
Suasana pemakaman diliputi isak tangis dari pelayat yang mengantarkan ke peristirahatan terkahir. Matahari tak lagi menampakan diri, bersembunyi di balik awan hitam yang seakan ikut larut dalam menyaksikan prosesi pemakaman dari awal hingga akhir.
Wajah-wajah murung nan terluka kini menunduk di gundukan tanah merah yang ditaburi berbagai macam bunga itu. Sebuah nama tertera di sana, menandakan sang pemilik yang kini terbaring tak bernyawa lagi. Leddy Andriani Malik binti Malik Hendra.
“Led...,” gumam seorang gadis yang duduk bersimpuh di tanah itu, membiarkan baju putih yang ia kenakan kotor karena tanah yang basah akibat hujan yang mulai turun secara perlahan. “Leddy,” ulang gadis itu lagi.
Tangis kembali pecah saat wanita itu membaringkan kepalanya di atas gundukan tanah. Ia tersedu-sedu di sana, tangannya menggapai batu nisan dan menangis hingga matanya memerah tak kuasa dengan pedih di dadanya.
“Maafin gue, Led. M-maafin gue, hiks...hiks.”
Farhan yang sedari tadi diam, menghampiri gadis itu. Menarik lembut tubuhnya dan membawanya ke dalam pelukan. “Sudah, Tha. Jangan seperti ini, biarkan Leddy tenang di sana.”
Metha menggeleng. “Gue nggak mau ditinggal, Han. Gue mau ikut Leddy aja.”
“Tha.” Farhan mempererat pelukan itu, lalu meloloskan tangis yang tak kalah perih.
Semua orang menonton adegan itu dengan mata berkaca-kaca. Selain Metha, sebenarnya ada satu hati yang tak kalah terluka. Dia Mahe, pria pertama yang berhasil membuat Leddy memberikan hatinya untuk dijaga. Mahe hanya melihat dari balik pohon beringin yang tak jauh dari tempat Leddy dimakamkan. Pria itu tak berani mendekat,
ia tak mau memperkeruh keadaan.
“Tha, sebentar lagi turun hujan, kita pulang saja, Nak. Besok kita kembali lagi,” ucap ibunya mendekat.
__ADS_1
Metha melepaskan pelukan Farhan, gadis itu semakin merapatkan diri dan memeluk batu nisan Leddy erat. “Metha nggak mau pulang, Bu. Metha mau di sini nemenin Leddy, nanti dia kesepian.” Metha menggeleng seperti anak kecil.
Tak lama setelah itu hujan turun, membasahi para pelayat yang masih setia di sana. Metha tersenyum, menengadahkan kepalanya dan membiarkan hujan untuk menyentuh wajah itu.
“Leddy suka hujan, Bu. Saat ini dia pasti sangat senang karena aku temenin dia di sini.”
Farhan menatap Metha iba, gadis itu sangat terpukul ditinggal sahabatnya. Persahabatan antara keduanya sangat erat melebihi dari seorang teman. “Tha, Leddy juga nggak suka lo bermain hujan, nanti lo bisa sakit, Tha,” tukas Farhan menasihati.
“Lo pulang aja, Han. Bawa ibu gue pulang, biar gue di sini.” Metha masih bersikukuh, dirinya enggan beranjak. Malah kepalanya kembali diletakkan di gundukan tanah itu dan sesekali mengusap batu nisannya.
Para pelayat yang sedari tadi masih berdiri, memilih untuk beranjak dari tempat itu. Bukan karena hujan, melainkan mereka tak tega melihat Metha yang semakin terpuruk. Ibu Metha pun ikut meninggalkan pemakaman dan membiarkan putrinya berada di sini.
Sepeninggal pelayat dan ibunya, Metha kembali menangis. Kali ini ia menangis dengan sangat kuat. Metha tak peduli orang akan mendengar teriakannya atau tidak. Hujan semakin lebat, membuat suasana semakin mencekam.
Farhan masih setia di sana, menemani Metha sekaligus ikut larut dalam kesedihan. Pria itu menyesali semua perbuatannya di masa lampau, saat Dokter Leddy masih hidup bahkan tak sekali pun dirinya mendukung gadis itu. Farhan seolah tak peduli pada sepupunya. Sesekali Metha mengingatkan agar dirinya sedikit berempati kepada Leddy. Namun, hati Farhan sama sekali tak peduli, ia lebih banyak diam dan sering menghindar saat bertemu dengannya. Hal itu yang membuat Leddy marah pada Farhan hingga akhir hayatnya.
