
Jeremy datang ke kantor Rendra saat ini, untung saja dia tidak ada jadwal kuliah kalau ada sudah marah-marah lebih dulu bocah itu pada kakaknya. saat ini saja dia berjalan sambil menggerutu bahkan orang-orang yang menyapanya saja tidak ia gubris sama sekali. Niatnya tadi ingin pergi bersama dengan gebetannya malah gagal karena Rendra menyuruhnya untuk segera datang ke kantor saat ini.
Dia membuka pintu ruangan kakaknya dnegan kesal dan langsung melihat dua orang yang ada di dalam ruangan saat ini. begitu juga sebaliknya dua orang tersebut juga melihat kearahnya.
“cepat juga kau datangnya?” ucap Rendra saat melihat adiknya tersebut.
“Kalau gue nggak datang awal lo asti ngomel” ketus Jeremy pada sang kakak, dia langsung berjalan kearah sofa yang tidak jauh dari tempat duduk kakak iparnya tersebut.
“Mau makan atau mau minum?’ tanya Rendra yang berdiri dari duduknya saat ini.
Jeremy mengernyitkan dahinya menatap sang kakak heran, tak biasanya pria itu bersikap begini padanya.
“Tumben sekali, kenapa dia?” batin Jeremy melihat kakaknya.
“kenapa melihatku begitu?’ tanya Rendra sambil berjalan mendekat saat ini.
“Kakak ipar, kakakku kau kasih apa? kenapa di begini” ucap Jeremy pada Adiba, dia mengabaikan pertanyaan kakaknya dan lebih memilih berbicara pada perempuan yang menjadi kakak iparnya tersebut.
“ti..tidak aku kasih apa-apa, aku juga tidak tahu kenapa kakakmu begitu” jawab Adiba.
“Sudahlah kau tidak usah banyak tanya, aku ingin minta tolong padamu” ucap Rendra yang sudah duduk di sofa yang sama dengan Jeremy.
“Emmh pantes, ada maunya. Minta tolong apa? jangan bilang suruh ngasuh anak kalian” tebak Jeremy yang sudah memikirkan hal aneh apabila dia memang disuruh mengasuh keponakannya tersebut.
“Nggak, aku minta tolong hal lain”
“Ren, misalnya kalau kamu minta tolong Jeremy soal Rafka mendingan nggak usah. Dia banyak tugas kuliah pasti” sahut Adiba.
“Tugas kuliah darimana, dia sudah selesai sayang. Dia tinggal wisuda saja, dia cuman banyak drama aja” pungkas Rendra sambil melihat kearah istrinya.
“banyak drama bagaimana, aku seriusan banyak tugas kuliah. Karena menggantikan mu di perusahaan, bayangkan lima tahun aku disini. masa mudaku hilang karena dirimu yang nggak jelas” tukas Jeremy yang kesal dengan kakaknya tersebut.
“Ya jangan salah kan aku tidak pernah kembali, salahkan papamu yang menyembunyikan kakak ipar mu”
“Sudahlah kalian, kenapa jadi debat. aku jadi tidak konsen karena kalian” ucap Adiba yang merasa terganggu dengan perdebatan kakak adik tersebut.
“Tuh dengar kaka ipar ke ganggu, mau minta tolong apa sih kak. Aku sibuk” pungkas Jeremy.
__ADS_1
“Oke, aku minta tolong hubungi temanmu yang punya dekor acara-acara penting. Tolong minta dia mendekor area kolam renang kita, dengan teman anak-anak. Dan beri spot-spot untuk bermain anak” perintah Rendra pada Jeremy.
“kenapa tema anak, ini mau ngapain” heran Jeremy.
“Rendra jangan bilang kamu buat kejutan untuk Rafka?” tanya Adiba pada sang suami.
“Iya, aku merasa bersalah selama ini tidak ada saat Rafka ulang tahun. Aku juga menyesal karena aku tidak tahu soal ulang tahunnya tadi”
“Ya udah nanti aku hubungi temanku” ucap Jeremy pada akhirnya, dia merasa kasihan dnegan kakaknya yang terlalu banyak melewatkan waktu bersama dengan anak kandungnya sendiri.
“kapan acaranya?” lanjut Jeremy.
