CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 93


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Rendra sudah menarik dua koper di tangannya keluar dari kamar di ikuti oleh Adiba yang sudah menggandeng Rafka dan sebuah tas yang berada di punggung Adiba saat ini. Rendra sudah membulatkan tekadnya untuk keluar dari rumah orang tuanya, dia sudah tak tahan dengan sikap Mamanya yang terlalu egois dan selalu menyalahkan Adiba.


“Papa kenapa kok kita buru-buru jalannya, terus kenapa bawa baju banyak kayak gini” tanya Rafka yang berjalan dibelakang sang papa.


“tanyanya nanti ya nak, kita pergi dulu dari rumah ini. kamu sama Mama dulu” jawab Rendra melihat sekilas kearah anaknya yang terlihat cemberut tak mendapatkan jawaban.


“Mas, ini beneran kita mau pergi dari rumah Papa. Lalu mama gimana?” tanya Adiba pada suaminya.


“Udahlah sayang kamu nggak usah mikirin soal itu, lebih baik kita pergi dari sini” ucap Rendra menghentikan langkahnya sebentar untuk melihat pada istrinya.


“Kamu nggak usah ngerasa nggak enak sama Mama, Mama memang mertua kamu. tapi dia nggak adil sama kamu. lebih baik kita pergi dari sini daripada rumah tangga kita yang terancam kedepannya gara-gara masalah seperti ini” tambah Rendra mengucapkan kata-kata penenang untuk istrinya.


“Ya udah, aku iku keputusan kamu aja, aku minta maaf ya gara-gara aku kamu sama Mama jadi begini” lirih Adiba merasa dialah penyebab semua ini.


“kenapa kamu minta maaf, bukan salah kamu. ayo turun kebawah” tukas Rendra mengajak Adiba untuk bergegas ke bawah dan mereka akan langsung pergi dari rumah ini.


“Ayo sayang jalan, pelan-pelan ya” ucap Adiba berpesan pada anaknya yang ia gandeng saat ini.


“Oke ma,” jawab Rendra dan langsung berjalan lagi mengikuti langkah papanya yang sudah berjalan kearah tangga saat ini.


Mereka bertiga menuruni tangga, terlihat dibawah orang tua Rendra dan juga Jeremy berdiri didekat tangga saat ini melhat kearah mereka bertiga.


“Ini serius kalian mau pindah dari sini? Kenapa?” tanya Jeremy yang tidak tahu alasan kakaknya nekat untuk pindah rumah.


Rendra yang sudah sampai di lantai bawah hanya diam saja tidak berniat untuk menjawabnya, dia seakan engan melihat arah depannya saat ini karena ada sang mama yang juga diam tak berbicara sama sekali padanya.


“kenapa pertanyaan ku tidak dijawab” ucap Jeremy yang merasa sedikit kesal karena diabaikan oleh kakaknya.


“papa dukung apapun keputusan kamu Ren, dan selalu bilang sama Papa kalau kalian butuh sesuatu. Kabari Papa juga dimana alamat rumah kalian yang baru” ucap Frans berpesan pada sang putra.

__ADS_1


“Iya Pa, nanti di mobil aku beritahu papa dimana rumahku. Jeremy juga tahu dimana letak rumah” ucap Rendra mengiyakan perkataan sang Papa.


“Aku kira rumah itu tidak jadi kau tempati kak, ternyata kau tempati. Rumah ini sepi dong nggak ada kalian apalagi nggak ada bocah cerewet ini” ucap Jeremy dan langsung berjongkok sambil mencubit pipi keponakannya gemas.


“Iih sakit Om Emy,” rintih Rafka kesal dengan Omnya.


Orang yang disitu tersenyum, kecuali Citra yang masih diam saja .


“Ya sudah Pa, kita pamit pergi” ucap Rendra pada Papanya. Dia mengabaikan sang mama karena Mamanya saja tidak berbicara sama sekali padanya.


“Iya hati-hati di jalan, cucu Opa juga hati-hati ya. Opa bakal kangen sama kamu, Opa sedih..” ucap Frans sambil mengusap kepala cucunya.


