Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Pertolongan


__ADS_3

Fira menjerit histeris sambil berteriak meminta tolong saat mobil yang di kendarai nya terjun bebas ke dasar jurang yang begitu dalam. Dia semakin mengeratkan dekapannya terhadap sang putri. Berharap akan ada orang yang menyelamatkan dirinya dan bayinya. Namun tak ada satu orangpun yang mendengarkan teriakkan dirinya dan sudi menolong. Orang mana yang mau berkeliaran ditengah pekatnya malam dalam keadaan sedang di guyur hujan deras seperti ini.


Di pejamkan nya mata rapat-rapat, berharap hal itu bisa mengurangi rasa sakitnya saat dicabut nyawa. Tidak ada yang bisa Fira lakukan lagi selain berpasrah, dia tidak menyangka jika hidupnya akan berakhir seperti ini.


BRAKKKK !!


BUUUKKKK !!


"Arrrrggggh!"


Dapat Fira dengar dengan jelas saat mobil yang dia tumpangi menghantam benda keras, entah apa itu. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Jantungnya berdebar dengan cepat, nafasnya terdengar tak teratur, perlahan dia membuka matanya saat tak lagi merasakan gerakan pada mobil yang dia tumpangi.


Gelap!


Hanya kegelapan yang dapat Fira lihat. Apa dirinya telah mati sekarang? Tapi kenapa tangannya bisa merasakan jika dirinya masih mendekap sang putri?


Kepalanya terasa pusing, ternyata mobil yang ditumpanginya mendarat dalam posisi terbalik. Seketika Fira tersadar jika dirinya masih hidup saat merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dia meraba-raba sang putri dalam gendongannya, ternyata bayinya masih ada bersamanya.


Syukurlah, setidaknya Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Tapi tubuhnya terasa sulit untuk digerakkan, kakinya pun terasa sakit akibat terjepit oleh jok mobil.


"Bertahanlah nak, kita selamat. Kita akan segera tiba di rumah sakit."


Kemudian netranya memicing saat melihat cahaya yang menyala ditengah pekatnya malam itu.


Astaga!


Itu api!


Apa mobil ini terbakar? Kecemasan Fira semakin menjadi-jadi, ternyata dirinya belum keluar dari marabahaya, kematian masih mengicar dirinya.


Dengan panik, Fira meraba-raba sekitarnya, mencari keberadaan handle pintu mobil untuk bisa terbebas dari mobil yang mungkin akan meledak itu. Dia berusaha dengan keras untuk menarik kakinya dari himpitan jok itu. Dan...


Berhasil!


Fira berhasil menemukan handle pintu mobil itu dan dengan mudah dia membukanya. Meskipun kakinya sobek dan mengeluarkan cukup banyak darah saat dia memaksakan diri untuk menariknya dari himpitan jok.


Dengan gerakkan cepat dia turun dari dalam sana, kepalanya terasa berputar-putar saat berhasil keluar dari mobil itu, sangat pening dan pusing ditambah lagi tubuhnya yang terasa remuk, dia berjalan sempoyongan sambil mendekap sang bayi yang tak sadarkan diri di gendongannya di tengah guyuran hujan, meskipun hujan sekarang tak sederas sebelumnya.


Fira menoleh kearah mobilnya, dan benar saja, mobil itu telah terbakar separuhnya. Frekuensi hujan yang menurun tak mampu memadamkan api yang mulai berkobar.


Tapi, matanya tak sengaja menangkap sesosok tubuh yang terbujur kaku tak jauh dari posisi mobil miliknya itu berada. Dia tercengang saat melihat wajah perempuan itu yang menggosong, rambutnya berantakan seperti habis terkena sengat aliran listrik, dan ada setumpuk kayu yang berserakkan di sampingnya. Tentu saja Fira bisa melihat itu dengan sangat jelas karena api yang menyala menjadi sumber penerangannya.


Astaga!


Sepertinya perempuan itu sedang mencari kayu bakar ditempat ini dan terkena sambar petir saat hujan badai terjadi. Malang sekali nasib perempuan itu. Namun itu tak jauh berbeda dengan nasib Fira sekarang, dirinyapun sedang tidak berada dalam situasi aman sekarang, hanya saja dia masih diberikan kesempatan untuk menyelamatkan diri.


