CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 39


__ADS_3

Siang hari Rendra dan juga Rendra baru saja sampai di Jogja mereka saat ini tengah menunggu jemputan mereka yang akan mengantar keduanya ke sebuah tempat.


“Kamu dari tadi diem aja, nggak ada niatan mau ngomong sama aku” ucap Rendra pada Adiba yang berdiri di sebelahnya.


“Mau ngomong apa memang yang harus aku omongin sama kamu” jawab Adiba tanpa melihat kearah Rendra.


“Kamu gengsi-gengsi mau ya sama aku,” ledek Rendra pada Adiba.


“terserah apa katamu” tukas Adiba melihat Rendra sekilas.


“Pak,.” Seru seseorang yang mendatangi mereka berdua.


“Iya, ada apa ya?” tanya Rendra yang tampak heran ada seorang pria yang menghampiri dirinya saat ini.


“pak Rendra kan?” ucap pria tersebut.


“Iya saya Rendra, anda siapa ya.” Ucap Rendra


“Saya suruhan pak Milano untuk mengantar mobil pada bapak, ini pak mobil yang bapak sewa selama disini” ucap pria itu sambil menyerahkan kunci mobil pada Rendra.


“Oh, anak buah Milano. Kalau begitu terimakasih dan sampaikan salam saya buat dia” jawab Rendra sambil menerima kunci mobil tersebut.


“Kalau begitu saya permisi dulu pak” ucap pria itu dan langsung pamit pergi.


“iya” pungkas Rendra mempersilahkannya.


Pria itu langsung berjalan pergi masuk kedalam sebuah mobil yang lain, dan tadi memang tidak datang sendiri melainkan bersama temannya yang lain.


“Ayo mobil kita sudah sampai” ucap Rendra dan langsung menggandeng tangan Adiba.


Adiba sendiri hanya diam sambil memperhatikan tangannya yang digandeng oleh Rendra sekarang.


“Kenapa diam saja, ayo jalan. bawa sendiri koper mu. Karena tanganku penuh harus menggandeng dirimu. Tidak masalah kan, kamu membawa sendiri koper milikmu” ucap Rendra memperhatikan Adiba.


“Kau pikir aku tidak bisa membawanya sendiri” ketus Adiba melepaskan tangannya dari Rendra sambil menarik koper miliknya.


“sama suami jangan ketus-ketus begitu dong nanti cinta mati sama aku loh” goda Rendra yang menyamai langkahnya dengan sang istri, tangannya yang beas kembali menggandeng tangan Adiba.

__ADS_1


Adiba sendiri hanya diam saja, dia sedang malas ribut dengan orang egois nan keras kepala seperti Rendra.


Tak butuh waktu lama mereka sampai di mobil yang berada di parkiran, keduanya sudah berdiri disebelah mobil saat ini.


“Sudah kamu masuk dulu, koper mu biar aku yang masukin ke bagasi” perintah Rendra pada Adiba.


Tanpa bicara Adiba langsung berjalan masuk kedalam mobil membiarkan Rendra memasukkan koper seorang diri.


.....................................................


“Apa-apa ini, kenapa saya tidak boleh check out, jelas-jelas saya sudah membayar lunas hotel ini. dan saya tidak melakukan kejahatan apapun kenapa saya di tahan di hotel” ucap Rama marah-marah pada security hotel. Dia saat ini akan pergi dari hotel bersama anak dan istrinya tapi di larang oleh security hotel karena mereka berbuat kejahatan dan harus bertemu dengan manager hotel terlebih dulu.


“Maaf pak, tapi saya diperintahakan oleh manajer saya untuk menahan bapak serta keluarga bapak disini. Dia ingin bertemu dengan anda” ucap security tersebut.


“Silahkan bapak dan istri kembali ke kamar” lanjut security tersebut.


“Kau tidak lihat anakku menangis, dia ingin pergi dari hotel ini, dia sudah tidak nyaman” cap Rama menunjuk bocah berumur empat tahun yang sedang menangis.


“Sudahlah yah, nanti saja kalau begitu kita ulang ke Bogor Nya, kita disini saja dulu sehari du hari. Ayah juga ada cuti kan masihan” ucap sang istri menenangkan.


