
Adiba saat ini sedang menyiapkan keperluan Rafka sekolah, dia menatakan buku pelajaran mana yang akan dibawa anaknya itu kesekolahnya. Sedangkan Rafka sendiri sedang mandi, saat dia sibuk menata buka di meja tiba-tiba saja perutnya sedikit keram refleks dia langsung memegang perutnya saat ini.
“Arkhh,” rintihnya sambil memegangi perut.
“Aduh, kenapa perutku sakit begini” ucapnya mengerang sakit, sambil menahan itu Adiba menarik kursi yang ada meja belajar anaknya itu perlahan dia mendudukkan dirinya. Siapa tahu dengan duduk rasa sakitnya menghilang.
“Aduh nak kamu kenapa,.” Ucap Adiba sambil menahan rasa nyeri di perutnya. Ia perlahan mengusap perutnya saat ini sambil mengatur nafas dalam-dalam.
“mama kenapa?” tanya Rafka yang baru saja keluar dari kamar mandi, bocah itu sudah bisa mandi sendiri. karena Adiba mengajari anaknya untuk mandiri di umur anaknya yang mau menginjak tujuh tahun.
“Perut mama agak sakit sayang, kamu buruan ganti bajuya ya. Itu sudah mama siapkan baju kamu” ucap Adiba smabil melihat kearah anaknya.
“mama sakit?” tanya Rafka yang langsung mendekat kearah mamanya.
“Cuman nyeri sedikit sayang, buruan kamu ganti baju. Papa sudah nunggu loh,” pinta Adiba.
“Arkh,” rintih Adiba tertahan, dia menggit bibirnya agar tak terlalu merintih sakit didepan Rafka.
Rafka yang termasuk pintar tentu saja tak lepas dari wajah sang mama.
“mama sakit? Aku panggil papa ya?” ucap Rafka dan dia langsung berlari keluar untuk memanggil sang papa.
“Sayang nggak usah, mama nggak pa-pa” seru Adiba dari dalam kamar. Tapi telat anaknya itu sudah berlari keluar.
Baru juga Rafka berlari keluar, bocah itu sudah kembali dan bersama Rendra yang tampak cemas buru-buru mendekatinya.
“Sayang, sayang kamu kenapa.?” Tanya Rendra khawatir.
“Kok kamu ada disini mas?” bukannya menjawab Adiba malah balik bertanya.
“Aku sudah di luar tadi, mau nyamperin kamu terus Rafka keluar bilang perut kamu sakit.”
“Aku nggak pa-pa mas, cuman kram aja kok”
“Nggak mama bohong, tadi mama sakit” ucap Rafka yang menyela ucapan mamanya.
“Nggak sayang, mama nggak pa..aduh..” ucap Adiba dan rintihan sakit keluar dari mulutnya.
“Sayang,.” Rendra yang melihatnya semakin khawatir.
__ADS_1
“mana yang sakit bilang sama aku, atu nggak kita kedokter yuk” ucap Rendra mengajak istri ke dokter karena dia takut istri dan calon anaknya kenapa-kenapa.
“Aku nggak pa-pa kok mas cuman kram dikit, ungkin karena kecapean aja. Udah nggak usah kerumah sakit” ucap Adiba.
“Kamu sih sudah aku bilang nggak usahlah ngurus-ngurus rumah atau soal rafka kan ada bibi yang ngurus.” Rendra terlihat meninggikan suaranya.
“Rafka, sini deket papa” ucapnya meminta sang anak untuk mendekat.
Bocah itu langsung berjalan mendekati sang papa,
“Papa kan sudah pernah bilang sama kamu bang, kamu sudah gede buku-bukunya diurus sendiri. masa harus mama yang urus, kasihan kan mama kamu kesakitan begini” Rendra melampiaskan kekesalannya itu pada sang anak. Dia menasehati anaknya dengan nada sedikit lebih keras.
“I..iya, Rafka salah..huhu rafka minta maaf.” Bocah itu merasa sedih dengan ucapan keras papanya yang terdengar memarahi dirinya saat ini.
“Mas, udahlah bukan salah Rafka juga.” Adiba berusaha membuat suaminya itu tenang.
“Itu bukunya dimasukin ke tas Rafka, Papa tunggu dibawah. Ayo sayang,” ucap Rendra pada anaknya dan dia langsung membantu istrinya berdiri.
“Papa tunggu kamu dibawah bang, pakai baju sama bukunya disusun” ucap Rendra lagi menyuruh anaknya itu.
“Mas, aku nggak pa-pa. Aku bantu Rafka dulu,” ucap Adiba yang masih bersikeras ingin membantu anaknya.
