
Rendra tengah melihat laporan pekerjaannya, dia berdiri di depan jendela kaca yang memperlihatkan semua panorama kota. Sesekali dia memperhatikan dibawah, dia tampak memantau sesuatu dari atas situ.
Krek,.
Terdengar suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Rendra dari pintu tersebut, dia tampak terkejut saat melihat anak dan adiknya masuk kedalam ruangannya saat ini.
“Papa,” seru Rafka yang berjalan menghampiri sang Papa yang terlihat syok melihat dirinya.
“Loh, kamu disini sayang.” Rendra berjalan mendekati anaknya, terlebih dahulu menaruh laporan pekerjaannya di meja. ia langsung menggendong sang anak saat bocah itu menghambur kepelukannya.
“Om Emy yang ngajak aku kesini” tukas Rafka pada Papanya. Pandangan Rendra beralih menatap Jeremy yang hanya meringis saja saat kakaknya menatap dirinya.
“kenapa kamu ngajak Rafka kesini?” tanya pria itu dengan lugas pada sang adik.
“Ya kan aku habis jemput dia, males harus mulangin kerumah dulu. capek kak jalan kesini kesana” jawab Jeremy sambil berjalan ke arah sofa diruangan tersebut.
“Pa, laper” ucap Rafka pada Papanya.
“Anak papa laper? Mau makan apa sayang” ucap Rendra menggendong anaknya itu sambil berjalan kearah sofa menyusul Jeremy.
“terserah Papa”
“Aku mau burger kak, yang besar ya. Pizza juga yang spesial” timpal Jeremy merequest makanan yang dia inginkan sebelum ditanya.
“Aku nggak tanya kamu, aku tanya anakku” sungut Rendra pada adiknya.
“Aku juga mau burger pa sama kayak Om Emy” sahut Rafka.
“Tuhkan, udah selera kita tuh sama kak. Pesen aja apa yang aku mau, Rafka pasti mau juga. iya kan ponakan Tampan OM” ucap Jeremy.
“Rafka mau Burger? oke Papa pesankan dulu ya. Kamu turun dulu, duduk sama Om Jeremy” ucap Rendra sambil menurunkan
Setelah anaknya itu turun Rendra langsung berjalan ke meja kerjanya saat ini untuk menelpon salah satu stafnya untuk memesankan makanan yang anaknya dan adiknya inginkan.
...............................................
Adiba berjalan menghampiri asisten rumah tangganya yang baru, karena asitennya yang lama sudah tidak bisa bekerja lagi dengan alasan kesehatan. Jadi dia harus mengajari ARTnya yang baru itu soal pekerjaan rumah yang akan diemban.
Art barunya bukanlah orang yang masih muda tetapi orang yang sudah berumur, tentu saja dia tak mau mempekerjaan orang yang masih muda. Dia tak ingin kejadian yang ada di tv-tv terjadi pada rumah tangganya.
Tahu lah apa yang terjadi di sinetron-sinetron jaman sekarang, bukan sinetron saja tapi di kehidupan nyatapun kerap terjadi.
“Bi..” panggil Adiba saat melihat Bi Rahmi asisten barunya.
“Iya nyonya” jawab Bi Rahmi yang langsung berjalan mendekati majikannya tersebut.
“Bibi jangan canggung ya kalau disini, santai saja. Bibi juga bisa melakukan apa yang bibi mau. pokoknya anggap rumah sendiri saja bi” ucap Adiba pada asisten rumah tangganya tersebut.
__ADS_1
“iya nyonya, saya tidak canggung kok”
“Bibi kalau ada yang bingung atau apa tanyakan saja padaku. Nanti aku bisa bantu bibi atau tanyakan saja pada Bi Lastri” ucap Adiba lagi.
“Siap nyonya,” ucap Bi Rahmi ya sambil tersenyum. Dia orangnya memang murah senyum dan pandai bergaul ditambah majikan yang begitu welcome dia akan semakin ramah.
“Kalau begitu aku pamit pergi dulu bi, pinggangku rasanya pegel-pegel ingin dibaringkan” pamit Adiba pada Artnya tersebut.
“Oh iya bi, tolong nanti masakkan sayur asem, sama sambal juga ya. Dan goreng ayam juga jangan lupa soalnya tadi suami saya pesen dimasakin itu” ucap Adiba lagi sebelum berjalan pergi.
“Iya nyonya, nanti saya masakan itu” ucap Rahmi.
