
Satu bulan berlalu,
Rendra baru saja pulang dari luar negeri karena ada tugas keluar, dia tak mengajak Adiba saat pergi ke Inggris dengan alasan kandungan istrinya sudah besar dan tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh.
“Sayang,.Sayang aku pulang” Panggil Rendra yang siang-siang memanggil-manggil istrinya. Rasanya dia tidak sabar ingin bertemu sang istri setelah seminggu di Inggris.
“Den Rendra sudah pulang?” asisten rumah tangga Rendra berlari kecil menghampiri snag majikan.
Rendra yang tadinya fokus melihat lihat keatas menunggu snag istri turun, langsung mengalihkan pandangannya kearah perempuan paruh baya yang baru saja datang itu.
“Bi,. Istri saya kemana?” tanya Rendra pada artnya itu.
“Non Diba lagi nggak dirumah den”
“Kemana istri saya?” tanya Rendra yang ingin tahu kemana istrinya sehingga sekarang tak ada dirumah.
“Non Diba ke Bogor dari kemarin den” jawab Art itu.
“Ke Bogor?” Rendra seakan tak percaya mendengarnya.
“Iya den”
Rendra langsung diam dan menaruh kopernya,
“Dia dari kemarin ke Bogor tapi nggak ngabarin saya, dia bilang tidak kenapa dia kesana?” tanya Rendra sambil mengambil ponselnya dari saku celana. Dia ingin menghubungi istrinya langsung. Bisa-bisanya ke Bogor tanpa memberitahunya, malah dari kemarin dia disana.
“Katanya sih kakaknya ke guguran den, dan perlu teman makanya non Diba kesana” jelas perempuan itu.
Rendra terus menghubungi Adiba, menunggu diseberang sana dia angkat.
“Halo, kamu dimana sih?” tukas Pria itu menahan kesalnya.
“Ngapain ke Bogor, kenapa nggak bilang sama aku. pulang sekarang” tegas Rendra meminta istrinya untuk pulang.
“Ya aku dirumah, kamu suaminya pulang nggak ada dirumah” kesal Rendra dan langsung mematikan panggilannya. Dia mencengkram kuat ponselnya dna mengangkat koper miliknya membawanya ke atas.
.................................
“Ma, kenapa kita pulang sekarang?” tanya Rafka yang duduk di sebelah mamanya, mereka berdua saat ini tengah berada di dalam mobil milik suami Oki dan yang mengantar mereka berdua pulang ke Jakarta adik ipar Oki dan satu orang teman dari pria itu. Karena Adiba tidak ingin Rendra salah paham kalau dirinya hanya diatarkan oleh adik ipar Oki yang notabennya masih muda.
__ADS_1
“Papa kamu sudah pulang sayang, kita disuruh pulang sekarang” jelas Adiba berusaha membuat anaknya mengerti karena Rafka terlihat enggan untuk pulang. Bocah itu sudah merasa nyaman di Bogor bermain dengan saudara-saudaranya di sana.
“Papa pulang? Kenapa bukan Papa yang jemput kita?” tanya bocah itu lagi.
“Papa capek sayang, kasihan kan kalau harus jemput kita” Adiba berusaha memberi pengertian untuk anaknya tersebut.
Rafka langsung diam, dan mengalihkan pandangannya keluar mobil tapi hanya sebentar dia kembali menatap mamanya.
“Ma, Ipad” pinta bocah itu pada sang mama.
Adiba langsung mengambilkan apa yang di minta putranya dia membuka tas yang berada di sebelahnya itu mengeluarkan benda berukuran sedang berwarna hitam itu. setelah itu Adiba langsung memberikannya pada Rafka yang tentu saja langsung mengambil dari tangan mamanya.
“Hamish maaf ya saya dan anak saya ngerepotin kamu sama teman kamu” ucap Adiba yang merasa tak enak dengan dua orang didepannya.
“Iya mbak nggak pa-pa kok, santai saja. Saya dan teman saya juga tidak keberatan” jawab Hamish sesekali melihat melalu kaca yang ada di dalam mobil.
