
Rendra duduk berdua bersama sang istri di karpet yang berada di bawah pohon. Mereka layaknya sedang camping keluarga sambil memperhatikan Rafka yang sibuk berlari mengejar kelinci.
“Mas mau makan siang sekarang atau nanti? Kalau sekarang aku ambilkan?” taya Adiba pada Rendra.
“nanti aja sama Rafka juga, dia masih asik main sama kelinci” jawab Rendra melihat istrinya dnegan ragu karena dia ingin berbicara sesuatu.
“Ya udah, kalau nanti” Adiba kembali menutup kotak nasinya.
“Aku boleh ngomong sesuatu nggak sama kamu?” tanya Rendra dnegan hati-hati.
“Mau ngomong apa?”
“Kamu jangan marah nanti ya sayang, ini aku sudah pikirkan matang-matang sebelumnya”
“Kamu mau ngomong apa sih mas kayak ragu begitu, kenapa aku harus marah?”
“Gini kan kita katanya mau nambah anak kan buat adik untuk Rafka, nah kamu kan sibuk kerja dan capek mungkin karena itu kamu sampai sekarang belum hamil lagi. Dan itu mungkin jadi faktornya” ucap Rendra tampak berusaha menjelaskannya tapi malah sedikit membingungkan buat Adiba.
“maksudnya gimana,, terus apa hubungannya”
“Maksudku kamu nggak usah kerja aja ya di rumah temenin Rafka. Dia juga kesepian di rumah sendiri”
“Maksud kamu, kamu nyuruh aku berhenti kerja”
“Iya, ini buat Rafka sama kamu juga biar cepat hamil lagi”
“Nggak ada hubungannya mas aku hamil lagi atau belum, kan soal hamil itu sudah ada yang ngatur. Terus masalah Rafka kan ada Mama kamu di rumah, ada Jeremy juga”
“Mama kan jarang di rumah sayang, Jeremy juga begitu. Kasihan kan Rafka sendirian, aku nggak tega lihat dia kesepian. Dia butuh perhatian salah satu dari kita. Kamu kerja juga buat apa, kan sudah aku yang kerja” tukas Rendra menatap mata Adiba.
Adiba hanya diam, dia terlihat mempertimbangkan apa yang dikatakan Rendra. Karena ada benarnya juga sih apa yang dikatakannya itu. Rafka memang sering mengeluh sendiri di rumah tidak ada teman karena ibu mertuanya sering keluar dan Jeremy juga jaang di rumah
“Gimana? Kamu mau nggak berhenti kerja” ucap rendra
“Ya udah kalau itu keputusan kamu aku nurut aja” ucap Adiba pada akhirnya.
“Makasih sayang, kamu mau menuruti permintaanku. Sekarang kita fokus buat adik untuk Rafka kamu jangan capek-capek di rumah” pesan Rendra dan mengecup kening sang istri.
“Iya,.”
Rendra kemudian memeluk istrinya dengan lembut, dia mengusap punggung sang istri.
“kamu nggak marah kan?”
“Nggak kok,” lirih Adiba, sebenarnya ini keputusan berat untuknya tapi dia kerja untuk apa juga. sudah ada Rendra yang menghidupi mereka jadi lebih baik ia fokus saja menjadi ibu rumah tangga.
....................................................
Jeremy berjalan di melewati kubik-kubik meja yang diduduki para pegawai kakaknya mereka semua sibuk bekerja dia melihat mereka satu persatu saat ini. meskipun wajahnya terlihat cemberut tapi dia begitu fokus memantau pegawainya.
“mereka liburan aku yang susah, Papa juga ngapain dia suruh aku ke kantor kakak. Bosen disini, bertahun-tahu masa mudaku hilang disini” gerutunya sambil sesekali melihat pegawainya sehingga membuatnya tidak begitu fokus dengan jalan di depan.
Brukk..
__ADS_1
Map-map terjatuh di lantai membuat Jeremy langsung melihatnya dan seorang perempuan menunduk meminta maaf.
“Maaf pak maaf saya tidak sengaja” ucap Nurma yang merasa bersalah dan takut-takut kalau Jeremy akan marah. Dia terburu-buru mengambil map-map yang berserakan di lantai itu.
“Astaga Nurma, kau membuatku makin kesal saja. Jalan pakai mata “ kesal Jeremy yang semakin memuncak sudah kesalnya yang sedari rumah tadi dia bawa.
“Perasaan dia yang jalan nggak pakai mata” lirih Nurma saat dia mengambil map-map itu.
“Kamu bilang apa tadi?” ketus Jeremy saat mendengarnya.
“Nggak pak, bapak salah dengar” ucap Nurma gelagapan sendiri saat ucapannya terdengar sang bos.
“Ya sudah sana pergi, ruangan kak Rendra sudah kau rapikan kan?”
“Sudah pak,”
“Makasih,” ucap Jeremy dan berjalan pergi dengan memasukkan tangannya ke saku celana meninggalkan Nurma yang tampa kesal sendiri.
Dia heran dengan sikap bosnya itu, perasaan dulu sebelum Rendra datang orang itu tidak gampang marah seperti ini.
“Aneh itu orang” gumam Nurma dan berlalu pergi ke mejanya.
“pak Jeremy kenapa Nurma?” tanya Sasa yang mendekati Nurma saat ini.
“Nggak tahu,” jawab Nurma singkat tidak terlalu menanggapi Sasa karena dia tidak dekat dengan perempuan itu.
