, Kim?"
"Hanya ada 4 yang terluka, tuan besar. 3 terluka tembak 2 di bahu, 1 di kaki dan yang satu terlibat perkelahian"
"Kau tahu harus melakukan apa kan, Kim?"
"Iya, tuan besar. Saya sudah memberikan kompensasi pada keluarganya, tuan besar" jawab Sekertaris Kim
"Kau memang tidak pernah mengecewakanku, Kim"
"Terimakasih atas pujiannya anda"
"Apa pekerjaanmu sekarang?"
"Saya akan memeriksa laporan kantor dan penjual senjata, tuan besar"
"Besok saja! sekarang ikut kami saja latihan. Lihatlah! nyonya mu itu sudah sangat tidak sabaran. Kita lihat! sudah sampai mana perkembangannya selama seminggu ini"
"Baik, tuan besar"
"Ais aku ingin mengejek Bram yang tadi menjadi nyamuk, sekarang malahan aku yang ikut terjebak"
Abraham dan sekertaris Kim masuk kedalam mobil.
Bram memberikan senyum manisnya pada Sekertaris Kim, karena tadi dia menghina Bram saat dia bercerita bagaimana nasibnya mengantar tuan besar dan nyonya nya itu dari kampus. Tapi sekarang dia tidak sendirian ada Sekertaris Kim akan menjadi temannya.
"Kau baik-baik, Bram? Senyum-senyum seperti orang gila" sewot Sekertaris Kim.
"Saya hanya senang, Sekertaris Kim. Biasanya hanya saya dan nyonya yang latihan, tapi sekarang ada anda dan juga tuan besar"
"Benarkah?!" tanya Sekertaris Kim yang tidak percaya dan lagi-lagi Bram memberikan senyuman manisnya, sedang sekertaris Kim memberikan tatapan tidak bersahabat.
"Kim?!" ucap Abraham menyadari sekertaris Kim dan juga Bram.
"Iya, tuan besar?!" ujar sekretaris Kim yang sedikit terkejut.
"Saat dia sadar, bawa dia pulang, biar kita bisa menjaganya"
"Pulang, tuan besar?" tanya Sekertaris Kim yang tidak tau siapa yang dibawa pulang? dan harus dibawa pulang kemana?"
"Ke mana lagi kalau bukan ke rumah, Kim? Aku rasa kalau di rumah akan ada banyak pelayan dan juga Elizabeth yang bisa menjaganya. Maka penyembuhnya akan cepat terlaksana. Ya kan Elis?" ucap Abraham seakan meminta persetujuan Elizabeth.
"Siapa, Honey?" tanya Elizabeth yang penasaran siapa yang Abraham dan sekertaris Kim bicarakan dari tadi.
"Ada anak kecil yang di rawat di rumah sakit ku, Elis. Ibunya sudah lama meninggal, sedangkan ayahnya antara mati dan hidup"
Mendengar itu, Kim mengerti apa yang diperintahkan tuan besarnya itu. Anak Nick yang disandera berhasil diselamatkan. Namun anak itu terdapat banyak luka dan yang pasti juga luka batin, bahkan anak itu masih pingsan dan di rawat di Rumah sakit milih Abraham di mana dokter Yoseph bertugas.
"Antara mati dan hidup? ayahnya masih sakit juga, honey?" Tanya Elizabeth yang makin penasaran bercampur kasian.
"Em" jawaban singkat Abraham.
"Dia sakit apa?!"
"Siapa?!" tanya Abraham tidak suka Elizabeth bertanya tentang pria lain, apalagi bertanya ya pada dirinya. "Aku ada di sini kenapa bertanya tentang pria lain?"
"Anak kecil itu? Dia sakit apa, Honey?" tanya Elizabeth yang butuh jawaban.
__ADS_1
"Oh. Anak kecil itu? Dia dijahati seseorang"
"Dijahati?"
"Dia dikurung di suatu gedung yang seram dan di siksa. Itu saja yang aku tau dan anak buah ku yang menyelamatkannya"
"Kenapa? Emang dia salah apa? Apa dia melakukan kejahatan?" tanya beruntun Elizabeth yang semakin penasaran.
"Anak itu tidak bersalah, Elis, tetapi orang tuannya yang melakukan kesalahan"
"Iya dia bersalah. Coba saja dia memberikan tahu kami lebih awal, dia tidak akan tersiksa lebih dalam di ruangan gelap itu"
"Bawa saja di pulang, honey. Aku akan membantu menjaga nya sepulang dari kampus"
"Baguslah jika kau setuju"
"Tentu aku setuju, dia Laki-laki apa perempuan, Honey?"
"Perempuan, Elis"
"Apa dia cantik?"
"Bagiku kau tetap yang tercantik" jawab Abraham membuat Elizabeth tersipu, namun coba Elizabeth sembunyikan.
"Aku serius, Honey"
"Kau tetap yang tercantik, Elis"
"Maksudku dalam ukuran anak, apa dia cantik?" tanya Elizabeth kembali.
"Anak-anak kita nanti pasti akan lebih cantik darinya" jawab Abraham.
"Apa?!" Elizabeth terkejut akan pernyataan Abraham.
"Kapan kita akan membuat anak lagi, Elis?" ucap Abraham tanpa dosa sampai-sampai 2 jomblo di depan tersedak dengan air ludah mereka sendiri-sendiri.
Wajah Elizabeth seketika memerah.
"Kau sungguh tak tau malu" ujar Elizabeth pelan berbisik pada Abraham.
"Apa?! kau mau mau malam ini juga?!" ujar Abraham yang pelan, namun cukup terdengar oleh 2 jomblo di depan yang akhirnya mereka berdua sama-sama tersedak ludah mereka untuk kedua kalinya. Abraham seketika mendapatkan Bogeman dan Bogeman dari Elizabeth.
