
“Hemm,” dehem Rendra dan membuat perhatian ketia orang yang tengah mengobrol teralihkan. Ketiganya kini menatap Rendra yang berjalan mendekati mereka.
“mas,” ucap Adiba saat melihat suaminya itu, dia sendiri langsung berdiri menyambut sang suami.
“Mas kenalin Dia adik ipar mbak Oki, namanya Hamish dan yang disebelahnya Dimas temannya hamish” Adiba memperkenalkan dua orang pemuda itu pada suaminya.
“Hamish bang,” ucap Hamish berdiri smabil memperkenalkan diri lebih dulu saat pria yang dia ketahui sebagai suami dari Adiba ada didepannya.
“Rendra” balas Rendra menjabat tangan Hamish, dan dia berlaih pada pria satunya.
“Dimas bang,” ucap Dimas teman dari Hamish.
“Rendra, silahkan duduk. Dan dimakan kue nya” ucap Rendra berusaha ramah pada tamunya tersebut. Dan dia sendiri langsung duduk di sebelah Adiba.
“Permisi den minumnya” ucap Asisten rumah tangga Rendra yang baru saja datang membawakan minuman untuk mereka.
“Hamish, Dimas diminum minumannya” ucap Adiab mempersilahkan keduanya.
“Iya mbak” jawab keduanya berbarengan.
“Kalian berdua sudah bekerja atau masih kuliah?” tanya Rendra yang penasaran.
“Masih kuliah bang” jawab Dimas.
“Oh,”
“tadi yang adik iparnya mbak Oki siapa ya?” tanya Rendra kembali,
“Saya bang,” sahut Hamish.
“Berarti adiknya mas Ilham, kok saya nggak pernah lihat kamu atau nggak pernah dengar soal kamu” tanya Rendra seakan mengintrogasi dna tampak tak percaya kalau pria itu adik ipar Oki.
“Rumah Hamish agak jauh dari tempat mbak Oki mas jadi wajar kamu nggak pernah tahu.” ucap Adiba
“Bener bang saya adiknya mas Ilham, rumahnya juga agak jauh dan jarang kerumah mereka. Ini saja kalau mbak Oki nggak keguguran kemungkinan saya nggak dirumah mereka” ucap Hamish.
Rendra hanya mengangguk kecil saat mendengarnya,
“terimakasih sudah mengantar istri dan anak saya pulang” ucap Rendra kemudian.
“Iya sama-sama bang” jawab kedua pemuda tersebut.
“Dim, Hamish dimakan loh kuenya, jangan dianggurin. Atau kalian mau makan, biar bibi yang nyiapin makan” pungkas Adiba.
“Iya kalian mau makan?”
“Nggak usah mbak bang, kita masih kenyang kok.” Jawab Hamish menolak ajakan untuk makan.
“bener, ini saja sudah cukup kok mbak Diba bang Rendra” sahut Dimas yang mengiyakannya juga.
__ADS_1
“Beneran, nanti dijalan kalian laper loh” ucap Adiba.
“bener mbak,” tukas Dimas dan Hamish smabil tersenyum.
...................................................
Malam harinya rumah Rendra kedatangan kedua orang tua Rendra yang berkunjung, mereka datang membawa banyak perlengkapan bayi untuk kelahiran anak Adiba yang kemungkinan bulan depan akan lahir.
Rendra dan juga Adiba yang melihat keduanya datang bersama orang-orang yang membawa perlengkapan bayi terperangah melihat itu semua.
“Mama sama Papa mau jualan dirumahku?” tukas Rendra saat mereka baru saja turun dari tangga dan melihat kedua orang tuanya yang tengah mengarahkan orang-orang yang membawa perlengkapan itu.
“Memang boleh kita jualan disini, kalau bleh papa bakal jualan disini” ucap Frans menyahuri ucapan anaknya tersebut.
“Aku serius pa” pungkas Rendra.
“Mama sama papa tuh kesini bawa ini buat anak-anak kamu nanti, kalian sebagai orang tua malah nggak beli apa-apa. sebentar lagi istri kamu mau lahiran, kalian kayaknya malah tenang-tenang saja” ucap Citra.
“Bukannya tenang-tenang ma, kita juga sudah nyicil beli buat mereka nanti benr nggak sayang” jawab Rendra sambil menatap istrinya.
“Iya benar kata mas Rendra ma, kita sudah beli kok. Mama sama Papa seharusnya nggak beli sebanyak ini buat kita” pungkas Adiba.
“kata siapa ini banyak, ini masih kurang untuk ketiga anak kalian nanti” ucap Citra lagi.
