
Adiba bangun lebih dulu dari Rendra, dia melihat sekilas kearah suaminya yang masih tidur saat ini. Dan dia juga melihat anaknya yang tidur di anatar mereka berdua, Rafka memang semalam tidur bersama mereka, bocah itu ingin dipeluk kedua orang tuanya.
“Sayang bangun nak, udah pagi. Rafka sekolahkan hari ini?” Adiba mencoba membangunkan sang anak yang tidur di sebelahnya.
“Enggh,..” Rafka hanya menggeliat kearah Papanya yang masih tidur disebelahnya.
“Nak, bangun nanti terlambat loh” ucap Adiba yang berusaha membangunkan anaknya.
“Kenapa sih?” Rendra membuka matanya sambil menghadap kearah Adiba yang duduk,
“Aku mau bangunin Rafka buat sekolah, nanti dia terlambat” jawab Adiba masih berusaha membangunkan putranya.
Rafka bukannya bangun malah memeluk sang papa saat ini, Rendra menerima pelukan putranya itu.
“Udahlah biarin dulu dia tidur, masih pagi juga ini” ucap Rendra memeluk putranya erat dan dia perlahan mulai memejamkan matanya.
“Ya justru ini masih pagi dia harus bangun buat mandi, nanti kan enak. Kamu jangan ngajari bangun siang dong, ayolah kamu juga bangun biar Rafka ikut bangun” tutur Adiba meminta suaminya untuk bangun..
“bentar lagi ya sayang, aku masih ngantuk” ucap rendra yang tidak melihat kearah istrinya yang tampak capek sendiri meminta ayah dan anak itu untuk sekedar bangun pagi.
“Ya udah kalau kamu nggak mau bangun, jangan salahin aku kalau nggak nyediain semua buat kamu. kamu juga Rafka, dengar mama ngomong nggak, kalau kamu nggak mau nurut sama Mama ya udah mama nggak mau urus kamu lagi” ancam Adiba pada keduanya dan dia melangkah kan kaki turun dari tempat tidur.
Saat Adiba sudah melangkah pergi, Rendra mengendurkan pelukannya pada sang anak. Dia melihat anaknya yang juga membuka matanya saat ini. Mereka berdua saling lihat satu sama lain.
“mama kamu marah kak” ucap Rendra pada anaknya.
“Iya Mama marah pa, terus gimana?” ucap Rafka polos.
“Ya udah kita bangun yuk, nanti mama kamu malah lebih marah papa yang nggak dapat jatah” ucap Rendra langsung bangun.
“Jatah, jatah apa Pa?” tanya bocah itu sambil mengedipkan matanya.
“Nggak, Papa asal ngomong kok, ya udah kamu ke kamar kamu aja kak. Buruan mandi, dan siap-siap buat ke sekolah” pinta Rendra.
“Aku mau mandi sama Papa aja, boleh kan”
“Mau mandi sama Papa? Boleh dong anak Papa. Ayo,” ucap Rendra sambil bangkit dari tempat tidur menggendong anaknya.
__ADS_1
Sedangkan Adiba sudah keluar dari kamar dari tadi karena kesal dengan anak dan suaminya yang dia minta bangun tapi tak kunjung bangun.
“Papa tahu nggak ulang tahun aku kapan?” tanya Rafka saat di gendong oleh Papanya tersebut.
Rendra langsung menghentikan langkahnya dan melihat sang anak di gendongannya., dia menggeleng lemah merasa bersalah soal ketidak tahuannya.
“Nggak sayang, Papa minta maaf ya Papa nggak tahu. memang ulang tahu kamu kapan?” Rendra begitu merasa menyesal dan ia merasa begitu bersalah dengan putranya yang tampak sedih saat ini.
“Aku nggak jadi mandi sama Papa, aku mandi sendiri aja” Rafka langsung minta diturunkan dari gendongan sang Papa.
“Kok gitu sih kak, katanya mau mandi sama Papa. Ayo mandi,” ucap rendra yang heran dengan sikap anaknya tersebut.
“Nggak ah,” jawab Rafka dan turun dari gendongan Rendra.