“benar mbak santai saja, kita nggak masalah kok” sahut Teman Hamis,
“tapi saya beneran nggak enak sama kalian, apalagi sama kamu Dim. Kamu baru pulang kuliah sudah harus ke Jakarta nganterin mbak” Adiba masih saja merasa tak enak, apalagi terhadap teman Hamish yang baru pulang Kuliah sudah di ajak Hamish untuk ke Jakarta.
“Dia mah nggak masalah mbak, anaknya suka keluar-keluar. Jadi dia nggak ngerasa capek, malah seneng diajak keluar” Timpal Hamish sabil melihat kearah temannya. “bener nggak Dim?” ucap Hamish lagi.
“Ya sudah, aku tinggal main Hp saja ya. Tahu sendiri suami mbak bagaimana kalau nggak di kabari on time” ucap Adiba dan langsung mengambil ponsel miliknya di tas kecil.
Kedua pemuda itu hanya mengangguk saja, mereka kembali fkus melihat kedepan.
..............................................
Rendra uring-uringan sendiri di kamarnya, dia kesal karena sudah dua ja dia dirumah istrinya belum juga sampai. Padahal dia sudah olah raga satu jam, mandi dan makan tapi istrinya belum juga smapai dirumah.
“Ini kenapa belum sampai juga, bukannya paling lambat dua jam Jakarta Bogor” gerutu pria tu sambil berdiri dan melihat ponselnya.
Dan sedari setengah jam lalu Adiba tidak mengabarinya, ada perasaan kesal tapi juga ada perasaan cemas takut istri dan anaknya kenapa-kenapa.
Tok, Tok
Ditengah uring-uringannya, pintu kamarnya saat ini ada yang mengetuk dari luar membuatnya langsung melihat kearah pintu kamarnya itu.
“Ya,” serunya pada orang di luar sana.
__ADS_1
“Itu den, Non Adiba dan Rafka sudah pulang” ucap Art Rendra.
“Istri saya sudah pulang?” Rendra langsung berjalan kearah pintu kamarnya itu membukakan pintu kamar tersebut. “Dimana istri saya?” tanya Rendra.
“Dibawah Den, kalau begitu saya permisi dulu untuk membuatkan minum tamunya den” pamit Bibi ART itu.
“Tamu? Istri saya pulang dengan siapa” ucap Rendra membuat perempuan paruh baya itu yang tadinya akan pergi langsung melihat kembali kearah majikannya
“Itu ada dua orang den dibawah, kata non Adiba sih itu adik ipar kakaknya” pungkas si bibi
“ya sudah sana bi” ucap Rendra,
Dia langsung keluar dari kamarnya, untuk kebawah melihat istri dan juga tamunya. Dia penasaran tentang siapa yang mengantarkan istrinya itu.
Rendra perlahan menuruni tangga dan dia sedikit melihat kearah ruang tamu. Ia smeakin penasara karena terdengar obrolan-obrolan dari sana. Hal itu semakin mempercepat langkahnya,
“papa,” seru rafka girang yang baru saja melihat sang papa turun dari tangga. Sednagkan bocah itu sendiri duduk di sofa ruang tengah. Rendra yang tadi tak menyadari ada anaknya disitu karena terlalu fokus dengan suara istrinya dan tamu mereka membuatnya tak menyadari Rafka yang menonton tv.
“Anak papa, sini papa kangen peluk papa” ucap Rendra yang langsung menyamakan tingginya dengan sang anak. Tangannya siap menyambut putranya itu.
Rafka langsung berlari mendekati papanya, memeluk papanya cukup erat dan Rendra langsung menggendongnya.
“Rafka kangen sama papa” ucap bocah enam tahun tersebut.
“Papa juga kangen sama Rafka, tapi papa sedih masa papa pulang kamu sama mama kamu nggak dirumah” tukas Rendra sambil ekspresi wajahnya di buat sedih.
“tapi kan kita pulang sekarang”
“Mama dimana, di depan kan?” tanya Rendra pada sang anak.
“Iya,”
“Ya sudah papa kedepan dulu, kamu lanjutin nonton tvnya” ucap Rendra dan langsung menurunkan sang anak.
“Siap papa” bocah itu yang sudah turun langsung berjalan kearah tempatnya tadi.
Rendra sendiri langsung berjalan kedepan untuk menemui istrinya, beserta tamu mereka.
°°°
__ADS_1
T.B.C