
Rafka terbangun dari tidurnya karena sedikit merasa kesusahan untuk bergerak, dia membuka matanya sambil mencoba melepaskan diri. Ia yang masih mengantuk beluk sadar siapa yang memeluk dirinya saat ini.
“OM Emy lepasin,” ucap bocah tersebut sambil melihat kesamping dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang tidur disebelahnya sambil memeluk dirinya saat ini.
“Papa,.” Ucapnya tak percaya, dia mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan apakah yang dia lihat benar itu papanya.
“Papa, papa, ini papa” ucap Rafka sambil menggoyang-goyang tubuh papanya yang masih tidur.
Rendra langsung terbangun dari tidurnya, dia menatap anaknya yang sudah duduk sambil melihat kearahnya.
“Kamu sudah bangun boy,” Rendra langsung duduk melihat anaknya yang tak berkedip melihatnya saat ini.
“Papa kapan pulang, kenapa papa nggak bilang kalau pulang?” bocah itu langsung melontarkan berbagai pertanyaan.
“Kejutan buat abang, gimana seneng nggak? Papa pulang.” Rendra akan mengusap kepala Rafka tapi bocah itu menepisnya seakan menolak untuk di pegang oleh sang papa.
Rendra sedikit terkejut karena penolakan Rafka padanya,
“Kenapa sayang? Kamu nggak seneng papa pegang?” tanya Rendra tampak kecewa.
Rafka hanya diam saja, dia sesekali menunduk dan melihat kearah papanya.
“Aku kesel sama papa, aku nggak ikut ke Paris papa tetap berangkat sekarang papa pulang juga nggak bilang sama aku. papa nggak anggap aku anak lagi? Papa nggak sayang sama aku, aku ulang tahun kemarin papa nggak ngucapin” lirih Rafka sedikit mundur.
“Kok kamu bilang gitu sih sayang, papa sayang sama kamu. Tapi mau gimana lagi papa benar-benar ada kerjaan disana. Papa kemarin sempet nelpon kamu sayang tapi kamu nggak mau ngomong sama papa kan papa mau ucapin ulang tahu ke kamu waktu itu. please kalau papa salah papa minta maaf sama kamu. Papa sayang banget sama kamu Rafka, papa mohon jangan marah sama papa. Kamu belahan jiwa papa, kalau kamu marah papa...papa benar nggak sanggup”
Rafka menatap papanya yang tampak menyesal dan menatapnya sedih.
“Sayang maafin papa ya, papa bener-bener minta maaf. Papa juga mau minta maaf soal papa yang terlalu ngekang kamu bang, kamu sekrang nggak usah banyak les lagi papa juga nggak akan marah sama kamu kalau kamu main sama temen-temen. Tapi mohon, bang Rafka jadi seperti Rafka yang dulu yang sayang sama papa, please sayang.” Rendra berkaca-kaca penuh penyesalan akan sikapnya selama ini, ia meraih tangan anaknya memegangi tangan itu meminta maaf sepenuh hati. Bahkan setets bulir air mata jatuh mengenai tangan Rafka,
__ADS_1
Rafka yang merasakan tangannya basah langsung mendongak melihat kearah papanya yang tampak sedih bahkan menangis.
“Papa nangis,” lirih Rafka
“Papa,..papa menyesal bang. Papa nggak bisa kalau abang menghindar dari papa, papa minta maaf..kamu mau kan maafin papa” tukas Rendra menatap sedih sang anak.
“Papa jangan nangis,” tangan Rafka langsung memegang wajah papanya mengusap air mata yang jatuh tersebut. “Papa nggak salah kok, kenapa papa minta maaf. Papa jangan nangis, masa cowok nangis. Papa pernah bilang sama abang kan kalau abang nggak boleh nangis, kok papa nangis sekarang” lanjut bocah itu masih menghapus air mata sang papa.
“Kamu memang anak papa yang pinter bang, papa sayang sama kamu. jangan pernah berubah ya karena sikap papa, papa sekarang nggak akan ngekang kamu lagi. Jangan marah sama papa ya..” Rendra langsung memeluk anaknya cukup erat.
“Aku nggak marah sama papa kok, aku sayang sama papa mama” jawab Rafka balas memeluk sang papa.
