
Tiga hari sebelum berangkat ke Paris, Adiba datang ke kantor suaminya untuk mengantarkan dokumen yang tertinggal di rumah. Tak sengaja saat di lift dia berpapasan dengan Gwen yang baru saja turun dari lantai atas dari mana lagi Gwen kalau bukan dari ruangan suaminya.
“Ada apa kau di kantor suamiku?” tukas Adiba sebelum masuk kedalm lift.
“Aku ada urusan tadi dengan Rendra, kau mau menemui Rendra ya?” tanya Gwn cukup lembut tanpa rasa salah.
“Ada perlu apa dirimu dengan suamiku, kenapa kau selalu berada didekat suamiku akhir-akhir ini”
“maaf Adiba aku tidak bisa mengatakannya” lirih Gwen. “Kalua begitu aku permisi dulu,” pamit Gwen dan akan pergi.
“Hei tunggu, jangan seenaknya kamu pergi begitu saja. kamu nggak mikir Rendra itu sudah punya istri, jadi kalau kau bicara dnegan Rendra aku juga harus tahu soal itu” Adiba menahan lengan Gwen yang akan pergi.
“Adiba sakit, aku rasa kau salah paham” rintih Gwen.
“kau bilang salah paham, aku selama ini diam bukan berarti aku bodoh Gwen. Kau maish suka dengan suamiku kan? kamu harusnya mikir Gwen jangan suka dengan suami orang kau sudah punya anakkan dan anakmu itu perempuan kau tidakt kalau dia mendapat karmanya nanti” kesal Adiba menatap nyalang Gwen sambil mencengkram lengan perempuan itu.
“Dib, Diba, kamu salah paham aku sama Rendra nggak ada hubungan apa-apa. kita hanya sebatas sahabat tidak lebih” Gwen berusaha menjelaskan pada Adiba.
“Sahabat, aku bukan perempuan bodoh Gwen. Aku pernah melihatmu memeluk suamiku dan aku diam saja soal itu jangan pikir aku lemah dan tidka berani bicara. Aku peringatkan padamu jangan dekati suamiku lagi, pergi dari sini” kesal Adiba dan langsung mendorong Gwen yang tampak terkejut dan tak menyangka Adiba bisa sekasar itu.
“Dib, tolong dengarkan aku dulu. aku jelaskan, aku ti..”
“Aku tidak butuh penjelasan perempuan pelakor sepertimu, “ sinis Adiba dan langsung masuk kedalam lift menutup pintu lift itu saat Gwen akan mengejarnya untuk bicara lagi.
........................................
Adiba membuka keras pintu ruangan Rendra, dia benar-benar marah dnegan suaminya yang tega sekali padanya saat ini.
Rendra yang sedang ada Hadi direktur di perusahaannya langsung terkejut saat melihat pintu ruangan terbuka dengan cukup keras.
“Maaf pak Hadi saya mengganggu pertemuan anda dengan suami saya” ucap Adiba menatap Hadi merasa bersalah tapi dia membuang rasa bersalah itu saat melihat Rendra. Ia menatap marah sang suami.
Rendra yang melihat Adiba tapak emosi merasa bingung kenapa istrinya bersikap begitu saat ini datang-datang langsung terlihat marah begitu.
“Pak Rendra kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Hadi yang melihat suasana di ruangan saat ini seperti tidak enak.
“Iya silahkan, nanti kita bicara lagi” pungkas Rendra dan langsung berdiri, sedangkan Adiba tersenyum sekilas pada Hadi yang melewati dirinya dan perempuan itu langsung menuju meja kerja Rendra membanting berkas yang dia bawa di meja kerja itu saat pintu ruangan sang suami sudah tertutup.
__ADS_1
“Kamu apa-apaan sih sayang, masuk tuh ketuk pintu dulu” pungkas Rendra menasehati sang istri.
Adiba hanya diam smabil bersandar di meja kerja Rendra mencoba mengontrol emosinya sendiri
“Kamu kenapa? Kenapa kayak marah begitu. Siapa yang buat kamu marah?” ucap Rendra yang sudah berada disebelah istrinya dan hendak mengelus bahu sang istri.
“Kamu yang buat aku marah mas” mata Adiba menatap nyalang Rendra.
“Aku? aku kenapa?”
“Nggak usah pura-pura bodoh deh mas. Kamu keterlaluan ya, kalau niat selingkuh dari aku nggak usahlah sembunyi-sembunyi tinggal bilang bisa kan”
“kamu ngomong apa sih, aku nggak ngerti. Kamu ngomong kasar begitu sama suami,” Rendra tampak terkejut dengan ucapan Adiba barusan.
