CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 152


__ADS_3

Hari ini Rendra akan pergi ke paris bersama dengan Rafka dan juga Adiba, mereka bertiga akan berada di sana hanya lima hari saja karena tak mungkin meninggalkan si triple lama-lama. Rendra ke Paris hanya untuk mengurus kontrak kerjanya sekaligus menghabiskan waktu bertiga dengan anak sulung dan istrinya.


“mas, gimana Rafka katanya nggak ajdi ikut” Adiba tiba-tiba saja masuk ke kamar bilang bahwa anak sulungnya tak jadi ikut ke Paris.


“Apa, kenapa dia nggak jadi ikut pasportnya sudah di buat kenapa nggak jadi?” Rendra yang memakai jam tangan langsung berbalik melihat kearah istrinya yang bingung.


“Aku juga nggak tahu mas, tadi aku ke kamarnya buat manggil dia suruh nunggu dibawah tiba-tiba dia bilang nggak jadi ikut” ucap Adiba, terlihat gelisah.


“Ya sudah ayok, kamu suruh ujang buat bantuin nurunin koper. Aku ke kamar Rafka dulu” Rendra langsung berjalan keluar lebih dulu. ia ingin tahu alasan Rafka tidak mau ikut, padahal jelas-jelas kemarin bocah itu tidak protes.


Adiba menarik dua kopernya keluar kamar, agar ujang bisa membawanya ke bawah. Dia merasa bingung dengan keputusan Rafka yang tiba-tiba, ia juga takut suaminya akan marah pada anak mereka karena tiba-tiba bilang tidak jadi ikut.


Rendra yang sudah sampai di kamar Rafka membuka pintu kamar itu melihat anaknya yang malah sudah mengenakan seragam sekolah dengan di bantu suster Vera yang sedang merapikan rambut Rafka..


‘bang kok kamu malah mau sekolah, kita mau ke Paris sekarang” ucap Rendra mendekati anaknya.


Suster Vera langsung pamit pergi setelah merapikan rambut Rafka dan memasukkan buku pelajaran bocah itu.


“Aku nggak jadi ikut”


“kenapa baru bilang sekarang, kenapa nggak dari kemarin. Papa sama mama sudah siapin smeua buat kamu loh, ayo nanti kita disana sekalian rayain ulang tahun kamu”


“Nggak, aku mau dirumah aja. Aku mau sekolah aja pa,” lagi bocah itu menolak sambil menunduk.


“Ya kenapa nggak mau, waktu itu kamu antusias pengen ke Paris, kok sekarang nggak mau sih sayang. Ayolah, yuk ganti baju” Rendra berusaha berbicara secra pelan dengan sang anak. Ia memegang bahu anaknya menyamakan tinggi mereka,


“Aku nggak mau pa, papa sama mama kalau mau ke Paris. Ke Paris aja, aku nggak mau ikut” tegas bocah yang akan menginjak tujuh tahun tersebut.

__ADS_1


“bang, jangan buat kesabaran papa habis. Kamu kenapa labil begini, jadi anak yang dewasa dikit” aturan kalau nggak mau bilang dari waktu itu. papa sama mama sudah buat pasport buat kamu.”


“Papa sama mama sibuk, aku banyak les. Kapan aku bisa bilang?” sendu bocah itu.


“Bukannya papa bilang, aku harus belajar biar pinter. Kalau aku ikut ke Paris, aku ketinggalan pelajaran, nanti nilaiku jelek” ucap bocah itu lagi, meskipun dia mengatakannya terlihat kuat tapi wajah bocah kecil itu terlihat sedih.


“Aku mau kesekolah,” Rafka melepaskan tangan papanya yang ada di bahunya, dan dia langsung mengambil tas miliknya saat ini.


“Ya sudah terserah kamu bang, tapi nanti kalau nangis atau nyesel nggak jadi ikut jangan salahin papa sama mama yang sudah ajak kamu. papa disana sudah siapin semua loh buat ulang tahun kamu nanti”


“Nggak pa, papa bilangkan anak sulung nggak boleh cengeng. Aku ulang tahun di sini aja sama temen-temen” jawab bocah itu, dia langsung keluar dari kamarnya meninggalkan sang papa yang terpaku menatap kepergiannya.


