
Rendra berjalan cepat menyusul Adiba yang berlari, dia langsung menarik tangan istrinya tersebut dan mendekapnya erat.
“Kenapa kamu main pergi saja, aku belum selesai bicara dnegan ayahmu. Ayahmu harus disadarkan karena telah menuduh mu aneh-aneh” ucap Rendra sambil memeluk Adiba dengan begitu erat memberikan kehangatan untuk perempuan yang tengah menangis tersebut.
“lepas, lepaskan aku. aku ingin sendiri” ucap Adiba memberontak dari pelukan Rendra, dia hanya ingin sendiri sekarang. Hatinya sakit akan perkataan ayahnya barusan.
“kenapa kau melakukan ini, kenapa mengajak bertemu dengan ayahku” ucap Adiba sambil terisak dalam pelukan Rendra.
“Ya karena ini harus aku lakukan, aku tahu ayahmu menganggap mu buruk kan. Maka aku ingin meluruskannya sekaligus membuat hubunganmu dengan ayahmu kembali baik” jelas Rendra mengusap lembut kepala istrinya.
“Ayah nggak akan mungkin percaya, percuma kau lakukan itu. gara-gara dirimu hatiku malah semakin sakit mengingat ini. a..aku,aku yang menyebabkan ibu meninggalkan. Benar kata ayah aku penyebabnya” ucap Adiba menangis.
“Cup, udah jangan nangis. Tidak usah dipikirkan ucapan ayah kamu, ibu kamu meningal itu bukan kesalahan kamu, itu sudah takdir. Udah jangan nangis” ucap Rendra berusaha menenangkan Adiba.
“Ayo kita ke kamar, kita bicara lagi dikamar. Jangan pikirkan soal ayah kamu tadi, biakan saja dia seperti itu” ucap Rendra dan melepaskan pelukannya dari Adiba dan menuntun perempuan tersebut sambil merengkuh nya.
..........................................
“Diminum dulu” ucap Rendra yang baru saja dari luar membawakan minum untuk Adiba yang sedang duduk di kursi yang berada di kamar mereka.
Mereka berdua sudah berada di dalam kamar saat ini, Rendra mengambil duduk didepan Adiba menatap istrinya yang masih sesegukan sedari tadi.
“ayahmu dulu se marah itu padamu seperti sekarang?” tanya Rendra hati-hati, dia takut menyinggung istrinya.
Adiba diam sambil mengangguk, dia tidak bisa berkata lagi karena, hatinya begitu terluka.
Rendra yang melihat itu merasa bersalah karena perbuatannya Adiba mengalami semua ini, karena ulahnya dulu perempuan baik-baik dianggap buruk oleh orang tuanya sendiri.
Perlahan Rendra berdiri dari duduknya saat ini, dia berjalan kehadapan Adiba dan berjongkok didepan perempuan itu.
__ADS_1
Adiba yang melihat hal tersebut merasa terkejut,
“Apa yang kau lakukan” ucapnya dengan suara serak akibat menangis sedari tadi.
“Aku minta maaf padamu, aku tidak tahu maaf ku ini bisa membuatmu baik-baik saja atau tidak. Gara-gara diriku kamu tersakiti seperti ini. aku janji padamu, aku bakal membuat ayahmu memaafkan mu lagi seperti dulu” ucap Rendra sambil memegang tangan Adiba menatap manik mata perempuan tersebut dengan sangat yakin.
“Sudah tidak usah katakan apapun pada ayah, percuma dia sudah membenciku dan tidak menganggap ku anak. Dan dengan kau membuat ayahku tidak membenciku tidak akan bisa mengembalikan ibu ku kembali” ucap Adiba dengan air mata yang menetes kembali mengingat kalau ibunya telah tiada. Dan semua ini salahnya, karena dia ibunya terus memikirkannya hingga jatuh sakit dan akhirnya tiada.
“Stop menyalahkan dirimu seperti itu, ibumu tiada semua bukan salahmu. Itu sudah takdir mengerti” ucap Rendra yang langsung berdiri dari duduknya dan memeluk istrinya lagi.
Adiba yang merasa nyaman akan pelukan Rendra membalas pelukan tersebut, dia memeluk erat suaminya. Ada rasa nyaman saat dia memeluk Rendra beban yang selama ini dia jalani sendiri tanpa ada yang memeluknya kini terasa berbeda. Seakan dia memiliki kekuatan lagi.
“jangan nangis lagi, nanti kalau kamu nangis terus malah sakit. Nanti Rafka bisa marah padaku kalau kamu menangis begini” ucap Rendra berusaha menenangkan Adiba dengan menyebut nama anaknya.
