
Ponsel Adiba yang berada di atas nakas meja sebelah Rendra berbunyi membuat Rendra yang berbaring di kasur langsung melihat kearah nakas meja sebelahnya. Dia melihat dua ponsel yang ada di situ fokusnya melihat kearah ponsel Adiba yang berbunyi.
Dia melihat kearah kamar mandi, dimana Adiba masih berada di dalam situ untuk membersihkan dirinya.
Dengan terpaksa Rendra mengambil ponsel milik istrinya dan melihat siapa yang menelpon sekarang.
“Tama, kenapa pria itu menghubungi istriku jam segini?” gumam Rendra, langsung menggeser tombol hijau di sana.
“halo” ucapnya saat mengangkat panggilan tersebut.
“Adiba mana?” tanya Tama di seberang sana menanyakan soal Adiba.
“Dia sedang mandi bicara saja denganku, ada apa?”
“Ya sudah kalau dia sedang mandi, aku hanya ingin bilang kalau kado yang aku kirim sebentar lagi sampai”
“Kado apa? istriku tidak perlu kado darimu” sahut Rendra.
“Siapa bilang itu untuk Adiba, itu untuk Rafka. Kemarin dia ulang tahun kan, aku beli kan kado untuknya”
Rendra langsung diam, dia malu sendiri telah menuduh Tama yang tidak-tidak.
“Kalau begitu sudah dulu, aku matikan” ucap Tama karena Rendra tak berbicara lagi dan hanya kesunyian yang terjadi.
“Sebentar, aku mau bilang terima kasih padamu. Terimakasih atas kado untuk anakku, kau tidak ingin melihat anakku, bukannya dulu kau bilang kau ayahnya” ucap Rendra menunggu jawaban dari Tama di seberang sana.
“Aku masih di Luar negeri lain kali saja, tapi memang kau mengijinkan diriku menemuinya”
“hemm,”
“Baiklah, kalau aku sudah pulang ke Indonesia aku temui anakku itu,” ucap Tama dibarengi tawa renyahnya.
“Tapi awas kalau kau ambil kesempatan” ancam Rendra.
“Maaf aku sudahi dulu, aku masih ada urusan” ucap Tama diseberang sana.
“sok sibuk” cibir Rendra dan langsung mematikan panggilannya.
“Siapa?” bertepatan dengan itu Adiba keluar dari kamar mandi mengenakan celana panjang dan juga kaos polos berwarna putih serta rambut yang basah dililit oleh handuk.
“Ayah palsu Rafka” jawab Rendra dengan menaruh hp kesal ke tempatnya lagi.
“Siapa sih, nggak usah mulai ngajak ribut” ucap Adiba yang tak maksud dengan ucapan Rendra barusan.
“Abang kesayangan kamu lah siapa lagi” sungut Rendra.
“Bang Tama?”
“Hemm,” jawab Rendra sambil merebahkan dirinya di kasur.
“Kenapa bang Tama?”
“Dia bilang kado yang dia kirim sebentar lagi sampai.”
__ADS_1
“Oh iya aku lupa kalau bang Tama tiga hari lalu ngirim kado, hari ini sampainya?”
“Hemm,” balas Rendra sambil berdiri dari duduknya, dia melihat kearah Adiba yang berjalan untuk mengambil ponselnya.
Rendra tiba-tiba saja berdiri saat sang istri sudah ada di sebelahnya sekarang, dia memeluk istrinya itu.
“Kenapa sih main peluk-peluk begini, belum puas soal tadi?” heran Adiba sambil melihat sekilas Rendra yang memeluknya dari belakang.
“panggil aku sayang sih atau panggil apa gitu biar romantis. Perasaan selama ini aku dengar kamu manggil aku cuman kamu. manggil sayang aja jarang bahkan hampir nggak pernah” ucap Rendra.
‘Ya..ak.aku bingung manggil apa. kalau aku manggil kamu sayang, aku manggil Rafka begitu”
“Ya terserah manggil apa tapi yang romantis, panggil bang atau kak atau apalah yang kamu khususkan buat aku” ucap Rendra penuh harap Adiba memanggilnya begitu.
“Apa ya, panggil aku kamu ajalah. Kayak anak muda aja pake panggilan romantis”
“ya memang kita masih muda, belum tua-tua amat”
“Ya udah panggil aku Hubby aja gimana?”
“Nggak ah, kayak bule aja manggil begitu”
“Ya aku kan memang bule, kok protes” tukas Rendra.
Adiba langsung terdiam, memang benar sih Rendra bule dari kakeknya.
“Terserah kamu aja deh,”
“Good my sweet heart,” rendra langsung mencium Adiba dan melepaskan pelukannya,
“kemana?”
“Ketemu Davin”
“Nggak ah, mereka nanti meledekku,”
“Ya sudah kalau tidak mau, aku keluar sebentar ya” pamit Rendra dan mengecup kening istrinya sebelum pergi.
Adiba hanya diam saja, dia lalu melihat ponselnya saat Rendra sudah berjalan keluar kamar. Alasannya tidak mau ikut tentu saja dia tidak mau bertemu teman-teman Rendra yang dulu suka mengejeknya, mereka semua nanti semakin mengejeknya kan mereka belum tahu kalau dia dan rendra sudah menikah.
