
Tama sudah bersiap untuk tidur, karena malam sudah larut, dia habis menelpon Adiba tadi. Ia memang sengaja menelponnya malah hari karena di Indonesia sudah pagi.
Besok dia akan ke berangkat ke Indonesia bersama dengan Pram dan juga Ana, jadi dia harus tidur cukup untuk perjalanannya besok.
Tapi baru saja dia akan tidur ponselnya yang dia taruh di nakas meja berbunyi dengan begitu nyaring saat ini membuat dia langsung melihat kearah ponselnya tersebut.
Dia melihat nama Evan yang tertera di layar ponselnya itu, tak butuh waktu lama dia langsung mengangkat panggilan dari temannya tersebut.
“Halo Van, bagaimana?”
“Aku sudah menemukan identitas perempuan yang sering menelpon mu” ucap Evan dari seberang sana.
“Serius, lalu siapa orangnya?”
“Perempuan muda yang baru berumur 22 tahun, namanya Kania Emely Sivan . Dia sempat tinggal di LA Saat sekolah dulu dan sempat kuliah di USA dan dia lulus lebih awal sekarang bekerja di anak perusahaan Dewangga, GALIEL Corporete” jelas Evan mengungkapkan hasil penyelidikannya tersebut pada Tama.
“Kania? Kania siapa? Aku tidak kenal dengan perempuan itu”
“Masa kau tidak kenal, tidak mungkin kalau kau tidak kenal tapi dia menghubungimu”
“Aku se..tunggu kau blang tadi siapa namanya Kania siapa?” ucap Tama menggantung dan kembali bertanya saat dia ingat sesuatu.
“Kania Emely Sivan, kau kenal dengannya?”
“Ternyata dia, bocah itu” gumam Tama saat mengingat siapa Kania itu. Kania adalah bocah enam belas tahun yang sering mengikutinya dulu sekitar enam tahun lalu saat dia kuliah di LA dan tanpa sengaja mereka bertetangga mansion.
“Kau kenal?”
“mantan tetanggaku dulu saat aku Di LA” jawab Tama lirih.
“Dia suka denganmu sepertinya,” ucap Evan.
“Ya sudah terimakasih atas informasinya, aku tutup dulu. aku harus istirahat” ucap Tama mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin membahas soal itu.
Panggilan langsung terputus saat Evan mengiyakan dan mematikan panggilannya, Tama kembali menaruh ponsel di tempatnya dan dia menyandarkan tubuhnya.
Dia teringat pada sosok Kania saat masih remaja, dimana bocah itu terus mengikutinya dulu kemanapun dia pergi. Saat itu umurnya dua puluh dua tahun jalan dua puluh tiga.
Kania sendiri masih berumur enam belas tahun dan bocah itu terang-terangan suka dengannya dan membuatnya sedikit risih karena merasa tidak enak sendiri saat dia selalu mengikuti dirinya pergi. Tapi itu juga salahnya yang awalnya terlalu baik dengannya dan mengajaknya kemanapun.
Padahal dulu dia menganggap bocah itu sebagai adiknya saja, tapi bocah remaja itu menganggap lebih membuat dirinya merasa bersalah sendiri. karena hal itu juga yang mendasari dia untuk meminta pindah kampus dan juga mansion keluarga yang ia tempati di sana.
“kenapa dia masih mengejar ku” gumam Tama sambil memijat pelipisnya, dia tampak pusing sendiri. masalah Pram belum selesai sekarang malah muncul Kania semakin membuatnya banyak pikiran saja.
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan” ucapnya lagi dan langsung merebahkan dirinya.
.......................................
“Mama, Mama kenapa diam ayo turun ma. Aku pengen lihat-lihat Villanya” ucap Rafka membuyarkan lamunan Adiba yang masih diam duduk di dalam mobil.
Rendra yang membuka seat beltnya langsung menatap sang istri saat mendengar anaknya memanggil Adiba.
“kenapa sayang ayo turun” ucap Rendra pada Adiba.
“Iya ma, ayo turun: sahut Rafka.
“Ini Villanya” lirih Adiba
__ADS_1
“Iya ini Villanya kenapa?”
Adiba hanya diam melihat Vila mewah didepannya, dia teringat dulu dimana dia langsung berlari sambil menangis keluar dari Vila itu karena Rendra yang melecehkan dirinya untuk kedua kalinya saat dia tidur. Entah kenapa bayangan itu muncul kembali, apakah dia masih trauma tapi kan dia sudah menerima Rendra dan sudah menjadi sepasang suami istri tapi kenapa bayangan itu masih ada di kepalanya.
“Sayang,” ucap rendra memegang bahu Adiba membuat perempuan itu tersadar lagi dari lamunannya yang kesekian kali.
“Iya,.” Lirihnya.
“Kamu kenapa sih cerita sama aku, kamu sakit?”
“mama sakit, apa yang sakit ma?” tanya Rafka yang terlihat khawatir dengan kondisi mamanya
“Nggak kok sayang, mama nggak sakit” ucap Adiba memegang wajah putranya.
“terus kamu kenapa?” tanya Rendra.
“Nggak tahu, aku..aku tiba-tiba inget dulu”
“Dulu? dulu ke..” mata Rendra langsung melebar dia juga ingat dimana dulu dia melakukan hal bejat pada Adiba untuk kedua kalinya di Vila ini.
“Aku minta maaf ya sayang, kamu ngerasa nggak nyama disini. kalau nggak kita ke hotel aja gimana?” ucap Rendra sambil mengusap lembut wajah istrinya.
