
Adiba masuk bersama dengan dua pengasuh anaknya, mereka membawakan makanan untuk ketiga bocah kembar itu yang sedang berbaring di kasur sambil memainkan mainanannya.
“Anak-anak mama mainan apa sih sayang, sini kalian makan dulu ya” ucap Adiba sambil mendudukkan dirinya di tempat tidur dan mengambil Reva untuk ia suapi makan. Sedangnkan Raihan dan Raiden di pegang oleh dua susternya.
“Mama, nanti aku boleh pergi sama Om Alfin nggak?” Rafka masuk-masuk langsung berlari kearah mamanya meminta ijin pada sang mama yang sedang memangku sekaligus menyuapi adiknya.
“Mau kemana sih bang?” tanya Adiba pada bocah itu.
“Mau ke mall sama om Alfin, boleh ya?”
“Boleh tapi ngga beli mainan” jawab Adib sambil menyuapi Reva yang ada di pangkuannya.
“Yah, kok gitu ma” Rafka berubah cemberut saat mamanya bilang barusan.
“Abangkan kemarin udah beli mainan, jadi nanti kalau ke mall nggak usah beli mainan lagi”
“mama nggak asik, boleh ya..”
“Nggak sayang, kamu mau dimarah papa kalau beli mainan. Nggak usah ya, besok-besok lagi. Ingat kata pa-pa, jangan boros-boros” ucap Adiba berusaha menasehati putra sulungnya itu.
“hemm” Rafka terlihat kesal tapi dia hanya cemberut saja.
“Sini-sini, sama mama. Mainan sama adik-adik aja ya bang, “ pinta Adiba menyuruh anaknya itu mendekat. Karena dia tahu Rafka tengah kesal dan kemungkinan bocah itu nantinya akan merajut karena terlihat dari sorot matanya.
Dengan ogah-ogahan Rafka berjalan mendekati mamanya, dia ngin marah-marah tapi dia juga tak bisa melakukannya pada sang mama.
“Sus tolong suapin Reva juga ya,” ucap Adiba smabil menidurkan Reva di dekan Raiden.
“Iya bu” jawab Sus Harni.
“Abang Nggak marah kan sama mama?” tanya Adiba pelan.
Rafka hanya diam saja, sambil sesekali menunduk.
“mama bukannya nggak ijinin Rafka beli mainan. Tapi kan kemarin sudah beli maianan sayang, kemarin-kemarinkan mama selalu ijinin abang kan?”
“Tapi cuman satu aja ma,” jawab Rafka yang masih belum terima kalau tidak beli mainan.
“Meskipun satu sayang, mainan abangkan sudah banyak. Inget kata papa nanti mubazir”
“terserah mama deh,” kesal Rafka dan langsung pergi. Dia ingin menangis rasanya, Adiba hanya bisa menghela nafas. Bukannya dia pelit tapi kemarin anaknya sudah banyak membeli mainan jadi tidak untuk hari ini.
.......................................
Rendra baru saja pulang bekerja, dia melihat-lihat pekerjaannya yang lumayan tidak menumpuk seperti biasanya. Adiba datang membawakan teh hangat untuk suaminya itu, menaruh didepan sang suami duduk saat ini.
“Rafka kemana ya sayang?” tanya Rendra menanyakan sang anak.
“Rafka di kamarnya mas, oh iya mas dia marah kayaknya. Coba kamu temuin dia?” ucap Adiba pada sang suami.
__ADS_1
“Marah? Marah kenapa?” kaget Rendra.
“Tadi kan, dia ijin mau ke mall sama Alfin, dia bilang mau beli mainan.”
“terus kamu larang?”
“Kalau ke mall nggak aku larang mas, tapi nggak aku ijinin beli mainan.”
“Kenapa nggak kamu ijinin sih sayang, jadi marah kan dia?”
“Kan kemarin dia sudah beli mainan mas, bukannya kamu sendiri yang ngelarang buat Rafka nggak usah beli mainan lagi”
“iya deng aku lupa soal itu. Yaudah nanti aku yang ngomong sama dia, biar nggak marah” ucap Rendra pada istrinya.
“sayang besok aku libur kita ke taman safari atau liburan yok sama anak-anak” ucap Rendra mengajak istrinya untuk lliburan.
“Tapi Rafka kayaknya nggak libur nih mas”
“Rafka nggak libur ya, kita ijin ke sekolahnya aja sehari”
“Serius nggak pa-pa kalau ijin lagi kesekolah”
“Nggak pa-pa lah, memang kenapa?”
