
Rendra masuk kedalam kamarnya dengan membuka pintu perlahan agar istrinya tidak tahu kalau dia masuk kedalam tapi ternyata Adiba sudah menunggunya sambil melipat kedua tangannya di dada menatap kearahnya saat ini.
“hehehe sayang, kamu nunggu aku” ucap Rendra sambil menunjukkan giginya menatap sang istri yang memasang wajah serius.
“Menurut kamu” balas Adiba terkesan dingin.
“Sini-sini duduk dulu” Rendra menarik pelan tangan istrinya mengajak perempuan itu untuk duduk di tepi ranjang bersama dengannya.
“Udah sekarang bilang, kamu kenapa nggak ngomong sama aku kalau kamu berantem sama Mama. Kamu mau pergi kemana? Kenapa Mama sampai marah-marah sama kamu?” tegas Adiba meminta penjelasan dari suaminya itu.
“Kamu serius ini semua dengar dari Rafka?” tanya Rendra menatap istrinya.
“Hemm,”
Rendra memejamkan matanya sekilas,
“Ya ampun kenapa anakku terlalu pinter banget sampai dia tahu semua, gagal jadi kejutan” runtuk Rendra dalam hatinya.
“kenapa diem mas, aku tanya sama kamu?” tukas Adiba
“Rafka salah denger sayang, nggak ah siapa juga yang mau pergi”
“Nggak mungkin mas, dia salah dengar. Kamu nggak usah bohong deh maksud kamu mau pergi, pergi kemana?” tanya Adiba tak begitu percaya dengan sang suami.
“Aku..aku tuh ma..mau kasih kejutan, eh malah gagal” pungkas Rendra terbata.
“maksudnya apa?”
“Aku tuh mau ngajak kamu pindah rumah, aku sudah beli rumah buat keluarga kecil kita nanti” ucap rendra akhirnya jujur soal rencananya untuk mengajak anak dan istrinya pindah rumah.
“Apa? kamu serius mas?”
“Iya sayang, aku beli rumah untuk kita sama anak-anak kita nanti. Tapi Mama tahu dari temannya yang rumahnya aku beli itu. makanya Mama marah sama aku, dia ngelarang kita buat pindah rumah” jelas Rendra memberitahukan permasalah dirinya kenapa bisa di marahi oleh sang Mama.
“Ya udah mas, turuti aja apa kata mama. Mama nggak ngijinin kan, kita di rumah ini aja, aku nggak pa-pa” lirih Adiba yang mendengar hal tersebut, meskipun dia senang dengan perkataan Rendra kalau mereka akan tinggal di rumah mereka sendiri tapi dia juga merasa tidak enak saja dnegan mertua perempuannya yang sepertinya tidak suak kalau mereka pindah rumah.
“Kok gitu sih sayang, aku nih pengen punya rumah sendiri jadi kepala keluarga buat kamu sama anak-anak kita. Kalau disini kapan kita majunya, dan aku juga nggak suka aja sayang kalau kamu sering diomongin Mama” ucap rendra dan langsung menutup mulutnya saat dirinya keceplosan bicara.
“Maksud kamu apa mas? Aku nggak ngerti deh kenapa Mama ngomongin aku” ucap Adiba yang terkejut sekaligus sedih mendengar hal itu, dia selama ini tidak tahu dan tidak merasa kalau Mama mertuanya membicarakan dirinya.
“Ngg..nggak kok salah bicara”
“Mas kamu ini jangan jelekin Mama kamu, “ tukas Adiba menasehati suaminya.
Rendra hanya diam saja, sebenarnya dia tidak salah bicara Mamanya terus membicarakan Adiba katanya istrinya itu tidak terlalu bisa mengurus anak dan entah mengapa Mamanya sedikit aneh terus membicarakan istrinya yang tidak baik.
“Sayang aku minta maaf, kamu nggak usah mikirin apa yang aku omongin tadi, aku mandi dulu ya habis ini kamu mau ikut aku ke kantor nggak lihat kerjaan Jeremy bagaimana” ucap rendra berdiri dari duduknya sambil melihat kearah Adiba yang duduk mendongak menatapnya.
“Iya, aku ikut mas. Ajak Rafka nggak?”