‘siapa?” tanya Rama menatap ponsel yang dipegang security tersebut.


“Pemilik hotel ini, ingin bicara dengan bapak” ucap sang security.


Rama merasa semakin aneh kenapa juga pemilik hotel tempatnya menginap ingin bicara dengannya saat ini.


“Iya halo,” ucap Rama saat mengangkat panggilan tersebut.


“Halo, anda tuan Ramastya. Perkenalkan saya Tama Suryaja pemilik hotel yang anda tempati saat ini.” ucap Tama dari seberang sana.


“Tama Suryaja? Saya tidak kenal anda kenapa anda menahan saya di hotel milik anda seperti ini. saya tamu anda seharusnya anda bersikap baik pada tamu” ucap Rama.


“saya selama ini bersikap baik kan, pelayanan di hotel saya juga baik. Saya hanya ingin anda stay di hotel saya selama sehari saja. Besok anda sudah boleh pulang. Tiket akan saya berikan pada anda gratis dan uang anda akan saya kembalikan. Jadi tetapi di hotel sampai besok. Saya mohon pada anda, karena akan ada orang yang ingin bertemu anda nanti” ucap Tama dari seberang sana.


“Siapa yang ingin bertemu saya? Manajer hotel anda?”


“Bukan, tapi orang yang menyayangi anda. Saya tutup dulu panggilannya” ucap Tama dan langsung mematikan panggilan lebih dulu sebelum banyak pertanyaan yang akan di ajukan Rama padanya.

__ADS_1


“Siapa sebenarnya orang ini, dan siapa yang akan mengajakku bertemu” gumam Rama bingung.


“Sudah yah, kalau begitu kita ke kamar saja. Diki ketakutan disini” ucap sang istri mengajak suaminya itu pergi ke kamar mereka saja.


Rama melihat sekilas anaknya yang menangis dan dia langsung menuruti ucapan istrinya tersebut.


“Ya sudah kalau begitu ayo ke kamar” ucapnya dan langsung berjalan bersama istrinya.


.....................................


“hanya ini yang bisa ku lakukan padamu Diba, abang hanya bisa membantumu seperti ini” ucap Tama yang baru saja selesai menelpon orang suruhannya yang ada di Jogja.


Dia memang tahu keberadaan ayah dari Adiba yang kebetulan menginap di hotelnya. Dia juga mendengar kabar kalau Rendra dan Adiba akan ke Jogja makanya itu dia sengaja menahan ayah Adiba agar tidak pulang lebih dulu ke Bogor agar mereka berempat bertemu.


Dia tahu niat Rendra mengajak Adiba ke Jogja karena pria itu ingin menemui ayah Adiba secara langsung. Dia tahu semua ini karena dia menyuruh orang untuk mencari tahu apa yang dilakukan Rendra dan akhirnya dia tahu kalau pria itu akan bertemu dengan ayah Adiba. Makanya dia secara diam-diam membantu Rendra dnegan menahan ayah Adiba agar tidak kembali dulu ke Bogor sebelum bertemu mereka berdua.


“Tama,.” Ucap seseorang yang masuk kedalam kamar Tama dengan marah-marah.


“Ada apa?”


“Kau bilang ada apa, kau membuat masalah apa di Hotel. Kenapa kau melarang tamu untuk pergi dari sana” ucap pria paruh baya tersebut.


“Siapa yang membuat masalah pa, apa salahnya kalau melarang tamu pergi dulu itu hotel milikku bukan milik papa jadi papa jangan ikut campur” tukas Tama tidak suka.


“kau makin kesini makin kasar dengan papamu” sinis pria itu.


“Ya membuatku seperti ini papa kan, gara-gara dirimu juga adikku tiada.”


“Jaga mulutmu,” ucap Papa dari Tama dan akan menampar anaknya tapi tidak jadi.


Tama yang sedari tadi duduk di tepi tempat tidur langsung berdiri menatap Papanya.


“Apa aku salah bilang begitu, memang kenyataannya kan. Kalau Papa tidak melarang hubungan Tere dengan pacarnya tidak mungkin Tere mengakhiri hidupnya.” Ucap Tama dengan tajam dan dia langsung pergi meninggalkan sang Papa yang terdiam karena ucapannya tersebut.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2