CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 82


__ADS_3

“Apa bagaimana bisa Pram tidak ada di apartemen Ana, kamu kemana saja sampai tidak tahu kemana perginya pram” Tama marah-marah di telpon saat ini saat Ana menelpon dirinya memberitahu kalau Pram tidak ada di apartemen.


“Ya baiklah, aku pulang sekarang” Tama terlihat begitu kesal, dia melempar pelan ponselnya kemeja. Dia langsung berdiri mendorong kursinya dengan kasar bertepatan dnegan itu pintu ruangannya terbuka memperlihatkan Kania yang menatap kearah Tama yang tengah tampak kesal saat ini.


“Mau apa kau kesini?” tegas Tama saat melihat kanai, moodnya sedang tidak bagus malah ada yang masuk keruangan nya yaitu Kania.


“Aku mau memberikan berkas ini padamu” jawab Kania tanpa basa-basi.


“Taruh saja di meja” pungkas Tama dan dia langsung mengambil ponselnya dan buru-buru pergi dari situ meninggalkan Kania yang melihat penasaran kearahnya.


“Sebentar kak Tama mau kemana?” tanya Kania sambil menahan tangan Tama yang berjalan melewati dirinya.


Tama melihat sekilas Kania yang memegang tangannya saat ini, kania yang menyadari Tama tidak suka saat dia bersikap begini langsung melepaskan tangannya.


Tama tidak banyak bicara langsung pergi meninggalkan perempuan itu yang hanya diam menatap kepergian Tama yang tampak terburu-buru.


“Mau kemana kak Tama sebenarnya, kenapa dia tampak cemas begitu” ucap Kania sambil terus melihat kearah kepergian Tama yang sudah tak terlihat karena berbelok di belokan koridor. Dia sendiri langsung berjalan kearah meja Tama disitu untuk menaruh berkas yang diperintahkan oleh ketua timnya.


Perlahan dia melihat sekeliling ruangan Tama yang begitu rapi, sekali lagi hal ini membuatnya cukup takjub setelah beberapa tahun lalu. Tama memang selalu rapi dalam hal apapun bahkan pakain nya saja terlihat rapi.


Kania menaruh berkas itu di atas meja tapi fokusnya teralih pada sebuah bingkai foto yang ada di meja kerja tama saat ini. foto tiga orang yang tersenyum kearah kamera.


Itu foto Tama, Rere dan juga Adiba. Tama berdiri di tengah-tengah kedua perempuan itu merangkul keduanya dengan gembira bahkan senyum lebar terlihat jelas pada wajah Tama yang berada di foto tersebut.


“Kau bisa tersenyum lebar begitu, aku pikir kau tidak bisa” gumam Kania saat melihat foto tersebut.


“Ah sudahlah, kenapa aku jadi lama disini padahal tadi niatku hanya menaruhnya saja di meja” lirih Kania, dia langsung berniat pergi dari ruangan Tama saat ini.


“Senyummu tapi aneh kak, dasar tidak bisa menyembunyikan perasaan” gumam Kania menatap kesal foto Tama.


Sehabis mengatakan itu dia langsung pergi, untuk apa juga dia mencampuri urusan Tama, meskipun dia mencintai pria itu sekarang tapi bukan haknya mencampuri perasaan Tama dengan orang lain. Dia juga tidak merasa akan terancam toh orang yang disukai Tama sudah menikah. Jadi mana mungkin Tama akan mendapatkan Adiba jelas tidak mungkin.


Dengan percaya dirinya Kania meyakinkan dirinya pasti dia yang akan memenangkan perasaan Tama, meskipun pria itu saat ini tidak suka dengannya pasti suatu saat Tama akan menaruh hati juga dengannya.


...........................................................


Rendra dan Adiba saat ini sudah duduk di sebuah restauran yang berada di hotel tempat dimana mereka menginap saat ini. mereka tidak hanay bertiga saja tetapi dengan Davin juga yang duduk di depan mereka melihat dengan tatapan menilai membuat Adiba tidka senang dnegan tatapan yang diberikan Davin.


“Busyet Ren, lo gila memang. Gue kira lo waktu itu bilang nikah sama Adiba. Kita kira lo bohong ternyata beneran, anak udah gede lagi segini” ucap Davin geleng-geleng kepal melihat keluarga kecil dari sahabatnya.


“ya kan aku bilang waktu itu apa, aku serius ngapain juga bohong”


“Hei Nona Galiel, apa kabar lama kita tidak bertemu. Makin cantik aja lo?” pungkas Davin menyapa Adiba yang menatapnya tidak senang.


“Baik” jawab Adiba singkat.

__ADS_1


“Om siapanya Papa Rafka?” tanya Rafka yang duduk disebelah Davin.


Davin langsung memalingkan wajahnya berganti menatap bocah kecil yang dia tahu adalah anak dari Rendra dan juga Adiba.