“Kamu mau pulang atau kita tetapi disini?” tanya Rendra pada Adiba.
“Aku ingin pulang saja, rasanya aku tidak sanggup disini. Ayah membenciku, hatiku sakit dengan semua ini. aku ingin bertemu Rafka, hanya dia yang bisa membuatku kuat lagi” ucap Adiba yang masih dalam pelukan Rendra.
“Jangan nangis terus,” lanjutnya sambil mengusap wajah sang istri yang basah karena air mata.
“Aku pergi sebentar” ucap Rendra sambil mengecup kening Adiba.
.............................................
Di kamar yang berbeda Rama terduduk diam di sofa sambil sekilas melihat kearah kartu nama yang diberikan pria yang mengaku suami anaknya dan sekaligus pria yang telah memperkosa anaknya dulu. jujur dia terkejut saat mendengar anaknya di perkosa dia pikir dulu Adiba memang sengaja melakukannya karena suka sama suka sehingga membuat nama baiknya rusak di mata tetangga.
“Yah,.” Panggil istri dari Rama yang berjalan membawakan teh hangat.
Rama melihat sekilas kearah istrinya tersebut,.
__ADS_1
“Kamu mikirin Adiba, seharusnya tadi ayah jangan ngomong begitu sama dia. aturan dengerin dulu apa yang dikatakan pria tadi soal Adiba.” Ucap istri dari Rama
“Kamu diem aja bisa nggak, nggak usah iku campur urusan keluargaku” ucap Rama dengan ketus.
“Bukannya aku ikut campur urusan keluarga kamu yah, tapi sekarang Diba juga anak aku. ini sudah beberapa tahun berlalu dan kamu masih belum maafin Adiba. Hati kamu nggak tergerak sama sekali saat denger ucapan pemuda tadi kalau dia yang memperkosa Adiba. Jadi itu bukan sepenuhnya kesalahan Adiba yah” ucap Istri Rama yang membela Adiba saat ini. meskipun dia hanya ibu tiri tapi mau bagaimana lagi Adiba dan Oki sekarang menjadi anaknya juga.
“coba kamu telpon nomor itu tanya sama orang tua pemuda itu soal kebenarannya. Secepatnya kamu tanyakan sebelum kamu menyesal nantinya. Masih mending Adiba tidak membenci kamu sebagai ayah seperti apa yang Oki lakukan sama kamu” lanjut sang istri menasehati suaminya.
“Bisa tinggalin aku sebentar nggak, lihat Diki sana. Nanti dia bangun nyariin kamu” pungkas Rama masih begitu enggan mendengarkan ucapan istrinya itu..
“Ya sudah aku pergi dulu, tapi kamu buruan telpon nomor itu. dan coba kamu mikirin soal Adiba, dia anak perempuan kamu loh. Dia cuman punya kamu sebagai orang tuanya” ucap istri dari Rama sambil berdiri dari duduknya.
...........................................
Rendra masuk kedalam kamar yang mereka tempati malam ini, dia melihat Adiba yang sudah tidur dalam keadaan meringkuk di temat tidur memeluk dirinya sendiri. melihat itu rasanya hatinya sedih dengan keadaan istrinya yang terpuruk begitu. Langkah beratnya berjalan mendekat kearah Adiba yang tengah tidur.
Dia bisa melihat wajah yang habis menangis itu dengan begitu jelas, niatnya kesini ingin membuat istrinya bahagia dengan bertemu ayahnya malah menjadi seperti ini.
Rendra duduk di tepi tempat tidur memperhatikan Adiba, tangannya perlahan mulai terulur menyentuh kepala istrinya.
“Maafin aku karena diriku kamu begini,” ucapnya sambil mengusap kepala sang istri.
Karena sentuhannya itu Adiba merasa terganggu dan membuat Rendra secara refleks langsung mengangkat tangannya tapi entah Adiba sadar atau tidak dia menahan tangan itu dan malah memeluk erat tangan Rendra.
“Ayah, aku minta maaf yah. Aku mohon yah jangan usir aku yah, aku mohon” ucap Adiba dam tidurnya sambil terus memegang tangan Rendra.
Rendra terdiam karena dalam tidur Adiba bisa mengigau seperti itu, dia perlahan naik ketempat tidur dan sedikit menggeser Adiba. Dia membaringkan dirinya disebelah Adiba dengan menjadikan tangannya sebagai bantal untuk sang istri. Rasanya dia ingin memberikan pelukan hangat untuk istrinya tersebut.
°°°
__ADS_1
T.B.C