“Tuan nyonya, barang-barangnya sudah kita taruh ketempatnya” ucap salah satu ornag suruhan mereka.
“Ya sudah ma Pa, mari duduk dulu. kalian mau minum apa?” mau tak mau Adiba menerima semua pemberian itu, dia memberi kode pada suaminya untuk menerimanya saja.
“Papa apa saja mau, entah kalau mamamu” ucap Frans sembari berjalan kearah sofa ruang tv yang ada di rumah anaknya itu.
“Mama minta jus jeruk saja” pungkas Ctra dan mengikuti suaminya
“Bi, bibi tolong buatin Jus Jeruk empat ya sama tolong puding di kulkas bawa kesini ya” seru Adiba menyuruh asisten rumah tangganya yang ada di dapur.
“Iya non” jawab perempuan itu dari dapur.
“Papa sama mama apa nggak berlebih membeli semua ini” ucap Rendra yang sudah duduk di depan papa dan mamanya.
“Tanya mama kamu, ini mama kamu yang suruh” Frans seakan lepas tangan soal itu, karena memang benar itu urusan istrinya dia hanya mengeluarkan duitnya saja dan soal yang beli semua itu istrinya.
“Nggak ada yang berlebihan, wajarkan mama beli semua ini. dulu waktu Rafka mama nggak bisa beliin dia, sekarang buat ketiga cucu mama yang mau lahir mama harus belikan buat mereka. Masa oma Opanya berduait cucunya nggak dibelikan sama sekali” ucap Citra membela diri.
“Makasih ya ma, sudah membelikan semuanya buat anak-anakku nantinya” Adiba merasa terharu dan penuh syukur atas pemberian mertuanya itu.
“Iya sama-sama sayang, ini buat menebus kesalahan mama juga” pungkas Citra.
“Bagaimana Jeremy pa?” tanya Rendra soal adiknya.
“Allhamdulilah dia ada kemajuan semenjak menikah ini, lebih dewasa” jawab Frans.
__ADS_1
“Syukur kalau begitu”
“Tapi bukannya Jeremy dari dulu sudah tampak dewasa mas, bahkan lebih dewasa dari kamu pemikirannya” timpal Adiba.
“betul papa setuju sama kamu Adiba” ucap Frans yang sepakat dengan ucapan menantunya.
“Maksud kamu apa sayang,..” Rendra langsung melihat kearah istrinya.
“hehhe bercanda mas, gitu aja marah” Canda Adiba,
“Nggak lucu,” sungut Rendra.
“Lucu ya kalian, mama suka kalau kalian harmonis begini” ucap Citra sambil tersenyum.
“Ren, tapi yang dikatakan Adiba barusan memang benar papa setuju sama ucapannya” ucap Frans.
“Nggak usah mulai pa, ya, ya aku sadar diri” ucap Rendra yang seakan malas membahasnya lagi.
Mereka berempat lalu tertawa bersama karena, Rendra terlihat kesal dengan pembicaraan mereka.
“Oh, iya ngomong-ngomong dimana cucu tampan papa. Rafka dimana?” tanya Frans saat menyadari sedari tadi cucunya tidak kelihatan.
“Dia sedang diajak bang Tama sama Kania pa?” jawab Adiba.
“Oh, papa pikir dia dimana. Dari kapan? Jam segini belum pulang” ucap Frans penasaran.
“Barusan pa,” jawab Rendra.
“Kalian sering ngijinin Rafka diajak keluar orang lain begitu?” tanya Citra.
Adiba hanya diam sembari melihat kearah Rendra,
“Tama bukan orang lain ma, dia sudah seperti kakak bagi Adiba. Rafka juga senang diajak dia keluar” ucap Rendra.
Citra diam dan hanya memberi anggukan kecil saja, tetapi rasa tidak suka sedikit terlihat diwajahnya.
“Ma, tolong ambilin puding di kulkas papa nggak sabar pengen nyicipnya” pinta Frans untuk menyairkan suasana.
“Nggak usah pa, biar aku saja yang kedapur” ucap Adiba.
“Sudah Adiba biar mama saja” pungkas Citra, dan dia langsung berdiri dari duduknya.
“Tidak usah di dengarkan ucapan mama kalian tadi, kalau bagi kalian Tama itu keluarga ya tidak apa. kenyataannya memang begitu kan. maka dilanjutkan saja kekeluargaan kalian” ucap Frans saat istrinya sudah pergi kedapur.
“Iya” jawab Adiba dan juga Rendra bersamaan.
°°°
T.B.C
__ADS_1