Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Bab 63


__ADS_3

Mereka bertiga pun kumpul ke Aula.


Selain Elizabeth, Reyhan, dan Raisya, masih ada 29 orang lain lagi yang ikut. Jadi totalnya 32 orang yang terdiri dari 9 kelompok dengan jumlah anggota 3-4 orang.


"Hai. Ke kota B juga? Dari jurusan apa?" tanya seseorang mahasiswi yang duduk di samping Elizabeth.


"Oh. Iya. Kami bertiga dari jurusan Programmer" jawab Elizabeth sambil menunjuk pada Raisya dan Reyhan yang duduk di damping Elizabeth.


"Wah enak kelompoknya ada teman ceweknya. Kalau gua ber-4 tapi cuma gua cewek sendirian. Kami ber-4 dari jurusan teknik komputer" balasnya menunjukkan teman-temannya. 1 duduk di sampingnya dan 2 di depannya.


"Hai" Sapa Reyhan dan juga Raisya dan di balas mereka ber-4 dengan hai juga.


"Oh iya. Elizabeth" Elizabeth memperkenalkan dirinya dan menggulurkan tangganya pada mahasiswi tadi.


"Amel" balasnya


Akhirnya mereka saling berkenalan dan ke-3 teman Amel adalah Sean, Edward, dan Arga.


(Yang ada saran nama ajukan. Nanti akan author pakai untuk nama orang baru selanjutnya).


Setelah pengarahan oleh perusahaan, mahasiswa yang akan ke kota B diarahkan masuk Bis dan akan segera berangkat.


Elizabeth dan kawan-kawan + 4 orang tadi memilih duduk berdekatan..


"Semoga nanti gua bisa sekamar ya sama kalian. Males gua sendirian, soalnya gua penakut" ujar Amel.


Mereka di kota B akan tinggal di rumah dinas perusahaan yang setiap rumah ada 3 kamar. setiap kamar bisa di isi 2-3 orang. Pembagian kamar sesuai kelompok. Tapi jika di kelompok hanya ada 1 cewek atau 1 cowok maka akan digabung dengan kelompok lain.


Setiap rumah ada 2 kamar mandinya, satu dapur, satu set alat masak, satu mesin cuci, satu kulkas, satu televisi, dan 4 kran air minum tentunya. Untuk makan akan ada ketering yang datang mengantar makanan.


"Iya. Katanya kita boleh milih sendiri teman kamarnya kok" balas Raisya


"Gua sama kalian aja lah"


Biasanya budaya barat cewek cowok 1 kamar itu biasa, namun karena pemiliknya Parel dan budayanya engga kek gitu, maka di buat cewek cowok harus beda rumah.


"Iya, Mel" Balas Elizabeth.

__ADS_1


"Eh.. Kalau dilihat lihat loe mirip cewek yang viral itu, ya?" tanya Agra pada Elizabeth.


"Cewek Viral?" tanya Elizabeth dan Raisya bersamaan.


"Iya Gra bukan loe ja kok. Gua juga merasa kek gitu. Dari Aula tadi malah" balas Edward "Loe cewek viral yang membuat hampir 20 perusahaan bangkrut bukan, ya?" lanjut tanya Edward kembali pada Elizabeth.


"Oh iya benar mirip. Katanya sih istri pengusaha ternama" Balas Amel


"Ah...."


"Kalian salah orang kali" balas Elizabeth yang memotong ucapan Raisya.


"Masak sih? mirip loh" ujar Arga


"Mungkin kalian salah orang. Kita juga lihatnya cuma sebentar kan? Beritanya langsung hilang dari peredaran, hanya ada berita ambil alih doang. Mana Fotonya dari samping juga, kan?" balas Sean.


Benar saat itu ada beritanya dan wajah Elizabeth dan Abraham keluar, namun hanya beberapa menit, karena Sekertaris Kim tidak tinggal diam.


"Tapi beneran bukan, toh?" ujar Amel yang masih tidak percaya.


"Berita dari mana lah itu?" tanya Raisya berpura-pura.


"Iya juga sih. Tapi gua kek pernah lihat wajah loe tuh. Kek engga asing" Amel terus memperhatikan wajah Elizabeth, sampai Elizabeth merasa canggung.


"Oalah, loe mahasiswa yang di tempel di majalah dinding kampus tahun lalu toh? Mahasiswa berprestasi yang lolos proposalnya di pusat penelitian ya?" Ucap Amel yang ingat dimana dia melihat wajah Elizabeth


"Ah benarkah?" tanya Edward "Oh iya. Kali ini engga akan salah"


"Kalau yang ini baru benar" Jawab Raisya


"Teman gua yang satu ini emang cerdas" lanjutnya memuji.


"Emang keren banget loe ya"


"Bukan apa-apa kok"ucap Elizabeth merendah.


"Pantas aja proposal ajuan kalian di terima di SAS, ternyata emang jago toh" puji Arga.

__ADS_1


"Kalau kami keterima, mungkin nasib bagus aja. Prestasi cuma masih mencoba merakit komputer baru"


"Itu udah termasuk prestasi" puji Elizabeth


"Kenapa engga coba magang di Pusat penelitian? Aku jamin langsung keterima" tanya Amel.


"Dih engga perlu ngajuin kali. Katanya ya malah Pusat penelitian yang meminta dia magang disana" balas Arga.


"Orang gua dengar pusat penelitian udah mau merekrut dia jadi karyawan. Benar kan?" Balas Ridho


"Haha . Iya" ucap Elizabeth canggung.


"Lah kenapa engga mau disana?" tanya Amel penasaran..


"Orang dianya mau di SAS" malah Raisya yang balas.


"Dilarang suaminya" lanjut Reyhan juga membalas.


"Suami? loe udah nikah?" tanya Arga pada Elizabeth tidak percaya.


Elizabeth membalas dengan senyuman " Iya aku udah nikah"


"Engga percaya gua" balas Sean


"Ya... berarti gua udah engga ada peluang dong. padahal gua udah ngarep loh" balas Edward lesu.


"Jangankan loe, gua juga udah engga ada kesempatan. Mana gua duluan nemuin Elizabeth" Balas Reyhan dalam hati.


"Kalau loe, Sya. Udah nikah juga?" Tanya Edward pada Raisya.


"Gua?" Raisya menunjuk pada dirinya sendiri " Kalau gua belumlah. Masih senang dengan kesendirian" lanjutnya dengan nada sedramatis mungkin.


"Berarti, gua ada kesempatan dong"


"Jangan percaya, Sya. Edward itu buaya buntung"


Mereka akhirnya bersenda gurau sampai tujuan..

__ADS_1


__ADS_2