“Om temennya Papa sama Mama kamu dulu saat kuliah, salam kenal anak manis” ucap Davin mengulurkan tangannya pada Rafka.


“salim sama OM Davin sayang” ucap Adiba meminta anaknya agar mencium tangan Davin.


Rafka langsung menuruti apa yang di ucapakan Mamanya, dia mencium tangan Davin.


“Anak kalian pinter deh kayaknya, anak kamu banget Diba. Wajah aja yang mirip Rendra tapi kayaknya pinter nya kayak kamu” pungkas Davin yang merasa gemas dengan Rafka. Entah mengapa baru melihatnya saja dia sudah merasa gemas dengan bocah itu.


“Udah deh, nggak suah main cibir” ucap Rendra yang tak terima dengan pendapat davin karena secara tidak sengaja temannya itu mengatai dirinya bodoh dong.


“Siapa juga yang mencibir lo, geer aja lu”


“Udah nggak suah banyak omong vin, kamu mau pesan apa?” tanya Rendra pada temannya.


“gue pesan pasta saja sama minumnya soda,” ucap Davin.


“Om nggak boleh minum soda, nggak baik. Itu kan ada alkoholnya” ucap rafka dengan polosnya dia menasehati teman dari papanya.


Mendengar itu Davin terperangah melihat Rafka,


“Kata siapa nggak boleh sayang, boleh tapi jangan berlebihan” ucap Davin dengan lembut.


Adiba langsung melihat anaknya, darimana Rafka tahu kalau dia sering berbicara pada Rendra soal itu.


“i..iya sayang” jawabnya terbata.


Davin hanya mengangguk saja mendengar perbincangan itu, dia sekilas melihat Rendra yang menatapnya. Dia bisa melihat temannya itu memang tampak lebih baik dan juga sepertinya Rendra begitu menurut dan begitu sayang dengan Adiba. Tak menyangka dulu rendra yang sering mengatai Adiba ternyata malah menjadi suami dari perempuan itu.


Membayangkan bagaimana perilaku Rendra pada Adiba dulu membuat Davin tersenyum sendiri, ternyata jodoh berawal dari olokan menjadi cinta.


“kenapa kau senyum-senyum begitu?” pungkas Rendra pada Davin.


“Nggak pa-pa?”


“Suka sama istriku” tukas Rendra tak suka.


“Astaga ya nggaklah masa mau nikung teman sendiri” pungkas Davin.


“Kamu apa sayang?” tanya Rendra beralih melihat pada Adiba.


“Apa aja, yang penting enak dimakan” jawab Adiba.

__ADS_1


“Ya udah aku samain sama aku ya?”


“Iya nggak pa-pa tapi kamu mau pesan apa memang?”


“Aku mau pesan steak, mau?”


“Ya udah nggak pa-pa” jawab Adiba setuju degan apa yang dipesan oleh suaminya.


“Minumnya jus aja ya sayang biar sehat” lanjut Rendra.


“Iya jus mangga ya tapi tanpa gula biar agak masam” pinta Adiba.


“Oke,”


“Rafka mau apa nak?” tanya Rendra beralih pada anaknya.


“Mau mie Pa”


“Mie?”


“Iya, aku mie karena tadi waktu aku mau makan mie di rumah Opa Rama. Mama langsung ngajak pulang” ucap bocah itu dan sedikit cemberut.


“Mie ya, kalau gitu Papa pesenin spaghetti aja ya?” ucap rendra yang bingung harus memesan apa yang seperti mie. Alhasil m]lebih baik dia memesan spaghetti.


“Iya” jawab bocah itu.


“Davin, kau saja yang memesannya” perintah Rendra pada Davin.


“yaelah tumben nyuruh aku, kenapa takut Adiba aku godain”


“Ya, kau buaya darat siapa yang tidak takut meninggalkan istrinya denganmu” sungut Rendra.


“”Adiba suami lo bucin banget, ya sudah aku saja yang ke sana” pungkas Davin dan langsung berdiri dari duduknya.


“Anak manis, mau ikut Om nggak?” ucap Davin sebelum pergi.


“Nggak Om, aku nggak kenal OM. Jadi aku nggak mau ikut, kata Mama kalau ada orang yang nggak dikenal jangan mau ikut sama dia” jawab Rafka menolak ajakan dari Davin.


“Ya ampun, emaknya banget nih bocah. Good Adiba, gue acungin jempol buat cara mendidik lo. Rendra bersyukur banget pasti dapat lo”


“tentu dong,” jawab Rendra dan memeluk istrinya gemas.


“Mas, kok main peluk-peluk sih” bisik Adiba yang kikuk dengan pelukan Rendra.


“Aduh mata gue yang jomblo ini tercemar, gue pergi dulu ah” putus Davin yang langsung pergi sedang Rafka hanya melihat sekeliling saja mengamati orang-orang yangs edang makan di tempat yang sama dengan mereka.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2