“kenapa Rafka sekarang terlihat lebih dewasa dari umurnya,” gumam Rendra lirih, ia merasa anaknya sudah begitu dewasa bukan layaknya bocah tujuh tahun.


Adiba yang sudah turun d bawah terlihat terkejut saat melihat anak sulungnya sudah ada di meja makan menyantap sarapannya.


“Nggak,” Rafka menggeleng,


“Mama aku berangkat dulu” ucap Rafka yang sudah selesai memakan roti panggangnya.


“Bang bentar,” ucap Adiba membuat langkah kecil bcah tersebut berhenti.


Adiba langsung memeluk anaknya,


“Kamu marah sama mama ya?” tanya Adiba sambil memeluk anaknya.


“Nggak, aku berangkat ma” ucap rafka melepaskan pelukan sang mama yang mengendur.

__ADS_1


“Rafka sudah berangkat sekolah?” tanya Rendra yang sudah turun tak melihat anaknya dan hanya melihat sang istri yang melihat lurus kedepan.


“Sudah mas barusan” jawab Adiba. “Mas, Rafka kenapa ya? Dia kayaknya berubah deh” ucap Adiba pada suaminya.


“Berubah gimana? Nggak ada perubahan itu sifat alamiah anak-anak yang masih labil. Sudah ayo kita juga berangkat sarapan di bandara saja nanti” ucap Rendra pada sang istri.


‘Tapi mas, kita serius mau ninggalin Rafka dirumah. tiket pesawatnya terus gimana?”


“Ya mau gimana lagi, tiketnya hangus. Dan Rafka sendiri yang nggak mau ikut, mau gimana lagi coba” ucap Rendra yang juga bingung.


“Tapi kok jadi ragu mau ninggalin anak-anak dirumah ya?”


“Kamu nggak usah ragu deh, ayo buruan nanti kita nggak sempat sarapan. Soal Rafka nanti biar aku suruh Jeremy sama Risa yang jagain dia. kan ada papa sama mama juga” Rendra langsung merangkul istrinya menenangkan perempuan itu.


Mau tak mau Adiba ikut ucapan suaminya, ia juga sebagia seornag istri harus menemani suaminya untuk pekerjaan di luar negeri. Siapa tahu ia juga bisa membantu karena dulu ia juga seorang wanita karir. Tapi soal anak, kenapa rasanya berat untuk ia tinggalkan, sungguh pilihan yang sulit saat ini. ia pergi dengan hati yang gamang


Sedangkan di mobil Rafka melihat bukunya dimana tugas sekolah sudah ia kerjakan semalam tanpa bantuan mamanya. dia terlihat lesu, dan wajahnya tampak begitu sedih saat ini. sebenarnya dia ingin ikut, tapi mengingat ucapan papanya beberapa hari lalu membuatnya takut. Benar dia takut nilainya turun kalau dia ikut keluar negeri, papanya bilang kalau nilainya turun dia tidak boleh main game lagi dan tidak boleh main kemana-mana.


Faktor itulah yang mempengaruhi bocah tujuh tahun tersebut memilih tidak ikut, seoang bocah yang di beri iming-iming jika nilai naik akan diberi hadiah dan jika nilai turun akan diberi hukuman. Bocah manapun yang mendengar akan mendapat hukuman tentu saja akan ketakutan, termasuk Rafka bocah cerdas yang begitu dewasa melampau umurnya yang masih kecil.


“den Rafka, hari ini jadwalnya les Renang. Mau les atau pulang nantinya?” tanya Sus Vera.


“Les sus” jawab bocah itu.


Sebenarnya hari ini kalau jadi ke Paris dia tidak akan les renang tapi karena dia tak jadi ikut, ia harus les renang menuruti segala keinginan sang papa kalau dia harus bisa semuanya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2