
Kediaman Frans saat ini kedatangan tamu yang mereka sudah nantikan beberapa waktu lalu. Tamu dari anak kedua mereka Jeremy, orang tua dari calon istri Jeremy saat ini diundang untuk datang kerumah. Bukan mereka saja yang datang tetapi Rini dan juga Alif beserta kedua anaknya juga ikut datang. Karena mereka termasuk orang yang dianggap orang tua oleh Adiba.
“Istri kamu dimana?” tanya Frans saat melihat anaknya yang datang sendiri kerumahnya saat ini. Rendra yang baru saja masuk kedalam rumah langsung melihat aneh kearah Papanya saat ini.
“Ada itu masih dimobil” jawab Rendra.
“Kalian masih marahan?” tanya Frans setengah berbisik di telinga Rendra.
“Tahulah pa, nggak usah tanya. Dia marah sama aku dari kemarin padahal aku sudah kasih bukti sama dia soal Gwen. Tapi masih saja marah, pusing kepalaku” gerutu Rendra.
“Bukti apa yang kamu kasih, rekaman atau foto? Papa sudah kasihkan rekamananya pada Jeremy apa dia tidak memberikannya padamu?” tanya Frans.
“Papa yang kasih rekaman ke Jeremy, bukan Jeremy yang mencari buktinya” kening Rendra tampak guratan bingung.
“Orang suruhan Papa yang cari bukti kenapa?” heran Frans. “Bentar kenapa jadi bahas adik kamu, Papa tanya dimana istri kamu sekarang? Kalian masih marahan.” Tukas Frans begitu ingin tahu soal hubungan anak dan menantunya.
“Dibilang marahan sih nggak cuman, dia dingin banget sama aku, cuek minta ampun kayak masih marah. Apa bawaan hamil begitu, mama dulu apa begitu?”
“Nggak, kamu kasih bukti bentuk apa ke istimu”
“Aku kasih foto pa, dia masih aja ngambek. Kemarin waktu lihat fotonya dia cuman biasa saja terus pergi dan minta Pizza malahan. Aku kira dia inta Pizza kemarin sudah nggak marah sama aku tahunya masih sama” terang Rendra mengenai sikap istrinya yang tak ada perubahan setelah Adiba melihat semua foto Gwen.
“Rekaman kau berikan padanya tidak?”
“Nggak, itu dibawa Jeremy lagi” jawab Rendra sambil menggelengkan kepalanya.
“Kamu memang bodoh, kamu berikan bukti foto mana bisa istrimu percaya soal itu. tahu sendiri kau orang licik, mana ada orang yang pernah dibohongi percaya hanya dengan sebuah foto yang kemungkinan bisa direkayasa”
Rendra tampak terperangah dengan ucapan sang Papa, yang mengatainya bodoh, tapi dia memang bodoh sih kenapa tidak memberikan rekamannya pada Adiba malah membiarkannya begitu saja di lantai dan diambil Jeremy.
“Haduhh, kamu sudah dewasa punya anak tapi pikian kamu masih dangkal ya. Ambil sana rekamannya pada aidkmu, percuma Papa memncarikan bukti sebanyak itu padamu” Frans tampak geram sendiri dengan putra sulungnya, dia bahkan tampak ingin memukul Rendra tapi tidak enak dengan yang lainnya yang berada didekat mereka.
__ADS_1
“Jadi benar, bukan Jeremy yang mencari bukti itu?” Rendra maish saja membahas soal hal itu.
“Dia mencarinya tapi hanya sebagain, dan yang lainnya Papa, sudah sana ajak istrim atau cari adikmu minta rekaman itu dan berikan pada istrimu” perintah Frans dan langsung pergi meninggalkan Rendra.
“Jeremy, anak itu menipuku. Akhh, uangku terbuang sia-sia untuk bocah itu” geram Rendra kesal mengingat adiknya kemarin ia beri hadiah mobil sport mewah keluaran terbar dan juga jam tangan.
“Rugi besar, rugi besar” gumamnya lagi dan langsung pergi dari tempatnya berdiri saat ini.
.................................................
“Terimakasih sebelumnya atas kedatangan kalian kerumah keluarga kita, dan selamat bergabung Risa di keluarga kita” cap Fran sambil tersenyum menatap calon menantunya yang duduk bersama dengan orang tua perempuan itu.
Mereka semua saat ini tengah berkumpul di runag tamu sehabis makan malam bersama, banyak hal yang dibicaakan oleh Frans dan juga yang lainnya membahas pertunangan Jeremy dan Risa.
