
Rendra membenarkan selimut istrinya yang sedikit turun, mereka berdua saat ini berbaring di atas kasur dengan keadaan polos tak memakai sehelai kain pun yang melekat di tubuh mereka.
Tahu kan kalau mereka seperti itu habis melakukan apa, saat ini keduanya sudah selai dengan kegiatan panas tersebut dan hanya saling lihat sambil tersenyum satu sama lain. Rendra mendekap sang istri mendekatkan padanya,
“Kamu loh ini yang minta bukan aku” ucap Rendra sambil mendekap istrinya itu.
“Iya mas, aku juga nggak bakal nyalahin kamu. karena nggak jadi ke Bogor” jawab Adiba dan malah semakin memeluk suaminya tetapi dia sedikit mengaduk kesakitan.
“Auggh,.” Rintihnya dan melepaskan pelukannya.
“Kenapa?” Rendra yang mendengar itu langsung melihat cemas sang istri.
“Aku kekuatan meluk kamu, lupa kalau perut aku ada isinya” jawab Adiba polos sambil memegangi perutnya. Dia sedikit menegakkan tubuhnya untuk bersender di senderan kasur.
Tentu saja dengan sedikit menutup tubuhnya dengan selimut,
Rendra sendiri langsung turun perlahan untuk mengambil celana pendeknya, tak mungkin dia terus-terusan tak mengenakan baju saat ini.
“Kamu makin hari kayaknya makin manja sama aku” goda Rendra sambil kembali naik ke kasur.
“Nggak boleh kalau aku manja?”
“Boleh, puas-puasin aja manja kamu sama aku.” balas Rendra sambil mendekatkan dirinya ke arah sang istri.
“Dulu kamu hamil Rafka apa manja begini? manjanya dengan siapa? Jangan bilang dengan Tama?” tambah Rendra dan menatap kearah istrinya.
“aku hamil Rafka dulu nggak manja begini, baru kali ini aja aku begini. mungkin dulu Rafka ngertiin aku kalau cuman sendiri. jadi nggak terlalu bikin aku manja seperti sekarang” jelas Adiba.
“Baguslah, kalau dulu kamu nggak manja-manja dengan Tama. Sekarang kalau mau manja bilang aja sama aku. suamimu ini pasti bakal menuruti apa yang kamu mau” ucap Rendra.
“Huh masa,”
“Iya, buktinya kamu mau begini. aku mau kan” ucap Rendra percaya diri.
“Ya kan itu mau mu juga” elak Adiba yang tak terima jika hanya dia yang menginginkannya.
“Iya sayang” ucap Rendra sambil memeluk istrinya.
“Habis ini kamu ngapain?” lanjut Rendra
“nggak tahu, ini mau siang. Kalau nggak jemput Rafka aja gimana?”
“Nanti biar Jeremy aja yang antar dia kesini”
“Lah terus mau ngapain sekarang, kalau mau ke Bogor ini sudah kesiangan”
“Nggak usah kemana-mana aja, kita di rumah aja. Sayang tadi kok kamu agresif banget sih” ucap Rendra yang langsung mengalihkan ke hal lain.
“Apanya yang agresif?” tanya Adiba tak mengerti.
“Pura-pura nggak ngerti..”
“Iih kamu ngapa sih bahas itu lagi, malu tahu mas” ucap Adiba langsung menepuk kepala Rendra pelan saat dia ingat apa yang dimaksud suaminya.
Apalagi yang dimaksud Rendra tentu saja keganasan nya di ranjang tadi, entah mengapa dia begitu. Itu membuatnya malu sendiri. mungkin karena Faktor hamil saja makanya dia begitu.
__ADS_1
“Hahaha malu ya,” ledek Rendra sambil menertawai sang istri yang wajahnya memerah.
“Nggak tahu” jawab Adiba membuang muka, sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat besar meskipun baru jalan empat bulan.
