
Citra masuk kedalam kamar membawakan secangkir kopi untuk suaminya, ia berjalan mendekat kearah suaminya yang tampak bekerja tetapi pikirannya seakan tak fokus dengan pekerjaannya.
“Papa mikirin soal apa? soal Jeremy atau soal Rendra?” tanya Citra yang menaruh secangkir kopi di depan Frans membuat pria itu langsung beralih mentap sang istri yang sudah berdiri di depannya.
“Tidak memikirkan keduanya” jawab Frans tampak berbohong,
“Papa tidak bisa membohongi Mama Pa, pasti Papa memikirkan soal kedua anak kita kan?” tukas Citra yang tak mempercayai itu.
“Kalau soal Jeremy, Mama ikut Papa saja. Kalau Papa sudah setuju ya sudah, mama juga setuju” lanjut Citra berjalan menjauh dari Frans untuk duduk di pinggir tempat tidur.
“Syukurlah kalau mama setuju, tapi Mama harus jaga sikap Mama kalau Mama masih ingin tinggal dengan anak” ucap Frans sedikit menasehati istrinya itu.
“Iya” jawab Citra lirih.
“Papa sebenarnya lagi mikirin soal Rendra” ucap Frans pada akhirnya.
“Benarkan, Papa pasti mikirin itu. Soal Rendra Mama tidak yakin Pa dia begitu, Mama tahu betul dia seperti apa” tukas Citra begitu yakin penilaiannya terhadap putra sulungnya.
“Tapi kau tahu sendiri Rendra bagaimana, dia bisa begitu sadis dengan Adiba jadi tidak menutup kemungkinan dia juga bisa seperti itu pada orang lain. Kau tahu sendiri dia orang yang keras dan selalu menginginkan apa yang dia mau” pungkas Frans sambil berdiri dari duduknya. Seharian dia terus gelisah memikirkan bagaimana rumah tangga Rendra kedepannya kalau sampai menantunya mendengar aneh-aneh tentang suaminya.
“Nggak Pa, Mama yakin Rendra nggak mungkin begitu.” Tegas Citra yang begitu yakin dengan perasaannya.
“Semoga saja perasaan mama benar, ya sudah ayo kita tidur. Besok kita banyak pekerjaan untuk menyambut keluarga calon Jeremy” ucap Frans berusaha yakin dengan apa yang dikatakan istrinya.
................................................
Tama bertamu kerumah Adiba dan juga Rendra saat ini, dia datang tidak dengan tangan kosong melainkan membawa banyak makanan dan juga tentunya membawa mainan untuk Rafka.
“Yaampun bang, kok banyak gini sih bawanya. Apalagi bawa mainan begini” ucap Adiba saat membukakan pintu untuk Tama.
__ADS_1
Tak berselang Rendra menyusul dan dia cukup terkejut melihat Tama yang datang kerumah mereka pagi-pagi.
“Kenapa bertamu pagi-pagi begini, apa tidak tahu orang lagi sibuk-sibuknya” ketus Rendra saat melihat pria yang sudah dianggap kakak oleh istrinya itu datang berkunjung.
“mas,.” Tegur Adiba smabil menyenggol tangan Rendra. Rendra hanya diam saja melihat istrinya yang berdiri di sampingnya saat ini.
“OH kalian sibuk, ya sudah ini makanan buat kalian dan ini mainan untuk Rafka. Kalau begitu aku pergi dulu” ucap Tama telihat tak bersemangat menyerahkan itu semua pada Rendra dan Adiba.
“Gampang marah sekali, aku hanya bercanda masuklah, galau lagi” ucap Rendra yang meralat ucapannya, dia tampak kasihan saat melihat Tama yang akan berbalik ditambah tatapan mengitimidasi dari istrinya membuatnya mau tak mau mengatakan hal itu.
“Serius, aku boleh masuk” tukas Tama yang memutar kembali tubuhnya menghadap sepasang suami istri didepannya.
“Iya boleh masuk saja bang, Rendra tidak usak didengarkan” pungkas Adiba.
“Masuk saja, sekalian aku juga mau minta tolong” ucap Rendra pada Tama.
“Minta tolong?” ucap Adiba dan juga Tama bersamaan.