“Maafin aku, Leddy. Selama ini aku tak pernah peduli padamu, tak tahu apa yang kamu rasakan dan sama sekali tak mengerti tentang situasimu saat itu. Aku tahu ini terlambat, semoga kamu bisa mendengar rintihan hatiku yang menyesali semuanya. Semoga kamu tenang di sana bersama Tuhan dan ibumu, salam untuk Bibi, ya!” Farhan menitikkan air mata sembari menatap batu nisan milik Leddy. Pria itu seperti kehilangan jati dirinya ketika menangis.
Sementara Metha tak henti-hentinya mengusap dan mengecup batu nisan itu. Matanya kelihatan sembab karena menangis, wajahnya mulai pucat dan sesekali menggigil karena kedinginan. Saat tangisnya mulai reda, saat itu juga seseorang menghampiri mereka. Metha mendongakkan kepalanya perlahan, berusaha menatap wajah pria yang kini tengah bersimpuh di hadapannya. Sepuluh menit lamanya untuk Metha mengenali wajah pria itu, saat sadar yang datang adalah Mahe, amarah dan emosi Metha kembali memuncak hingga ke ubun-ubun.
Gadis itu terlihat geram, tanpa sadar tangannya terkepal erat karena marah. Metha berdiri yang diikuti oleh Farhan, bersamaan dengan itu Mahe menoleh ke arah mereka dengan tatapan mengiba.
__ADS_1
“Please! gue mohon, Tha,” ujarnya terbata-bata sembari merapatkan kedua tangannya agar Metha mengizinkan dirinya untuk berada di pemakaman meski hanya sebentar.
Metha yang sudah kelewat marah, tak mempedulikan permohonan dari Mahe. Ia begitu muak melihat drama pria itu yang seolah-olah dirinya korban dalam cerita ini.Padahal, sahabat Dokter Leddy itu sudah pernah mengingatkan jika berani menyakiti Leddy, maka akan berurusan dengannya.
Metha melangkah ke arah Mahe, matanya memancarkan kebencian yang teramat dalam dan tak bisa dikondisikan lagi. Kehilangan sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri membuat Metha tak bisa berpikir dengan jernih.
“Pergi dari sini!” ujarnya dingin.
Farhan hanya bisa diam tanpa berani mendekati Metha, karena pria itu tahu sahabatnya telah mengambil langkah benar. Satu sisi Farhan menatap iba ke arah Mahe, tapi disisi lain ia sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukan pria itu. Farhan bukanlah orang yang gampang tersulut emosi jika itu tidak menyangkut keluarganya.
“Aku mohon, Tha. Kali ini aja, aku janji nggak akan datang lagi ke sini jika kamu tidak mengizinkan,” ujarnya sembari bersimpuh dengan air mata yang terus mengalir.
Metha tak peduli, dengan kasar ia menarik kerah baju Mahe dan menyeret pria itu keluar dari area pemakaman. Mahe pasrah, dirinya pantas diperlakukan seperti itu, jika saja ia tak bertemu Viona dan memilih meninggalkan Leddy demi gadis itu, mungkin Metha nggak akan semarah ini. Farhan yang melihat itu mengikutinya, khawatir
Metha kebablasan dan akan merugikan dirinya sendiri.
“Pergi lo dari sini!” perintahnya dengan menghempas kasar tubuh Mahe hingga pria itu terjatuh ke jalanan.
Mahe bangkit dan meninggalkan tempat itu, sebelumnya ia sempat melirik Metha yang masih menatapnya dengan tajam, kemudian mata Mahe beralih kepada Farhan, berharap sahabatnya itu memaafkan semua kesalahan yang dilakukannya. Namun, Farhan malah membuang muka dan tak ingin menatap Mahe meski hatinya berkata sebaliknya.
Sejatinya, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Baik itu disengaja maupun tidak, akan tetapi manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki setiap kesalahannya di masa lalu. Penyesalan selalu datang terakhir, di saat hal tak terduga dan tak pernah kita pikirkan nyata di depan mata.
__ADS_1