“Nurma sebentar dulu kenapa aku mau tanya sama kamu?” ucap Sasa menghentikan langkah Nurma.
“Apa sih Sa aku banyak kerjaan”
“Ya mana aku tahu, udah ah. Ngapain juga kamu tanya soal itu sama aku” ucap Nurma dan langsung pergi meninggalkan Sasa yang tampak kesal sendiri karena tidak mendapat jawaban dari Nurma.
.........................................
Adiba bangun dari tidur sorenya, dia melihat sebelahnya saat ini dimana rendra dan juga Rafka masih terlelap tidur.
Tangan Adiba perlahan bergerak di wajah Rendra yang ada disebelahnya, Rafa tidur di pinggir karena bocah itu tidak mau tidur di tengah jadi Adiba Lah yang tertidur di tengah. Dia diapit oleh pelindung-pelindungnya.
“Dulu aku nggak pernah berpikir bakal sedekat ini sama kamu, eh sekarang malah punya anak dari kamu” gumam Adiba memegang hidung mancung Rendra perlahan.
Dia saat ini semakin di abuk cinta oleh suaminya, bagaimana tidak sifat Rendra berubah seratus delapan puluh derajat saat mereka menikah beberapa bulan ini. apalagi soal tadi dimana aksi Rendra begitu mengejutkannya, suaminya itu ternyata perduli dengan sesama membantu orang mendorong mobil dan memberikan santunan pada orang yang datang ke Vila.
“Aku bangga punya suami kayak kamu mas, maafin aku ya yang pernah mikir kamu bejat” ucapnya sambil menunduk untuk mengecup bibir suaminya singkat dan dia akan duduk kembali tapi sebuah tangan sudah melingkar di pinggangnya membuat dia tidak bisa bangun dan membuatnya berada di atas Rendra.
“Cari kesempatan nih, suaminya tidur main cium.” Lirih Rendra dan perlahan membuka matanya.
“kamu pura-pura tidur ya?” kaget Adiba saat melihat suaminya sudah bangun.
“Nggak, aku tidur tadi. Tapi karena ada yang meraba-meraba membuatku bangun deh” ucap rendra melebih-lebihkan.
“Siapa juga yang meraba-raba kamu mas, geer deh”
“Serius, aku nggak kamu raba-raba” Rendra masih menggoda istrinya.
__ADS_1
“Iih nggak loh mas, udah ah kamu mau nuduh aja. Aku mau bangun” kesal Adiba dan dia akan bangun tapi lengan Rendra yang menahan pinggangnya begitu kuat.
“Ngapain mau bangun, lanjut aja yuk bikin adik buat rafka” ucap rendra sambil merayap kan tangannya menggoda Adiba.
Apa yang dilakukan Rendra tersebut membuat bulu kuduk Adiba merinding seketika,
“Mas jangan gini dong nanti rafka bangun loh. Masa nggak malu kalau anaknya lihat” risih Adiba.
“Nggak akan, dia nggak akan bangun. Tahu sendiri dia kayak aku kalau tidur susah bangun” ucap Rendra dan akan mencium Adiba tapi Adiba malah menahan bahunya
“mas..” lirih Adiba tertahan karena dia takut Rafka bangun.
“Bercanda sayang nggak usah merah begitu pipinya” seringai jahil keluar dari wajah Rendra.
“kamu ya,” kesal Adiba lalu memberikan pukulan pelan di dada Rendra.
Rendra yang menerima pukulan itu hanya terkekeh melihat kekesalan istrinya tersebut. Dia langsung melepaskan pelukannya pada Adiba membuat Adiba langsung bangun dari tubuhnya saat ini.
“Kamu memang ya, bisanya jahili istri aja. Perasaan kamu dulu nggak pernah jahil tuh perasaan kamu cue aja dulu”
“Kata siapa? Aku jahil kok dari dulu buktinya aku sering gangguin kamu kan dulu”
“Itu bukan gangguin tapi bully, kamu sama teman-teman kamu yang nyebelin itu”
“Itu bukan Bully sayang, tapi cari perhatian. Salah kamu sih kamu cuek banget sama aku, nggak pernah lihat-lihat aku dulu”
“ya habisnya kamu sering ngatain aku, kamu playboy juga jadi ilfeel lah”
“Serius Ilfil, ilfeel kok makin cinta tadi katanya”
“udah ah ngapain bahas soal dulu. aku mau mandi dulu keburu sore nanti”
“mandi bareng yuk”
“nggak ah, mandi sama mas malah jadinya bukan mandi. udah mas tidur aja lagi,” ucap Adiba dan akan beranjak turun dari tempat tidur.
Tapi niatnya terhenti dan melihat kearah Rendra,
“Apalagi sih mas?”
“Ya udah kamu mandi sendiri tapi aku kasih sesuatu dulu”
“Apa?”
Rendra mencondongkan tubuhnya dan mencium bibir Adiba bukan hanya ciuman biasa tapi dengan ******* sampai Adiba melenguh karena hal itu.
“Suaramu seksi sayang,” goda Rendra saat melepaskan ciumannya, dia tersenyum melihat sang istri yang mengusap bibirnya kesal.
“kamu memang ya tukang cari kesempatan” kesal Adiba dan langsung melangkah turun dari tempat tidur.
Rendra hanya tersenyum saja melihat istrinya yang mendumel kesal karena ulahnya itu
°°°
__ADS_1
T.B.C