“Aku mau minta tolong dia buat nganterin Rafka ke sekolah, sudah ayo masuk” ucap Rendra sambil memegang pelan kepala sang istri.
“OH, soal itu. aku tidak keberatan” ucap Tama
“Rafka dimana?” tanya Tama pada keduanya.
“Dia masih ganti baju bang, ayo kita tunggu dimeja makan dulu smabil sarapan” jawab Adiba.
“Iya, sini biar abang yang bawa” ucap Tama mengambil alih beberapa kantung plastik makanan yang sempat dia serahkan pada Adiba tadi. Rendra melihat itu sekilas, dia tampak tak senang.
“Biar aku saja yang membawakan milik istriku” ucapnya dan akan mengambil alih dari tangan Tama.
__ADS_1
“Memang kamu bisa, lihat saja tanganmu sudah penuh barang” pungkas Tama sambil memperhatikan kedua tangan Rendra yang memang tampak kewalahan membawanya.
Rendra hanya mencebikkan bibirnya saat melihat kenyataan itu, dia berusaha tak memperpanjang lagi masalah ini.
Mereka bertiga kini sudah berada di meja makan, dan makan-makanan yang dibawa Tama tadi sudah tertata rapi di meja makan bercampur dengan makanan hasil masakan asisten rumah tangga di rumah Rendra.
“Apalagi yang membuatmu kesini dengan wajah begitu, ingin curhat?” tanya Rendra pada Tama.
“Tidak, butuh hiburan saja. Tapi itu juga sih” tukasnya begitu labil merubah omongan.
“Masalah apa lagi bang? soal Kania lagi. Bang Tama jangan gengsi-gengsi lagi lah jadi laki-laki. Kalau bang begitu terus dia ya makin tidak ingin kembali bang” ucap Adiba menasehati Tama.
“Kamu bilang abang gengsi, abang sudah buang itu semua. Harga diri abang sudah jatuh asal kamu tahu Dib. Abang kemarin mengantar dia ke Bandar untuk bertemu pria bule entah siapa pria itu dan abang terang-terangan bilang suka sama dia tapi apa dia malah begitulah”kesal Tama saat mengingat dia yang malah dibuat pusing Kania.
“Ya kalau situ nggak gengsi apa, perempuannya pergi dulu baru menyesal” cibir Rendra pada Tama.
“Aku harus bagaimana sekarang, dulu dia tidak seperti ini. dia dulu terus mengejarku kemana aku pergi dia ikut dan selalu ingin tahu apa yang aku lakukan. Tapi kenapa kini dia malah berbanding terbalik” tutur Tama mengungkapkan keluh kesahnya.
“Itu dulu bang, perempuan itu inginnya di kejar. Memang dulu Kania sering mengikuti apa dan kemana bang Tama pergi, tapi kini dia sudah dewasa bang dan punya perasaan layaknya seornag wanita yang ingin dikejar bukan mengejar. Jadi bang Tama jangan putus asa, kejar terus sampai dia jadi milik abang. Aku yakin Kania juga masih cinta sama bang Tama cuman dia ingin melihat perjuangan bang Tama untuk mengejarnya” pungkas Adiba.
“betul itu, dan aku peringatkan juga jangan membuat kesalahn yang sama sepertiku dulu. jangan terlalu terobsesi begitu dalam sampai menyakiti orang yang kau kasihi” ucap Rendra menambahkan.
“Tentu saja aku tidak akan sepertimu yang begitu bejat, aku masih punya akal sehat” tukas Tama.
“Kenapa kalian jadi bahas masa lalu, pkoknya intinya itu bang. bang Tama harus lebih berusaha lagi, buang gengsi-gengsinya. Kalau abang masih curhat galau lagi, aku udah nggak mau ladenin lagi pusing aku bang kasih saran tapi kayak nggak pernah dilakukan” pungkas Adiba.
“Hemm, abang turutin kata kamu.”
Rendra hanya diam sambil sesekali menggeleng melihat Tama, padahal secara usia Tama lebih dewasa dari mereka tapi pengalaman cinta seolah Tama dibawah mereka. Begitu saja galau dan apa-apa selalu minta saran pada istrinya membuatnya hanya bisa geleng kepala saja.
__ADS_1
°°°
T.B.C