“Aku mau ke kamarku pa” ucap Rafka pamit pergi, dia langsung berlari kearah pintu meninggalkan Rendra yang merasa bersalah karena dia tidak tahu kapan Rafka ulang tahun. Adiba belum memberitahunya sama sekali soal kapan ulah tahun anak mereka.
Dengan langkah berat Rendra masuk kedalam kamar, dia mandi dulu baru bicara dengan Adiba soal kapan ulang tahun Rafka.
.......................................................
“Ayo sayang, sudah bereskan. Kamu mau ke sekolah diantar Mama sama Papa atau dianter Om Jeremy?” ucap Adiba pada Rafka yang selesai memakai sepatunya sendiri.
“aku berangkat sama Om Emy aja, Papa sama Mama berangkat kerja aja.” Pungkas bocah itu tak berekspresi. Bocah itu tampak murung tak seperti biasanya.
“Tumben kamu nggak mau dianter mama”
“Nggak pa-pa” ucap Rafka sambil menerima tas yang diberikan mamanya.
Adiba merasa ada yang aneh dengan putranya itu tapi apa, perasaan pagi tadi saat bangun tidur Rafka biasa saja tidak marah. Atau jangan-jangan karena dia duluan tadi yang marah.
“Mama ayo turun” ucap Rafka sambil menyenggol lengan sang Mama, membuat Adiba langsung tersadar dari lamunannya.
“Ayo,” ucapnya kemudian.
Adiba dan juga Rafka langsung berjalan keluar kamar saat ini, Adiba masih memikirkan soal sikap Rafka yang berbeda apa jangan-jangan Rafka marah pada Rendra jadi dia juga yang kena imbasnya sekarang.
.....................................................
__ADS_1
“bentar sayang,” ucap rendra menahan tangan Adiba yang akan masuk ke dalam mobil saat ini.
Adiba langsung menoleh melihat kearah Rendra yang menahan tangannya,
“Ada apa?” tanyanya pada sang suami.
“Rafka marah sama aku gara-gara kamu” tukas Rendra langsung menyalahkan istrinya.
Sontak Adiba yang mendengar itu tampak bingung, seperti dugaannya tadi rafka marah pada Rendra dan dia juga ikut kena imbasnya.
“Kok gara-gara aku, justru aku yang mau nyalahin kamu. gara-gara Rafka marah sama kamu, dia marah juga sama aku. kamu apain dia?” Adiba merasa tak terima dengan ucapan Rendra barusan.
“Aku nggak ngapa-ngapain”
“Lah terus kenapa dia marah juga sama aku kalau kamu nggak ngapai-ngapain dia. bahkan dia malah milih berangkat sekolah sama adik kamu”
“Ya itu saah kamu lah, kalau kamu bilang kapan Rafka lahir nggak mungkin aku nggak tahu ulang tahun anakku. Dia tadi tanya aku tahu ulang tahunnya nggak”
“kenapa dia tanya kapan ulang tahunya sama kamu? oh, iya pantes dia tanya begitu sama kamu. Besok dia ulang tahun, aku lupa” ucap Adiba melebarkan matanya, dia langsung melihat kearah Rendra yang sama terkejutnya.
“Kamu bagaimana sih ulang tahun anak sendiri lupa” tukas rendra yang kesal.
“Ya aku lupa, nggak ada yang ngingetin. Biasanya bunda yang selalu bilang sehari sebelumnya soal ulang tahun Rafka”
“Pantes tadi dia agak marah sama aku,” pungkas Adiba merasa bersalah,
“Kok bunda kamu yang ngingetin soal ulang tahun Rafka, kamu nggak pernah ingat sama ulang tahunya”
“Aku sering lupa, kerjaan ku dulu banyak waktu pun aku jarang, bunda yang sering ngurus semuanya”
Rendra hanya bisa diam mendengar hal itu, dia sebenarnya ingin marah soal Adiba yang lupa dengan ulang tahun anak mereka.
“udahlah, ayo masuk, nanti kita terlambat” ucap Rendra pada Adiba dan dia berjalan dulu masuk kedalam mobil.
Adiba merasa bersalah dengan apa yang terjadi, karena dirinya yang sibuk sampai lupa ulang tahun Rafka.
°°°
__ADS_1
T.B.C