Daaar!


Terdengar letupan-letupan kecil dari mobil yang terbakar, Fira rasa sebentar lagi mobil itu akan meledak. Dia harus menjauh dari tempat ini secepatnya, tapi dia tidak tega melihat jasad perempuan itu, apa dia harus menyelamatkan nya terlebih dulu? Tapi sepertinya perempuan itu telah meregang nyawa, jadi untuk apa juga di selamatkan?


Yang terpenting sekarang adalah keselamatan dirinya dan bayinya...


Duuuuaaaarrr!


Ledakkan kecil kembali terjadi, Fira tersadar ketika mendengar ledakkan yang frekuensinya lebih besar dari sebelumnya.


Tanpa memikirkan tentang perempuan itu lagi, Fira berjalan menjauh dari mobil itu dengan langkahnya yang tertatih.

__ADS_1


Setelah beberapa meter dia berjalan, sebuah ledakkan besar terdengar begitu mengerikkan. Fira sampai jatuh tersungkur saking kerasnya suara ledakkan itu.


"Beruntung kita cepat keluar dari sana nak." Fira bergumam sambil menatap nanar mobilnya yang telah habis dilalap si jago merah. Api itu berkobar dengan cepat dan semakin ganas, menyambar dan membakar pepohonan, rumput dan apa saja yang ada disekitarnya, termasuk jasad perempuan itu.


Seketika tangisan Fira pecah disana, kenapa semua ini bisa terjadi kepada dirinya? Apa kesalahannya? Dan siapa orang jahat yang berniat mencelakai dirinya?


Fira memeluk putri dalam pangkuannya semakin erat lagi, lalu bagaimana nasib bayinya itu sekarang? Dia menempelkan jari telunjuknya dilubang hidung kecil milik sang bayi. Hembusan nafasnya masih bisa Fira rasakan, bayinya itu masih hidup, tapi kenapa dia tak juga mau membuka matanya. Kemudian dia menempelkan telapak tangannya di dahi sang bayi. Panas, suhu tubuh bayinya masih belum stabil.


"Kamu akan selamat nak, kita akan kembali berkumpul dengan ayah dan Sheerin." Dengan suara gemetar Fira berkata.


Dia tidak bisa hanya tinggal diam seperti ini, dia harus segera keluar dari jurang itu dan membawa Shireen ke rumah sakit secepatnya. Fira bangkit dari jatuhnya, Shireen masih setia dia gendong, meskipun tubuhnya terasa lemah.


Fira menyeret kakinya entah kemana, meskipun tak tau daerah sekitar sini. Dia sudah tak perduli lagi dengan mobilnya yang hancur, yang penting dia telah selamat.


Perih, itu yang Fira rasakan dibagian kakinya yang sobek. Tapi dia terus berusaha, ditengah pekat dan gelapnya itu, Fira terus berjalan menyusuri jurang yang jalannya tak beraturan itu, sesekali dia terpeleset akibat tanah yang licin akibat diguyur hujan.


Entah sudah berapa jauh dia berjalan, namun tak kunjung menemukan salah satu rumah warga. Kemana lagi dia harus berjalan? Dan berapa lama lagi dia harus menelusuri jalanan?


Fira benar-benar sudah tak kuat lagi untuk berjalan sekarang, tenaganya sudah terkuras habis. Ditambah lagi darah dikakinya yang terus saja mengalir keluar. Lututnya bergetar dengan hebat, kemudian dalam satu kedipan mata, tubuhnya terkulai lemas, diapun tumbang saat itu juga.


Harapan satu-satunya adalah datangnya sebuah keajaiban.


***


Pukul empat pagi, seorang pria tua terlihat sedang mengendarai mobil pick up miliknya dengan kecepatan sedang. Hawa dingin begitu terasa menusuk hingga ke tulang belulang akibat hujan deras yang mengguyur semalam penuh. Jaket tebal tidak bisa membuatnya merasa sedikit hangat.


