
Adiba berjalan keruang makan sambil membawa segelas susu hangat untuk sang putra yang sudah duduk di meja makan bersama dengan Rendra saat ini. Rendra sendiri menunggu sang istri mengambilkan makan untuknya.
‘Rafka, ini susunya diminum” ucap Adiba sambil menaruh segelas susu itu didepan sang anak. Dan dia langsung menarik kursi disebelah anaknya siap untuk sarapan pagi.
Saat duduk Adiba perlahan mengambil piring Rendra, seperti biasa dia mengambilkan lauk pauk untuk suaminya.
“Sayang aku mau ayam dong” ucap Rendra agar istrinya menambhakan ayam goreng juga di piringnya.
Tanpa menjawab Adiba mengambilkan apa yang di inginkan sang suami, setelah mengambil itu dia menaruh kembali piring yang telah terisi makanan di depan suaminya.
‘”Itu mas, buruan di makan dan berangkat kerja” ucap Adiba dengan wajah nampak tak ceria seperti biasanya tak ada senyuman dan hanya kata datar saja yang terucap.
Adiba sendiri langsung melihat kesebelah dimana anaknya tengah meminum susu saat ini,
“Kakak mau makan apa? biar mama ambilkan?” tanya Adiba pada anaknya tersebut.
Dia memang mulai membahasakan Rafka dengan sebutan kakak, agar saat anaknya lahir nanti Rafka bisa menjadi kakak yang sepenuhnya.
“Aku mau ayam goreng ma” jawab Rafka.
Adiba langsung mengambilkan apa yang di mau anaknya saat ini,
Rendra sendiri yang melihat perubahan pada Adiba hanya bisa menghela nafasnya saja, dia bingung harus menjelaskan bagaimana.
“Sayang, aku suapi kamu ya?” tanya Rendra lirih menawarkan diri untuk menyuapi sang istri.
“Nggak usah mas, aku bisa makan sendiri kok” tolak Adiba, dan dia mulai membalik piringnya dan siap mengambil lauk pauk yang dia inginkan tetapi Rendra segera menahannya dengan menghentikan tangan Adiba.
“Nggak pokoknya aku suapin, aku pengen nyuapin kamu. anak kita yang ada disini pasti pengen lihat papanya suapin mamanya” ucap Rendra sambil memegang perut Adiba yang sudah terlihat membuncit meskipun tidak terlalu nampak sekarang.
Usia kandungan Adiba baru beranjak tiga bulan, jadi belum terlalu terlihat saat ini.
Melihat tindakan yang dilakukan Rendra tersebut membuatnya sedikit luluh setelah memikirkannya sejenak.
“Ya sudah” jawabnya singkat.
Rendra yang mendapat jawaban itu langsung tersenyum, karena dengan begini istrinya akan mengurangi sifat dingin padanya.
__ADS_1
...........................................
Tama pagi-pagi sudah bersandar didinding di unit apartemen yang berada di depan apartemen miliknya. Dia tampak santai bersandar sambil melipat kedua tangannya di dada, kaca mata hitam bertengger di wajahnya menambah aura ketampanannya naik.
Dia melirik sekilas kearah pintu apartemen yang berada tepat disebelahnya saat ini seulas senyum terukir dibibir pria itu.
Cklek..
Terdengar suara seseorang membuka pintu dari dalam, dan kini pintu apartemen yang tertutup itu terbuka.
“Xavier memang menyebalkan, bisa-bisanya dia menjadikanku babunya” gerutu Kania sambil kesusahan membawa dua ransel. Ia menaruh dua ransel itu di lantai dengan perlahan karena sangat mengganggunya untuk menuntup pintu. Sangking ribetnya ia, sampai tak menyadari ada seseorang yang bersandar di dinding apartemennya saat ini.
“Perlu bantuan?” sebuah suara mengagetkan Kania membuat perempuan itu sedikit menjauh dari sumber suara. Dan matanya langsung melebar saat melihat siapa yang berdiri di depannya saat ini.
“Kak. Tama,” tukasnya dengan wajah yang masih tampak terkejut melihat pria itu.
“kenapa kaget?” tanya Tama dengan nada datarnya.