“Ya takutnya kamu marah anak kamu ijin terus, kan Rafka sudah sering ijin nggak masuk”
“Iya besok kita family time. Nah gini dong mas sekali-kali kamu libur”
“hemm” pungkas Rendra, dirinya masih terus merengkuh lengan istrinya manja.
“kamu mandi dulu sana baru manja-manjaan. Kamu juga belum lihat si kembar, nanti mereka lupa loh sama papanya”
“Ya nggaklah, masa sama papanya sendiri lupa”
“Ya bisa dong mas, mereka jarang ketemu ya lupa pasti”
“Ya, ya ya istriku. Ya sudah aku mandi dulu” ucap Rendra langsung berdiri dari duduknya dan dia berjalan kearah kamar mandi sambil membawa handuk di tangannya.
................................................
Pram bertamau kerumah Adiba dia baru saja datang dari Amerika, sudah lama ia tak ke Indonesia karena harus melakukan penyembuhan di Amerika sana. Niatnya ke Indonesia bukan karena ingin bertemu dengan Adiba saja tetapi ia juga ingin bertemu dengan Tama sudah lama dia tak saling komunikasi dengan Tama bahkan tadi dia datang ke Apartemen Tama pria itu tidak ada di apartemen.
“Ya ampun Pram, maaf lama menunggu ya?” ucap Adiba yang baru saja keluar ke ruang Tamu menemui Pram yang sudah menunggu dirinya.
“Nggak kok, aku juga baru sampai” jawab Pram sambil tersenyum membalas Adiba.
“Apa kabarmu, bagaimana sehat kan?” tany Adiba smabil memberikan pelukan pada Pram bertepatan dengan itu Rendra juga menyusul kedepan dia melihat istrinya yang memeluk pria lain.
“hemm” dehemnya untuk membuat dua orang yang pelukan itu agar menyudahi apa yang mereka lakukan.
__ADS_1
Otomatis keduanya langsung saling melepaskan dan duduk,
“Pram, ini suamiku Rendra” ucap Adiba mengenalkan Rendra pada Pram.
“Maaf ren, aku mengganggu waktu kalian” ucap Pram sambil menjabat tangan Rendra yang hanya diam membalasnya.
“Silahkan duduk” ucap Rendra pada Pram yang berdiri lagi untuk menjabat tangannya.
“Ada apa malam-malam kemari menemui istriku” ucap Rendra yang langsung pada intinya.
“Mas,” tegur Adiba sambil melihat suaminya yang duduk disebelahnya.
“Bercanda sayang” lirih Rendra.
“Maaf ya kalau aku mengganggu kalian jam segini, aku tadi habis ke apartemen Tama tapi dia tidak ada disana. Aku hubungi juga tidak bisa jadi aku kemari” jelas Pram merasa tak enak sudah bertamu kerumah orang malam-malam. Tapi mau bagaimana lagi, dia bingung harus kemana.
“Tidak apa-apa Pram, serius bang Tama tidak bisa di hubungi sekarang”
“Iya, makanya aku kesini”
“Kau bukannya ada di Amerika? Kenapa sekarang ada di Indo?” tanya Rendra pada orang didepannya.
“Aku memang di Amerika sekarang, aku ke Indonesi untuk mengambil sesuatu dan mengembalikan sesuatu”
“Apa itu Pram?” tanya Adiba penasaran.
“Sesuatu yang rahasia, besok kau juga pasti tahu. ya sudah Dib, Ren kalau begitu aku permisi dulu” ucap Pram yang tiba-tiba pamit untuk pergi. Karena dia merasa benar-benar tak enak pada Rendra.
“Loh kok buru-buru Pram, ini sudah malam kamu mau kemana? Bukannya kau baru sampai kan?” ucap Adiba yang terkejut.
“Iya kenapa buru-buru, soal diriku. Santai saja, aku memang begini, tidak usah tersinggung. Kau menginaplah disini” ucap Rendra, dia berusaha tak masalah. Karena dia juga tahu kalau Pram memiliki gangguan mental jadi dia kasihan.
“Tidak usah, aku..aku tinggal di hotel saja”
“memang kau sudah pesan hotel,?” tanya Rendra.
“Nah bener, kamu sudah pesan hotel memang Pram?” tanya Adiba.
Pram menggeleng tanda dia belum memesannya, bagaimana dia mau pesan hotel tujuannya tadi kerumah Tama tapi Tama tak ada.
“Pesan hotel lama, lebih baik tidur disini malam ini. Kamar Tamu masih kosong” pungkas Rendra.
“Iya Pram, tidur disini saja” ucap Adiba.
“Terimakasih” lirih Pram
°°°
T.B.C
__ADS_1