CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 51


__ADS_3

Rendra melepaskan pelukannya pada Adiba, dia melihat perempuan itu yang se segukan menangis.


“Sudahlah jangan menangis, nanti kamu makin jelek.” Canda Rendra pada Adiba, sambil mengusap wajah perempuan tersebut.


“Kamu tadi serius dengan ucapan mu kan? kamu benar cinta padaku?” lanjut Rendra pada Adiba.


“Bisa tidak jangan membuatku mengulangi ucapan ku tadi” tukas Adiba merasa kesal karena menurutnya Rendra seperti tidak yakin. Seharusnya disini dia yang tidak yakin dengan pria tersebut.


“Maaf, aku bercanda”


“Oh iya aku ingin merevisi ucapan mu tadi, kamu hanay berterima kasih pada Tama, lalu bagaimana dengan Papaku. Bukannya dia yang banyak membantu dirimu?” ucap Rendra menatap Adiba yang sedari tadi menyanjung Tama saja.


Adiba yang tadi menghapus air mata di wajahnya langsung melihat kearah Rendra yang seakan merasa tidak terima dengan perkataannya tadi.


“Soal Papamu tentu aku sangat berterimakasih juga padanya, berkat dia aku bisa melahirkan di rumah sakit terbaik, dan berkat dia nyawa Rafka tertolong karena kalau Papamu tidak datang tepat waktu saat aku akan melahirkan entah bagiamana aku dan Rafka. Tentu jasa Papa Frans tidak pernah aku lupakan, dia yang membuatku tetap hidup” jelas Diba.


“Lalu kenapa tadi kau hanya menyebut Tama?” Rendra seakan belum puas dengan apa yang dikatakan Adiba.


“Susah untuk aku jelas, intinya Tama dan Papamu orang yang banyak membantuku dulu” ucap Adiba.


“tidak usah bahas masa lalu, aku tidak ingin mengingatnya lagi” tambah Adiba dan memalingkan wajahnya.


Rendra yang masih berada didepan Adiba melihat saja perempuan itu, dia mengamati wajah perempuan didepannya tersebut. Dia mencoba memahami Adiba, mungkin luka yang dia berikan dulu cukup berat diterima dan butuh penyembuhan lebih lama, lebih baik saat ini dia menurut saja untuk tidak membahas soal masa lalu yang jelas Adiba sudah mengatakan cinta padanya dan dia juga cinta pada Adiba. Cinta mereka sudah saling terungkap saat ini.


......................................................


“Itu kenapa pak Rendra makan siang sama Adiba ya, mereka berdua ada yang aneh nggak sih?” tanya seorang karyawan wanita pada salah satu rekannya yang saat ini duduk tidak jauh dari Adiba dan juga Rendra.


“Iya deh, kayaknya mereka ada hubungan nggak sih.?” Sahut perempuan disebelahnya.


“udahlah, ngapain juga kalian ngerumpiin pak bos. Itu urusan dia juga” ucap salah satu dari ketiganya.


‘Ya elah Kania, bilang aja lo juga nggak terima kan pak bos sama Adiba ada hubungan” pungkas seorang perempuan bernama Tika.


‘Terimalah, kenapa gue harus nggak terima, kalian ini kenapa sih atasan sendiri di rumpiin. Bu Adiba itu mantan direktur kita, terus pak Rendra bos kita. Kenapa kalian yang sewot ngerumpiin mereka.” Tukas Kania langsung berdiri dari duduknya meninggalkan dua orang yang sedang membicarakan bos mereka.


“Tuh anak malah pergi, memang kita salah ngomong begini. gue kan bener, nggak terima aja masa Pak Rendra sama Adiba ada hubungan” ucap Tika merasa tak bersalah sama sekali.

__ADS_1


“Tapi yang dibilang Kania ada benar juga sih, udah ah nggak usah bahas pak Rendra. Entah tuh bos ada hubungan apa sama Adiba. Itu urusan mereka” ucap Vera teman Tika.


“Lo ikut-ikut an Kania sih. Enak banget ya jadi Adiba, dia masuk kesini langsung jadi direktur terus sekarang jadi sekertaris pribadi” Tika masih mengutarakan keiriannya terhadap Adiba,.


............................................


Rendra berjalan mendekat kearah meja Adiba saat ini, dia melihat perempuan itu yang masih sibuk mengerjakan sesuatu di mejanya saat ini.


