
“Ini rumahnya?” tanya Adiba yang masih berada didalam mobi, mobil yang dikendarai Rendra memang sudah berhenti disebuah rumah yang cukup besar tak kalah dari rumah orang tuanya. Tapi jika dibandingkan masih besar rumah Frans daripada rumah baru mereka saat ini.
“Iya ini rumahnya, ini rumah kita sekarang sayang. Rumah dimana kita akan membesarkan anak-anak kita nantinya” ucap Rendra sambil menggenggam tangan Adiba.
Adiba tersenyum kecil, dia sedikit terharu dnegan apa yang dilakukan Rendra sekarang.
“Ayo kita turun sayang,” ajak Rendra dan dia langsung menoleh kebelakang dimana anaknya yang tidur saat ini mulai terbangun.
“mama, Papa ini dimana?” tanya Rafka yang mulai mengerjapkan matanya.
“Ini rumah kita sayang, ayo bangun anak Papa” tukas Rendra meminta anaknya itu untuk bangun.
“Bangun sayang, ayo turun” ucap Adiba.
Rendra dan Adiba langsung turun dari dalam mobil saat ini, begitu juga Rafka yang mulai membuka pintu mobilnya. Di luar sang Papa sudah menunggu dirinya, Rendra langsung menggendong sang anak yang sedikit mengantuk.
“Ini serius rumah kita pa, tapi rumah kita kan di rumah Opa Frans” ucap Bocah itu menatap sang Papa yang tengah menggendongnya.
“Sekarang rumah kita disini, bukan di rumah Opa. Rafka senang kan kita punya rumah sendiri?” ucap Rendra.
“Serius Pa ma, yeyy kita punya rumah baru” ucap bocah itu saat melihat Mamanya yang mengangguk mengiyakan.
“rafka senang kan, kita rumah baru” tanya Adiba pada sang anak.
“Senang ma,”
“Ayo masuk, nanti kakak lebih senang lagi kalau lihat kamarnya. Papa sudah buatin kamar yang bagus buat kamu” pungkas Rendra pada anaknya.
“Serius pa?” bocah itu tampak girang mendengarnya.
“Iya, kakak senang kan?”
“Kok kakak,” heran Rafka.
“Iya kakak, kan nanti mau punya adik lagi. Kan Mama hamil, mau ya sekarang di panggil kakak?” ucap Rendra.
“Iya,”
“Ya udah sekarang kakak turun, Papa mau ambil koper sama barang-barang kita dulu. kamu sama Mama ya” ucap Rendra dan langsung menurunkan sang anak.
__ADS_1
“Sini sayang sama Mama” ucap Adiba meminta anaknya untuk berdiri disebelahnya.
Rafka menurutinya, dia langsung berjalan kearah Mamanya dan berdiri disebelah sang Mama melihat Papanya yang tengah mengambil koper di mobil.
...................................................
Tama sudah siap dengan setelan jasnya, keluar dari dalam kamar. Bahkan hampir bersamaan dengan Kania yang juga membuka pintu kamarnya. Perempuan itu melihat kearah Tama yang sudah begitu rapi dengan setelah jas.
“kau sudah siap ternyata, aku pikir belum apa-apa” ucap Tama saat melihat Kania yang menutup pintu kamar.
Kania hanya diam saja, sambil menutup pintu kamarnya saat ini.
“Aku kira kau belum siap ternyata sudah rapi,” ucap Kania yang melontarkan kalimat hampir sama dengan apa yang diucapkan Tama.
Tama mengernyitkan dahinya menatap Kania, perempuan itu seakan meledeknya saat ini. namun Tama langsung mengabaikannya saja dan dia akan pergi tetapi ponselnya yang berada di saku celananya bergetar saat ini membuatnya berhenti melangkah untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Adiba,” gumamnya saat melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya itu. Tama sebelum mengangkat itu melihat sekilas kearah kania yang langsung mengalihkan pandangannya ke lain arah pura-pura tak melihat kearah Tama.
Kania jelas mendengar nama siapa yang disebut tama barusan, tapi dia pura-pura tak mendengarnya. Tapi sebenarnya dia juga penasaran apa yang akan dibicarakan kedua orang itu.
“halo Adiba ada apa?” tanya Tama saat dia mengangkat panggilannya, pria itu langsung berjalan keruang tamu meninggalkan Kania yang tampak penasaran.
