
Rendra ada di kamarnya sambil senyum-senyum menunggu sang istri yang belum masuk juga ke dalam kamar. Dia senang karena istrinya sudah tahu kalau itu hanya salah paham dan artinya hubungan mereka akan baik-baik saja nantinya.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka, Adiba masuk perlahan sambil melihat suaminya yang memasang wajah serius sambil melihat kearah ponsel mengabaikan dirinya.
Rendra pura-pura mengabaikan Adiba yang masuk kedalam kamar, tapi pandangannya sesekali melihat sang istri yang berjalan ke kamar mandi.
“Dia pasti mikir gimana mau minta maaf” gumam Rendra sambil tersenyum puas mengabaikan istrinya.
Benar saja di dalam kamar mandi, Adiba yang selesai mencuci mukanya langsung melihat dirinya sendiri di depan cermin. Dia bingung, harus mulai darimana dulu untuk minta maaf pada sang suami. Rasanya ia malu sudah menuduh aneh-aneh pada suaminya itu,
“Mas Rendra marah nggak ya” gumamnya bingung.
“Gimana caraku buat minta maaf” lanjutnya lagi masih terus bergumam sambil melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin.
“Yaallah maafkan hamba yang sudah menuduh suami aneh-aneh, dan mafin hamba karena ngomong cerai sama suami” Adiba mendongak keatas sambil memejamkan matanya merasa dirinya telah salah pada suaminya. Adiba lalu menghela nafasnya, dia memantapkan diri untuk berani minta maaf pada suaminya..
Adiba langsung keluar dari kamar mandi, Rendra yang mendengar pintu kamar mandi terbuka melihat sekilas Adiba yang tampak ragu untuk berjalan mendekatinya.
“Mas,.” Panggil Adiba lirih menatap sang suami yang tak melihat kearahnya.
“Mas, Mas rendra” lagi Adiba memanggil sang suami.
“hemm,” akhirnya Rendra menoleh dan melihat Adiba yang mengambil duduk di tepi ranjang dekatnya.
“kenapa?” nada datar terlontar dari mulut Rendra.
“Aku mau ngomong sama kamu, aku..aku minta maaf ya soal tadi” Adiba terlihat ragu untuk mengatakannya.
“Mas, kamu dengerin aku jangan mainan hp dulu” Adiba langsung mengambil hp milik suaminya dan memegang wajah sang suami agar melihat kearahnya.
“Apa sih, aku sibuk” ucap Rendra.
“Nanti dulu, aku mau bicara sebentar”
“Yaudah buruan kamu mau bicara apa”
“Aku minta maaf ya mas,”
“Minta maaf soal apa ya?”
“Soal aku yang nuduh kamu selingkuh, aku minta maaf. Aku salah mas, aku memang sensitifan jadi orang maaf ya”
Rendra hanya diam saja wajahnya tampak serius menatap Adiba yang menyesali kesalahannya. Wajah penuh salah begitu jelas terlihat di wajah perempuan itu.
“hahha, cie yang ngaku salah. Ngau sensitif juga. fix ini yang salah kamu kan bukan aku,” tiba-tiba saja Rendra tertawa sambil tersenyum meledek Adiba.
Adiba yang tadinya memasang wajah bersalah, menatap tak mengerti pada Rendra yang tiba-tiba saja tertawa dan tersenyum meledeknya.
“Serius nih ngaku salah, cie yang tahu kalau dirinya salah” Rendra menggoda Adiba yang masih tak percaya dengan Rendra.
__ADS_1
“Kamu dari tadi ngejain aku mas” kesal Adiba pada sang suami.
“Iya, aku sengaja. Makanya kamu sih sayang nuduh aku aneh-aneh apalagi tadi ngomong yang nggak seharusnya. Aku nggak suka, aku marah aslinya sama kamu” tukas Rendra mengungkapkan kekesalannya.
“Iya aku tahu, aku salah. Kamu maafin aku kan mas.”
“Jelas aku maafin dong, kamu istri aku. aku juga mita maaf sebelumnya karena nggak ju..”
Adiba tiba-tiba saja menaruh jarinya di di bibir Rendra,
“Shutt, disini aku mas yang salah. Aku aja yang terlalu sensitif dan aneh. Aku minta maaf ya” Adiba mmotong ucapan Rendra dan dia langsung memeluk snag suami.
“hemm, aku maafin. Tapi jangan diulangi lagi, jangan asal minta cerai. Nggak baik, kamu mau di ceramahi papa tujuh hari tuju malem. Kamu tadi di ceramahi kan sama dia” ucap Rendra sambil membalas pelukan istrinya.
“Iya, tapi aku nggak masalah dimarahi papa. Karena itu juga kesalahanku.” Ucap Adiba dalam pelukan sang suami.
“bagus,. Ayo tidur, kita lupakan hari ini. biarkan masalah tadi berlalu” ucap Rendra mengajak istrinya untuk tidur. Dia sedikit menggendong Adiba dan membaringkannya di sebelahnya saat ini. ia lalu juga berbaring sambil memeluk istrinya itu.