“pa kita pamit ya, Ma, jeremy kita pergi dulu” ucap Adiba dan mencium tangan mertuanya, dia juga mencium tangan citra yang terlihat tidak senang.


“Iya, hati-hati Adiba. Kalau kamu butuh apa-apa kabari Papa. Misalkan kalau Rendra membuatmu marah atau apa bilang juga pada Papa, nanti Papa yang beri pelajaran sama dia” ucap Frans, dia memang menyayangi menantunya seperti anak sendiri. karena dia tidak ada anak perempuan jadi dia begitu sayang dengan Adiba. Apalagi melihat dan menyaksikan kepiluan perempuan itu selama ini membuat dirinya kasihan.


“Tidak mungkin aku melukainya, yang anak Papa disini siapa sih. Perasaan kalau denganku Papa berprasangka buruk terus” tukas Rendra merasa iri.


“Emmm, kita pergi dulu”


“Oh Jeremy jaga rumah baik-baik.” Lanjut Rendra pada adiknya.


“Iya,” jawab Jeremy.


“Dada Om Emy,” ucap Rendra saat dia berjalan mengikuti kedua orang tuanya.


“Da, ponakan cerewet Om” seru Jeremy memperhatikan Rafka yang berjalan keluar. Mereka bertiga tidak ada yang mengantarkan ketiganya ke depan.


Frans langsung pergi begitu saja mengabaikan sang istri yang sedari tadi tak bersuara, dia tahu istrinya itu pasti sedih tapi dia malu menunjukkan itu dan terlalu egois untuk mengakui kalau dirinya juga merasa sedih.

__ADS_1


“Mama lihat kakak yang mama sayang bisa berontak kan, karena apa? ya karena sikap Mama yang aneh. Tidak semua bisa dinilai dari harta ma, kalau Mama masih seperti ini mungkin bukan kakak saja yang keluar dari rumah ini tapi aku juga. Mama bakal tidak memiliki sandaran bahu seorang anak, jika sikap Mama masih seperti ini” ucap Jeremy dan langsung pergi meninggalkan Mamanya yang melihat padanya.


“Jeremy, apa maksudmu? Kau bakal seperti kakakmu juga yang tidak ada balas budinya dnegan Mama. Mama yang mengandung mu dan kakakmu mengerti, jeremy” tukas Citra yang seakan tak terima dengan ucapan sang anak.


..............................................


“Kau sedang apa di dapurku?” tanya Tama saat dia baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Kania sudah berada di dapur.


Ya Kania memang tidur di apartemennya saat ini, bukan berarti mereka tidur dalam satu kamar tapi Kania tidur di Kamar yang lain. Apartemen miliknya ini memiliki dua kamar tidur jadi Kania bisa tidur disitu.


“Kau tidak bisa lihat kak, aku sedang apa?” ketus Kania mengabaikan ucapan Tama, dia sibuk menaruh telur dadar di atas nasi goreng yang sudah dia buat. Tentu saja dia tidak membuat satu tetapi du untuk dirinya dan juga untuk Tama.


“Kau tidak perlu memasakkan untukku,” tukas Tama.


“Kalau nggak mau ya sudah aku buang” ucap kania dan mengambil piring yang lain yang sudah terisi nasi goreng dan dia akan membuangnya.


“Berhenti, kau jangan membuang-buang makanan di apartemenku. Taruh lagi, akan aku makan” perintah Tama.


“dasar gengsi bilang aja mau, sok jual mahal” sinis Kania.


Tama hanya diam saja dan berjalan mendekat kearah pantry saat ini, dia akan mengambil nasi goreng tetapi tangannya di tahan oleh Kania.


“kenapa?” tanyanya tak senang.


“Cuci muka sama sikat gigi dulu kali, jorok banget. Nggak nyangka CEO seperpect Tama Suryaja jorok begini” cibir Kania


Tama langsung mendengus, dan pergi meninggalkan Kania yang tersenyum puas dengan melihat Tama yang terlihat kesal saat ini.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2