Adiba langsung berjalan pergi meninggalkan sang art, begitu juga Rahmi yang kembali ke dapur. Urusan dapur sekarang menjadi tugasnya sedangkan Lastri hanya bertugas mengurus Rafka dan segala keperluan bocah itu.
...............................................
Jeremy tengah menyetir mobil saat ini, dia melihat kearah kaca kecil yang ada di mobilnya melihat kebelakang dimana Rendra tengah bergurau ria dengan Rafka sedangkan dirinya di jadikan sopir pribadi mereka duduk sendiri di depan.
“Kakak bisa nggak sih duduk di depan, aku bukan supir kalian ya” protes pria itu pada kakaknya.
“Iya, aku tahu kamu bukan supirku. Sekali-kali lah jadi supir kakaknya.” sahut Rendra sambil menggelitiki anaknya pelan.
“Ngapain juga sih ikut pulang, pulang pakai mobil kakak sendiri kan bisa. Mobil lebih bagus juga masih iri sama mobilku” gerutu Jeremy terus terusan.
“Om Emy ngomel terus” ucap Rafka pada Omnya.
“OM bukan ngomel sayang” sangkal Jeremy pada ponakannya.
“Kamu tinggal fokus aja nyetir, tahu sendiri mobil kakak bannya bocor. Kamu mau pulang ya sekalian lah kaka nebeng. Protes saja” tukas Rendra yang jengah dengan adiknya tersebut.
Jeremy hanya diam saja, malas memperpanjang lagi soal itu.
“Bentar-bentar sayang, Mama kamu nelpon ini” ucap Rendra yang menyuruh anaknya untuk diam sebentar karena istrinya menelpon dirinya saat ini.
“Iya halo sayang ku, ada apa?” ucap Rendra saat mengangkat panggilan tersebut.
“Mas, Jeremy sama Rafka beneran ke kantor kamu. kok sampai sekarang belum pulang ya” tanya Adiba diseberang sana yang mencemaskan anaknya yang belum pulang bersama dengan Omnya.
“Iya, ini mereka sama aku. Ini kita baru mau pulang” ucap Rendra.
“Kamu juga mau pulang, tumben pulang agak siang” heran Adiba.
“Iya, tadi security laporan mobil aku bannya meletus. Jadi sekalian aja aku nebeng Jeremy pulang”
“Oh, kalau gitu boleh nitip nggak?”
“kamu mau nitip apa, apa sih yang nggak buat kamu” ucap Rendra diselingi gombalan manis.
__ADS_1
“Hueekk.” Goda Jeremy yang seakan-akan dibuat ingin muntah.
“Berisik lu” kesal Rendra.
“Kamu ngatain aku berisik mas, nggak mau aku titipin sesuatu” ucap Adiba yang mendengar ledekan Jeremy pada suaminya.
“Eits, bukan kamu sayang. Jeremy yang berisik, kamu mau titip apa. jangan marah dong” pungkas Rendra.
“aku pengen mie ayam mas, deket taman haruma. Mau beliin aku itu nggak?”
“Hah, itu jauh sayang. Putar balik dong”
“Yaudah deh kalau nggak mau mas, yang lain aja kalau gitu”
“Bukannya nggak mau tapi itu puter balik. Jauh juga dari tempat kita jalan sekarang”
“Ya udah terserah kamu aja mas, yang penting makanan ya” ucap Adiba
“Kamu nggak marah kan?” tanya Rendra, cemas kalau istrinya marah dnegannya saat ini.
“Nggak,”
“Serius,”
“Hemm,”
“Jawabnya kok cuman hemm, marah ya. Yaudah aku beliin ya, kamu jangan marah”
“Nggak usah mas, katanya jauh kasihan Jeremy, beli mi aceh aja yang deket komplek rumah” putus Adiba.
“Kamu serius? Anak kita nggak masalah ini ganti makanan?”
“Nggak”
“Yaudah nanti aku belikan mie ya, tunggu ya sayang.”
“Ya, aku matikan mas” ucap Adiba.
“Oke,” jawab Rendra dan langsung menaruh ponselnya kembali ke saku celana saat panggilan sudah di matikan sang istri.
“Bakal tidur diluar nih” tukas Jeremy yang tengah menyetir.
“Kata siapa, sok tahu” sungut Rendra.
Rafka yang mendengar itu hanya diam saja, dia fokus melihat ponsel sang Papa yang tidak ajdi dimasukkan saku celana karena ia minta duluan.
°°°
__ADS_1
T. B. C