“besok, tapi mulai mendekor nya nanti malam saja. Kalau siang ini, Rafka pasti tahu kalau aku membuat untuknya. Jadi nanti malam kau suruh temanmu untuk mulai saat Rafka sudah tidur” pinta Rendra pada adiknya.
“Oke, tapi nggak gratis ini” ucap Jeremy.
“ya, minta apa?” ucap Rendra tidak masalah jika harus memberikan sesuatu pada adiknya itu.
“aku minta uang jajanku dua kali lipat darimu bagaimana?”
“jangan bercanda Jer, kau sudah dapat banyak dariku dan dari Papa. masa mau tambah lagi, yang lain” tolak Rendra.
“kakak ipar, sorry. Aku nggak bisa bantu buat kejutan untuk Rafka” tambah Jeremy yangs udah berdiri dan melihat kearah Adiba.
“Asli punya adik sepertimu menyebalkan ngerti nggak, ya udah aku tambah. Tapi tugasmu harus benar,. Tambah satu lagi juga tugasmu” pungkas Rendra pada adiknya.
“Apa?”
“Carikan berbagai macam kado yang bagus-bagus untuk Rafka. Awas kalau kau menolak, aku tidak akan memberimu tambahan uang”
“Oke, siap bos. Aku pergi dulu kalau begitu, ada yang lain tidak?” ucap Jeremy sebelum pergi.
“Tidak ada”
“Oke baiklah, aku pergi, Daa kakak ipaar” tukas Jeremy sambil melambaikan tangannya pada sang Adiba yang hanya tersenyum kecil melihat kepergian adik iparnya tersebut.
“Seharusnya, kamu tidak suah merepotkan adikmu.” Ucap Adiba pada Rendra.
__ADS_1
“Tidak apa, dianya juga kalau ada imbalan mau, sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan yang penting nanti Rafka senang dengan kejutan yang kita buat.” Ucap Rendra sambil berdiri dan akan kembali ke meja kerjanya lagi.
.............................................
“eh cucu Opa sudah pulang. Sini opa cium” ucap Frans saat melihat cucunya yang berjalan masuk dengan asisten rumah tangganya.
Bocah yang akan menginjak umur enam tahun itu tampak cemberut tak bersemangat menghampiri Opanya.
“Cucu Opa kenapa? Kenapa cemberut begini?” tanya Frans yang menyadari cucunya yang tampak murung.
“Nggak pa-pa Opa,” jawab bocah itu.
“Teman kamu ada yang nakal sama kamu? kalau ada yang nakal bilang sama Opa” pungkas Frans yang masih tak percaya.
“Nggak, kok teman aku disekolah yang baru baik-baik. Orang tuanya juga,” pungkas Rafka.
“terus kenapa cucu opa yang ganteng ini begini?” tanya Frans.
“Opa tahu besok hari apa?”
“besok? Besok hari Rabu sayang kenapa?”
“nggak, aku ke kamar dulu kalau begitu.” Tukas bocah itu yang semakin murung karena tidak ada yang ingat kapan dia ulang tahun.
Biasanya kalau di rumah Opa Alif nya sehari sebelumnya Omanya sudah memasak makanan untuk besok ia bawa ke sekolah dan dibagi-bagikan pada orang sebagai hari peringatan kelahirannya. Sedangkan di rumah ini bahkan sehari menjelang ulang tahunnya tidak ada yang ingat sama sekali.
Dia sedari tadi bertanya pada orang-orang tidak ada yang tahu besok hari apa, Papanya juga tidak tahu kalau Mamanya dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Mamanya dulu juga begitu karena begitu sibuknya mencari uang untuk dirinya.
Frans yang melihat Rafka berjalan dengan begitu tak bersemangat membuat dirinya heran dan dia langsung melebarkan matanya saat ia mengingat sesuatu.
“Astaga besok tanggal 20, ulang tahun Rafka. Pantas dia begitu, Alfi dulu sering bilang padaku soal sehari sebelumnya pasti keluarganya memiliki acara untuk menyambut ulang tahun Rafka”
“Rendra tahu atau tidak ini” ucapnya lagi.
Frans langsung berjalan cepat kearah ruang kerjanya untuk mengambil ponselnya sekarang dia harus menghubungi Rendra siapa tahu bocah itu belum tahu soal ini.
°°°
__ADS_1
T.B.C
P.S: Maaf ya reader semua, ini aturan up tadi malem. tapi karena author kemaleman jadinya author up pagi ini.