.....................................
Di Amerika sekarang masih begitu larut, jam di mana orang sudah terlelap dalam tidurnya berbeda dengan Tama yang asih terjaga saat ini dia menaruh ponselnya kembali kedalam saku. Ponsel yang dia gunakan untuk menelpon Adiba tadi, di melihat didepannya saat ini dimana Pram tengah tertidur lelah dengan infus ditangannya. Dan juga seorang suter yang menemani mereka bertiga.
Kondisi Pram tiba-tiba saja down dan dia bahkan hampir menyayat nadinya sendiri tadi. Entah mengapa depresi pria itu kambuh lagi padahal kemarin tidak apa-apa saat membahas Tere.
“Tuan Tama lebih bai tidur saja, biar saya yang menjaga Tuan Pram” ucap suster berkewarganegaraan Amerika itu tetapi dia bukanlah orang asli Amerika melainkan orang asli Indonesia hanya dia pindah dan tinggal di Amerika.
“Tidak apa, lebih baik kau saja yang istirahat sedari kemarin kau sudah banyak menjaga Pram”
“Tidak tuan, saya akan tetap terjaga untuk menebus kesalahan saya kemarin yang sudah ceroboh tidak menemani tuan Pram” lirih perempuan tersebut yang merasa bersalah.
“Oh iya, Ana alasanmu menjadi warga negara Amerika apa? saya pikir dulu kau orang asli sini” tiba-tiba saja Tama menanyakan hal itu.
__ADS_1
“karena saya diangkat anak oleh orang ber kewarganegaraan sini, makanya saya berada disini” jawab perempuan bernama Ana itu
Tama hanya diam dan mengangguk saja mendengarnya dan dia sekilas melihat Pram yang masih belum sadar.
“Dia sama denganmu Pram,” batin Tama.
Saat Tama masih melihat Pram ponselnya yang berada di saku celana tiba-tiba saja bergetar membuatnya sedikit terkejut dan segera mengambilnya.
Tertera nomor dari Indonesia menghubunginya saat ini membuat dahinya berkerut melihat nomor yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
“Siapa ini” gumamnya, meskipun kepalanya penuh pertanyaan tetapi dia tetap mengangkatnya.
“Halo,” ucap Tama sat mengangkat panggilan itu.
“Halo, sudah lama aku tidak mendengar suara seksi mu” terdengar di seberang sana suara seorang perempuan berkata begitu dan membuat Tama merinding sendiri dan kembali melihat nomornya.
“Siapa? Jangan main-main denganku?” tegasnya.
“Kamu selalu tegas begini, masa lupa denganku. Apa karena aku sudah besar makanya suaraku berbeda”
“Jangan gila, aku tidak tahu siapa kamu.”
“menyebalkan, padahal sebisa mungkin aku membuatmu untuk ingat padaku dnegan nada manja begitu tapi kamu masih tidak ingat” nada kesal keluar dari mulut perempuan itu.
“Kau sepertinya perempuan tidak waras,” ucap Tama langsung mematikannya begitu saja. Dia kesal dengan nomor nyasar tersebut.
“Nomor salah sambung bisa-bisanya menghubungiku” gerutu Tama.
“Maaf kenapa tuan,”
“Nggak,”
“Ana kau bilang tadi ingin menjaga Pram kan? kalau begitu aku permisi sebentar” ucap tama dan langsung berdiri saat di angguki Ana.
Dia ingin menjernihkan pikirannya dulu di luar kamar hotel saat ini, Pram memang di rawat di hotel pria itu tidak mau di rumah sakit itu membuatnya semakin tidak terkontrol pikirannya.
............................................
“mama, Mama sini masuk ke kolam. Katanya mau nemenin aku berenang” rengek rafka dari dalam kolam Renang.
“Mama nggak bisa berenang sayang, kamu aja yang berenang ya. Kan mama temani” jawab Adiba yang menolak ajakan putranya, dia sedari tadi hanya memperhatikan rafka saja dari atas ayunan yang berada disebelah kolam renang di rumah mertuanya itu.
“mama nggak asik, Papa mana ma? Mama minta ajari Papa dong” ucap rafka yang tampak kecewa.
“Papa kamu lagi pergi sayang, udah ya kamu berenang sendiri saja. Mama disini kok nemenin kamu”
“nggak asik” ucap rafka cemberut, dan dia langsung berenang lagi seorang diri.
Adiba hanya bisa menghela nafasnya, mau bagaimana lagi dia sendiri tidak bisa berenang. Dia sedari dulu ngin belajar tapi tidak kesampaian terus dan waktu dia habis melahirkan dia tidak mau saat Tere akan mengajarinya. Ketika dia mau Tere malah sudah pergi untuk selamanya dan belum sempat mengajari dirinya.
Sehingga sampai sekarang dia belum bisa berenang sama sekali, rasanya malu sih saat anaknya bisa berenang tapi dirinya tidak.
Raka memang sedari kecil dulu sudah ia ajari berenang dengan meminta Alfin untuk mengajarinya. Agar anaknya tidak kalah dengan anak orang lain yang masih kecil tapi sudah bisa berenang sendiri.
__ADS_1
°°°
T.B.C