
Adiba tampak gelisah sesekali dia melihat kearah ponselnya yang sudah jam lima sore tapi Rendra yang sedari tadi diam sibuk di meja kerjanya tidak ada itikad mengajak pulang sama sekali. Padahal jam kerja saat ini sudah selesai,
“Daripada kau diam begitu melihatku lebih baik kau pulang” tukas Rendra tanpa melihat Adiba dia masih saja melihat kearah laptop miliknya.
Adiba yang terkejut mendengar ucapan Rendra tak menyangka Rendra berbicara begitu dengannya saat ini.
“Kenapa kamu malah menyuruhku pulang, kau tidak pulang?” ucap Adiba menatap Rendra.
“pekerjaanku belum selesai kau pulang saja naik taksi” jawab Rendra melihat Adiba sekilas, dan dia kembali fokus pada Laptopnya.
Adiba mulai berdiri, dia ingin menghampiri Rendra yang tidak menatapnya sama sekali.
“Apa pria itu marah denganku soal tadi?” batin Adiba sambil berjalan mendekati Rendra.
“Kau serius banyak pekerjaan, bukannya semua sudah kamu kerjakan semua dan sudah kamu tandatangani semuanya” ucap Adiba yang tak mempercayai perkataan Rendra.
Adiba akan melihat apa yang dilakukan Rendra tapi pria itu langsung menutup laptopnya agar Adiba tidak melihatnya.
“Kenapa kau malah kesini? Bukannya aku menyuruhmu untuk pulang duluan” Rendra langsung menatap kearah Adiba.
“Kau marah denganku?” tanya Adiba memberanikan dirinya.
“Untuk apa aku marah, ituk hak mu” sinis Rendra dan langsung berdiri.
“Ayo pulang, Rafka nanti mencari mu” ucap Rendra langsung berdiri dari duduknya, ia pergi lebih dulu meninggalkan Adiba yang syok dengan sikap Rendra padanya saat ini.
Mendapati sikap Rendra yang begitu padanya membuat hatinya sedikit kecewa sekarang, dia benar-benar tidak suka sikap Rendra yang seperti itu padanya.
“Kenapa diam disitu, ayo pulang” ucap Rendra yang sudah sampai diambang pintu melihat Adiba yang masih diam di tempatnya.
“Iya,” lirih Adiba dan dia berjalan kemeja kerjanya untuk mengambil tas miliknya saat ini.
.................................................
“Opa, Opa, aku beneran mau pindah sekolah” ucap Rafka yang menghampiri Opanya yang duduk bersama Omnya saat ini di ruang tengah.
“Iya sayang, Rafka mau kan pindah sekolah” sahut Citra yang duduk disebelah Frans.
“tentu Oma, Rafka senang kalau pindah sekolah, Rafka nggak mau lagi sekolah disitu. orang-orangnya jahat” jawab bocah tersebut.
“nggak boleh begitu nak” ucap Frans menasehati cucunya.
“Tapi memang jahat mereka Opa”
“Sini sama Opa” pungkas Frans menyuruh cucunya itu untuk mendekat padanya
Bocah yang sebentar lagi menginjak enam tahun itu, langsung berjalan mendekati sang kakek.
“Mereka tidak jahat, mereka cuman salah paham sama kamu atau sama Mama. Udah ya nggak boleh bilang mereka jahat sayang” Frans memeluk cucunya sambil menasehati bocah itu.
“kamu kenapa sih pa, yang dibilang Rafka itu bener mereka semua itu jahat. Masa anak kecil diomongi begitu, mereka itu orang tua macam apa” ucap Citra yang tidak terima dengan nasehat yang diberikan suaminya untuk sang cucu.
“udah ma, nggak usah ikut campur”
“Aku pulang..” seru Jeremy yang baru saja masuk kedalam rumah sambil menenteng tas ransel di bahunya.
“Kamu sudah pulang, tumben pulang lebih awal” ucap Citra saat melihat putra bungsunya yang baru saja pulang dari kampusnya.
__ADS_1
“Om Emy,.” Seru Rafka yang langsung berlari menghampiri Jeremy.
“Oh my god, Rafka sudah berapa kali Om bilang jangan panggil om Emy, nama Om Jeremy bukan Emy” ucap Jeremy menekuk lututnya didepan sang ponakan.
“Susah, Om Emy aja kan enak OM”
“makanan kali enak, Pa cucumu ini. bisa-bisanya dia memanggilku Emy didepan teman-teman wanitaku” adu jeremy pada sang Papa.
“Namanya anak kecil, sudah sana cuci tanganmu” pungkas Frans.
“Ya, oh iya dimana oang tuamu?” tanya Jeremy pada Rafka.
“Nggak tahu,” jawab bocah itu dan langsung berlari untuk duduk ditengah-tengah kakek dan neneknya.
“Kakak sama kakak ipar belum pulang Pa?” tanya Jeremy pada papanya.
“belum, mungkin sebentar lagi”
“Bagaimana skripsi mu, sudah semua atau belum. Cepat diurus dan segera bantu kakakmu di peusahaan”
“belum, masih lama. Lagi pula kakak tidak butuh bantuan ku. Udah ah aku mau ke kamar” ucap Jeremy dan langsung pergi.
“Anak itu sama saja seperti kakaknya, tinggal enaknya saja kenapa tidak mau semua” gerutu Frans melihat Jeremy yang sudah menaiki tangga.
