CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 50


__ADS_3

Adiba baru saja turun dari dalam mobil Rendra begitu juga dengan Rendra yang turun dari dalam mobil.


Mereka berdua sedari tadi meskipun satu tempat di dalam mobil, mereka tidak saling bicara satu sama lain sehingga keduanya terasa sunyi saat ini.


“Adiba,” seru seseorang yang melambaikan tangannya dari salah satu mobil, itu Tama yang melambaikan tangan padanya.


Rendra yang masih berada disitu melihat sekilas kearah Tama, dia tidak senang melihat pria tersebut yang pagi-pagi sudah berada disitu.


Adiba melihat kearah Rendra yang menunjukkan wajah tidak sukanya saat melihat Tama yang melambaikan padanya.


Rendra tak peduli, dia langsung pergi dari situ, tetapi Adiba yang sudah berdiri disebelahnya menahan tangannya saat ini.


“Kau mau kemana?” tanya Adiba saat Rendra akan pergi.


“Masuk kedalam,” jawab Rendra sambil melepaskan tangan Adiba dari tangannya.


“Tunggu sebentar disini,” pungkas Adiba meminta Rendra untuk menunggunya.


“Untuk apa, kau tidak ingin diganggu kan” sinis nya.


“Adiba, abang mau bicara sebentar sama kamu” ucap Tama yang sudah berdiri didepan Adiba saat ini.


Rendra langsung pergi dari situ meninggalkan Adiba yang menatapnya tidak enak, perempuan itu antara bingung harus bagaimana.


“Bi..bicara apa yang bang?” ucap Adiba yang terbata, dia tampak risau takut Rendra malah semakin marah.


“Abang mau bilang kalau besok abang nggak lihat Tere, abang minta tolong sama kamu ya. Tolong kamu datang temuin Tere” pesan Tama pada Adiba.


“Bang Tama mau kemana?”


“Abang besok harus ke Luar Negeri, ada urusan sebentar di sana”


“Ada urusan apa bang, kok nggak bilang dari kemarin sih bang. Tere kecewa loh nanti sama bang Tama”


“Ya mau bagaimana lagi, abang serius ada perlu. Abang minta tolong ya, temui Tere titip salam dari abang” ucap Tama sambil memegang tangan Adiba memohon pengertian perempuan itu.

__ADS_1


Tanpa diduga ternyata Rendra masih berada disitu dan dia melihat Tama yang memegang tangan Adiba saat ini. bahkan dia juga bisa melihat Tama yang memegang kepala istrinya. Dia semakin kesal melihat itu, tapi mau bagaimana lagi, akhirnya Rendra memutuskan pergi begitu saja meninggalkan Adiba dan juga Tama berdua.


..........................................


Adiba masuk kedalam ruangan kerjanya yang dimana ruang kerja Rendra juga, dia membuka pintu secara hati-hati dan melihat Rendra yang tadinya sibuk di depan laptop kini melihat kearahnya tetapi hanya sebentar saja dan pria itu langsung kembali melihat laptop.


Langkah kaki Adiba begitu berat untuk berjalan ke mejanya saat ini, karena tatapannya terus tertuju pada Rendra yang diam tanpa suara.


“Mulai besok ruangan mu ada di luar” ucap Rendra saat Adiba sudah hampir sampai di mejanya.


Adiba yang tadinya akan duduk langsung menatap Rendra tak mengerti, sebegitu marah dan kecewanya pria itu padanya. Kenapa Rendra tidak mengerti dirinya saat ini.


“kau marah padaku?” tanya Adiba menatap Rendra, dia tidak bisa dibeginikan terus oleh pria tersebut.


“Untuk apa aku marah, memang aku ada hak untuk marah” tukas Rendra menatap wajah Adiba.


Adiba menelan ludahnya, sambil menatap pria tersebut. Perlahan langkahnya mendekati Rendra saat ini.


“kalau kau marah padaku bilang, jangan begini. kenapa kau tidak bisa mengerti diriku sama sekali” tukas Adiba.


“Kau marah hanya soal itu, kau jadi aku pasti melakukan apa yang aku lakukan. Alasanku memilih bang Tama jelas,”


“Kau bilang jelas, jelas darimana. Dia orang lain dan aku sudah menjadi suamimu. Suami mana yang tidak marah kalau istrinya memilih pria lain” Rendra mulai berdiri dari duduknya menatap Adiba..


Adiba hanya diam saja, sambil menunduk tak berani menatap Rendra yang memberikan tatapan mengintimidasinya saat ini.


“jawab, apa aku salah marah sama kamu karena kamu milih orang lain ketimbang aku” ucap Rendra meminta jawaban pada Adiba.