“Kita juga ingin berterima kasih pada Tuan dan nyonya Dewangga yang sudah mengundang kita kemari, dan saya sebagai ayah Risa ingin mengucapkan banyak terimakasih karena sudah mau menerima putri saya sebagai menantu tuan nantinya” ucap ayah dari Risa yang mengucapkan syukur atas undangan Frans pada mereka. Mereka benar-benar bersyukur dengan hal ini, karena seorang konglomerat mengundan dan mau menerima anak mereka yang bukan berasal dari keluarga yang berada.
“Justru kita yag sangat berterimakasih pada kalian yang mau menerima putra saya yang super duper aneh ini” ucap Frans diseleingi tawa pelan sambil melihat Jeremy yang menatapnya kesal.
“Kalau begitu kita sekeluarga pamit pulang dulu ya tuan Dewangga, maaf sudah merepotkan anda sekeluarga” pamit orang tua Risa, karena memang sudah malam dan mereka tak enak jika masih bertamu dirumah caln besan mereka saat ini.
“kenapa buru-buru, kita belum banyak ngobrol.” Uap Frans.
“Sudah malam tuan, dan besok juga kita harus bekerja. Jadi sekali lagi kami sekeluarga mohon maaf sebesar-besarnya” lirih ayah Risa.
“Ya sudah kalau begitu,” ucap Frans hanya psrah saja.
Orang tua Risa dan Risa langsung berpamitan untuk pulang mereka menyalami semua yang ada disitu termasuk bulek dan juga Om dari Adiba.
Setelah kedua orang tua Risa dan juga Risa pergi, Adiba dan mama mertuanya juga ikut pergi tanpa bicara meninggalkan ruang tamu. Rendra yang ingin berbicara dengan istrinya menjelaskan persoalan mereka langsung terdiam melihat istrinya yang pergi begitu saja.
Dia hendak menyusulnya tetapi Jeremy sudah menghadang di depannya saat ini,
__ADS_1
“Ngapain sih lo, minggir” ucap Rendra menyuruh adiknya minggir dari hadapannya.
“Kenapa sih, aku cuman berdiri disini. kakak aja yang jalan nggak lihat-lihat, mau kemana sih” ucap Jeremy pada kakaknya.
“nyusul istri gue lah, sudah mingg..”
“Rendra, bisa diam tidak. Kamu tidak malu dengan bundamu dan ayah mu” tegur Frans. Yang dimaksud ayah dan bunda adalah Rini dan juga Alif. Adiba memanggil mereka dengan sebutan ayah dan bunda.
Rendra langsung diam, sambil melihat kearah Rini dan juga Alif yang melihatnya.
“Aku mau kebelakang Pa, tapi Jeremy menghalangiku” jawab Rendra lirih.
“Mau ngapain kebelakang, sudah sini saja. Duduk lagi di tempatmu, kalau kau kebelakang anakmu kembali terus tidak melihat kedua orang tuanya disini pasti dia mencari kalian” ucap Frans mengingatkan Rendra soal Rafka yang saat ini sedang diajak Alif pergi ke supermarket yang tidak jauh dari rumah orang tua Rendra.
“Denger kak, duduk dulu. kayak anak kecil saja, kakak ipar itu capek mau istirahat. Malah mau kau ganggu” pungkas Jeremy.
“Sudah diam saja kau ini, kembalikan jam tanganku dan mobil yang kubelikan” bisik Rendra di telinga Jeremy.
“Enak saja, ogah, itu hak gue” Jeremy langsung melebarkan matanya menatap kakaknya tak terima.
Rendra sendiri mendengus kesal, sambil menatap jengah Jeremy.
“Oh iya aku baru ingat, aku ulang tahun perasaan kalian tidak mengucpkan apa-apa padaku,” ucap Rendra yang akan duduk di sofa tetapi ia urungkan dan langsung melihat kearah Jeremy.
“Siapa yang ulang tahun? Kakak.? Waah aku lupa. Maaf ya, hehhe..sudahlah kak tidak usah mengharapkan ucapan sudah dewasa”
“Kenapa Adiba tidak memberikan ucapan atau apapun padaku, apa dia lupa kalau suaminya ulang tahu. bukannya memberi ucapan tapi malah marah pada suaminya, ini semua gara-gara keluarga gila itu. aku sampai lupa dengan ualng tahunku sendiri” batin Rendra menggerutu dongkol dengan permasalahnya ini bahakan hari spesialnya terlupakan begitu saja.
°°°
T.B.C
__ADS_1