“Oh, ya sudah nanti abang datang. Kamu minta apa? abang belikan nanti.”
“Kamu nggak minta apa-apa, kalau Rafka minta apa? nanti abang belikan buat dia?”
“Hotdog, serius dia mau itu.ya sudah kalau begitu, titip salam buat Rendra.” Ucap Tama,
Dari pembicaraan itu, sepertinya Adiba menyuruh Tama untuk datang kerumahnya, dan sepertinya Rendra tak mempermasalahkan hal itu. karena Adiba sendiri yang menelpon tama dengan ponselnya, biasanya kalau perempuan itu menelpon tama dia menggunakan ponsel suaminya.
“Kania, ayo berangkat” seru tama dan melihat kearah Kania berdiri yang ternyata tak jauh darinya saat ini.
Kania yang terkejut karena Tama tiba-tiba berbalik melihatnya hanya terdiam, dia saat ini seperti sekor tikus yang tertangkap basah mencuri makanan.
Benar Kania menguping pembicaraan Tama dan juga Adiba. Dia penasaran dengan apa yang dibicarakan mereka berdua. Karena tahu sendiri Tama mencintai Adiba dulunya, tapi berkedok kakak adik.
“Iya,” jawab Kania dan akan berjalan tetapi Tama yang tadinya sudah menatap ke depan malah berbalik lagi dan melihat kearah Kania.
“kamu tadi menguping pembicaraanku kan?” tukas Tama menatap serius pada Kania.
__ADS_1
“Siapa? Aku?” uap Kania menunjuk kearahnya sendiri.
“Jangan asal nuduh, sok tahu” lanjut Kania dan langsung berjalan pergi mendahului Tama yang melihat kearahnya.
“Anak itu semakin menyebalkan saja, andai aku tidak kasihan dengannya sudah aku suruh keluar dari apartemenku” gumam Tama sambil menggeleng-geleng kan kepalanya tak habis pikir dengan sikap Kania yang menurutnya kurang ajar padanya.
........................................
“Kamu sudah bilang sama Tama kalau kita pindah rumah?” tanya Rendra sambil memeluk perut istrinya dari belakang. Dia sendiri berbaring di kasur dan Adiba duduk di tepi ranjang..
“Sudah barusan, kamu kan juga dengar sendiri mas”
“baguslah kalau kamu sudah memberitahunya takutnya nanti dia main ke rumah Papa dan bertemu Mama.” Ucap Rendra yang merasa lega akan hal itu.
“Memang kenapa sih kalau bang tama ketemu mama, kan mereka nggak kenal mas belum pernah ketemu juga”
“Ya justru itu sayang, aku takutnya pas Tama main ke rumah dia ketemu Mama. Terus Mama nuduh aneh-aneh di kira Tama siapa kamu” jelas Rendra mengutarakan kegelisahannya sebelumnya.
“Oh, tapi kan bang Tama nggak mungkin ke rumah mas. Dia kan nggak enak sama kamu kalau nggak di suruh”
“Ya kan siapa tahu,”
“Sayang nanti kita pergi keluar yuk, aku pengen makan yang nasi goreng kambing. Dimana ya adanya?” ucap Rendra yang tiba-tiba saja ingin makan nasih goreng.
“Aku kurang tahu mas, apa aku minta bang Tama aja yang nyariin nasi goreng nantikan dia mau kesini”
“Dia serius mau kesini, padahal aku bercanda nyuruh kamu bilang sama dia buat kesini”
“iih, kamu gimana sih kalau bercanda aturan nggak usah”
“Ya udah nggak pa-pa kalau dia mau kesini, aku juga nggak masalah” ucap Rendra yang tidak lagi mempermasalahkan hali itu. Tiba-tiba Rendra mencium pipi sebelah kanan istrinya, dia sedikit menggigitnya membuat Adiba mengaduh kesakitan.
“Aduh sakit mas, kamu kenapa sih main gigit aja” ucap Adiba.
“Nggak pa, pengen aja. Udah lama aku nggak gigit-gigit kamu, semenjak hamil.” Pungkas Rendra sambil tersenyum dan kembali memeluk erat perut istriya.
Adiba hanya bisa pasrah saja dengan kelakuan suaminya yang memeluk manja dirinya saat ini.
°°°
__ADS_1
T.B.C