
“Jer, mau ya minjemin gue duit. Kan lo bilang katanya lo pewaris di keluarga lo. Please, pinjemin gue lo banyak duit kan” rengek Kania pada Jeremy yang duduk di depannya sambil minum menyeruput jus.
“Minjem? Tumben lo minjem duit ke gue. Bukannya duit lo juga banyak ya, jatah dari Papa lo kan gede kenapa minjem gue” Jeremy mengernyitkan dahinya menatap Kania heran. Karena setahunya Kania selalu mendapat jatah uang bulanan dari Papa kandungnya dan juga Mama dari Kania menikah lagi dengan orang kaya yang bekerja sebagai pejabat. Jadi tak mungkin Kania meminjam duit darinya saat ini.
Bahkan ini pertemuan pertama mereka hanya berdua saja, biasanya mereka selalu ramai-ramai saat bertemu karena Kania dulu bekerja di perusahaan kakaknya dan itu dia yang memasukkan temannya tersebut. Tapi tiba-tiba perempuan didepannya mengajaknya untuk bertemu di tempat ini hanya berdua saja.
“Ceritanya panjang, gue beneran nggak ada duit. Please lah, dulu kan lo teman karib gue Jer, tolong gue ya pijemin duit. Nanti kalau gue udah gajian gue ganti” rengek Kania memohon pada Jeremy yang masih memberikan tatapan tak percaya padanya.
“Ya udah lo butuh berapa, gue kirim sekarang’ jawab Jeremy sambil mengeluarkan ponselnya dari saku jaket bersiap untuk mengirimkan uang yang diminta Kania.
“nah gitu dong, lo memang teman karib gue Jer, gue butuh sepuluh Juta , lo ada kan?” ucap Kania tampak berbinar karena Jeremy akhirnya membantunya.
“Oh iya tadi yang dateng sama lo siapa? Terus dimana dia sekarang?” tambah Kania terlihat penasaran dengan perempuan yang datang bersama dengan Jeremy tadi.
“Pacar gue, kenapa?”
“Pacar lo? Terus dia kemana? Kenapa nggak disini?” Kania yang mendengar itu melebarkan matanya.
“Dia kerja disini, itu dia” ucap jeremy sambil menunjuk kearah seorang perempuan berhijab yang sedang melayani pelanggan.
Kania langsung menoleh melihat kearah tangan Jeremy yang menunjuk kearah perempuan itu.
“Dia nggak cemburu kita cuman berdua disini?”
“Nggak, cewe gue bukan tipe cewek alay yang cemburuan”
“bagus deh kalau gitu,” jawab Kania mengangguk kecil.
“Oh iya, nyokap lo memang setuju lo pacaran sama tuh cewek”
“Dia nggak tahu kalau gue punya pacar?”
“Kalau dia tahu semoga lo direstui ya, eh pasti direstui lah kakak lo juga di restuin kan sama nyokap lo”
“Kata siapa? Kakak ipar gue itu kasihan dia kayak ditipu sama wajah Mama gue”
“maksud lo?”
“Ya gitu, lo tahu sendiri nyokap gue gimana. kalau bukan karena bokap gue mama gue udah terang-terangan mungkin. Dia aja juga begitu mungkin karena kakak gue yang cinta mati sama kakak ipar dan terlanjur udah punya anak kalau nggak apa mungkin di restui mereka” ucap Jeremy sambil mengingat beberapa waktu lalu dimana Mamanya mengomeli kakaknya dan menyalahkan kakak iparnya.
“Berarti masih mandang bibit bebet bobotnya ya” Kania menghela nafasnya setelah mendengar penjelasan Jeremy, dia pikir Mama dari Jeremy sudah berubah karena dia terlihat baik dengan Adiba ternyata tidak ada perubahan sama sekali.
__ADS_1
Kenapa dia bisa tahu karena Mama jeremy begitu, karena dulu saat dia dan Jeremy bersekolah di LA pernah suatu ketika dia bermain di pethouse mewah keluarga mereka dan dia yang masih remaja di introgasi oleh Mama Jeremy.
“Ya udah ya, gue mau balik dulu. udah lo transfer kan uangnya?” ucap Kania yan akan pamit untuk pergi.
“udah”
“Oke makasih ya, nanti kalau gue gajian gue bayar”
“Santai aja,”
“Gue pergi ya,” ucap Kania dan mulai berdiri sambil memegang tas kecilnya.
“hemm” jawab Jeremy melihat kearah Kania sekilas dan dia lalu beralih melihat kearah perempuan yang tersenyum padanya sambil membawa nampan hitam di tangannya. Jeremy membalas senyuman itu dengan manis.
...................................................
“Huhuhu, sakit Ma, kakiku sakit” rengek Rafka menangis di kursi depan rumah mereka dan Adiba sedang membersihkan luka di lutut sang anak.