Ayah dan anak itu berpelukan cukup erat, terutama Rendra yang begitu erat memeluk anaknya dia juga menciumi sang anak. Dia benar-benar bangga punya anak seperti Rafka yang dewasa meskipun usianya masih anak-anak.
............................................
Rendra dan Adiba mengajak anak-anaknya ketaman Safari, Rendra tak perduli badannya yang sakit semua padahal saat ini dia lelah dan sedikit jetleg karena perjalanannya dari Paris kemarin. Tapi rasa lelah itu hilang saat melihat anak-anaknya senang terutama Rafka, yang begitu gembira saat dia mengajaknya ke Taman Safari, bocah itu sudah menginginkan liburan seperti ini sedari dulu tapi ia dan Adiba selalu tidak bisa melakukannya.
“Papa, papa lihat itu singa pa..” ucap Rafka hebo menunjuk kearah singa yang ada di batu besar. Rafka berada satu mobil dengan kedua orang tuanya sedangkan ketiga adiknya yang lain berada di mobil lain bersama dengan para pengasuh.
“Mana sayang mama juga pengen lihat,” ucap Adiba yang sedikit mendekatkan diri ke anaknya dan melihat kearah sang anak menunjuk.
“Itu ma..” pungkas Rafka memberitahu dimana singa yang ia lihat.
“Itu loh sayang,” timpal Rendra memberitahu sang istri.
“OH iya itu, gede banget singanya. sayang” Pungkas Adiba yang akhirnya melihat dimana letak singanya.
“Gede ya ma, kalau kita kesitu mungkin langsung di makan ya?” ucap Rafka.
__ADS_1
“Bukan di makan lagi bang, tapi di lahap kayak gini” ucap Rendra langsung memeluk anaknya dan memangku sang anak sambil menggigit kecil leher anaknya.
“Iih papa geli,” ucap Rafka prtes karena dia geli saat papanya seperti menggelitiki dirinya di lehernya.
“Mas sudah rafa kegelian itu” ucap Adiba
“Papa gemes sama kamu,” pungkas Rendra.
“Bang Rafka mau lihat apa lagi, itu didepan kayaknya ada beruang bang” lanjut Rendra sambil melihat kearah depan.
“Mana pa, mana” ucap Rafka antusias.
“Itu sayang,” tunjuk Rendra, mobil mereka berjalan pelan sambil beriringan dengan mobil yang lain.
Rafka melihatnya, dia tampak senang dan tampak penasaran. Rafka benar-benar merasa bahagia dengan liburan keluarganya ini. sudah lama dia tidak liburan lengkap seperti ini, Semenjak adiknya lahir dia belum pernah liburan tapi kali ini akhirnya ia merasakan liburan seperti yang lain.
Rendra mengganggu sang anak dengan menggelitiki pinggang Rafka, Rafka yang sensitif tentu saja langsung merasa kegelian karena ulah papanya. Dia tertawa terbahak-bahak karena begitu geli,
“Papa lepasin, papa kayak anak kecil geli pa..aku mau di glitiki papa gelitikin adek-adek aja mereka masih gemisin pa”keluh bocah itu sambil sesekali menghindar dari papanya.
Mobil itu penuh gelak tawa, Adiba yang melihatnya ikut senang hubungan suami dan anaknya tidak seburuk yang ia bayangkan. Dia bangga denga suami dan anaknya.
Suaminya yang menghilangkan egonya selama ini dan juga cara bijak nan dewasa anaknya yang masih umur delapan tahun membuatnya begitu bangga pada Rafka serta suaminya.
Mang ujang yang melihat kebahagian majikannya juga ikut tersenyum, dia yang beberapa bulan ini sering melihat Rafka sedih ikut bahagia saat melihat bocah itu tertawa lepas bersama kedua orang tuanya.
Keluarga itu terlihat bahagia saat ini, doanya semoga keluarga majikannya selalu dalam lindungan tuhan dan selalu diberikan kebahagian selamanya.
°°°
__ADS_1
The End..
maaf ya kak kalau kurang memuaskan endingnya, Tapi author memang sudah niat dari beberapa minggu lalu buat namatin novel ini. Terus tunggu kelanjutan karya author selanjutnya ya....