“Ajak aja, kasihan dia di rumah sama Mama terus” ucap Rendra, dia juga ada alasan mengajak anaknya karena nanti Mamanya berpikiran buruk tentang Adiba lagi yang tidak bisa mengurus anak. Padahal selama ini Adiba dia yang minta untuk menitipkan Rafka pada Mamanya eh malah menjadi masalah begini dan istrinya yang menerima amarah. Meskipun Mamanya tidak mengatakan langsung pada Adiba tapi Mamanya selalu mengadukan hal itu padanya.
__ADS_1
.........................................
“Masuk,” perintah Tama mempersilahkan orang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk kedalam.
Pintu terbuka dan membuat Tama tertegun di tempat duduknya saat ini saat melihat perempuan yang selama seminggu ini tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.
“Permisi pak maaf mengganggu, saya kesini untuk mengantarkan berkas yang diperintahkan pak Juno” ucap Kania bersikap begitu formal pada Tama yang mengernyitkan dahinya menatap aneh. Tak biasanya Kania bersikap formal begitu padanya.
Kania berjalan mendekat Tama yang hanya duduk diam saja menatapnya tanpa bicara sedikit patah kata pun.
“Ini pak tolong tanda tangani berkasnya” Kania menaruh berkas tersebut tepat di depan Tama yang masih melihatnya, dia pura-pura tidak melihat hal itu mengabaikan tatapan Tama yang terkesan menekan dirinya. Tapi bodo amat, dia sudah membulatkan tekad untuk menjaga jarak dari Tama.
“Tumben, kau seminggu ini tidak menunjukkan batang hidungmu?” ucap Tama sambil membuka berkas didepannya.
“Bukannya bapak yang menyuruh saya untuk pergi dari hadapan bapak, kalau yang dimaksud bapak keluar dair perusahaan ini maaf saya tidak bisa pak. Saya butuh makan dan untuk membiayai hidup saya jadi saya haru bekerja” jawab Kania.
“Bagus kalau kau menuruti perintahku” tukas Tama terkesan dingin, tapi entah kenapa dia merasa tak suka dengan ucapan Kania padanya.
“Oh iya, soal kosan saya..itu bapak yang membayarnya kan? saya akan bayar kalau saya sudah gajian pak” ucap Kania menatap Tama yang langsung mendongak melihat kearahnya.
“Siapa yang membayarnya? Jangan menghayal kamu untuk apa saya membayar kosan kamu” elak Tama seakan tidak melakukan hal itu.
“Tukang gengsi kambuh, saya tahu kok pak kalau bapak yang membayar kosan saya. Anda juga kan yang menyuruh ibu kos untuk memasang Ac di kosan saya”
“Jangan asal kamu” ucap Tama meninggikan suaranya.
“Siapa juga yang asal, saya melihat sendiri anda datang ke kosan saya. Anda memarahi ibu kos saya kan, bapak pikir saya bodoh atau saya tidak bisa melihat” sinis Kania.
Tama terdiam mendengar ucapan Kania barusan, dia seperti tikus yang tertangkap basah.
“Bapak sudah menandatanganinya kan, kalau begitu saya ambil pak. Saya banyak kerjaan yang harus saya kerjakan” ucap kania mengambil berkas dari meja Tama yang sudah selesai pria itu tanda tangani.
“Sebentar?” ucap Tama menghentikan pergerakan Kania, dan kini menatap kearahnya.
“Ada apa ya pak?” ucap perempuan itu.
“Ini,” Tama mengambil sesuatu dari dalam jasnya dan menyodorkannya kearah Kania saat ini.
Secarik kertas putih dia sodorkan pada Kania membuat kania menatapnya penasaran dengan kertas itu. “apa kira-kira yang diberikan Tama padanya,” pikir Kania.
“Apa itu pak?”
“Lihat saja sendiri” ketus Tama.
Kania mengambil secarik kertas tersebut degan ragu, dia melihatnya sekilas dan kemudian membukanya.
Tertera alamat rumah di sebuah negara dan juga nomor telpon dnegan operator luar negeri tercantum di kertas tersebut.
“Apa ini pak?” herannya.