“Sudahlah Pa, namanya anak muda. Biar dia senang-senang dulu”
“Itulah kamu ma, terlalu memanjakan anak. Itulah penyebab Rendra jadi membuat masalah. Kau tidak ingin Jeremy juga seperti itu kan?”
“Itu masa lalu pa, sudah tidak usah dibahas”
“Nggak sayang, Rafka sama Oma dulu ya. Opa mau ke ruang kerja dulu” pungkas Frans dan langsung berdiri.
Rafka tampak tak mengerti dnegan pembicaraan Oma dan Opanya yang seperti debat tapi debat apa. entahlah dia tak paham urusan orang dewasa.
..................................
Adiba baru saja selesai mandi, dia sudah memakai pakainya di dalam kamar mandi dan dia melihat Rendra duduk di tempat tidur sambil membaca majalah. Saat pintu kamar mandi terbuka Rendra melihat sekilas Adiba dan setelah itu dia mengabaikan istrinya begitu saja.
Adiba berjalan pelan dan ragu, dia masih melihat Rendra yang mengabaikannya begitu saja.
“Aku sudah selesai mandi, kau bukannya mau mandi tadi” ucap Adiba perlahan.
“Hemm,” Rendra menutup majalahnya begitu saja dan dia langsung berdiri sambil meletakkan majalah tersebut di nakas meja.
Rendra melewati Adiba begitu saja, dia langsung berjalan masuk ke kamar mandi mengabaikan istrinya yang tampak terkejut dnegan perlakuannya.
“Kenapa dia egois sekali,” lirih Adiba sambil melihat pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
“Mama,.” Pintu kamar Adiba terbuka berbarengan dengan suara Rafka yang terlihat antusias melihat Mamanya yang seharian tidak ia temui.
“Sayang,.” Ucap Adiba langsung memeluk anaknya, dan menggendong bocah itu.
“Mama aku mau ngomong sama Mama” ucap Rafka di gendongan Mamanya.
“mau ngomong apa sayang? Sini Mama duduk dulu” ucap Adiba sambil membawa anaknya untuk duduk di sofa.
“Aku mau pindah sekolah, Mama sudah tahu belum, Opa mindahin aku ke sekolah baru”
__ADS_1
“Sudah, Opa kemarin bilang sama Mama. Rafka senang pindah sekolah?”
“senang Ma, sekolahan Rafka gede sekarang. Orang-orangnya baik”
“Kok kamu sudah tahu sekolahnya gede sih sayang, kamu tadi ke sana?”
“Nggak, Oma Citra yang bilang. Jadi aku mau pindah,”
“Anak Papa mau pindah kemana?” tanya Rendra yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Papa,” seru Rafka dan langsung menghambur ke pelukan Papanya.
Rendra yang baru saja mandi dan hanya mengenakan celana pendek merentangkan tangannya saat anaknya itu menghampiri dirinya.
“”Aku mau pindah sekolah,”
“Pindah sekolah?” ucap Rendra yang seperti tidak tahu kalau anaknya akan pindah sekolah, dia melihat Adiba meminta penjelasan pada perempuan itu.
“Papamu yang memindahkannya, dan aku setuju” ucap Adiba yang langsung berdiri menghampiri keduanya.
“Papa tidak bilang padaku,” heran Rendra.
“Aku tidak tahu,” lirih Adiba yang merasa tidak enak, karena Frans hanya memberitahukan padanya. Rendra yang anaknya sendiri tidak diberitahu.
Rendra kemudian hanya diam saja,
“Rafka turun dulu ya, Papa mau ganti baju” ucap Rendra menurunkan anaknya.
“Sini Rafka sama Mama” ucap Adiba
Rafka langsung menghampiri sang Mama, dia sesekali melihat Papa dan Mamanya yang tampak seperti orang asing.
“Mama, aku keluar dulu ya. Ku mau sama Om Emy,” ucap Rafka yang ingin keluar dari kamar kedua orang tuanya.
“Loh kenapa kok mau keluar, kan mau ketemu sama Mama sama Papa kan”
“Nggak pa-pa”
Rafka langsung berlari keluar, dia ingin membiarkan kedua orang tuanya hanya berdua saja. Karena sepertinya kedua orang tuanya itu sedang ada masalah.
“Kamu bisa nggak sih nunjukin wajah nggak kesel sama aku didepan Rafka, dia itu anaknya pinter meskipun baru mau enam tahun” ucap Adiba menatap Rendra yang memakai bajunya.
“Siapa juga yang nunjukin wajah kesel sama kamu, kamu aja yang ngerasa” ketus Rendra dan melihat Adiba.
“Aku mau turun untuk makan malam, kau turun tidak” ucap Rendra.
“Kamu kenapa sih ketus banget sama aku kalau ngomong, aku buat salah sama kamu” ucap Adiba yang mulai kesal.
“kamu marah kan kalau aku ketus sama kamu, apa kabar aku yang kamu ketusin terus. Aku selama ini udah minta maaf sama kamu, lakuin semua demi kamu. tapi kamu masih anggap aku orang asing, dan lebih milih si Tama ketimbang aku”
Adiba terdiam, dia tertohok dnegan perkataan Rendra padanya saat ini. benar juga kenapa dia harus marah saat Rendra ketus padanya sekarang, dia sendiri yang bersikap begitu pada pria itu.
“Mau keluar denganku tidak? Kalau tidak aku duluan” ucap Rendra melihat dirinya di cermin sebentar merapikan rambutnya dan dia langsung pergi meninggalkan Adiba.
°°°
T.B.C
__ADS_1