
Tok
Tok
Terdengar ketukan pintu dari luar ruangan Rendra saat ini membuat Rendra dan juga Adiba yang sibuk di mejanya masing-masing langsung menatap satu sama lain dan berbarengan menatap pintu.
“Ada orang, biar aku yang bukakan” ucap Adiba mulai berdiri dari duduknya.
“Nggak usah sayang, biar dia buka sendiri” larang Rendra.
“Masuk” seru Rendra kemudian.
Tak lama pintu langsung terbuka menampakkan wajah Kania yang melempar senyum tipis pada Adiba dan juga Rendra.
“maaf pak, Adiba saya mengganggu” lirihnya sambil memegang gagang pintu.
“Tidak apa, masuk. Ada perlu apa?” tukas Rendra.
Kania berjalan mendekati meja Rendra sambil membawa secarik amplop putih di genggaman tangannya.
“Mau minum apa Kania, saya buatkan” ucap Adiba yang berdiri menatap Kania.
“Nggak usah Dib, maksud saya bu. Saya cuman sebentar” ucapnya kemudian saat melihat Rendra yang menatapnya tidak suka.
“Ada perlu apa kau denganku, cepat katakan?” tegas Rendra.
“Ini pak saya kesini hanya ingin memberikan surat pengunduran diri saya” ucap Kania sambil menyodorkan amplop putih yang sedari tadi ia pegang.
“Kamu ngundurin diri Kania, kenapa?” tanya Adiba meskipun dia sudah tahu sebelumnya dari Jeremy kalau perempuan muda itu akan mengundurkan diri.
“Tidak apa-apa bu, hanya ingin punya waktu luang saja dengan keluarga” jawab Kania sambil tersenyum.
“Kau serius mengundurkan diri dari perusahaan saya?” tanya Rendra.
“Iya pak saya serius,”
“Ya sudah kalau itu kemauan mu, tapi jangan berikan alasan konyol begini. kau ingin pindah tempat bekerja kan” sinis Rendra.
“Pak..” tegur Adiba dari mejanya, dia merasa tidak enak saja dengan Kania karena ucapan Rendra yang seperti itu.
Kania melebarkan matanya melihat bosnya tersebut, darimana bosnya itu tahu soal dirinya akan indah tempat.
“Pasti Jeremy yang memberi tahunya, nyebelin tuh anak” geram Kania dalam hatinya.
“kenapa diam, benar yang saya katakan.”
“Hehehe iya pak, maaf saya berbohong” nyengir Kania seperti tertangkap basah telah berbohong.
“Ya sudah saya terima pengunduran dirimu, semoga kau nyaman di tempat barumu” pungkas Rendra.
“makasih pak”
“Kalau begitu saya permisi dulu, mari pak Bu Adiba” ucap Kania langsung pamit pergi dari ruangan bosnya.
Rendra dan Adiba hanya tersenyum saja dengan itu, Rendra mengambil surat pengunduran diri Kania dan memasukkannya ke laci.
“Anak itu, dia pikir bisa membohongiku” sinis Rendra sambil menggelengkan kepalanya.
“Sudahlah biarkan saja,” ucap Adiba.
“hemmm”
“Sayang mau makan apa untuk siang ini?” tanya Rendra kemudian.
“Kamu sendiri mau makan apa? aku yang pesan”
“Apa ya yang enak di makan siang-siang” ucap Rendra tampak bingung.
Adiba yang melihat itu langsung berjalan menghampiri suaminya yang duduk sambil memikirkan makan siang mereka.
Rendra langsung melihat kearah Adiba yang berjalan menghampiri dirinya saat ini, dia langsung menarik istrinya untuk duduk di pangkuannya sekarang.
“Kalau aku pesan di restauran nya bang Tama gimana,?” ucap Adiba melihat wajah suaminya yang cukup dekat dengannya.
“Dia punya restauran?”
__ADS_1
“Iya, dekat sini kok restauran nya, mau nggak aku pesan makanan dari sana.”
“Restauran apa dia?”
“Italy gimana mau daripada bingung-bingung”
“Ya udah terserah kamu aja,” jawab Rendra yang sepakat dengan usul istrinya tersebut.
“kamu mau apa?”
“aku mau spaghetti aja sayang,” jawab Rendra.
“Ya sudah aku pesan spaghetti sama pizza ya”
“Oke,”
Adiba langsung mengirimkan pesan pada karyawan yang bekerja di salah satu restauran milik Tama. Restauran Italy itu baru berjalan tiga tahun tapi karena masakannya enak membuat nama Restauran milik Tama menjadi terkenal dan favorit banyak orang termasuk pegawai Rendra yang bekerja di kantor. Karena jarak restauran dan kantor milik Rendra sangat dekat.