.............................................
Rafka bermain di kamar adiknya, dia sesekali mencubit gemas lengan Raihan yang berbaring di kasur bersama dengan Reva sedangkan Raiden masih tidur di box bayinya.
“Hari ini abang libur, abang nemenim kalian main oke” ucap Rafka pada keduanya yang tersenyum khas bayi.
Dua orang suster bayi-bayi itu sibuk membereskan kamar dan pakaian bayi, sambil sesekali mengawasi Rafka dan kedua bayi itu yang ada di atas tempat tidur.
“Sus, adik sudah boleh makan belum?” tanya Rafka
“Oh, aku kira adik sudah boleh makan. Tapi kok belum boleh makan badannya udah gede ya”
“Itu tandanya air susu mama sehat bang, bang Rafka mau makan nggak biar sus ambilkan” ucap Sus Novi.
“nggak” rafka menggeleng.
“Ipadku mana sus?” tanya Rafka kemudian.
“Ipadnya sus Herni simpan bagaimana bang”
“Mana sus, aku main game”
“Tapi kata bapak nggak boleh bang, ini bukan hari sabtu atau minggu. Bapak bilangnya kan boleh main Ipad kalau hari sabtu minggu” jawab Sus Herni yang memang diberi kuasa oleh Adiba atau Rendra untuk memegang Ipad Rafka. Karena kalau Adiba tidak ada dirumah atau tidak sempat mengurus Rafka maka Sus Herni yang akan mengurus Rafka.
“Tapi aku kan hari ini libur, papa pasti ijinin main. Mana sus” rengek Rafka.
Sus Herni dan sus Novi tampak bingung mereka saling lihat satu sama lain. Harus bagaimana mereka saat ini.
“Ya udah, sebentar sus ambilkan” sus Herni langsung berjalan ke arah loker untuk mengambil Ipad Rafka.
Rafka yang girang loncat-loncat di kasur dengan posisi duduknya, sehingga tangannya tak sengaja mengenai kepala Raihan, otomatis bocah itu langsung menangis sejadinya karena cukup sakit.
__ADS_1
Rafka langsung terdiam, dan Sus Herni dan Sus Novi langsung berjalan mendekat.
“”bang Rafka hati-hati dong bang, jangan loncat kayak tadi kan ada adik-adiknya” sus Novi langsung mengambil Raihan yang menangis. Bukan itu saja Reva yang mendengar tangis kembarannya pun juga ikut menangis saat ini.
Sus Herni langsung buru-buru menggendong Reva juga, Rafka yang ada disitu hanya bisa menunduk melihat kedua adiknya yang menangis.
“Aku minta maaf” lirih bocah itu.
“Ini kenapa?Raihan sama Reva kenapa nangis begitu” Rendra yang berlari masuk melihat kegaduhan dari dalam kamar ketiga anak kembarnya. Dia terlihat panik karena suara tangis mereka cukup kencang.
Kedua suster itu tampak bingung harus menjawab apa.
“Kenapa kalian diam semua, kenapa Raihan sama Reva nangis?” tegas Rendra karena keduanya tak menjawab.
“Papa, “ ucap Rafka memanggil papanya.
“Kenapa bang? kenapa adik-adik nangis?”
“Tadi..tadi aku nggak sengaja mengenai kepala Raihan” lirih Rafka sambil menunduk.
“Kamu yang buat adik nangis bang, kok bisa, kamu ngapain bisa mengenai adik kamu” Rendra terlihat menahan kesalnya mendengar penjelasan bocah tujuh tahun itu.
“Aku tadi kesenengan, karena sus herni mau ngambilin Ipad”
Rendra mendekati anak sulunya itu yang terduduk di tempat tidur sambil menunduk.
“Kok bisa gitu bang, kamu masih nggak inget sebelah kamu ada adik-adik kamu. lagi pula kenapa minta Ipad ini hari apa coba”
“Senin,”
“Ayahkan larang kamu buat main Ipad kalau bukan hari sabtu sama minggu. Kemarin udah mainan Ipad kan, kenapa minta lagi sekarang”
“Kan aku libur pa”
“Sekolah libur tapi les nggak libur, kan ayah bilang sabtu minggu waktu les sama sekolah libur abang boleh mainan Ipad” Rendra memarahi sang anak.
“Kan aku pengen main sebentar pa,”
“Nggak usah jawab bang, buruan sarapan terus pergi ke guru les. Nanti papa anter, ayo” ucap Rendra begitu tegas dengan sang anak.
Rafka terlihat berkaca-kaca menahan tangis karena ucapan papanya itu,
“Nggak mau, aku mau dianter mama” tolak Rafka.
“Mama kamu masih mandi, dan mau nganterin adik-adik imunisasi. Kamu berangkat les sama papa” tukas Rendra dan langsung menggendong anak sulungnya untuk keluar dari kamar ketiga anaknya.
Rafka hanya bisa diam saja, bocah itu tampak menunduk dan mengalungkan tangannya keleher papanya.
°°°
__ADS_1
T.B.C