Begitulah rutunitas yang selalu dia lakoni setiap harinya. Pada sore hari dia akan memetik sayur dan buah langsung dari perkebunan miliknya dan pukul satu dini hari dia akan mengantarkan semua hasil kebunnya ke seorang bandar yang ada di pasar kota. Rumahnya yang berada dipelosok, membuat kakek tua itu harus menempuh perjalanan kurang lebih dua jam untuk pulang dan pergi.


Beruntung dia memiliki kendaraan mobil bak terbuka itu sebagai alat transportasinya menuju kota. Jika tidak, dengan apa dirinya bisa mengangkut semua hasil panennya?


Tapi mau bagaimana lagi, kalau ditahan kan bisa jadi penyakit. Akhirnya si kakek turun dari mobil pick upnya, hembusan angin yang tak sedap semakin menusuk dia rasakan. Bahkan saat ini tangannya sudah sedingin es batu, jika berada terlalu lama diluar seperti ini, dia yakin jika dirinya lambat laun akan membeku.


Kakek itu celingukan kesana kemari mencari tempat yang tepat untuk pipis, lebih cepat dia melakukannya, maka itu lebih baik.


Tapi si kakek ini bukanlah orang yang tak beradab, dia tau tata krama jika sedang berada di alam.


Diapun akhirnya menuruni tebing yang tidak terlalu tinggi untuk bisa sampai ke sungai yang ada di bawah jembatan itu. Untung saja dia selalu membawa senter setiap kali bepergian, sehingga dia bisa mendapatkan pencahayaan ditempat yang gelap itu.


Sementara dia buang air kecil, senter yang dia pegang sengaja di lemparkan ke sembarang arah. Pasti akan mudah untuk menemukannya kembali, begitu si kakek berpikir.


"Ahh, lega sekali." Dengan wajah sumringah si kakek bergumam.


Diapun memungut kembali senter yang tadi dia geletakkan sembarangan. Dahinya mengerut saat cahaya di senter itu menyorot pada suatu benda. Bukan, itu bukan benda, melainkan kaki manusia.


Astaga!


Jantung si kakek berdebar dengan hebat saat yakin jika itu adalah sepasang kaki yang berlumuran darah. Kemudian dia mengarahkan senter itu lebih tinggi lagi.


"Astagfirullohalazim." Si kakek jatuh tersungkur ke belakang karena saking kagetnya saat mendapati seorang perempuan tak sadarkan diri sambil menggendong bayi.


Si kakek berusaha menormalkan irama jantungnya, kemudian dengan gerakan pelan dia mulai mendekati perempuan itu, yang tak lain adalah Fira.


"Nak!" Si kakek mencoba menggoyangkan bahu Fira, untuk mencari tau apa dia masih hidup atau tidak. Namun Fira tak merespon.


Dan jurus keduapun terpaksa dia layangkan, yaitu mengecek denyut nadi milik perempuan itu. Ternyata perempuan itu masih hidup, tapi denyut nadinya sangat lemah. Dan bayi yang ada di gendongannyapun masih bernafas, meskipun nafasnya terasa pendek.


"Aduh, bagaimana, ya? Apa saya harus menolong perempuan ini? Tapi jika tidak di tolong, kasihan sekali. Apa lagi dengan bayinya."

__ADS_1


"Sepertinya kaki perempuan ini terluka parah, dan saya rasa, saya masih punya ramuan yang bisa merawat lukanya dirumah."


Akhirnya si kakek berusaha sekuat tenaga yang dia punya untuk membawa Fira ke atas. Si kakek ini memanglah memiliki hati yang baik, dia selalu mau membantu sesama yang sedang berada dalam kesulitan. Di desanya, dia selalu memberikan ramuan yang berasal dari tanaman herbal bagi orang yang sakit dan tidak memiliki biaya untuk berobat. Bahkan beberapa ramuan racikannya sudah terbukti ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit. Bahkan namanya sudah terkenal sampai ke luar desa karena obat herbalnya itu.


***


"Apa? Fira kecelakaan?" Lukman memekik saat sebuah informasi yang kurang mengenakkan itu dia terima.


"Iya pak, pagi ini polisi menemukan mobil yang dikendarai mbak Fira semalam hancur setelah meledak di jurang. Bapak diminta polisi untuk datang ke TKP." Anya berkata sambil menunduk.