“Iya sayang sabar ya, ini mama obatin, rafka jangan nangis ya” perlahan dan telaten Adiba membersihkan luka anaknya itu dia memberikan sedikit alkohol di kain kasa yang ia gunakan agar lukanya tidak terlalu perih.
“tangan Rafka juga sakit ma,” ucap Bocah itu sambil menangis memegangi tangannya yang juga ada bekas lukanya.
“bentar ya nak, Mama bersihin luka rafka yang ini dulu. jangan nangis dong, mama nanti ikut nangis lo kalau kamu nangis” ucap Adiba dan meminta anaknya untuk tidak menangis.
“ya ampun lutut sama tangan kamu kenapa berdarah begini sayang?” Citra tampak terkejut saat melihat lutut dan juga tangan cucunya.
“Rafka jatuh ma habis main sepatu roda” jawab Adiba sambil memperban luka yang ada di lutut sang anak.
Citra langsung melihat kearah Adiba yang sesekali melihatnya,
“Kamu ini gimana sih Adiba ngurus anak nggak becus. Kok bisa anaknya jatuh seperti ini” ketus Citra sedikit meninggikan suaranya
Adiba yang mendengar itu langsung melihat kearah mertuanya, dia terkejut mendengar ucapan mertuanya barusan.
“tadi..tadi Rafka nabrak batu ma makanya dia jatuh”
“nabrak batu kok bisa, kamu apa nggak megangi dia?”
“Dia sudah bisa ma jadi nggak aku pegangi, tapi kare..”
“Udahlah, kamu memang nggak becus urus anak. Kamu percuma juga berhenti kerja kalau nggak bisa urus anak. Ayo rafka sama Oma aja, Oma yang bersihin luka kamu” ucap Citra memotong ucapan Adiba dan langsung menggendong cucunya dan mengambil begitu saja obat merah serta perban dari tangan Adiba.
__ADS_1
Adiba tersentak karena hal itu, mertuanya begitu kasar dengannya bahkan sebelum dia menjelaskan apa yang terjadi Citra sudah memotongnya.
Padahal ini semua kecelakaan, Rafka yang tak sengaja melindas batu kecil dan membuatnya oleng hingga terjatuh. Dia juga tadi memegangi anaknya saat bermain sepatu roda tapi rafka tidak mau katanya sudah bisa makanya dia lepas.
Adiba hanya melihat seduh mertuanya yang tengah membawa anaknya saat ini masuk kedalam rumah, hatinya sedikit sedih serta kecewa atas perlakuan mertuanya itu.
.............................................
Rendra baru saja pulang dari kantor, dia masuk kedalam kamar dan mendapati istrinya tengah berbaring membelakanginya saat ini.
“Tidur sayang? Ini mau sore loh. Nanti aja habis magrib kalau mau tidur” ucap Rendra sambil melangkah mendekati istrinya,.
Adiba yang mendengar itu langsung duduk menatap Rendra yang mendekatinya sambil membuka jas dan dasi. Adiba buru-buru berdiri saat ini mengambil alih jas suaminya dan juga dasi itu untuk ia taruh di pakaian kotor.
“aku nggak tidur kok,” jawab Adiba mengambil jas itu.
“Oh aku kira tadi kamu tidur, kamu kenapa lesu begini sakit?” ucap Rendra sambil memegang dahi sang istri.
“Nggak cuman capek aja” jawab Adiba sambil berjalan kearah ranjang cucian kotor.
Rendra berjalan menghampiri Adiba, dia langsung memeluk istrinya itu dari belakang.
“Aku kangen sama kamu” ucapnya memeluk erat sang istri.
“Baru sehari kangen mas, mulai gombal kamu” ucap Adiba memegang tangan suaminya yang melingkar di perutnya saat ini.
“Iyalah, kamu kan candu ku selalu bikin rindu ku tak tertahan” ucap rendra dengan puitisnya.
“Kamu habis ngapain kok capek,” tanya Rendra lagi menaruh kepalanya di ceruk leher sang istri menghirup aroma istrinya.
“Nggak ngapain sih, mungkin karena bawaan hamil” lirih Adiba dan melepaskan tangan Rendra dari perutnya.
“Udah sana kamu mandi dulu,” pinta Adiba pada sang suami.
Rendra menatap aneh Adiba yang berjalan kearah ruang ganti, perempuan itu tampak tak bersemangat saat ini dan ada sesuatu yang aneh.
“Ya udah aku mandi dulu ya sayang, Oh iya Rafka dimana?” seru Rendra sebelum masuk ke kamar mandi.
“Tadi dia di ajak keluar sama Mama” jawab Adiba dari dalam ruang pakaian.
“Oh, aku mandi dulu ya” tukas Rendra dan langsung berjalan kearah kamar mandi, sedangkan Adiba masih mengambilkan baju gantinya di ruangan khusus pakainya itu
__ADS_1
°°°
T.B.C