“Triple lihat mama kalian malu” ucap Rendra mendekatkan wajahnya di perut istrinya yang di tutupi selimut.
“Siapa juga yang malu” elak Adiba tanpa melihat kearah Rendra saat ini.
“Gengsi, malu bilang aja” tukas Rendra yang tidak berhenti menggoda Adiba.
“Apa sih mas, nggak ya” elak Adiba bersikeras menyangkal.
“Iya, Iya nggak” ucap Rendra yang sambil tersenyum dan sesekali memegang wajah istrinya agar melihat kearahnya.
.......................................................
“Ayo Rafka Om antar pulang ke rumahmu” ucap Jeremy sambil berjalan kearah keponakannya yang sedang bersama orang tuanya saat ini.
“Kenapa sih kamu buru-buru ngajak Rafka pulang, Papa sama Mama aja belum jemput kesini” ucap Citra menatap anak bungsunya yang berdiri didepannya saat ini.
“Kakak sama Kakak ipar nggak bisa jemput, jadi aku yang suruh nganter ke sana” pungkas Jeremy pada sang mama.
“Ya sudah sana kamu antar Rafka,” ucap Frans.
“Opa, Oma aku pulang dulu ya” Rafka yang tadi bermain mobilan nya langsung berdiri dari duduknya saat ini.
“Iya hati-hati ya sayang. Inget loh apa kata Opa tadi belajar yang pinter, jangan nyusahin Mama ya. Mama kan lagi hamil adiknya Rafka” ucap Frans menasehati bocah enam tahun tersebut.
“Siap Opa” jawab Bocah itu dengan ceria.
“Tau..” jawab Jeremy dan langsung memegang tangan Rafka.
“Kamu ini kenapa sih ma” tegur Frans.
“Kenapa sih cuman tanya juga” ucap Citra sambil melihat kearah suaminya.
“Terserah lah ma, tapi nanti keruangan Papa. Papa mau kasih lihat sesuatu sama kamu” ucap Frans meminta sang istri untuk keruangan nya nanti.
“Aku pergi dulu, ayo rafka” ajak Jeremy pada keponakannya.
Jeremy langsung berjalan pergi meninggalkan kedua orang tuanya setelah di angguki oleh Frans. Dia ingin saja pergi keluar, karena habis mengantar Rafka nanti dia akan menemui seseorang yang spesial di hatinya.
“Papa mau ngomong apa sih sama Mama, buruan kalau mau ngomong pa?” tanya Citra saat Jeremy sudah pergi.
“Nanti Papa mau nelpon seseornag dulu” ucap Frans dan langsung berdiri sambil menaruh ponselnya didekat telinganya saat ini.
“Mau kemana?”
“Ke kolam renang, kenapa? Mau ikut?” tukas Frans pada sang istri.
“Nggak, kalau begitu Mama keatas dulu” pungkas Citra dan langsung pamit untuk pergi keatas saat ini.
“Iya” jawab Frans sambil berjalan pergi kearah kolam renang saat ini.
..........................................
__ADS_1
Tama sedang ada di cafe duduk sendirian sambil menikmati segelas cofee nya, dia melihat kearah jalanan yang ada didepan Cafe melalui kaca jendela bening cafe tersebut.
Dia duduk sambil menopang dagunya, tampak tak semangat sama sekali. Hari ini dia sedang menunggu Pram dan Ana yang katanya akan menemui mereka di Cafe saat ini.
Soal Pram, kondisi pria itu sudah lebih baik selama dua bulan ini. bahkan pria tersebut tak lagi depresi atau terlihat sedih lagi. Dia sekarang sudah bisa tersenyum dan becanda seperti Pram yang dulu.
“Tama,” terdengar panggilan yang memanggil Tama saat ini membuat Pria itu langsung menoleh kebelakang melihat siapa yang memanggilnya saat ini
“Oh kalian” ucap Tama saat melihat siapa yang datang.