Wajah Lukman menegang, nafasnya terdengar memburu, bahkan cairan bening yang hampir tidak pernah keluar dari matanya kini mendadak muncul. Dia memejamkan matanya, memukuli keningnya sendiri dengan kepalan tangan. Menyesal, itu yang dia rasakan sekarang.


"Saya mendapat informasi kalau polisi sudah berhasil mengefakuasi mayat perempuan yang diduga kuat adal..."


"Cukup!" Lukman membentak Anya dengan kasar, sampai babby sister si kembar itu merasa kaget.


"Fira tidak mungkin meninggalkan saya, dia pasti masih hidup." Lukman bicara dengan emosi yang membara.


Fira hanya terdiam, takut terkena imbasnya kemarahan Lukman.


"Saya akan pergi kesana sekarang. Jaga Sheerin!" Setelah memberikan perintah itu, Lukman mengambil langkah seribu dan pergi dari rumah dinasnya itu.


"Baik pak." Ucapan Anya terlambat, Lukman sudah terlanjur menjauh dan mungkin tidak mendengar perkataannya itu.


***


Lukman menatap nanar mobil milik keluarganya sudah hancur lebur menjadi rongsokan. Air matanya kembali berjatuhan saat melihat sebuah kantong mayat yang didduga kuat isinya adalah jasad sang istri.


Dia tidak menyangka jika Fira sudah tidak ada didunia ini lagi sekarang, padahal kemarin dia masih bisa memeluk tubuhnya dan mencium wangi rambutnya.


'Ini semua pasti mimpi, ya, aku pasti sedang bermimpi buruk. Seseorang, tolong bangunkan aku sekarang juga. Aku tidak ingin kehilangan Fira meskipun itu hanya dalam mimpi.' Begitu Lukman masih tak percaya dengan fakta nyata yang ada didepan matanya.


Jangan ditanya bagaimana perasaannya sekarang. Hancur? Itu pasti. Fira adalah satu-satunya orang yang sudi menemani dirinya di saat-saat tersulit dalam hidupnya. Mereka memulai segalanya dari titik terendah, berdua, hanya berdua. Dari sejak Lukman menjadi pengangguran. Firalah yang selalu mendukung dan meyakinkan Lukman jika dirinya akan sukses dikemudian hari. Lukman menjadikan Fira sebagai inspirasi dan motifasi dalam hidupnya. Dan memiliki tekad yang kuat untuk membahagian perempuan yang selalu berada satu langkah di belakangnya itu.


Hingga suatu hari dia mendapatkan kesempatan untuk membuka usaha kecil-kecilan sendiri,


Pahit getirnya hidup mereka telah telan bersama, dan sampai sekarang saat kesuksesan itu telah di raihnya, tapi kenapa Fira malah pergi meninggalkannya?


Lalu untuk siapa kesuksesan ini? Harta ini? Apa arti semua materi jika tambatan hati telah menjauh pergi?


Menyesali perbuatannya semalam yang tidak pulang kerumah dinas. Akibat hujan badai yang terjadi, dia memutuskan untuk menginap dikantor. Jika saja dirinya tidak egois dan memilih untuk pulang, mungkin kejadian naas ini tidak akan menimpa Fira.


"Kami akan melakukan autopsi pada satu korban ini. Meskipun kemungkinan besar agak sulit karena seluruh tubuhnya telah hangus terbakar. Tapi sebaiknya bapak ikut kami ke rumah sakit sekarang." Ucap seorang Polisi yang menghampiri Lukman.


Lukman mendongak, dengan mata sayunya dia menatap Polisi itu.


"Dia pergi bersama putri kami pak, lalu dimana putri saya?" Tanya Lukman dengan suara seraknya karena habis menangis.


"Kami hanya menemukan satu mayat. Kemungkinan besar bayi bapak dan ibu hanyut terbawa derasnya aliran sungai."


"Apa? Jadi putri saya hilang? Saya ingin bayi saya ditemukan pak, baik dalam keadaan hidup ataupun tidak." Ucap Lukman dengan tegas.


"Tim basarnas sedang menelusuri sungai ini sampai ke hilir, jadi bapak tidak perlu cemas, mereka akan segera menemukan jasad bayi bapak."


____________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....

__ADS_1


__ADS_2