“Kamu juga nggak usah ngeyel kenapa, ayo buruan ke kamar istirahat” tukas Rendra yang semakin kesal,
Rendra hanya diam saja, dia berjalan menuntun Adiba keluar. Sedangkan Rafka hanya diam sambil mengambil buku-bukunya dan memasukkannya kedalam tas sekolah dengan wajah cemberut sekaligus sedih.
Adiba merasa kasihan dengan anaknya, dan dia merasa tak terima dengan sikap Rendra barusan. Tapi dia tidak bisa apa-apa, tidak mungkin mereka berdebat didepan anak kecil. Akhirnya Adiba hanya menuruti saja perkataan suaminya itu.
.............................................
Mobil yang dikendarai Rendra sudah sampai didepan sekolah elit tempat Rafka bersekolah. Pria itu melihat sekilas kearah gerbang sekolah yang ramai anak-anak dan orang tua yang mengantarkan anak mereka disana. Tatapan Rendra berlaih kearah anaknya yang menunduk saja sedari tadi.
“Rafka,” panggil Rendra pada sang anak.
Bocah itu langsung mendongak melihat sang papa dengan tatapan datar dan mulut yang terkatup rapat.
“Papa minta maaf soal tadi ya sayang, papa bukannya marah sama Rafka tapi papa khawatir sama mama kamu. maafin papa ya,” ucap Rendra yang mengusap kepala anaknya lembut dan dia mengecup kepala anaknya itu.
Rafka menanggapinya hanya dengan mengagguk saja,
__ADS_1
“Ya sudah kamu belajar yang rajin ya, nanti Opa Frans mau jemput kamu kesekolah. Kamu pulang sama Opa Frans ya” ucap Rendra lagi.
“Iya” jawab bocah itu singkat.
“Papa tadi nggak marah kok sama Rafka, papa cuman ngajarin bagaimana jadi abang dan anak pertama yang mandiri. Rafka kan sudah mau tujuh tahun, bentar lagi punya adik tiga jadi Papa cuman mau Rafka jadi abang yang mandiri yang bisa jagain adik-adiknya dan yang bisa lindungi mama. Sudah dong anak papa jangan cemberut gitu, senyum dong” ucap Rendra memegangw ajah anaknya lembut saat menaydari tak ada senyum ataupuneskpresi lain diwajah bocah itu.
Rafka memperlihatkan sneyumnya meskipun terpaksa, bocah itu tampak masih mengingat kemarahan papanya tadi. Karena baru pertama kalinya papanya itu berbicara keras dengannya selama ini sang papa selalu hangat padanya tak seperti tadi pagi.
“ya sudah sekarang abang sekolah dulu, itu Kelvin ” ucap Rendra sambil menunjuk kearah bocah yang baru saja datang diantarkan orang tuanya tepat didepan gerbang.
Dalam diam, Rafka mengambil tangan sang papa mencium tangan itu dan langsung pamit keluar dari mobil. Bocah itu berjalan keluar mobil sembari menggendong tasnya dan menunduk bahkan ketika temannya menyapa Rafka hanya tersenyum tipis saja.
Semua itu tak lepas dari Rendra, Rendra yang melihatnya dari dalam mobil merasa bersalah sendiri. karena Rafka pasti terkejut dengannya tadi pagi, itu petama kalinya dia marah pada anaknya bahkan berbicara keras seperti itu. setelah memastikan sang anak benar-benar masuk ke dalam sekolah ia langsung menjalankan mobilnya pergi dari depan sekolah itu.
............................................
Adiba hanya berbaring saja di kasur, ia begitu bosan karena di larang turun kebawah oleh suaminya. Sehingga dia hanya berjalan keliling kamar atau tidak kebalkon lantai atas saja hal itu membuanyajenuh dan bosan meskipun dirinya sudah menonton film.
“Yaampun nak, tumben banget kalian rewel sih. Rewelnya pas ada papa kalian, mama jadi kekurung begini” ucap Adiba mengusap perutnya yang cukup besar itu berbicara dengan anak-anaknya yang ada di dalam perut.
“apa karena kalian sebentar lagi mau keluar jadi aktif banget di perut mama, nggak sabar pengen keluar ya,” lagi Adiba mengajak berbicara perutnya itu.
Tok, Tok
Terdengar ketukan pintu di luar kamarnya, membuat dia langsung melihat kearah pintu yang masih tertutup itu.
“Iya kenapa?” tanyanya dari dalam, dan dia perlahan turun dari ranjang.
“Itu non di bawah ada Tamu yang pengen ketemu non Diba?” ucap Bibi dari luar.
“Siapa bi?”
“Bibi kurang tahu non, katanya sih saudara dari Bogor”
“Oh, suurh keatas aja bi, suruh tunggu diruang tengah atas nanti saya temui” seru Adiba lagi.
“Iya non”
“Tamu dari Bogor? Kalau dari Bogor pasti keluarga ayah. Tapi siapa?” batin Adiba,.
__ADS_1
°°°
T.B.C