“Kenapa bisa ada disini?” gugup Kania saat ingatannya teringat pada kemarin pagi, dimana Tama mencium dirinya di apartemen pria itu. yang membuatnya semakin gugup dimana dia ingat , kalau ia kemarin juga menampar pria itu serta mengatainya brengsek.
“Kenapa matamu begitu, sakit mata atau ingat apa yang kau lakukan padaku kemarin” ucap Tama saat melihat Kania yang sesekali tampak memejamkan matanya terlihat seperti merutuki dirinya sendiri.
“aku bantu” ucap Tama sambil menatap Kania yang meneguk salivanya menatap curiga padanya saat ini.
“Ti.tidak usah, aku bisa sendiri” ucap Kania menolak, dan dia akan mengambil dua ransel yang ada di kedua tangan Tama tapi pria itu menghnindar.
“Tidak usah keras kepala , aku saja yang bawa”
“Ngomong-ngomg ini punya siapa? Sepertinya bukan punyamu” lanjut Tama penasaran sambil memperhatikan dua ransel yang masih dia tenteng. Dan dia perlahan menggendong salah satu ransel di tangannya.
“Punya pacarku kenapa?” tugas Kania dengan lugas menatap Tama yang langsung diam sambil menatapnya. Dan ekspresi wajah pria itu berubah datar. Tapi tak berlangsug lama, karena pria itu saat ini malah tersenyum.
“Pacar? Pacarmu ada didepan mu sekarang. Pacar mana yang kau maksud” ucap Tama sambil tersenyum.
Kania yang mendengar hal itu melebarkan matanya, sesekali juga matanya tampak berkedip tak percaya dengan ucapan Tama barusan.
“Siapa?” ucap Kania pura-pura tak mengerti.
__ADS_1
“Aku” jawab Tama.
“Hah,.” Kania secara refleks membuka mulutnya tak percaya.
“Sudah ayo jalan,” pungkas Tama berjalan lebh dulu dari Kania yang masih terpaku dnegan mulut yang terbuka.
“Kau mau disitu saja atau mau pergi” seru Tama saat dia berbalik, menyadari Kania yang belum berjalan juga.
“Kak Tama jangan asal ya, kakak bukan pacarku mengerti” ucap Kania tak terima dan dia berjalan mengejar Tama yang sudah duluan.
...............................................
Rendra menggandeng tangan Adiba, mereka berdua saat ini berjalan-jalan di mall hanya berdua saja. Mereka habis dari dokter kandungan dan mampir ke mall untuk membeli susu ibu hamil dan juga untuk membeli mainan Rafka.
“Kenapa kita nggak langsung pulang sih, bukannya mainan Rafka sudah dibeli. Terus mau kemana lagi mas, aku capek” pungkas Adiba yang mulai mengeluk capek sekarang.
“Sabar sayang, kita ke Cafe sebentar”
“Ngapain ke Cafe, ayo pulang aja” Adiba terasa enggan untuk ikut ke Cafe.
“Kamu ngajak aku pulang karena nggak mau lama-lama sama aku ya?” Rendra menghentikan langkahnya tentu saja otomatis Adiba juga ikut berhenti.
“Nggak” elak Adiba.
“Nggak, tapi dalam hati bilang iya mau menghndar. Kamu masih marah soal Gwen, sudah aku bilang tidak ada rasa sama dia. terus paket yang dia kirim, nanti aku kirim balik ke Amerika” tukas Rendra menatap wajah Adiba agar perempuan itu yakin.
“nggak usah bahas nama itu bisa, bikin mood aku rusak” ketus Adiba
“Yaudah ayo ke Cafe, tapi ngapain juga sih ke Cafe” ucap Adiba lagi.
“Mau ketemu Jeremy sebentar, udah dong nggak usah cemberut. Nanti kamu pesan apa aja aku belikan” ucap Rendra membujuk sang istri.
“Jeremy, kenapa dia mengajak kamu bertemu disini?” tanya Adiba penasaran.
“Nanti kamu juga tahu, ayo jalan. dia nanti nunggu kita kelamaan, mau kamu kena omel mulutnya yang pedas itu” ucap Rendra dan mengingatkan istrinya pada lontaran perkataan Jeremy ketika sedang marah yang selalu berbicara pedas.
Adiba akhirnya menuruti apa kata suaminya, mereka berdua langsung berjalan kembali melnjutkan perjalanan mereka.
__ADS_1
°°°
T. B. C