Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Bab 65


__ADS_3

Setelah pesta di restoran, Mahasiswa kembali ke perusahaan dan kembali ke kamar masing-masing untuk segera istirahat.


Di kamar Elizabeth, Raisya, dan juga Amel, mereka membersihkan diri dan bersiap untuk istirahat.


Setelah mandi, Elizabeth berkaca dan melihat ke wajahnya. Ingatan tentang orang yang dilihatnya di supermarket membuat Elizabeth termenung sambil mengusap pipinya.


"Apa mungkin? Apa aku salah lihat sih? Tapi kenapa aku seperti melihat... Aku jelas-jelas melihatnya kok. Dia terlihat seperti diriku. Aku seperti sedang berkaca melihatnya" ujar Elizabeth pada dirinya sendiri.


"Ada apa sih, Lis? Gua lihat loe binggung setelah pulang dari supermarket. Loe baik-baik aja kan? Ada yang loe lihat di toilet supermaket, ya?" tanya Raisya yang melihat keanehan Elizabeth saat keluar dari supermarket.


Elizabeth terdiam sejenak.


"Sya? Apa mungkin ada 2 orang dengan wajah yang sama persis?" Tanya Elizabeth.


"Tentu adalah, Lis. Tetangga ku kembar mukannya sama persis. Seperti pinang di belah 2 malah" jawab Raisya.


Elizabeth terkejut dengan jawaban itu, bagaimana dia lupa bahwa ada orang yang kembar, tapi selama ini dia tidak tau bahwa ada kembaran.


"Tapi mereka engga kembar, Sya"


"Lah ngimana, toh?" Tanya Raisya yang juga cukup binggung.


"Eh bukannya emang kita punya 7 kembaran di dunia ini, ya?" Tanya Amel ikut nimbrung.


"Apa bisa sampai sangat-sangat mirip, mereka kalau hadap-hadapan bisa seperti bercermin" lanjut Elizabeth.


"Ini, Lis. Mereka kembar, mirip banget kan? Udah sampai mirip berkaca" ujar Amel memberikan handponenya. Di sana terlihat 2 gadis kecil kembar yang sedang ber dance. Mereka berdua sangat mirip, bahkan sulit untuk membedakannya.


"Tapi ya biasanya. Walau sama juga masih bisa di bedakan, mungkin dari sifat, suara, atau lainnya, tapi masih ada bedanya kok" balas Raisya.


"Oh..." Elizabeth hanya ber oh saja. Otak Elizabeth seakan berfikir.


"Udah yuk! Tidur! Besok mau pulang kan?" Ujar Amel mengingatkan. Sudah tampak di wajah Amel lesu dan ngantuk.


"Oh iya"


Mereka ke tempat masing-masing.


Elizabeth masih tidak bisa tidur. Otaknya terus berfikir, seperti putaran Vidio mengingatkan apa yang telah terjadi beberapa bulan yang berlalu, tahun, sampai masa kecil Elizabeth. Masih terdapat benang-benang kusut yang membuat otak itu terus berjalan.


Elizabeth mengambil handphonenya dan mengotak-atik handpone itu. Mulanya Elizabeth membuka aplikasi-aplikasi chat dan sosial media, kemudian aplikasi lainnya namun tidak asa yang janggal.


Ia ingat bahwa handpone ini bukanlah Handpone asli miliknya.

__ADS_1


"Aku harus meminta besok. Aku harus tau kebenarannya secepatnya" ucap Elizabeth.


Saat dia membuka peraturan, Elizabeth melihat ada satu aplikasi yang tersembunyi. Seingatnya dia tidak pernah menyembunyikan aplikasi apapun.


Elizabeth membuka aplikasi tersebut dan terkejut.


Dicarinya tentang aplikasi tersebut. Walau sudah tau aplikasi apa itu, namun dia hanya ingin memastikan saja.


Elizabeth melirik Raisya dan Amel yang telah tertidur. Sehingga dia memilih untuk keluar. Elizabeth akan mengambil laptopnya namun diurungkannya. Dia kembali ke kasur dan mendekat pada Raisya.


"Sya Sya Sya" panggil Elizabeth membangunkan Raisya.


"Ada apaan sih, Lis?" jawab Raisya yang masih sangat mengantuk.


"Boleh pinjam Laptop engga?" tanya Elizabeth pada Raisya.


"Emang laptop loe kenapa?" tanya Raisya malas.


Elizabeth terdiam mencoba mencari alasan.


"Ada di dalam tas kecil, Lis. Ambil aja loh" lanjutnya mengizinkan dan kembali tidur.


Elizabeth mengambil laptop Raisya dan handponenya pergi keluar. Dia memilih masuk keruangan santai yang ada televisinya.