Siapa lagi yang datang kalau bukan Pram dan juga Ana yang berjalan kearah mereka saat ini.
“Kau sudah lama menunggu kita?” tanya Tama yang mengambil duduk di depan Tama,begitu juga Ana yang duduk disebelah Pram saat ini.
“Nggak, aku juga baru datang” jawab Tama.
“Kalian berdua ada apa ingin menemui ku?” tanya Tama pada keuda orang didepannya.
‘Bukan aku yang ingin menemui mu tapi ana” jawab Pram sesekali melihat Ana dan juga Tama.
“Ana? Ada apa An?” ucap Tama dan beralih melihat kearah perempuan tersebut.
“Mm begini Tuan Tama, aku mau ijin untuk kembali lagi Ke Amerika sekarang”
“Kenapa buru-buru harus kembali ke Amerika?” mendengar itu sedikit membuat Tama terkejut karena kalau Tama kembali ke Amerika lalu Pram bagaimana. Meskipun kondisi Pram sudah jauh lebih baik tapi dia masih mengkhawatirkan ria itu. dia tidak ingin orang yang sudah ia anggap saudara mengalami hal sulit lagi.
“Begini tuan, saya ada urusan di Amerika. Jadi saya harus buru-buru kembali ke sana” ucap Ana sedikit takut untuk mengatakan itu, dia sesekali melihat kearah Pram yang melihat kearahnya terus. Dia yakin pria yang ia rawat selama ini pasti juga terkejut dengan keputusannya ini.
Pram memang sedikit terkejut dengan apa yang di katakan Ana barusan. Dia baru tahu tujuan Ana menemui Tama saat ini karena dia ingin pamit untuk kembali ke Amerika. Entah mengapa dia juga terkejut akan hal itu rasanya tak terima perawat yang merawatnya selama ini harus kembali ke Amerika.
“Urusan apa yang kau urus di sana, lebih baik kau di Jakarta saja dnegan kita” ucap Tama seakan melarang Ana untuk kembali.
“Aku harus menemui orang tua angkat ku tuan. Mereka katanya sedang sakit saat ini” ucap Ana sesekali menunduk.
“Ya sudah kalau kau memang ingin kembali ke Amerika, tapi nanti kau akan kembali ke Jakarta lagi kan?”
“Sepertinya tidak tuan Tama, karena saya lihat tuan Pram sudah sembuh. Jadi saya tidak peru lagi mengawasi dan merawatnya” tukas Ana.
“Kata siapa saya sudah sembuh, saya belum sembuh. Kalau kau ingin kembali ke Amerika, aku ikut. Karena aku butuh pengawasan mu” ucap Pram menyahut.
Tama langsung melihat kearah temannya itu yang sedikit berbeda,
“Tapi tuan..”
“Tidak ada tapi-tapian. Aku ikut dnegan mu ke Amerika. Lagi pula kalau aku disini, malah membuat Tama repot, karena aku belum sembuh sepenuhnya”
Tama hanya diam saja, dia melihat kearah Pram, dia yakin kalau saat ini sepertinya Pram sudah menyimpan rasa pada Ana. Jika memang begitu, dia tak masalah. Dia malah senang jika memang itu benar, karena Pram sudah bisa melupakan Tere.
“Ya sudah Ana, kalau memang kau ingin kembali ke Amerika. Tapi ajak Pram baru aku memperbolehkan mu. Kau dengar sendiri dair pasien mu kalau dia belum sembuh” ucap Tama pada Ana.
Ana hanya diam sambil mengangguk pelan. Dia bingung untuk bicara apalagi, ya sudah kalau memang Pram akan ikut dengannya ke Amerika. Padahal niatnya kembali ke Amerika karena dia ingin menghindar dari Pram. Alasannya menghindar karena ada getaran aneh dalam hatinya saat ini. ia takut mencintai tuannya sendiri.
°°°
T.B.C
__ADS_1