................................................
Di Amerika, Tama masuk kedalam kamar hotel dia melihat Ana yang telaten membasuh tangan Pram. Pram sendiri hanya diam saja menatap kosong kedepannya bahkan saat Tama masuk pria itu mungkin tidak menyadarinya dan hanya suter Ana yang menyadari kedatangan Tama.
“Tuan Tama sudah datang?” ucap Ana dan langsung melepaskan tangannya dari Pram dan berdiri menyambut Tama serta memberikan ruang untuk Tama duduk di sebelah Pram.
Tama hanya tersenyum dan dia langsung melihat kearah Pram,
“Pram,.” Panggilnya lirih.
Pram baru tersadar dan melihat kearah Tama saat ini,
“Oh, kau sudah datang dari kapan?” ucap Pram sambil tersenyum yang dipaksakan.
“Barusan, kau kenapa diam saja?” tanya Tama khawatir.
“Ana bisa tinggalkan kita berdua saja” pinta Pram pada suster bernama Ana itu.
“Bisa Tuan” Ana langsung pergi meninggalkan Pram dan juga Tama di dalam kamar.
“Tama, aku ingin pulang ke Indonesia” ucap Pram saat Ana sudah keluar.
“kenapa?”
“Aku ingin bertemu dengan Tere, aku ingin minta maaf. Aku ingin minta maaf karena aku lemah begini, aku..aku ingin berjanji padanya kalau aku tidak akan begini lagi” pungkas Pram sambil berkaca-kaca.
Mendengar itu membuat Tama bingung, dengan Pram mengatakan begitu apa pria itu sudah menerima kalau Tere memang telah pergi untuk selamanya.
“Bukannya kau sendiri yang bilang kau tidak mau kembali, kau ingin disini. dan kau bilang Tere ada disini kan?”
“Nggak, aku..aku memang gila. Aku sudah merelakan Tere, aku tidak ingin seperti ini dia marah dnegan marah denganku, dia marah Tam” ucap Pram memegang tangan Tama sambil berkaca-kaca menahan tangis.
“Dia semalam menemui ku, dia marah denganku. Dia marah Tam,..” ucap Pram terisak,
Semalam dia bermimpi Tere mendatanginya dia begitu marah dan kecewa padanya karena melakukan hal bodoh dengan memotong pergelangan tangannya sendiri.
“Pram tenanglah, sudahlah. Dia tidak akan marah denganmu” ucap tama berusaha menghibur Pram dnegan mengusap bahunya.
“Kau akan membawaku ke Indonesia kan, aku mohon aku ingin kembali ke Indonesia Tam”
“Ya kita akan kembali ke sana, jadi dirimu jangan melakukan hal aneh-aneh lagi. Besok kita akan ke Indonesia bersama dengan Ana juga”
“kenapa dengan Ana juga?”
“Ya karena dia perawat mu,”
“Kita cari perawat lain saja di sana”
“Tidak bisa Pram, dia yang lebih mengenalmu. Sudahlah kau istirahat saja sekarang, aku keluar dulu.” ucap Tama dan langsung keluar dari kamar Pram.
“Ana masuklah” ucap Tama saat membuka pintu.
“Iya Tuan” Ana langsung masuk kedalam kamar Pram.
Di luar Tama duduk di kursi, dia menyandarkan dirinya menatap langit-langit koridor hotel itu.
“Abang bingung Ter, abang kesepian harus abang bagi dengan siapa rasa sesak di hati abang ini” gumam Tama menatap keatas.
__ADS_1
“Kamu pergi ninggalin abang untuk selamanya, Adiba juga pergi dan bahagia dengan suaminya, abang sendirian sekarang harus cerita dengan siapa lagi abang ter” ucap Tama lagi, perkataannya begitu pilu saat ini. rasanya semua beban dia simpan sendiri.
Orang-orang yang dia sayang sudah tidak bersamanya lagi, dua orang perempuan yang selalu menemaninya dulu kini tak lagi bersama dengannya
Masih Adiba sebenarnya tapi dia tidak mungkin menghubungi perempuan itu, dia sudah bahagia dengan suaminya. Ia tidak ingin membuat perempuan yang pernah dia cintai terluka karen dirinya biarlah dia bahagia.
Tama menyandarkan lemah punggungnya yang terasa berat itu, dia mengusap kasar wajahnya sendiri memikirkan segala kemungkinan Pram saat di Indonesia nanti.
.........................................