“Alamat rumah Papamu dan nomor telpon Papamu” jawab Tama terkesan cuek dan memalingkan wajahnya saat Kania menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
__ADS_1
“A..apa? ba..bapak serius ini nomer telpon Papa saya” Kania tak mempercayai hal itu, matanya berkaca-kaca akhirnya dia mendapatkan alamat rumah serta nomor telpon papa kandungnya yang terus ia cari selama ini.
“hemmm” jawab Tama singkat.
Kania langsung berlari mengitari meja Tama mendekati tama yang menatapnya heran, tanpa di dua Kania memeluk Tama yang duduk di kursi kerjanya saat ini.
Kania terlihat begitu bahagia saat ini, rasanya begitu membahagiakan hatinya mendapatkan alamat rumah Papanya yang sudah bertahun-tahu tidak ia temui.
“Makasih, makasih Kak. Aku..aku bener-bener berterimakasih sama kakak. “ ucapnya terharu sambil memeluk Tama yang terpaku bak patung saat dipeluk kania dengan posisi saat ini.
“Kak Tama ternyata masih sama seperti dulu yang peduli sama aku, makasih banget kak” ucapnya terisak di pelukan Tama.
Entah mengapa hati tama tergerak untuk membalas pelukan Kania saat ini, dia mengusap lembuh bahu Kania yang naik turun karena menangis.
“A..apa yang kau lakukan” ucap Tama saat tersadar dengan apa yang dia lakukan saat ini, dia langsung mendorong pelan Kania agar pelukan mereka terlepas.
“Kenapa sih, orang kok aneh” sungut Kania sambil mengusap air matanya.
“Ka..kamu keluar dari ruangan saya. Sudah tidak ada urusan lagi kan dengan saya” ucap Tama meminta Kania untuk keluar dari ruangannya saat ini.
“Asli kak Tama memang nyebelin, tapi makasih atas bantuannya. Soal uang kosan kapan-kapan aku ganti dan soal ini. aku akan pikirkan bagaimana aku membalas budi kakak. Aku keluar dulu kak” ucap Kania sambil tersenyum pada Tama yang diam saja memalingkan wajahnya.
“Bodoh kamu Tama, bodoh, bagaimana bisa kamu membalas pelukannya” runtuk Tama memaki dirinya sendiri.
..............................................
“Om Emy,” Seru Rafka yang berlari masuk kedalam ruangan Jeremy saat ini. Jeremy yang sednag bermain game serta menaruh kakinya di meja kerja yang biasanya di gunakan rendra langsung menurunkan kakinya dengan sedikit insiden yang hampir membuatnya terjatuh.
“Eh busyet, kok kamu disini anak kecil sama siapa?” kaget Jeremy saat melihat keponakannya yang menghampiri dirinya.
“Sama orang tuanya lah sama siapa lagi” sahut seseorang yang barus aja masuk kedalam ruangan itu bersama dengan Aiba yang dia rengkuh pinggangnya.
“Ya ampun kalian kesini ngapain, lo lagi kak. Kalau nggak niat kerja nggak usah kesini bikin mood gue rusak, seminggu sudah gue disini dan gara-gara lo cewek gue marah” kesal Jeremy mengeluarkan uneg-uneg nya saat melihat sang kakak.
“Om Emy, Om Emy aku mau lihat dong om emy tadi mainan apa?” kepo Rafka dan sedikit berjinjit untuk melihat ponsel Omnya yang ada di meja.
“Kepo, ayo sini” ucap Jeremy dan menggendong keponakannya itu membawa bocah itu ke sofa dimana kakaknya dan juga kakak iparnya duduk.
“Ngapain kalian kesini?”
“Liat kau kerja, masalah” jawab Rendra.
“ngapain juga, nggak ada kerjaan banget kalau nggak penting mending pulang aja deh sana” usir Jeremy yang tak mood meladeni kakaknya itu.
“Nggak kita kesini mu ngasih kamu makan siang, ini kakak bawain banyak makanan buat kamu” pungkas Adiba sambil menunjukkan Tote bag yang dia bawa.
“Wiih serius,” mata Jeremy langsung berbinar melihat itu kebetulan dia saat ini tengah lapar.
Pria itu langsung duduk sambil memangku keponakannya dan melihat sekilas makanan yang dibawakan oleh kakak iparnya tersebut.
°°°
__ADS_1
T.B.C