“Nggak pa-pa kok, kita disini aja. Aku..aku nggak pa-pa,”
“Kamu serius?”
“Iya aku serius mas, ayo kita turun kasihan rafka dia bingung tuh udah nggak sabar juga mau turun” ucap Adiba berusaha tersenyum dan menghapus ingatannya soal itu.
“Anak Papa nunggu lama ya, maaf ya nak” ucap Rendra pada anaknya.
“Nggak masalah Papa, ayo Pa Ma turun. Aku mau lihat-lihat kata Opa disini ada kelinci ayo turun” ucap rendra sudah tidak sabar untuk melihat sekeliling Vila apalagi kata Opanya di Vila ini ada kelinci dan juga ada tempat berkuda. Dia tidak sabar ingin melihat itu.
“Sayang kamu turun duluan ya?” pinta Rendi pada Adiba
“Iya siap mas” jawab Adiba dan langsung membuka pintunya bersamaan dengan Rendra juga yang langsung berjalan ke pintu belakang membukakan pintu untuk putra tersayangnya.
“Ayo anak Papa” ucap Rendra menggendong anaknya menurunkannya dari mobil.
“Makasih Papa”
“Sama-sama anak Papa” senyum Rendra saat anaknya mengucapkan terimakasih. Dia bangga dengan Adiba karena selama ini dia mengajari putranya sopan santun.
“kamu sama Mama dulu ya,” ucapnya pada anaknya.
“sini sayang sama Mama” ucap Adiba meminta anaknya mendekat kearahnya.
Rafka langsung berjalan mendekati Mamanya dan rendra langsung mengambil dua ransel yang ada di kursi paling belakang.
“Ayo masuk,” ucap Rendra yang sudah selesai menutup pintu dan menggendong dua Ransel.
Adiba berjalan menuntun anaknya yang ada didepannya saat ini sedangkan Rendra berjalan di sebelahnya.
“Papa nanti lihat kuda ya pa, aku pengen lihat kuda” ucap Rafka.
“Oke sayang, Papa taruh di ransel kita di kamar dulu ya” ucap rendra.
“Asikk” senang Rendra, Adiba melihat itu ikut bahagia karena anaknya merasa bahagia. Dia melihat kearah Rendra yang juga ikut tersenyum.
__ADS_1
..................................................
“Papa keren,” ucap Rafka melihat sekilas Papanya yang sedang menunggangi kuda saat ini. dia sendiri saat ini sama dengan Rendra menunggangi Kuda dia duduk didepan Rendra.
“Anak Papa juga keren karena mau nemenin Papa naik kuda” ucap Rendra berbicara pada anaknya.
“Rafka mau belajar kuda juga nggak?” lanjut Rendra pada anaknya.
“Mau pa, Papa mau ngajari Rafka”
“Mau dong, masa anaknya mau belajar kuda Papanya nggak mau ngajari” jawab Rendra dan dia kembali fokus menunggangi kuda berkeliling di area berkuda itu. dia tersenyum melihat kearah Adiba yang tersenyum melambaikan tangan kearahnya.
Adiba berdiri di pinggir are berkuda melihat mereka berdua yang tengah berada di atas kuda saat ini. Tadi Rendra sempat mengajak Adiba menaiki kuda tapi perempuan itu menolak karena dia ingin rafka saja yang menaiki Kuda saat ini.
“Mama kasihan sendirian di pinggir Pa” ucap Rafka.
“Nggak kok Mama kamu nggak sendirian itu ada Mbok Wati disitu” ucap Rendra.
“hehehe iya juga ya”
“Rafka masih mau muter lagi nggak?”
“Nggak deh pa, Papa sama Mama aja yang naik kuda aku nonton aja di pinggir”
“Mama kamu nggak mau,”
“Huh, Mama penakut” sungut Rafka.
“Hahaha nggak boleh gitu” tawa Rendra gemas dengan anaknya yang mengatakan Adiba penakut.
Rendra langsung menghentikan langkah kudanya, saat seorang pelatih membantu mereka. Ia langsung mengangkat rendra dengan dibantu pelatih kuda itu dan dia langsung turun juga dari kuda saat anaknya sudah turun lebih dulu.
“Ayo sayang kita ke Mama” ucap Rendra sambil menggenggam tangan anaknya.
“Ayo Pa,”
“Papa, papa kapan aku punya adik. Aku pengen punya teman main di rumah, aku nggak ada teman” ucap Rafka tiba-tiba.
Rendra langsung menghentikan langkahnya melihat sang anak,
“Kamu pengen punya adik ya?”
“Iya, aku pengen ada teman Pa. Di rumah aku mainan sendiri, Oma pasti sibuk main ponsel Opa kerja Mama sama Papa juga kerja” ucap Rafka terlihat murung jika mengingat dia selalu sendiri di rumah.
Melihat itu membuat Rendra merasa kasihan dnegan anaknya, ternyata bocah itu benar-benar kesepian di rumah.
“Doain aja ya Mama hamil, nanti kan Rafka punya adik” ucap Rendra.
“Siap Papa”
“Apa aku suruh Adiba berhenti kerja aja ya, biar Rafka ada teman di rumah. dan agar dia tidak capek supaya cepat hamil” batin Rendra.
“Papa ayok Mama sudah manggil kita itu” ucap Rafka sambil menarik tangan Papanya.
“Iya sayang” jawab Rendra saat tersadar dari lamunannya, mereka segera berjalan menghampiri Adiba yang sudah menunggu mereka berdua.
°°°
__ADS_1
T.B.C