“Rendra sudah,.akhh,.” ucap Adiba menahan lenguhannya dan sedikit mendorong Rendra agar melepaskan dirinya saat ini.
Mereka berdua sedang bermain di kamar mandi, entahlah Rendra begitu tidak bisa menahan hasratnya sehingga tadi selesai makan siang dan sedikit menerima tamu yang berkunjung membuat dirinya langsung meminta jatah pada sang istri mengajak istrinya bermain di dalam kamar mandi.
Rendra langsung melepaskan miliknya dan menatap istrinya yang terpojok di tembok karena sedari tadi dia menghimpit istrinya itu di tembok kamar mandi.
“capek ya sayang?” ucapnya dan malah tersenyum puas melihat istrinya yang tampak kelelahan.
“hemm, udah ya” ucap Adiba dan langsung membenarkan bajunya dan juga Roknya yang turun.
“Iya saat ini sudah tapi di lanjut nanti lagi di rumah ya, biar adiknya rafka cepet launching” ucap rendra berbisik di telinga Adiba.
Adiba langsung mencubit lengan suaminya ,
“Akkh, sakit sayang”
“Ya habisnya kamu nyebelin, kalau udah mau ya harus d layani. Nggak mikirin aku banget” ketus Adiba.
“Ya aku mikirin kamu juga lah, kan aku pelan-pelan tadi sayang. Udah dong jangan ngambek,” ucap Rendra memegang dagu Adiba dan melayangkan kecupan di bibir istrinya.
“udah ah, aku mau keluar nanti kamu bisa-bisa minta lagi” ucap Adiba sedikit mendorong Rendra agar memberikan jalan untuknya.
“Itu tahu” pungkas Rendra tersenyum puas melihat istrinya yang berjalan keluar dari kamar mandi.
Rendra sendiri langsung membenarkan bajunya, dan berjalan menyusul Adiba yang sudah keluar lebih dulu saat ini.
Bukannya dia terlalu menggebu ingin memiliki nak lagi tapi karena sudah enam tahun dia tidak melakukan hal seperti itu jadi sekali melakukan membuatnya ketagihan apalagi dengan istri sendiri.
“sayang,” seru Rendra setelah membenarkan bajunya dan berjalan keluar memanggil Adiba yang sudah duduk di meja kerjanya.
“Apa?” jawab Adiba yang langsung melihat kearah Rendra,”
“hehehe nggak, cuman manggil aja” balas Rendra menunjukkan deretan giginya.
“Apaan sih, kayak Rafka aja” sungut Adiba yang kesal.
“ya nggak pa-pa kan manggil istri sendiri” ucap rendra sambil berjalan mendekat.
“Udah ah, aku mau kerja nanti istri aku marah lagi kalau aku godain terus” tukas Rendra berjalan kearah meja kerjanya sendiri.
“Itu tahu” sungut Adiba.
“Oh iya sayang, nanti Rafka beliin apa ya kalau kita pulang?” tanya Rendra yang ingin membelikan camilan untuk anaknya.
“Nggak usah deh kayaknya, di rumah kan banyak makanan. Papa Frans kan sudah nyediain makanan banyak di rumah bahkan box eskrim juga ada di rumah”
“Ya sudah kalau nggak usah, aku pengen beliin aslinya buat permintaan maaf aku ke dia”
“Permintaan maaf apa?” heran Adiba.
“Ya minta maaf karena tadi nggak bisa anterin dia ke sekolah”
“Oh, nggak usah dibeliin apa-apa aja. Kamu ajak main aja Rafka udah senang kok” usul Adiba pada suaminya.
“Oke deh, besok kita liburkan, kalau liburan bertiga giman kemana gitu” tukas Rendra.
“Liburan bertiga?”
“Iya mau nggak?”
“Mau, Rafka juga pasti senang kalau kita bertiga liburan. Dia dari dulu pasti menghayal soal kapan liburan lengkap dengan orang tuanya, denger ini pasti dia happy banget” ucap Adiba antusias dia setuju dengan ide Rendra itu. karena sedari dulu banyak teman Rafka yang pamer liburan bersama dengan orang tuanya sedangkan Rafka tidak pernah liburan dengan kedua orang tuanya. Dia hanya liburan dengan Oma Opanya saja sedari dulu.
“Oke, besok kita bertiga senang-senang, mari kita kerja hari ini sayang. Besok biar liburnya kita tenang” pungkas Rendra begitu semangat, dia langsung duduk di kursinya. Aiba juga sibuk di mejanya melanjutkan pekerjaannya yang tertunda beberapa jam arena harus melayani suaminya dulu.
°°°
__ADS_1
T.B.C