“Ayo pulang” ucapnya pada Adiba.


Adiba yang mendengar ucapan dari pria didepannya membuat dia mendongak menatap pria tersebut.


“Pulang? Ini belum jam pulang?” heran Adiba sambil melihat kearah jam di mejanya.


“Iya aku tahu, aku sengaja saja mengajakmu pulang lebih cepat. Kau mau ikut aku tidak?” ucap Rendra beralih mendekat kearah Adiba duduk.


“Mau kemana?”


“Udah ikut aja, kita jalan berdua. Kita mendekatkan diri lebih dekat satu sama lain pungkas Rendra terkesan membujuk Adiba untuk pergi bersama dengannya.


“Itu gampang, ayo pulang saja” ucap Rendra sambil menarik tangan Adiba untuk berdiri.


“Sebentar, kamu tidak bisa seenaknya sendiri mentang-mentang bos. Bagaimana kalau para pegawai mu nanti malah menganggap mu seeenak sendiri” ucap Adiba yang terpaksa berdiri.


“Bodo amat mereka mau nilai aku bagaimana, ayolah sayang kita pulang. Kita jalan berdua sekarang. Nanti kalau sampai rumah kita tidak bisa berdua, bukannya kamu bilang cinta padaku kan, kamu seakan tidak mau begini aku jadi ragu” ucap Rendra terus memaksa Adiba agar mau pulang saat ini.


“Ya sudah ayok, tapi mau kemana?”


“Ke hotel,” ucap Rendra menatap serius perempuan tersebut.


Mata Adiba seketika melebar, dan dia langsung memukul Rendra.


“Jangan bercanda, aku belum siap” ucapnya.


“hahahha bercanda, biasa saja sayang” ucap Rendra sambil tersenyum


“Nggak lucu” kesal Adiba.

__ADS_1


“Jangan cemberut begitu kenapa?” ucap Rendra sambil memegang dagu istrinya.


“Terus kamu mau mengajakku kemana?”


“ketemu Papamu”


“kenapa ketemu Papaku, aku tidak mau. bukannya kamu tahu Papaku bagaimana”


“Iya aku tahu, dia yang mengajak kita bertemu. Di Sana ada kakakmu juga, dia akan menikah sebentar lagi”


“Apa? ba..bagaimana kau tahu kalau mbak oki mau nikah”


“Tadi aku menelpon ayahmu mengajak bertemu, terus dia bilang juga ingin bertemu dengan kita dan kakakmu juga akan datang dengan calon suaminya” jelas Rendra pada Adiba.


“Kau serius, serius ayah yang mau bertemu denganku. Mbak Oki juga?” Adiba seakan tidak percaya kalau ayahnya dan kakaknya yang tidak ada kabar selama ini ingin bertemu dengannya.


“Iya, aku serius. Ayo pulang” ajak Rendra.


“Ayo, aku ingin segera bertemu Mbak Oki. Sudah lama aku tidak ketemu dia,” ucap Adiba penuh semangat, dia benar-benar ingin bertemu kakaknya itu.


Sudah lama dia tidak berkomunikasi, mungkin sudah dua tahunan semenjak dia dimaki ayahnya dulu dan diminta sang ayah untuk tidak menghubungi Oki karena akan merusak karir kakaknya kalau dia masih menghubunginya.


“Kenapa kamu jadi mau nangis?” tanya Rendra saat melihat Adiba yang berkaca-kaca samil sesekali mengusap matanya.


“Nggak pa-pa, ayo kita ketemu mbak Oki habis itu ita pulang. Rafka pasti menanyakan kita berdua” ucap Adiba segera mengajak Rendra.


“Ayo,” Rendra langsung menggandeng tangan Adiba, tetapi Adiba langsung melepaskannya.


“Kenapa?” ucap Rendra menatap aneh Adiba.


“Nggak usah pegangan tangan ya, nanti para karyawan melihat dan nanti mereka mikir aneh-aneh” pungkas Adiba terkesan tidak enak berbicara seperti itu pada Rendra.


“Udah nggak usah di pikir, mereka mikir aneh-aneh ya bodo amat” kekeh Rendra dan malah menggandeng tangan Adiba mengajaknya berjalan pergi, Adiba berusaha melepaskan pegangan Rendra tetapi dia tidak bisa melepaskannya begitu saja. Dan alhasil terpaksa mereka bergandengan tangan keluar dari ruangan.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2