CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 145


__ADS_3

Tama yang di kabari Adiba soal Pram, pagi-pagi memutuskan untuk datang kerumah Rendra dan Adiba saat ini. Dia baru saja pulang dari Singapura bersama dengan Kania, karena Kania ingin bertemu dengan Papanya dan saudara papanya disana.


Tama datang sendiri kerumah Adiba, karena Kania masih berada di Singapura tak ikut pulang dengannya. Kania tengah hamil muda membuat perempuan itu mabuk perjalanan sehingga Tama memutuskan untuk tak mengajak Kania pulang ke Indonesia.


“Pram, apa kabarmu?” Tama langsung memeluk Pram saat pria itu berjalan menemuinya di ruang tamu rumah Rendra.


Pram baru saja keluar bersama dengan Rendra, mereka baru saja selesai sarapan dan di beritahu kalau ada Tama di ruang tamu membuat Pram dan Tama langsung menemui pria itu.


“Kabarku baik Tam, kau sendiri bagaimana? Dan aku dengar dari Rendra kau sudah menikah. Kenapa tidak memberitahuku soal itu?” ucap Pram sembari melepaskan pelukan Tama padanya.


Tama langsung terdiam, ia merasa tak enak dengan temannya itu. bukannya dia tak mau mengabari Pram, karena dia memikirkan kondisi kesehatan temannya itu yang masih dalam pemulihan.


“Ayo duduk dulu, sambil nunggu Adiba” ucap Rendra menyuruh kedua orang itu untuk duduk lebih dulu.


“Pram, aku minta maaf soal itu. bukannya aku tidak mau mengabarimu, tapi aku ada alasan tidak memberitahumu” ucap Tama merasa bersalah pada temannya itu.


“Ya aku tahu, kau pasti memikirkan kodisiku kan” lirih Pram, dan dia sesekali menunduk.


“aku benar-benar minta maaf, aku harap kau memaafkanku” Tama memegang tangan Pram meminta maaf atas kesalahannya itu.


“Iya aku maafkan, aku paham. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku” ucap Pram sambil tersenyum tipis.


“Kau datang sendiri? istrimu tidak ikut?” tanya Rendra pada Tama.


“Nggak, dia di Singapur masihan. Kita baru berangkat kemarin, dan dia hamil muda jadi mabuk perjalanan” jelas Tama.


“Istrimu hamil?”


“Iya, baru beberapa minggu. Besok aku ajak kau ke Singapur, kita bertemu dengan Kania” ucap Tama pada Pram.


“Boleh,” jawab Pram.


“Kalau begitu kalain berdua ngobrol dulu saja, aku mau siap-siapa berangkat kerja” ucap Rendra sambil berdiri.


“Iya Ren, terimakasih sudah mau menerima Pram disini” ucap Tama. Dia berkata begitu karena ia tahu Rendra orang yang posesif jarang bisa menerima pria yang ada disekeliling istrinya. Tapi Pram, diijinkan menginap dirumah Rendra, tentu ia harus banyak terimakasih terhadap Rendra yang sudah mau mengijinkan Pram menginap.


“Iya sama-sama, dia teman istriku kan. jadi pasti aku terima disini” balas Rendra dan langsung berjalan pergi meninggalkan dua orang itu.


“Kenapa kau tidak bilang kalau ke Indonesia? Dimana Dela?” ucap Tama saat Rendra sudah pergi.


“Dia di Amerika, aku datang sendiri kesini” jawab Pram melihat kecemasan di wajah Tama.

__ADS_1


“Apa? kau datang sendiri?” tama sedikit terkejut mendengar hal itu.


“Iya, kau tidak usah mencemaskan diriku. Aku sudah sembuh Tam, aku sudah tidak apa-apa, kau tidak usah khawatir” Pram berusaha membuat Tama agar tidak mencemaskannya.


“Kau serius? Aku takut kalau kau kenapa-kenapa atau belum sehat”


“Ya aku serius, aku sudah sembuh. Dan aku kemari ingin bertemu Tere, aku ingin memberikan sesuatu padanya”


“Apa?”


“Ini, aku ingin memberikan ini padanya” ucap Pram sambil mengeluarkan cincin dari saku celananya.


“Bukannya kau bilang padaku dulu untuk mengikhlaskannya, sekarang aku ikhlaskan dia pergi Tam. Aku tidak ingin dia sedih lagi disana” lanjut Pram pada Tama, matanya berkaca-kaca melihat cincin itu. cincin pasangan miliknya dan juga Tere. Dia akan menaruh cincin itu di makam Tere.


....................................................