“Aku ngomong sesuai kenyataan kok mas, kamu nggak usah pura-pura nggak tahu. kamu kalau masih suka sama Gwen yaudah ceraikan aku mas”
“Gwen? Cerai? kamu ngomong apa sih. Kenapa bahas cerai segala,” rendra mencoba membuat Adiba agar menatap kearahnya.
“Nggak usah pura-pura deh mas, kamu sama Gwen selingkuh kan. kamu selingkuhin aku sama dia kan? aku nggak bisa mas kalau kamus elingkuhin mending kamu ceraikan aja”
“Gimana aku nggak abwa-bawa dia dalam masalah ini mas, aku tanya sama kamu jujur pokoknya. Kamu ada hubungan apa sama dia”
“Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia” tegas Rendra.
“Bohong, aku nggak percaya sama kamu. aku lihat dnegan mata kepalaku sendiri kamu pelukan sama dia dirumah kita mas, sekarang dia ke kantor kamu. mau ngapain?”
Rendra meneguk salivanya saat Adiba membahas dia memeluk Gwen saat dirumah mereka, bukan memeluk tapi dia yang di peluk saat itu.
“Sayang aku bisa jelasin soal itu”
“Sudahlah mas, aku males dneger penejlasan kamu. kamu selalu aja nutupin semua hal dan akhirnya kasih penjelasan tapi kamu selalu ngulangi terus masalah yang sama mas. Bisa nggak sih kamu jujur sama istri, aku capek kalau kayak gini mas. Kalau kamu memang ada hubungan sama Gwen, aku rela kok lepas kamu” tak terasa Adiba menitikan air mata saat mengatakan itu.
“Sayang, sayang aku minta maaf itu salah paham. Gwen datang karena dia minta..”
“Udah mas cukup, aku lagi males denger penjelasan kamu. itu dokumen yang kamu minta tadi. Aku pulang anak-anak nunggu aku dirumah” Adiba memotong ucapan Rendra, dia menghapus air matanya dan akan pergi tetapi Rendra menahan tangannya.
“Kamu mau kemana? Dengerin aku ngomong dulu. aku jelasin semuanya soal masalah itu dan soal Gwen yang kesini tadi” tukas Rendra menatap mata Aidba.
__ADS_1
“Terserah mas, aku nggak perduli, lepas..” ucap Adiba dan meminta Rendra melepaskan tangannya.
“Nggak,” tegas Rendra.
“Mas aku bilang lepas” tukas Adiba dengan cukup keras.
“Aku bilang nggak ya nggak” ucapnya menahan Adiba agar tidak pergi, Adiba langsung memberontak agar dilepaskan oleh sang suami.
“Aku nggak bakal lepasin kamu sebelum kamu denger penjelasan dariku” Rendra mendekap sang istri yang berusaha memberotak pergi.
“lepas mas, aku bilang lepas. Aku males denger penjelasan kamu lagi” lirih Adiba memohon untuk dilepaskan.
Rendra masih kukuh tak mau melepaskan sang istri.
“Nggak, kamu dengerin aku dulu baru aku lepasin.
Saat rendra mendekap istrinya dan menaruh kepalanya di bahu sang sitri pintu ruangannya ada yang mengetuk saat ini. Adiba yang tadi menangis langsung menghapus air matanya.
“Ya,.” Jawab Rendra masih mendekap Adiba.
“Pak ada clien dari Bromo Resort ingin bertemu anda?” ucap suara dari luar ruangan.
“Iya suruh tunggu sebentar”
“Sayang kamu di ruangan pribadi dulu, tunggu aku disitu. nanti aku jelaskan semuanya, aku mohon sama kamu percaya sama aku” ucap Rendra menatap Adiba yang malas untuk menatapnya.
“Udah dong jangan nangis,” ucap Rendra smabil mengusap wajah Adiba
Adiba menghempas tangan Rendra dan langsung pergi tak menuruti ucapan sang suami.
“Sayang, sayang jangan begini dong. Aku jelasin semuanya tapi nanti, aku aku ada client sebentar” ucap Rendra menahan tangan Adiba.
“Minggir mas, aku mau pulang” ucap Adiba melepaskan tangan Rendra dan langsung membuka pintu otomatis sekertaris Rendra melihat itu begitu juga Client yang menunggunya di luar. Adiba menunduk sekilas untuk menyapa orang-orang itu sedangkan Rendra terdiam di tempatnya dia menatap nanar istrinya yang pergi begitu saja. ia ingin meluapkan emosinya tapi tak mungkin di depan orang-orang.
°°°
T.B.C
__ADS_1