“Terserah kamu lah, kalau kamu memang mau marah padaku yang jelas kau tidak tahu jadi aku bagaimana. Kau tidak akan mengerti,” ucap Adiba yang tidak mau menjawab, dia malah langsung pergi kembali kemejanya.


Rendra langsung menahan tangan Adiba, dia menatap wajah perempuan itu yang menatapnya saat ini.


“aku tahu kau menderita selama ini karena diriku, apa maaf ku selama ini tidak cukup hah. Kalau kau ingin aku mengerti terima aku, dan cerita semua padaku soal kesulitan-kesulitan mu dulu karena ku”


Adiba melepaskan tangan Rendra yang mencekal pergelangan tangannya saat ini menatap pria itu.

__ADS_1


“kau tahu apa yang aku alami dulu karena dirimu, aku diusir oleh Papa, Ibuku tiada, di anggap hina oleh orang-orang. Bahkan saat aku melahirkan dulu, tidak ada yang membantuku di rumah. Tetanggaku yang melihat aku mau melahirkan malah ditinggal begitu saja seakan aku ini bukan orang. Dan kau tahu apalagi yang aku dapatkan karena perbuatan mu dulu, anakku yang menjadi sasaran kebencian mereka semua, mereka mengatai anakku anak haram. Kau mengerti, bagaimana perasaanmu dengan itu. dan apa yang aku lalui semua itu hanya bang Tama dan Tere yang selalu ada untukku. Bang Tama juga yang selalu memperhatikan kehamilanku, kesejahteraan anakku. Kau tahu sekarang kenapa aku memilih dia ketimbang dirimu,” ucap Adiba menatap Rendra dengan mata berkaca-kacanya, bahkan setetes air mata jatuh di pelupuk matanya saat ini.


Rendra diam saja melihat Adiba mengusap wajahnya sendiri, dia merasa memang drinya selama ini tidak ada di dekat Adiba tetapi saat ini dia ada dan akan membuat kehidupan Adiba lebih baik lagi.


“Soal dulu aku minta maaf, dan aku minta maaf atas semua penderitaan yang aku alami karena diriku. Tapi sekarang aku ada disini bersama mu, tolong beri aku kesempatan dan percaya padaku”


“Aku sedang berusaha untuk percaya denganmu jadi tolong beri aku waktu, dan untuk masalah bang Tama tolong jangan paksa aku untuk memilih. Aku tidak bisa memilih soal itu, bagaimanapun dia begitu berjasa padaku.”


“Aku tahu kalau kau suamiku, tapi tolong jangan minta aku untuk memilih meninggalkan bang tama yang sudah seperti kakakku sendiri. kau sendiri kan yang memutuskan ingin menikahi ku, jadi tolong jangan menyuruhku meninggalkan bang Tama. Hubunganku dan dia hanay sebatas kakak dan adik tidak lebih” lanjut Adiba, dia menatap Rendra sambil berlinang air mata karena pilihan itu begitu sulit, dia tidak bisa meninggalkan Tama orang yang selalu ada untuknya.


Rendra masih diam dan langsung menarik Adiba kedalam pelukannya saat ini, dia mengusap lembut bahu istrinya.


“Aku tidak akan mempermasalahkan itu lagi kedepannya, tapi tolong jawab dari mulutmu saat ini. apa kamu mencintaiku sekarang?”ucap Rendra menatap sang istri.


Adiba melepaskan pelukan Rendra dan menatap pria itu,


“Apa kau selama ini tidak tahu perasaanku?”


“tidak,” jawab Rendra singkat.


“kau memang pria yang tidak memiliki perasaan” pungkas Adiba dan langsung akan berjalan pergi tetapi Rendra menahan tangannya.


“bagaimana bisa aku tahu perasaanmu, kalau kau selama ini diam. Apa kau tahu perasaanku terhadapmu bagaimana dulu?” tukas Rendra sambil menahan tangan Adiba.


“Aku mencintaimu dari dulu tapi karena diriku yang bodoh ini, aku malah membuatmu begitu kesusahan. Aku mencintaimu dari dulu Adiba, bagaimana denganmu. Bagaimana perasaanmu padaku sekarang?” ucap Rendra lagi.


Adiba terdiam, mendengar ucapan Rendra barusan. Benarkan Rendra mencintainya dari dulu.


“Jawab aku, lalau perasaanmu padaku bagaimana. Apa hanya benci yang kamu rasakan sekarang,” tukas Rendra.


“Aku mencintaimu dari dulu,” jawab Adiba lirih,


Mata Rendra yang mendengar itu langsung berbinar dan dia menarik Adiba lagi kedalam pelukannya saat ini


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2