"Kau memang sungguh tidak tau malu. Tidak tau malu" ucap Elizabeth yang terus memukul Abraham dan Abraham tidak memberhentikan pukulan Elizabeth. Melihat tingkah Elizabeth malah membuat Abraham tertawa...
"Sudah?!" tanya Abraham yang merasakan pukulan Elizabeth memelan dan napas Elizabeth pun sudah engos-engosan.
"Hah hah Dasar tidak tau malu" ujar Elizabeth sambil melengos kesal.
"Kalau sudah. Ayo kita turun?!"
Bram membukakan pintu untuk Elizabeth dan Sekertaris Kim membukakan pintu untuk Abraham.
Di arena latihan. Keempat orang itu sudah melakukan pemanasan. Sekertaris Kim dan Bram sudah latihan sendiri, sedangkan Abaraham lah yang akan melatih Elizabeth sendiri.
"Hari ini aku akan mengajari cara bertarung dengan tangan. Kau sudah di ajarkan Bram sebelumnya kan, Elis?"
"Em. iya" jawab Elizabeth santai.
" Sebelum itu, aku akan memberi tahu mu dasarnya berkelahi, Elis. Berkelahi menyerang dari dekat yang utama dari berkelahi adalah kecepatan, karena disana yang dibutuhkan adalah menyerang dan menghindari serangan lawan, jadi kecepatan adalah kuncinya. Jika kau memukul kepala akan membuat orang pusing, itu bagus untuk melakukan penyerangan selanjutnya. Jika dada dan perut, maka membuatnya sesak. Jika kaki dia akan kesulitan bergerak dan berlari. Jika dia sangat hebat dan kau tidak bisa menang, lukai saja kakinya dan berlari"
"Iya kalau bisa melukai kakinya" balas Elizabeth dalam hati.
"Jika tangan dia akan kesulitan menyerang mu. alat serang yang sering dipakai adalah tangan, lalu kaki dan yang terakhir adalah kepala" jelas singkat Abraham.
"Kim?!"
__ADS_1
"Iya, tuan besar" jawab Kim yang langsung mendekat pada Kim.
"Lihat kami, Elis. Lihat bagaimana kami bisa menyerang dan menghindar"
Bram melihat tuan besar dan tuannya akan latihan, dia memilih mendekat dan menonton tidak jauh dari Elizabeth.
"Kita lihat perkembangan kita, Kim"
"Baik, Tuan besar"
Sekertaris Kim dan Abraham saling menyerang dan menghindar, namun Sekertaris Kim kalah cepat dengan Abraham dan akhirnya Sekertaris Kim mengakui kekalahannya.
Melihat latihan Abraham dan Sekertaris Kim, membuat Elizabeth ingin mencobanya, dia melirik Bram yang tidak jauh darinya.
"Ayo kak. Kita coba juga" ucap Elizabeth pada Bram.
"Apa, nyonya?" tanya Bram yang mencoba mengetes telinganya yang mungkin salah mendengar.
"Ayo kita coba latihan kita selama beberapa hari kemarin, kak"
"Matilah, aku" Bram melirik Abraham dan Sekertaris Kim yang berjalan mendekat pada Elizabeth.
"Honey, boleh aku mencoba latihan ku selama beberapa hari kemarin dengan kak Bram?" tanya Elizabeth yang mendahului sebelum Bram mengatakan bahwa dia tidak mau bertarung dengan Elizabeth.
"Kau ingin menantang Bram, Lis?" tanya Abraham yang sambil melirik Bram yang menciut.
Elizabeth mengangguk mengiyakannya.
"Boleh ya, honey" mohon Elizabeth.
"Tapi sepertinya dia sudah menciut tuh" ucap Abraham menghina Bram.
"Dia hanya takut melukaiku saja. Kalau aku terluka kau pasti akan menghukumnya"
"Dia benar. Aku akan membunuhnya" jawab Abraham mantap.
"Honey. Luka kecil engga apa-apa lah ya"
"Tidak?!"
"Bagaimana aku bisa latihan, jika tidak boleh terluka sedikitpun?!" sungut Elizabeth
" Bagaimana jika latihan denganmu saja?" Elizabeth masih mencoba mencari cara agar dia latihan, sama Abraham juga engga apa-apalah.
"Kau sama Bram saja. Denganku kau akan lebih terluka" ujar Abraham.
"YE.. Yuk kak" Elizabeth senang dan langsung ketempat Abraham dan Sekertaris Kim bertanding tadi.
Bram menatap Abraham tidak percaya, sedangkan Sekertaris Kim menatap punggung Abraham karena dia ada di belakang Abraham sekarang.
"Tuan besar?" ucap Bram mencoba memberhentikan tuannya itu.
"Aku mengijinkan mu, Bram. Latihan lah bersama Elis. Aku mengijinkan mu, walau nanti kau memukul Elis aku tidak akan marah"
"Tuan besar?!" Sekertaris Kim mencoba memberhentikan Abraham. Abraham hanya menatap Kim tak suka.
"Aku tidak bisa mengontrol tubuhku Tuan besar jika sudah di arena" ujar Bram mengingatkan tuan besarnya itu.
"Lakukan?! aku akan memberhentikan pertandingannya, jika kau sudah kelewatan"
"Baik, tuan besar" ujar Bram yang mengerti tuan besarnya itu pasti sudah memikirkannya terlebih dahulu.
Bram memberikan hormat pada Elizabeth. Elizabeth juga membalas hormat Bram. (hormatnya dengan membungkuk ya)
"Walaupun anda nyonya besar saya, saya tidak akan mengalah pada anda nyonya" ucap Bram.
__ADS_1
"Kakak jangan sombong dahulu, ya"
see you again