CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 118


__ADS_3

Kania diam saja di dalam mobil perjalanan pulang, dia sesekali melihat kearah Tama yang fokus mengemudikan mobil yang mereka naiki saat ini.


“Kak Tama,” panggil Kania pelan, otomatis hal itu mengalihkan pandangan Tama kearahnya .


“Iya ada apa?” Jawab tama dan balik Bertanya pada Kania.


“Nanti kita bisa berhenti di suatu tempat dulu, kak Tama ingin mendengar jawabanku soal semalam kan?” pungkas Kania perlahan. Dia juga akan jujur pada Tama soal kemungkinan Adiba dan Rendra yang langsung pergi tanpa berpamitan pada mereka.


“jelas aku menunggu jawaban darimu, dan kamu juga tau kalau jawabanmu tak sesuai yang kuinginkan aku akan menyerah. Jadi terserah apa katamu nanti soalku, kamu pasti tahu sendiri bagaimana sifatku jika sudah di tolak” jelas Tama menatap wajah Kania serius.


Kania diam memperhatikan sorot mata keseriusan Tama, ya dia tahu betul Tama seperti apa.


“Oh iya, tidak jauh di depan ada restauran enak. Kita berhenti disitu saja, kamu mau?” tanya Tama dan ucapannya kembali lembut.


Kania menjawabnya dengan senyuman tipis dibarengi dengan anggukan pelan,


“Kania stop, sok jual mahalmu. Lihatkan Tama sudah benar-benr bertekuk padamu. Ayo mulai hal baru lagi, dan jangan mencoba untuk cemburu atau memisahkan Tama dengan Adiba” ucap Kania penuh penekanan dalam hatinya, agar dia bisa menghilangkan egonya dan kecemburuan yang tak beralasannya itu.


Ditengah lamunan Kania, tiba-tiba saja tangan perempuan itu terasa bergerak dan hangat membuat Kania langsung melihat kearah tangannya yang tergenggam tangan Tama saat ini.Tama yang menyetir mobil sambil menggenggam tangan Kania melihat sekilas perempuan itu dengan senyumannya.


..........................................


Rafka baru pulang sekolah, dia berjalan pelan ke pintu gerbang sekolahnya. Langkah kecilnya yang lesu tak bersemangat. Bocah itu tampak kelelahan membuatnya tak bersemangat sama sekali,


“Hey Bro, kenapa nih” sapa Jeremy yang sudah menunggu bocah itu di depan gerbang sekolah.


Rafka yang melihat Omnya sudah menjemputnya saat ini, mendongak menatap berbinar pria itu.


“Om Emy,..” ucapnya girang saat melihat sang OM.


“Ya, saya disini. gitu dong, masa cemberut terus. Kenapa cemberut, ada yang nakal sama kamu?” Jeremy menyamakan tingginya dengan Rafka dan memegang lembut bahu sang keponakan.


“Nggak” jawab bocah itu menggenggelng.


“Lalu, kenapa ponakan ganteng Om cemberut” heran Jeremy menelisik wajah bocah itu mencari apa penyebab sang keponakan terlihat murung.


“Om Emy, bakal sayang terus kan sama Rafka?” tanya Bocah itu pada Jeremy.

__ADS_1


Jeremy mengerutkan keningnya tak mengerti dengan pertanyaan Rafka.


“Kok kamu tanya itu sih bro, ya Om bakal sayanglah sama kamu. kamu ponakan Om satu-satunya” jawab Jeremy sambil memegang lembut wajah Rafka.


“Tadi, temen Rafka bilang kalau Om Emy mau menikah, terus nggak sayang Rafka lagi” jelas bocah itu dengan nada anak-anaknya.


“Apa hubungannya, ya Om masih sayanglah sama ponakan tampan Om. Sudah tidak usah di pikirkan omongan ala anak-anak bukannya ponakan Om tidak suka pembicaraan konyol ala anak-anak, Ayo pulang, tapi sebelum itu kita ke kantor papa kamu oke” Jeremy langsung berdiri tegap dan dia menggadeng sang keponakan yang hanya mengangguk.


Rafka dan Jeremy walaupun sering adu argumen dan saling ledek tapi dua orang itu saling menyayangi satu sama lain.


“OM Emy, nanti ke kantor papa mau apa?” tanya bocah itu yang berjalan disebelah omnya.


“Biasa, Papa kamu. buat Om ribet,” jawab Jeremy sambil tersenyum


 Bocah enam tahun itu hanya terkekeh melihat Omnya yang berbicara seakan meledek sang Papa.


Mereka berdua saling tertawa sambil berjalan kearah mobil saat ini.


...............................................


Kania dan Tama saat ini sudah selesai makan, Tama sesekali melihat kearah Kania menunggu jawaban yang akan diberikan perempuan itu padanya.