Frans datang ke kantor Rendra, dia duduk di sofa ruangan anaknya itu sedangkan Rendra sedang membuatkan kopi melalui mesin kopi yang ada diruangannya.


“Tumben papa ke kantor ku?” tanya Rendra sambil membawa dua gelas kopi di tangannya.


“kenapa? Papa nggak boleh ke anak perusahaan papa” jawab Frans sambil menyilangkan kakinya.


“Boleh, siapa yang neglarang. Aku kan cuman tanya” ucap Rendra sambil duduk didepan papanya setelah ia menaruh kopi itu lebih dulu.


“Apa? masalah atau kabar bagus” Rendra menatap sang papa menelisik.


“Bisa di bilang kabar bagus” balas Frans sambil menyeruput kopinya.


“Apa?” Rendra semakin penasaran.


“Papa ada peluang bisnis di bagian mode, tapi papa serahin ke perusahaan kamu. kamu mau nggak? Waktu itu kamu mau ngembangin bisnis di mode juga kan?”


“Maulah, itu rencakaku dari dulu. buat melebarkan sayap ke bagian Fashion.”


“Ya sudah kalau kamu mau, seminggu lagi kamu berangkat ke Paris tandatangani kontrak kerja disana. Mereka nanti akan bekerjasama denganmu dan Fashion mereka baka dibawah naa perusahaan milikmu” jelas Frans.


“Apa, serius? Tapi kenapa harus aku yang kesana. Papa tahu sendiri aku nggak mungkin keluar negeri sendiri”


“Ya memang harus kamu, kesana kamu juga harus melihat bagaimana sistem kerjanya dan bagaimana cara mereka mempromosikan fashion mereka.”


“Aku nggak bisa pa, ke Luar negeri ninggal istri tuh gimana gitu” ucap Rendra yang merasa berat hati untuk meninggalkan istrinya.

__ADS_1


“Ya Adiba diajak, sekalian liburan berdua atau gimana”


“Ya kali pa ngajak Adiba, anak-anak aku gimana. Kalau diajak nggak mungkin, anak empat repot pa”


“Jeremy aja pa suruh wakilin aku ke sana?” ucap Rendra.


“Nggak bisa Ren, Jeremy ngurus perusahaan papa. Kamu ngurus perusahaan kamu sendiri, kalau Jeremy yang berangkat sama aja itu yang tanda tangan kontrak perusahaan papa. Ini kesempatan buat kamu buat nambah bidang?”


“Aku pikir-pikir dulu,”


“Apanya yang harus di pikir, tinggal berangkat soal anak-anak biar papa sama mama yang urus”


“Bukan masalah itu pa, Rafka sekarang sudah besar. Dia banyak protes kalau aku sibuk.”


“Nanti papa kasih pengertian ke dia, kamu berangkat sama Adiba. Jangan kelamaan mikir ini kesempatan bagus” nasehat Frans.


“Ya aku pikirkan lagi” pungkas Rendra, yang masih terasa berat hati untuk pergi ke Paris.


.....................................


Rafka baru pulang sekolah dia berlari masuk kedalam setelah keluar dari mobil yang menjemputnya.


“Mama, Mama” serunya memanggil sang Mama.


“Iya sayang ada apa?” jawab Adiba yang baru saja keluar dari kamar ketiga anaknya. Dia menggendong Raihan saat ini menghampiri putra sulungnya yang baru saja pulang.


“Ma, mama lihat ma aku dapat nilai bagus” ucap rafka girang sambil menunjukkan gambar miliknya yang diberi nilai A+ oleh sang guru.


“Wiih, anak mama hebat ya. Gambarnya bagus sayang” Adiba memuji sang anak.


“Iya dong ma, mama kemarin aku juga dapat nilai bagus wakt berhitung” ucap Rafka sambil membuka tas sekolahnya untuk memperlihatkan nilainya berhitung yang dapat bagus juga.


“nanti dulu ya sayang, itu Raiden nangis mama ke kamar dulu ya” ucap Adiba saat Rafka sudah membuka tas miliknya.


Kebetulan juga Raiden yang ada di kamar menangis membuat Adiba langsung pamit pergi,


“mama, kan aku belum kasi...” ucapan rafka terhenti karena sang mama sudah pamit pergi lebih dulu. wajah bocah itu langsung berubah cemberut, dia menatap sang mama yang menggendong adiknya masuk ke kamar.


Rafka langsung berbalik dan pergi dengan menunduk, dia berjalan kearah tangga dirumahnya semangatnya sudah hilang sekarang padahal tadi dia sudah menggebu untuk menunjukkan pada sang mama soal nilainya yang bagus.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2