Cukup lama Elizabeth berkutat dengan laptop itu dan kemudian, tangan itu lemas seakan tidak percaya dengan apa yang tertera di sana.


Otaknya terus berfikir, kenangan-kenangan berputar seperti vidio, namun kenangan itu kini sudah tersusun dengan sempurna.


Tiba-tiba air mata, Elizabeth mengalir.


"Haruskah aku menangis saat ini?" ucap Elizabeth mengusap air matanya.


Kenangannya bersama Abraham berputar bersama Abraham dari awal pertemuan, bahkan dari awal penculikan yang membawa Elizabeth ke kantor catatan sipil untuk menandatangani surat pernikahan, serta malam yang menyakitkan itu membuat Elizabeth menumpahkan air matanya kembali.


Bahkan kenangan indah bersama Abraham saat itu, kenangan latihan bela diri bersama Abraham, Sekertaris Kim, dan Bram, kenangan di kebun, kenangan-kenangan di rumah mewah itu bersama para pelayan, kenangan saat penculikannya oleh Haruko, bahkan kenangan di manis di Paris" membuat wajah Elizabeth menyunggingkan senyumnya tersirat di wajah yang mengalir air mata itu.


"Tuhan takdir apa yang kau sedang berikan padaku?" tanya Elizabeth pada tuhan nya.


"Berarti bukan ingatanku yang salah, atau otakku yang bermasalah. Tapi sepertinya bukan Abraham juga yang salah. Lalu siapa tuhan? siapa yang salah? kenapa kau buat hidupku seperti ini?" Elizabeth mencoba mengeluhkan takdirnya yang menurutnya sangat tidak masuk akal, namun kenapa hatinya terasa sesak saat tau bahwa bukan dialah wanita yang di harapkan. Semua ini hanya kesalahan.


"Lalu siapa yabg meretas handpone ku? Abraham? Tidak.. dia tidak mungkin melakukannya. Apa Sekertaris Kim? Tapi mengapa dia harus melakukannya? Apa salahku padanya?"


Elizabeth ingat pesan sang ayah.

__ADS_1


"Kenapa harus di Amerika, sayang. Di Indonesia masih banyak Universitas yang bangus. Tapi kalau mau di luar negeri, kenapa engga di Inggris, atau dimana gitu. Ayah engga seberapa suka kalau ke Amerika"


Namun Elizabeth terus merengek untuk ayahnya mengizinkannya di Amerika.


Elizabeth mengusap wajahnya kasar, menghapus air mata yang tersisa.


Elizabeth membuka chat dari sang ayah. Membacanya dan menangis.


"Ayah benar. Jika aku menurut pada ayah, semua tidak akan terjadi"


Elizabeth mulai mengetik membalas pesan sang ayah, yang pasti sangat khawatir, bagaimanapun Elizabeth adalah anak semata wayang yang sangat di sayangi oleh sang ayah.


"Elizabeth sehat, yah. Ayah sehat juga kan? Elizabeth kangen sama ayah. Maaf yah Elizabeth baru bisa bales soalnya Elizabeth beberapa bulan ini cukup sibuk, yah. Yah Elizabeth keterima magang di SAS loh, Elizabeth sekarang masih di perusahaan SAS. Perusahaannya keren banget loh, yah. Elizabeth baru beberapa hari udah belajar banyak dari sini"


Seperti itulah balasan Elizabeth.


Tidak lama pesan itu centang biru dan di seberang telah mengetik.


Mungkin perubahan beda waktu, makannya sang ayah masih terjaga dan bermain dengan handponenya. Siapa yang tau kan?


"Ayah juga sehat di sini, nak. Elis, bukannya di sana sudah larut, nak? Kenapa belum tidur?"


"Masih banyak tugas, yah" balas cepat Elizabeth berbohong.


"Jangan tidur malam-malam, nak. Jaga kesehatanmu. Ayah di sini jauh, tidak bisa memperhatikanmu baik-baik. Jangan lupa makan yang teratur. Uang yang ayah kirim selalu cukup, nak? Keperluan mu pasti meningkatkan kan?"


"Iya yah. Elizabeth jaga diri baik-baik kok. Ayah juga juga kesehatan. Uang yang ayah kirim cukup kok"


"Syukurlah. Kalau kurang, bilang sama ayah. Ayah akan usahakan langsung mengirimkannya"


"Iya, yah"


Membaca itu, membuat Elizabeth tidak bisa membendung air matanya.


"Yah, Elizabeth tidur dulu ya. Tugas Elizabeth sudah selesai" Elizabeth mengakhiri percakapan.


"Iya, nak. See you anak ayah. Mimpi indah ya"


"Ayah juga. See you"


Penasaran kan ya?


Jangan lupa, like, komen, share, dan vote biar Author semangat menulis.

__ADS_1


__ADS_2