Kania yang tengah minum, langsung menaruh gelasnya dan melihat kearah Tama yang menunggu jawaban darinya.


“Ehmm, aku..aku mau menikah dengan kak Tama dan aku masih memiliki perasaan yang sama dengan kak Tama dari beberapa tahun lalu.” Jawab Kania pada akhirnya.


“benarkan kamu masih meyukaiku, sok-sok jual mahal lagi” ledek Tama dengan senyum yang mengembang.


Kania hanya membalasnya dengan senyum tipis sedikit canggung, dia merasa cemas kalau Tama akan marah dengannya karena perkataan dirinya pada Adiba.


“Jadi ini benarkan, kamu mau menikah denganku. Kamu percayakan kalau aku sudahemencintai bocah sepertimu” ucap Tama memastikan lagi kalau Kania benar-benar mau menikah dnegannya.


“Iya, aku mau kak. Aku tadi kan sudah bilang perasaanku padamu masih sama” jawab Kania.


“Aku ingin saja medengar lagi kalau kamu memang mau menikah denganku.”


“Oh iya, kamu bilang masih memiliki perasaan yang sama denganku seperti dulu. lalu kenapa kamu jalan dengan pria lain waktu itu, siapa pria bule itu?” tanya Tama yang kembali teringat dengan seorang pria yang pernah bersama dengan Kania.

__ADS_1


“Sebelum aku menjawab soal itu, aku ingin bilang sesuatu pada kak Tama. Aku harap kakak tidak marah denganku” lirih Kania merasa takut untuk mengatakannya.


“kenapa cara bicaramu berubah serius begitu, memang apa yang akan kamu katakan padaku?”


“Aku, aku mungkin yang membuat Adiba pergi semalam, aku minta maaf kak. Aku, aku yang membuatnya menjaga jarak dari kak Tama” jujur Kania pada akhirnya.


“Apa? kamu bilang apa pada Adiba. Kenapa kamu melakukan itu Kania, kamu tidak percaya denganku?”


“Maaf kak, aku salah. Aku, aku memang labil, aku memang seperti bocah yang cemburu tanpa alasan. Tapi aku tidak bermaksud memisahkan kalian, aku akan mencoba menerima hubungan kalian, aku akan coba mengerti hubugan kalian yang sudah seperti adik kakak” Kania mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


“Jujur sebenarnya aku sedikit marah denganmu Kania, tapi mau bagaimana lagi. Aku sudah ada rasa denganmu. Satu yang ingin aku katakan padamu, kalau aku dan Adiba sekarang hanyalah sebatas adik kakak. Dia sudah seperti adikku sendiri dia pengganti Tere dalam kehidupanku yang kosong. Aku harap kamu bisa mengerti hubunganku dengan Adiba” tutur Tama.


“Iya, aku akan mencoba mengerti itu. Aku, aku minta maaf soal hal ini. aku minta maaf” kania begitu menyesal telah membuat renggang hubungan Adiba dan Tama.


“Aku maafkan, tapi jangan kamu ulangi lagi.”


“Sekarang jawab, siapa pria yang bersamamu waktu itu?” tanya Tama yang kembali bertanya soal pria yang bersama Kania beberapa waktu lalu.


“Ini serius kan Kak Tama tidak marah denganku?” Kania masih tak percaya kalau Tama tidak marah dengannya.


“Nggak, aku nggak marah. Buruan jawab, siapa pria yang bersama denganmu waktu itu” Tama masih bersikeras dan ingin tahu siapa pria tersebut.


Kania malah tersenyum mendengarnya, membuat Tama sedikit bingung dengan hal itu.


“Itu kakak ku kak. Dia Xavier” jawab Kania sambil terkekeh melihat wajah Tama yang tak mempercayainya.


“Kau punya kakak, bukannya kau anak tunggal” heran Tama tak mempercayai hal itu.


“Aku bukan anak tunggal, aku anak kedua. Dia kakak kandungku, kau tahu sendiri mama dan Papaku bercerai kan. dia ikut papaku selama ini” jelas Kania pada Tama.


“Astaga, kau serius. Rasanya tak habis pikir dengan diriku sendiri. Bisa-bisanya aku cemburu dengan kakakmu” tama merasa bodoh dengan dirinya sendiri.


“Jadi selama ini kakak cemburu, kakak suka denganku sejak kapan. Sejak dulu kan? tapi karena gengsi tidak bilangkan?” ucap Kania menggoda Tama.


“Tidak usah dibahas, ayo kita pulang saja” Tama malah mengajak Kania pulang. Dia gengsi kalau harus mengatakannya terus terang saat ini. dia langsung berdiri dan menggandeng tangan Kania.


Kania hanya tersenyum melihat kegengisan seorang tama, dia juga bersyukur Tama tak marah dengannya soal Adiba.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2